
“Aku tadi entah kenapa melamun kan hal yang menakutkan” ucap Rendi yang mulai membuka suaranya dengan posisi yang masih sama memeluk Thalia yang duduk di pangkuannya saat ini.
“kenapa juga kau harus melamun kan hal nggak jelas. Memang apa yang kamu lamun kan tadi sampai seperti itu” tanya Thalia yang sedari tadi bersabar mengunggu Rendi bercerita padanya.
“Entah kenapa tadi aku bisa melamun kan itu. aku takut kalau aku turun dan ikut masuk kedalam cafe menemui Nicholas. Aku bisa emosi, dan aku memukul dirinya serta aku tidak sengaja membuatmu terdorong dan terjatuh kelantai hingga mengakibatkan dirimu ke guguran. Makanya saat aku sadar dari lamunan itu aku langsung ketakutan sendiri. aku tidak mau hal itu terjadi padamu, aku tidak ingin kehilangan anakku” ucap Rendi menceritakan hal yang dia lamun kan tadi apabila dia menuruti emosinya saja.
“gara-gara hal itu kau begini? makanya jangan selalu berprasangka buruk akan sesuatu. Kau jelas terus memikirkan keburukan Nicholas makanya sampai membuatmu seperti ini. apa yang kamu alami ini memang aneh tapi ini seperti peringatan untukmu agar selalu menjaga emosi” tukas Thalia pada Rendi.
“Benar katamu mungkin ini peringatan untukku” ucap Rendi, dia menganggap ini peringatan untuknya karena apa yang ada dipikirannya tadi bak mimpi buruk dan seperti kenyataan. Padahal itu hanya sebuah lamunan saja.
“Kau kedepannya jangan pernah tinggalkan aku, dan selalu jaga anak kita” ucap Rendi bada Thalia.
“Aku tidak akan meninggalkanmu kalau kau tidak berbohong padaku soal perasaanmu” ucap Thalia dan membuat Rendi langsung mendongak melihat sang istri.
“Maksudmu apa?” tanya Rendi tak mengerti.
“Kau jawab pertanyaan ku sekarang dengan jujur, kalau kau menjawabnya jujur aku akan tetap di sampingmu. Tapi jika kau berbohong padaku maka aku akan pergi setelah diriku melahirkan anak ini nanti” ucap Thalia menatap serius Rendi.
Rendi semakin tak mengerti dengan ucapan Thalia barusan, perasaan masalah ini sudah selesai tapi kenapa Thalia kembali membahasnya. Dan dia sedang tidak ingin membahas lagi masa lalu, dia saat ini masih takut soal lamunannya tadi.
Thalia melepaskan tangan Rendi perlahan dari pinggangnya, dan dia berdiri membuat Rendi juga ikut berdiri.
“Kamu masih belum yakin sama aku?” tanya Rendi sambil memegang bahu istrinya.
“Aku sebenarnya sudah yakin denganmu sedari aku menyerahkan milikku yang berharga padamu. Tapi semakin kesini ada saja yang terus membuatku meragukan dirimu, aku jadi bingung sendiri haruskah aku bertahan di sampingmu atau aku pergi saja dari hidupmu. Karena sepertinya selama ini aku yang terus mengejar cintamu sedangkan dirimu seakan tidak begitu mencintaiku dan tidak pernah peka dengan diriku” ucap Thalia mengutarakan semua yang dia rasakan saat ini.
“Apa yang membuatmu ragu, dan kenapa kau meragukan ku?” heran Rendi.
Thalia hanya diam dan berjalan kearah nakas mengambil ponsel miliknya sedangkan Rendi hanya melihatnya saja sambil berjalan mendekati istrinya itu.
“Kamu bisa jelaskan soal ini, kalau kau bisa menjelaskan aku tidak akan memikirkan hal aneh-aneh lagi tentangmu atau tentang Melody” ucap Thalia dan menunjukkan foto di ponselnya dimana disitu Rendi memegang kepala Melody penuh kelembutan.
Rendi terkejut melihat istrinya memiliki foto, dia menatap Thalia yang melihatnya serius saat ini.
