
Proses pemakaman Lita sudah selesai tinggal keluarga dan beberapa orang pihak media yang meliput. Tentu saja pihak media meliput hal itu, keluarga Aryo bukanlah keluarga sembarang.
Fahri bersimpuh memegangi nisan yang tertulis nama Thalita Davina Ravero, dia menangis cukup pilu dan teramat terisak mengusap nisa Thalita.
"Fahri ayo kita pulang,." ucap Wulan memegang bahu anaknya.
"Nggak Ma, aku masih ingin disini" tolak Fahri menatap foto Lita yang ada disitu.
"APA-APAAN INI,." Suara keras yang tiba-tiba muncul mengagetkan semuanya yang ada disitu.
David datang dengan marah, tidak sendiri dia datang membawa beberapa orang berpakaian hitam untuk mengambil semua kamera yang digunakan reporter media untuk meliput mereka. Dia tidak ingin citranya jelek karena menghajar Fahri nantinya.
"David akhirnya kamu kembali,..Lita, David.." ucap Nafa langsung menghambur ke pelukan putra sulungnya.
"Apa-Apaan ini ma, kenapa tidak ada yang memberitahuku kalau Lita sudah tiada. Kenapa hah" ucap David membentak orang-orang yang ada disitu.
"David tenanglah bukannya kita tidak mengabari mu. Tapi Hpmu tidak bisa dihubungi dan kita tidak tahu selama ini kau dimana?" ucap Aryo menghampiri anaknya.
David melepas pelukan sang Mama dan menipis tangan Papanya. Dia menatap tajam Fahri yang sedang bersimpuh di tanah dengan kedua orang tua dari pria itu.
"Pasti dia yang membunuh adikku" David berjalan mendekati Fahri dia mencengkram kuat kerah Fahri menarik paksa pria itu untuk berdiri.
"Berdiri kau" ucapnya.
"Apa yang kau lakukan pada adikku hah, kenapa dia bisa begini pasti kau yang membunuhnya kan. Kau harus ku beri pelajaran"
David langsung melayangkan tinjuan ke wajah Fahri bukan satu kali tapi berkali-kali membuat Fahri terdusur ketanah.
"David, David tenanglah. Jangan membuat onar disini, reputasi mu bisa hancur nanti. Dia adik ipar mu" ucap Aryo menahan David yang akan memukul Fahri.
Thalia, Nafa dan Wulan hanya menjerit takut saat David memukuli Fahri hingga babak belur.
Sementara Sasongko hanya melihat anaknya yang dipukuli, dia bisa apa. Karena hal itu memang pantas di dapankan Fahri.
"Aku tidak perduli dengan reputasi ku, adikku tiada gara-gara dia, gara-gara dia Lita tiada"
__ADS_1
"Pria brengsek sepertimu harus aku habisi, kau membuat adikku terluka selama ini. Lita bodoh itu kenapa masih mencintaimu sampai saat ini. Begitu banyak luka yang kau torehkan pada adikku, Kau harus mati" David akan memukul Fahri lagi tapi Thalia dan Nafa berteriak.
"Kak David, David.." ucap Thalia dan Nafa berbarengan.
"Kak jangan begini, apa dengan kau membunuh Fahri kak Lita bisa bahagia di sana" pungkas Thalia menatap kakaknya itu.
"Fahri dengarkan adikmu, kau membunuh Fahri apa Lita bahagia di sana. Mama mohon jangan, jangan lakukan" ucap Nafa melihat David yang hendak memukul Fahri yang sudah tak berdaya.
"Pukul saja aku, habisi aku. Dari pada aku hidup penuh penyesalan, aku ingin kau menghabisi ku agar aku bertemu Lita di sana" lirih Fahri.
"Tidak semudah itu, aku akan membuatmu tersiksa lebih dulu. Membunuhmu sama saja membuatmu bahagia, aku akan menyiksa dirimu memberikan penyesalan teramat dalam bagimu sampai kau begitu menderita sekali." David langsung bangkit dan berdiri menatap sinis Fahri yang terkapar dan menatap dingin kearah pusaran Lita.
Fahri terdiam, dia terpaku kata-kata yang diucapkan David tadi seperti kata-katanya yang sering dia ucapkan pada Lita, rasa sesak kembali melingkupi dirinya. Dia menangis dengan noda darah di sekujur tubuhnya.
"Fahri, Fahri.." ucap Wulan melihat anaknya yang begitu lemah.
"Pa Fahri pa," tambahnya lagi saat melihat Fahri yang sudah mulai tak sadarkan diri.
"Lita, .." lirihnya dan dia langsung tak sadarkan diri saat ini.
"Pa, Papa yang apa-apaan. Kenapa sepertinya Papa malah membela pria brengsek itu daripada anak Papa sendiri" ucap David menatap datar Aryo.
