Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 112 (Season 2)


__ADS_3

“Aku berangkat kerja dulu, kamu di rumah hati-hati. Kalau ada apa-apa telfon aku” amit Rendi pada istrinya didepan pintu mengantarkan dia berangkat bekerja. Rendi memeluk Thalia dan memberikan kecupan di kening.


“Iya,” jawab Thalia singkat.


Rendi langsung berjongkok didepan istrinya untuk mencium perut istrinya terlebih dahulu sebelum pergi.


“Papa berangkat dulu kamu jangan nakal-nakal, jangan buat mama capek oke” ucap Rendi didepan perut sang istri tak lupa dia memberikan kecupan pada anak yang dikandung Thalia.


“Aku berangkat dulu ya” ucapnya lagi sambil mengusap kepala istrinya.


Thalia sedikit memundurkan dirinya saat Rendi mengusap kepalanya barusan, dia jadi mengingat kembali apa yang dilakukan rendi pada Melody yang hampir sama dnegan apa yang dialkukan Rendi sekarang.


Rendi yang melihat istrinya malah mundur merasa aneh dengan hal itu.


“Kenapa?” tanya pada sang istri.


“Nggak pa-pa, buruan berangkat. Kau sudah kesiangan kan” ucap Thalia berusaha menutupi hal itu, dia malah menyuruh Rendi untuk segera berangkat.


“Ya sudah aku berangkat dulu, aku kemungkinan pulang lebih awal” ucap Rendi sebelum keluar dari rumah sambil melambaikan tangan berjalan menuju pintu lift.


Thalia hanya tersenyum kecil memperhatikan itu, tentu saja bukan sebuah senyuman riang tetapi senyuman murung. Dia memperhatikan Rendi sebentar dan langsung berlalu saat Rendi sudah masuk kedalam lift.


Dia masuk kembali ke apartemen miliknya dan mendapati kakak iparnya sudah berdiri didepannya saat ini.


“Minggir jangan menghalangiku” ketus Thalia pada Revan.


“Ada apa denganmu. Bilang saja padaku, kau ada masalah dengan Rendi, bilang padaku siapa tahu aku bisa membantumu” ucap Revan menatap Thalia dengan seksama karena dia menangkap ada yang aneh dengan adik iparnya tersebut.


“Nggak ada, nggak usah ikut campur deh” ucap Thalia dan langsung pergi begitu saja dari hadapan Revan.


Mendengar itu membuat Revan semakin yakin kalau ada yang Thalia tutupi dari Rendi, perempuan itu seperti menyimpan kekecewaan pada rendi saat ini.


“Ini pasti karena Melody, tidak mungkin karena hal lain. Karena Thalia sepertinya tidak akan terpengaruh apapun kecuali soal Melody” batin Revan sambil melihat Thalia yang masuk kedalam kamar.


Revan langsung berjalan ke sofa sambil mengambil ponsel miliknya yang berada didalam saku, dia seperti menekan sebuah nomor dan saat panggilan sudah tersambung dia langsung mendekatkan ponselnya ke telinga.


“Halo, nanti temui aku di tempat biasa. Tidak usah banyak tanya temui saja diriku nanti” ucap Revan dengan serius dan dia langsung mematikan ponselnya begitu saja


Revan sedikit membanting ponsel miliknya ke meja, dan dia langsung duduk di sofa saat ini.


.........................................


Thalia sedang mandi saat ini, karena dia tadi belum sempat mandi. saat ini dia berada di dalam kamar mandi lebih tepatnya dibawah guyuran shower.


“Apa ini karma ku karena memaksa seseorang menikah denganku dulu” ucapnya sambil mengurai rambutnya.


“Misalkan nanti kalau Mama sama Papa tidak bersama lagi, kau ikut Mama ya. Maafin Mama kalau dulu sempat ingin menyerahkan mu pada Papa dan Mama barumu. Mama tidak bisa menyerahkan mu sekarang, karena sepertinya kamulah penguat Mama nantinya. Kita jalani hidup kita berdua oke, kamu tidak marah kan” ucap Thalia sambil mengusap perutnya sendiri.

__ADS_1


Ya dia bertekad kalau dia sudah melahirkan nanti, dia akan berpisah dari Rendi karena keyakinannya dengan Rendi luntur karena foto serta video itu. rasanya itu membuatnya terluka dan takut. Benar dia takut saat ini, dia takut kalau dia nantinya akan diselingkuhi seperti Mamanya dulu jadi lebih baik nanti dia menyerah lebih dulu dari pada dia harus bertahan dan membuat anaknya sakit hati karena pertengkaran kedua orang tuanya. Dia tidak ingin anaknya seperti dirinya yang selalu melihat Mamanya merasa sakit hati saat Papanya dengan perempuan lain.


meskipun kasus dirinya dan Mamanya dulu sedikit berbeda tetapi sedikit kesamaan juga di pernikahan mereka sekarang.