“Sayang, kamu jangan salah paham ini nggak sesuai pikiran kamu, aku akui aku memang mengusap kepala Melody tapi bukan karena aku cinta sama dia. aku hanya nguatin dia kalau aku udah nggak cinta lagi sama dia” jelas Rendi berusaha menjelaskan semuanya pada Thalia.
“Oke, kalau foto ini kalau bisa mengelak tapi kalau ini masih bisa kamu ngelak,” ucap Thalia sambil memutar video dimana Rendi mulai mengusap kepala Melody dan tersenyum sebelum pergi.
“Aku bi..”
“Sudahlah ngaku aja nggak pa-pa kalau kamu masih cinta sama Melody, aku nggak masalah kok.” Ucap Thalia lirih meskipun kenyataannya dia begitu sakit dengan hal ini.
“Astaga, nggak sayang. Ini salah paham. Kamu dengerin aku, aku begini sama Melody bukan karena aku cinta sama dia. tapi aku begini karena aku hanya ingin berterimakasih dengannya dulu dia membantuku berdamai dengan masa lalu keluargaku. Sudah itu saja tidak lebih, aku mohon. Kamu percaya sama aku, aku hanya cinta sama kamu.” ucap Rendi memegang tangan Thalia berusaha meyakinkan sang istri soal perasaannya.
“kamu percayakan kalau aku cinta sama kamu, kamu wanita satu-satunya yang ada di hatiku sekarang tidak ada orang lain yang menempatinya selain kamu” ucap Rendi menaruh tangan Thalia di dadanya.
“Please sayang, percaya sama aku. jangan mikir aneh-aneh kedepannya dan seterusnya tetaplah di sampingku” ucap Rendi dan matanya berkaca-kaca berusaha meyakinkan Thalia akan perasaannya.
Thalia juga serasa emosional saat ini matanya berkaca-kaca dan akan menangis tapi dia memalingkan wajahnya dari Rendi.
“Aku entah bisa percaya atau nggak saat ini, masih ada keraguan diriku padamu. Aku tadi tidak sengaja melihat ponselmu saat di dapur. Dan disitu Melody menelpon mu berkali-kali dan bahkan dirimu memberi nama pada nomor itu sekarang. Padahal dulu kau tidak menamai nomor itu” ucap Thalia berusaha untuk jujur saat ini.
“Soal itu, aku memang menamai nomornya sekarang karena aku sudah menganggapnya saudara. Meskipun aku menamainya tapi aku tidak pernah mengangkat panggilan dari Melody sama sekali. Tolong percaya padaku,” ucap Rendi.
Ting
Tong
Ditengah pembicaraan mereka bel rumah berbunyi membuat Rendi dan Thalia langsung menatap satu sama lain.
“Aku buka pintu dulu” ucap Thalia dan langsung pergi dari hadapan suaminya saat ini.
__ADS_1
...............................................
Thalia yang sudah sampai di depan pintu langsung membuka pintu tersebut, tanpa diduga Rendi juga mengikuti istrinya karena dia harus meyakinkan Thalia dengan sungguh-sungguh.
Saat pintu terbuka Thalia langsung memasang wajah dingin sedangkan Rendi membuka matanya lebar karena melihat orang yang tidak ia sangka akan datang kerumahnya saat ini ditengah ketegangan dia dan istrinya.
“Ada apa kau kesini? Mau menemui suamiku. Kalau ingin bertemu dnegan dia aku panggilkan, tapi jangan pernah injak kan kakimu di rumahku” ketus Thalia pada Melody.
Melody yang tadi akan berbicara langsung terdiam karena ucapan ketus istri dari Rendi,
Thalia langsung berbalik hendak memanggil Rendi tetapi niatnya terhenti karena Rendi sendiri sudah berdiri didepannya.
“Kau disini, tunangan mu datang.” Tukas Thalia.
“Aku masuk dulu, kalian berbicara diluar saja kalau ingin bicara. Jangan pernah ijinkan perempuan lain masuk kesini sebelum aku benar-benar pergi” ucap Thalia pada Rendi.
Dan dia melihat sekilas kearah Melody yang berada di pintu hanya menunduk diam saja dan seakan ragu untuk bicara dengannya.
“Mau kemana kamu, kamu disini saja.” Ucap Rendi menahan tangan Thalia.