"Bukannya Papa membela Fahri, Tapi Papa berterimakasih pada dia. Berkat dia Lita jadi baik dan mau bicara dengan Papa. Kamu tahu sendiri bagaimana semasa hidupnya dulu adikmu itu tidak pernah mau bicara dengan Papa semenjak dia tahu bukan anak Mama kamu melainkan anak hasil perselingkuhan Papa. Berkat Fahri dia mau bicara lagi pada Papa David"
"Cuman gara-gara itu Papa menyerahkan semua hak Lita pada Fahri rumah saja Papa beri untuk Lita tapi atas nama Fahri dan setengah saham Lita Papa beri juga pada Fahri. Apa Papa tahu apa yang pria brengsek itu lakukan pada adikku. Dia menyiksa Lita Pa, melakukan kekerasan pada Lita, adik ku menderita karena dia Pa. Dan sekarang Lita tiada dan pergi meninggalkan kita juga karena dia. Bagaimana bisa Papa tetap memihak nya"
"Papa bukan memihak David, Papa tahu Fahri salah tapi ini semua bukan salah Fahri. Dan tidak mungkin Papa mengambil apa yang Papa beri padanya. Dari apa yang Papa lihat juga Fahri mencintai Lita tapi karena di.."
"Sudahlah Pa, kalau Papa masih mau membela pria itu. Suruh dia saja mengurus perusahaan dan bisnismu disini. Aku tidak perduli lagi, aku akan keluar dari rumah ini." David dengan marah langsung pergi dari hadapan Papannya.
"David, David..bukan begitu Papa tidak .."
"Papa puas, David sekarang juga ikut pergi. Mama kecewa sama Papa. Papa lebih membela pria yang telah membunuh anak Mama. Mama kecewa Pa" ucap Nafa yang sedari tadi mendengar pertengkaran anak dan suaminya. Setelah berkata begitu, Nafa langsung berjalan pergi meninggalkan Aryo yang terdiam.
Dia bingung apa yang harus dia lakukan, dia juga memikirkan soal reputasi keluarganya. Kalau sampai dia mengambil semua dari Fahri bukan itu saja dia tipe orang yang tidak tegaan.
__ADS_1
Jujur dia juga sedih kecewa marah atas apa yang menimpa Lita. Tapi dia juga yakin Fahri mencintai anaknya meskipun terlambat. Aryo mendudukkan kasar tubuhnya di kursi dia benar-benar bingung sekarang.
……………
"Lita Tidakk.." teriak Fahri dan matanya langsung terbuka. Saat ini dia terbaring di ranjang rumah sakit sudah hampir dua hari dia tidak sadarkan diri gara-gara pukulan dari David.
Mata Fahri mengerjap beberapa kali, dia melihat sekitarnya ruangan bernuansa putih dan bau aneh yang begitu menyengat tercium jelas di hidungnya. Dia melihat sekilas ke samping kanan, melihat tangannya yang terinfus.
"Fahri kau sudah sadar?" ucap Wulan yang merasa lega melihat anaknya sudah membuka mata.
"Aku dimana ma?" ucapnya lirih.
"Kamu di rumah sakit, syukurlah kamu sudah sadar Mama panggilkan dokter dulu" pungkas Wulan dan akan pergi.
"Tidak perlu Ma, aku mau pulang." Fahri mencoba mendudukkan dirinya dengan paksa meskipun rasa sakit begitu terasa.
"Fahri kamu berbaringlah dulu mama panggilkan dokter" ucap Wulan akan membantu Fahri untuk berbaring kembali.
"Nggak Ma aku mau pulang," ucap Fahri dengan nada suara yang meninggi dia langsung menarik selang infus yang terpasang ditangannya.
"Fahri apa yang kau lakukan, kamu baru sadar" ucap Wulan menahan tangan Fahri.
"Lepas Ma, aku mau pulang, aku ingin bertemu Lita ma" ucap Fahri bersikeras dan dia benar-benar telah melepas selang infusnya itu. Darah segar langsung keluar begitu saja dari tangannya, dia merintih pelan.
"Fahri sadarlah nak, sadar" ucap Wulan menangis memeluk anaknya yang akan berdiri.
Fahri langsung menangis setelah Mamanya memeluk ia saat ini.
"Ma..Mama aku pembunuh ma, Lita begini karena aku Ma.." ucapnya
"Aku , aku tidak bisa hidup kalau dia tidak ada Ma, aku tidak bisa hidup dengan penyesalan ini ma. Hidupku hancur ma, hidupku hancur Ma, Andai..a..aku tidak kasar padanya dan andai a..aku mau menceraikannya waktu itu ini tidak mungkin terjadi. Bisakah aku hidup tanpa Lita Ma, hidup..hidup kosong saat ini" Fahri menangis terisak air mata jatuh luruh dari pelupuk matanya. Hatinya begitu sesak bayang-bayang Lita terus muncul di kepalanya.
°°°
T.B.C
__ADS_1