Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 40 (Season 2)


__ADS_3

Thalia pulang ke apartemennya dnegan kesal, dia membuka pintu apartemen itu dengan kasar. Moodnya sedang tidak bagus saat ini, dia pergi tadi kesal sekarang pulang kesal Bagaimana tidak kesal dia mengajak kedua temannya Jane dan Putri untuk dugem malah mereka berdua memilih menemui pacar-pacar mereka.


“mereka berdua nyebelin sama kayak pria robot itu, dimana lagi dia sekarang.” Ucap Thalia sambil melihat sekeliling ruangan apartemennya yang sepi tidak mendapati Rendi di situ.


Thalia menghentakkan kakinya berkali-kali, dia benar-benar kesal dengan hal seperti ini. dia langsung berjalan kearah dapur mengambil minum untuk dirinya, ia emosi jadi haus saat ini.


Sebelum mengambil minum di kulkas Thalia mendudukkan dirinya di kursi meja makan, dia kembali melihat situasi apartemen yang sepi. Pikirannya kini bertanya-tanya tentang keberadaan rendi yang tidak ada di apartemen.


“Kemana dia? Kenapa tidak ada di rumah. Apa dia menemui perempuan itu?” gumam Thalia memikirkan kemungkinan tersebut.


“Terserahlah bukan urusan gue juga, bodo dia mau nemuin tuh cewek. Gue nggak perduli” tukas Thalia mencoba mengelak rasa marahnya, dia harus bisa untuk tidak terbawa emosi soal ini. dia harus panda menyikapi semua ini, inilah resiko dirinya karena memaksakan menikah dnegan rendi.


Thalia langsung berdiri dari duduknya membuka kulkas yang berada tidak jauh darinya, dia melihat isi kulkas yang ada minuman soda dan juga air putih. Dia lebih memilih untuk mengambil minuman bersoda tersebut. Dia membawa minuman bersoda itu ke tempat dia duduk tadi.


Thalia langsung membukanya, dan dia siap untuk meneguk itu tapi sebuah tangan menghentikan dirinya. Membuat dia menoleh seketika dia langsung terkejut mendapati rendi yang sudah berdiri di sebelahnya. Kapan pria itu datang batinnya.


“jangan banyak minum seperti ini” ucap Rendi menahan tangan Thalia.


“lepasin tanganmu, terserah diriku mau minum apa. Kau sediakan juga kan di kulkas” pungkas Thalia dan akan mengambil lagi minuman itu.


Rendi menjauhkannya dari Thalia dan dia langsung menegak sekaleng minuman soda itu hingga tandas. Apa yang dilakukan rendi tersebut membuat Thalia kesal dia langsung berdiri menatap sang suami dnegan marah.


“kamu apa-apaan sih ini milikku, kenapa kau malah yang meminumnya. Kalau kau mau ambil saja sendiri” kesal Thalia meluapkannya.


Rendi dia sambil perlahan menelan air soda yang masih ada di tenggorokannya, dia memperhatikan Thalia yang akan mengambil lagi dari dalam kulkas.


“Aku bilang jangan meminumnya, bagaimana kalau kau hamil. Ini tidak baik untuk ibu hamil” Rendi menahan pintu kulkas dnegan cukup kuat agar Thalia tidak bisa membukanya.


“Minggir Kan tanganmu, kau tidak ingat apa soal tadi pagi aku bilang apa padamu. Aku sedang datang bulan bagiamana bisa hamil. Singkirkan tanganmu” ucap Thalia hendak menyingkirkan tangan Rendi yang menahan pintu kulkas agar tidak terbuka.


“Meskipun kau tidak hamil sekarang, tapi tetap saja ini tidak baik. Kedepannya kamu juga bakal hamil anakku kan kamu tidak kasihan dengan perutmu”


“Kau yakin, aku nanti akan hamil anakmu. Kayak bakal berjalan lama saja pernikahan ini” sinis Thalia menatap rendi yang terpaku mendengar ucapan tersebut.

__ADS_1


“Kamu bicara apa sih, kenapa ucapan mu begitu. Tentu saja pernikahan ini akan berjalan lama” tatapan Rendi begitu serius melihat Thalia.


“masa, aku tidak percaya dengan mu. Mungkin berjalan lamanya dengan Melody bukan dengan ku” sinis Thalia langsung mengabaikan Rendi


Disaat dia akan pergi tangan rendi menahannya membuat Thalia kembali menatap rendi,


“Mau apa lagi? Aku mau ke kamar” kesal Thalia.


“kenapa sikapmu jadi begini, aku ada salah denganmu. Aku cepat-cepat pulang ke rumah agar bisa bersama Dnegan mu tapi dirimu malah begini dengan ku” pungkas rendi tak mengerti dengan sikap Thalia sekarang.