“Maafin Mama juga ya, karena Mamamu yang sok pintar ini ternyata bodoh. Dalam hidup Mama baru kali ini Mama menyesali apa yang telah Mama lakukan, mama bodoh nak, karena membuat cinta Papamu sadar, kalau mama tidak melakukan itu kemungkinan nanti kita bertiga tidak akan berpisah” ucap Thalia terasa pilu saat dia mengusap perutnya, mampukah anaknya mendengar curahan hatinya saat ini.


“Aku menyerah bukan berarti kalah, tapi aku memang harus menyerah untuk mendapatkan kedamaian dan hidup berdua dengan anakku” batin Thalia, dan merasa pilihan nya nanti adalah hal yang benar.


Thalia langsung mematikan showernya dan dia mengambil kimono mandi yang tergantung tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. dia memakainya dan langsung berjalan kearah pintu kamar mandi.


Dia akan menghubungi seseorang untuk membantu dirinya membelikan Tiket kembali untu Nicholas. Karena dia sudah berjanji soal itu tidak mungkin dia mengingkarinya begitu saja.


Dia juga harus berhati-hati soal ini, kalau sampai kakaknya tahu bisa-bisa David malah akan marah dengannya karena sudah membantu Nicholas dimana situasinya dia yang dibantu oleh David masalah Nicholas.


Kalau David tahu, dan menemui Nicholas. Bisa-bisa nanti Nicholas memberikan foto Rendi dan perempuan itu. jelas David tidak akan tinggal diam, dia pasti melakukan sesuatu pada Rendi. Tentu saja dia takut kalau suaminya kenapa-kenapa karena kakaknya. bagaimanapun dia begitu mencintai Rendi dan tidak ingin pria itu terluka sama sekali.


...................................


“Maaf menunggu lama” ucap Revan yang baru saja datang dan menarik kursinya didepan melody. Benar saat ini dia memang sengaja bertemu dengan Melody.


“Tidak apa kok, aku malah senang karena kamu nelpon aku untuk bertemu” ucap melody yang tampak berseri melihat Revan yang datang untuk bertemu dengannya. dia lega akhirnya setelah hampir dua hari Revan tidak mengangkat panggilannya pria itu sendiri yang menelpon dirinya dan mengajak bertemu.


“Aku kesini tidak akan basi-basi padamu lagi melody, aku minta padamu jauhi Rendi. Sadarlah melody, dia sudah punya istri dan sebentar lagi punya anak. Kau tega menghancurkan rumah tangga orang lain” sentak Revan pada Melody.


Melody yang tadi begitu lega karena bisa bertemu dengan Revan langsung terkejut dengan perkataan ria itu yang bicara seperti itu padanya.


“Iya, untuk apalagi aku menemui mu kalau tidak membahas itu. bukannya kau tidak perduli lagi tentang diriku jadi untuk apa aku membahas soal kita” ucap Revan tampak acuh tak perduli dengan kekecewaan Melody.


“Kau menganggap ku egois saat ini?”


“Iya, memang kau egois kan. tidak tahu diri juga, Thalia sudah membantumu membiayai dirimu dan keluargamu memberikan fasilitas terbaik untuk kalian. Tapi apa balasan mu padanya, kau malah masih mencintai suaminya” ucap Revan yang begitu kecewa terhadap Melody saat ini.


Melody semakin sedih dengan ucapan Revan barusan, baru kali ini Revan begitu kecewa padanya bahkan mengatai dirinya seperti itu.


“Ya, aku egois. Aku memang egois Revan. Terserah dirimu mengatai aku apa sekarang,” ucap melody.


“Tapi aku saat ini menyesal Revan, aku salah aku minta maaf padamu. A..aku, aku memilihmu bukan memilih Rendi saat ini. aku melepas rendi untukmu. Tolong maafkan aku, tolong tetaplah jadi pelindungku saat ini” ucap Melody dan menggenggam tangan Revan yang berada di atas meja.


Revan mendongak melihat Melody yang menangis, dia terkejut melihat perempuan itu yang menangis dan bilang kalau dia memilihnya saat ini.