“Iya, ka..kau disini saja. A..aku hanya ingin bicara sebentar dengan Rendi” ucap Melody terbata.
“Kau tidak merasa terganggu kalau aku disini, bukannya kau ingin berdua saja dengan suamiku” sinis Thalia menatap Melody yang masih berdiri didepan pintu.
“Sebenarnya mau mu apa kesini?” tanya Rendi menatap Melody.
“Aku, aku tidak ingin mengganggu kalian. Aku hanya ingin bertanya soal Revan saja tidak ada yang lebih” ucap Melody pada Rendi dan juga Thalia.
“Revan? Untuk apa kau menanyakan Revan?” tanya Rendi
“Aku ingin minta maaf padanya, dan aku sadar aku egois. Aku, aku ingin bersama Dengan nya terus sampai kapanpun. Aku sadar kalau aku mencintai dia bukan dirimu” ucap Melody
“Apa?” ucap Thalia yang terkejut mendengar hal itu.
“Kau serius dengan ucapan mu, kenapa baru sekarang kau bilang begitu setelah kakakku kembali ke Amerika” ucap rendi.
“Apa? kau bilang apa tadi Ren. Revan kemana? Tidak mungkin dia kembali ke Amerika” ucap Melody tampak syok mendengar ucapan Rendi barusan.
“Ciih, syok sedih. Terlambat nona sok kecantikan, kemana saja kemarin dirimu saat kakak ipar ku mengejar-ngejar mu. Kau malah apa? malah mengejar suami orang, mampus” tukas Thalia dengan begitu pedasnya.
“Nggak mungkin kan Ren, nggak mungkin Revan kembali ke Amerika” Melody tampak syok dan mulai meneteskan air matanya.
“Dia memang sudah kembali ke Amerika, tadi pagi aku dan Thalia yang mengantarnya ke Bandara” jawab rendi.
“Nggak, Nggak, nggak mungkin. Nggak mungkin Revan pergi dariku kan Ren,” ucap Melody luruh ke lantai dia tidak bisa menerima hal ini. dia tidak sanggup kalau Revan benar-benar pergi meninggalkan dia.
“issh, pakai drama segala. Ngapain nangis sudah terlambat” ucap Thalia dan melepas tagan rendi dia langsung mendekat kearah Melody yang terduduk dilantai menangis.
“bangun, masuk ke rumah. Lo mau bikin malu gue sama suami gue, nangis di luar apartemen begitu” tukas Thalia tajam dan membantu Melody berdiri.
Rendi yang melihat itu terkejut, karena dia pikir Thalia akan mengusir Melody tetapi malah mengajak Melody masuk kedalam apartemen mereka.
“duduk, disitu.” ucap Thalia pada Melody.
“terimakasih,” lirih Melody menatap Thalia yang baru saja membantunya berdiri dan menyuruhnya masuk kedalam apartemen padahal tadi dia tidak diijinkan masuk kedalam. Dalam hatinya istri Rendi begitu baik meskipun ucapannya begitu pedas.
“Aku menyesal, aku benar-benar menyesal ren. kau bisa membantuku, tolong hubungi Revan, aku ingin bicara dengannya” ucap melody memohon pada Rendi.
“Kau punya ponsel kan, telpon saja sendiri kenapa menyuruh suamiku” sinis Thalia melipat tangannya di dada menatap melody.
“Aku sudah menghubunginya berkali-kali dari tiga hari lalu tapi dia masih saja tidak mengangkat panggilanku. Dan aku juga dari kemarin mencoba menghubungimu ren untuk minta bantuan mu tapi kau juga tidak mengangkatnya. Makanya aku datang kesini menemui mu” ucap Melody.
__ADS_1
“Aku mau membantumu, tapi kau tolong jelaskan pada istriku kalau kita bertemu kemarin tidak membicarakan hal lain dan hanya membicarakan soal Revan saja tidak lebih” ucap Rendi pada Melody.
“tidak perlu, aku tidak butuh penjelasan darimu” ucap Thalia menolak sebelum Melody menjelaskannya.