“Kenapa harus cepat pulang, kamu tidak pulang juga tidak apa-apa. Temani saja tunangan mu, aku tidak kau temani juga tidak apa-pa. Aku kan hanya istri yang telah membohongimu. Dan mungkin sebentar lagi aku bukan siapa-siapa mu, jadi sana temui saja tunangan mu” ucap Thalia melepaskan tangan rendi yang menggenggam lengannya.


“Kamu ngaco ya, kenapa jadi bawa-bawa Melody yang istriku kamu bukan dia” ucap rendi


“Serius, lalu tadi apa. Tunangan Ku bukannya begitu kau menyebut sih Melody-melody itu tunangan cih.”


Rendi mencerna kata-kata Thalia barusan, memang dia menyebut seperti itu tadi. Rendi begitu tampak berpikir mengingat apakah dia pernah bicara begitu tadi.


Dan sebuah kenyataan membuatnya terdiam, benar dia tadi sempat menyebut Melody tunangannya


“Kemari,.” Rendi menarik tangan Thalia menuju sofa yang berada di ruang tengah. Dia mendudukkan perempuan tersebut di sofa saat ini.


“kenapa mengajakku kesini, bisa lepaskan. Kita bukan di bis yang harus gandengan” cibir Thalia menatap tak suka pada tangan rendi yang menggenggam tangannya.


Bukannya melepaskan rendi malah menarik Thalia kedalam pelukannya saat ini


“Apa sih main peluk-peluk, sih Melody tidak memberimu pelukan” tukas Thalia akan melepaskan pelukan Rendi tapi Rendi terus menahannya.


“ siapa Melody sehingga bisa memberiku pelukan, istriku dirimu jadi dirimu yang pantas memberikan pelukan padaku”


“Kamu lupa, dia tunangan mu kan” ketus Thalia.


“Itu dulu, sekarang bukan, aku tidak ada tunangan adanya hanya istri dan kamu istriku satu-satunya. Aku mencintaimu” ucap Rendi mengecup pipi sebelah kanan Thalia.

__ADS_1


Mendapat kecupan tersebut membuat Thalia merona, dia tersenyum simpul tapi segera bersikap biasa. Menahan diri untuk tidak terlalu mengeskpresikan kebahagiannya.


Rendi agak mengendurkan pelukannya dan melihat Thalia yang menahan senyum,


“Kenapa malu-malu, senyum saja. Aku suka kalau kamu tersenyum. Jangan ketus-ketus terus pada suamimu” goda Rendi


“Siapa juga yang malu-malu, untuk apa malu-malu Dnegan mu” elak Thalia dia memalingkan wajahnya dari Rendi.


Rendi menidurkan kepalanya di pangkuan Thalia membuat Thalia menatap kearahnya,


“kenapa malah tidur di pangkuanku, minggir” usir Thalia.


“jangan marah-marah dnegan suami tidak baik”


Thalia langsung diam mendengar ucapan tersebut, dia menutup mulutnya rapat tak berbicara lagi.


“Bagus, aku suka Dengan mu yang selalu mematuhi ku. Kau perempuan yang cukup gila menurutku dulu tapi sekarang kau perempuan yang manis dan selalu menuruti ku. Aku semakin mencintaimu” ucap rendi sambil tersenyum


“Kau tidak dapat jatah atau bagaimana dari si Melody. Kenapa manis begini bicara denganku. Gombalan murahan tidak mempan untukku”


Rendi tersenyum mendengar perkataan Thalia barusan,


“Kamu cemburu, sudah tidak usah cemburu. Mulai hari ini aku milikmu dan aku janji tidak akan pernah menyebut nama wanita lain selain dirimu. Kamu mau dengar cerita tentang pria malang tidak” ucap Rendi


“cerita tentang dirimu untuk apa”


“Ya sudah kalau kamu tidak mau, aku pinjam paha mu untuk jdai bantal ku.” Ucap Rendi perlahan memejamkan matanya tapi sebelum itu dia sedikit bangkit dan mencium bibir Thalia yang menatap dirinya bingung.


“sudah aku tidur, jangan melihatku terus bisa-bisa aku khilaf. Kamu membuatku selalu ingin melakukannya tapi sayang saat ini dirimu sedang kedatangan tamu. Padahal aku ingin membuat Rendi junior dan Thalia junior” ucap rendi sambil tersenyum melihat Thalia yang melebarkan matanya.


“A..apa? kamu bilang apa?” sangking tercengangnya atas perkataan Rendi barusan membuat Thalia terbata. Dia menatap suaminya yang malah memejamkan mata tidur di pangkuannya.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2