Perlahan Revan melepaskan tangan Melody, dia menatap perempuan itu anatar percaya dan tidak percaya.


“Untuk saat ini aku belum percaya padamu, baru dua hari lalu kau bilang tidak akan menyerah mendapatkan Rendi dan sekarang kau bilang begini padaku. Kau hanya ingin memanfaatkan diriku saja atau apa” ucap revan tidak muda percaya dengan perkataan Melody.


“Revan, aku serius dnegan ucapan ku. Aku serius memilih dirimu. Aku tidak berniat memanfaatkan mu Revan. Aku sudah melepas Rendi sepenuhnya” ucap Melody berusaha meyakinkan Revan.


“Maaf, aku belum percaya sepenuhnya. Jangan memberi diriku harapan palsu Melody,” ucap Revan dan mulai berdiri dari duduknya.

__ADS_1


“Aku kesini hanya ingin mengatakan itu, tolong lepaslah rendi. Pikirkan soal istri dan anak yang tengah di kandung istri rendi. Kau tidak mungkinkan melukai hati anak itu nantinya. Aku pergi dulu” ucap revan dan akan pergi tetapi ditahan oleh Melody.


“Revan, Revan please percaya adaku. Aku benar-benar memilihmu, aku..aku ikhlas Rendi sudah menikah dan akan memiliki anak dengan orang lain. Aku, aku memilihmu revan” ucap Melody menahan tangan Revan, matanya berkaca-kaca memohon agar Revan percaya padanya saat ini.


“Aku pergi mel, kau hati-hati saat pulang nanti” ucap revan melepaskan tangan melody perlahan.


“Revan..” teriak Melody histeris, dan dia terduduk dilantai sambil menangis. Rasanya sakit melihat Revan pergi begitu, selama ini revan tidak pernah tidak perduli padanya. Baru kali ini Revan bersikap begitu padanya, sungguh ia menyesal dengan ucapannya waktu itu soal memilih Rendi. Dia bodoh padahal ada pria yang tulus mencintai dirinya selama ini.


“Revan, aku benar-benar memilih kam. Aku cinta sama kamu Revan” lirih meldoy dilantai menangisi Revan yang sudah pergi keluar cafe.


........................................................


Rendi sedang melihat berkas-berkas tugas dan jadwal dirinya, saat dia tengah sibuk ponsel miliknya yang berada di atas meja bergetar membuat dirinya melihat sekilas siapa yang menelpon dirinya saat ini.


Tertera nama Melody disitu, tentu saja dia tidak mengangkatnya membiarkan ponsel miliknya terus bergetar.


Getaran tersebut berhenti sebentar, dan kembali bergetar membuat dia melihat siapa yang menelponnya kail ini. lagi-lagi Melody yang menelpon.


“Ada apa dia meneleponku terus” gumamnya keheranan. Tapi masih seperti tadi, dia tidak ada niatan untuk mengangkatnya, karena baginya urusan dnegan melody sudah selesai tidak ada lagi yang ingin dia bicarakan dengan perempuan itu.


Bunyi getar itu akhirnya berakhir, dan membuat Rendi merasa lega karena dia tidak perlu mengangkatnya..


Tapi lagi-lagi ponsel Rendi yang berada di atas meja bergetar membuat dirinya kesal saja, dan akan mengangkat panggilan itu.


Dan ternyata yang menelpon dirinya sekarang bukan Melody melainkan istrinya, tentu saja ia tidak tinggal lama untuk mengangkat panggilan tersebut.


“Iya halo sayang kenapa?” ucapnya pada sang istri.


“aku mau ijin keluar sebentar” ucap Thalia diseberang sana.


“Keluar kemana?”


“Ke rumah Jane, boleh tau nggak”


Rendi diam sebentar, dia tampak sedang berpikir untuk mengijinkan istrinya pergi atau tidak.


“Ya udah boleh, lama nggak? Pulang jam berapa? Nanti aku jemput” ucap Rendi akhirnya memperbolehkan Thalia keluar.


“Nanti aku kabari pulang jam berapa, kalau begitu aku tutup” ucap Thalia diseberang sana dan langsung menutup panggilan terlebih dahulu padahal Rendi belum selesai bicara, dia akan bicara hal lain tetapi panggilan sudah di matikan lebih dulu.


“Aku padahal belum ngomong sayang, kamu matikan begitu saja” gumam Rendi sambil melihat ponselnya yang sudah mati.


Rendi menaruh ponsel miliknya kemeja lagi dan dia kembali fokus dengan pekerjaannya sekarang.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2