“Sayang tolong dengarkan dulu apa yang dikatakan Meldoy, kalau kau tidak percaya dnegan ucapan ku tolong percayalah ucapannya. Dia tadi bilang kan kalau dia mencintai Revan bukan diriku lagi. Kita sudah tidak ada hubungan” ucap Rendi memegang tangan istrinya.
“Terserah kalian lah” ucap Thalia melepaskan tangan rendi dan langsung duduk di sofa tepatnya didepan melody.
“Nona, tolong percaya pada Rendi. Kita berdua memang sudah tidak ada hubungan, dan aku sadar kalau aku tidak mencintai Rendi lagi begitu juga Rendi yang tidak mencintaiku lagi. Dia hanya mencintaimu saja bukan diriku, percayalah dengannya. Dia selalu jujur dengan perasaannya sendiri selama ini. aku mohon padamu percayalah pada suamimu, dia pria yang baik yang begitu tulus jika mencintai seseorang” ucap Melody menjelaskan semuanya tentang Rendi pada Thalia.
Thalia yang mendengar hal itu, melihat Rendi.
“Ya, aku bisa melihatnya sekarang dimatanya” ucap Thalia pada Melody sambil menatap Rendi.
“Kau percaya padaku kan?” tanya Rendi langsung duduk di sebelah istrinya, dan dia memegang tangan sang istri berharap kalau Thalia benar-benar serius dengan ucapannya.
“hemmm, aku ke kamar dulu. aku ngantuk, bantu perempuan itu.” ucap Thalia sebelum pergi.
“Kau tidak usah pergi, aku tidak enak kalau hanya berdua dnegan suamimu. Aku cuman sebentar kok” ucap Melody
“Ren please bantu aku sekarang, tolong telpon Revan. Aku perlu bicara dengannya” ucap Melody memohon pada Rendi.
“Iya sebentar, aku ambil ponselku dulu” ucap Rendi dan akan pergi.
“Pakai punyaku saja” ucap Thalia menyerahkan ponsel yang dia pegang pada Rendi.
“Ya sudah,” rendi langsung mengambil ponsel sang istri.
Rendi langsung menghubungi Reva saat ini, agar Melody bisa berbicara dnegan kakaknya.
Namun tak dapat tersambung karena hanya suara operator saja yang terdengar, ponsel Revan tidak aktif sama sekali.
“Tidak aktif” ucap rendi.
“Tidak aktif ya,” lirih Melody yang tampak kecewa karena ponsel Revan tidak bisa dihubungi.
“Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu” ucap Meldoy dengan lemah, dia berdiri dari duduknya.
Thalia langsung melihat Melody dalam diam begitu juga Rendi yang bingung harus apa. dia harus menjaga sikap didepan Thalia kalau tidak, bisa-bisa Thalia salah sangka lagi padanya.
“Ya sudah hati-hati di jalan, nanti kalau revan sudah aktif. Aku suruh dia menghubungimu” ucap Rendi ikut berdiri saat Thalia juga berdiri dari duduknya.
“Aku pergi dulu, terimakasih nona. Berkat dirimu aku bisa sembuh, dan aku minta maaf karena beberapa waktu lalu aku sempat egois dan mencelamu” ucap Melody merasa bersalah pada Thalia.
“Hemm, ya sudah sana pergi. Hati-hati dijalan” tukas thalia yang sedikit cuek.
Melody tersenyum meskipun Thalia terkesan jutek dengannya tapi dia tahu kalau perempuan itu baik terhadapnya.
Melody langsung melangkah keluar diantarkan oleh Rendi dan juga Thalia, dia nanti akan terus berusaha menghubungi Revan. Ia tidak akan menyerah untuk meminta maaf dan mengejar cinta Revan
°°°
T.B.C
Hahahha maaf ya kakak-kakak semua yang merasa di prank, wkwkwk author cuma iseng kok.
Tenang aja Thalia sama Rendi pasti bakal bahagia terus tapi pasti ada bumbu-bumbu dalam pernikahannya. kan layaknya kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya.
pasti semua yang sudah berkeluarga mengalami bumbu-bumbu dalam pernikahan itu.
Terus setia di karya othor yang ini ya kak, see you sampai ketemu di next episode lagi.
__ADS_1
Terimakasih juga buat kakak- kakak yang sudah kasih support buat othor.