
Revan datang ke kantor polisi tempat rendi bekerja sekarang, dia ingin bertanya pada rekan Rendi soal diaman rendi tinggal sekarang. Karena dia tidak tahu Rendi tinggal dimana saat ini.
“maaf ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang polisi yang tengah berjalan melewati Revan yang seperti kebingungan untuk bertanya kemana.
“Ah, iya. Saya ingin bertanya soal polisi bernama Rendi disini. Kalau boleh tahu dia tinggal dimana ya?” tanya Revan melihat polisi tersebut.
“Maaf, untuk apa anda menanyakan salah satu anggota kami” ucap polisi itu menatap curiga pada Revan.
“Saya kakaknya baru datang dari luar negri saya dengar dia habis tertembak kemarin makanya saya ingin menemui dia. Tadi saya ke apartemennya yang dulu tapi katanya dia sudah pindah. Kalau boleh tahu dia pindah kemana ya?” tanya Revan menatap penuh harap pada polisi tersebut yang sepertinya belum mempercayai ucapannya barusan.
“kalau anda tidak percaya saya bisa tunjukkan foto saya dnegan Rendi,” lanjut Revan dan akan menunjukkan foto dirinya dnegan Rendi yang memang beberapa tahu lalu mereka sempat berfoto di Amerika.
“Inspektur Rendi sekarang tinggal di Apartemen Glorya, coba anda temui saja dia di sana soalnya hari ini dia pulang dari rumah sakit” ucap polisi tersebut yang akhirnya memberitahu Revan soal apartemen Rendi.
“Terimakasih sudah mau memberitahu saya. Kalau begitu saya permisi karena saya harus menemui adik saya” ucap Revan dan langsung pamit pergi setelah mengetahui letak apartemen Rendi.
“iya sama-sama” ucap Polisi tersebut langsung berlalu pergi setelah revan yang juga pergi dari tempat itu.
.....................
Rendi sedang berbicara di ruang tamu dnegan Fahri yang datang berkunjung ke apartemennya. Bukan hanya Fahri yang datang tetapi kedua orang tua Fahri juga berada disitu. Mereka merasa khawatir dnegan kondisi Rendi setelah menonton siaran televisi soal penambakan tersebut.
Orang tua Rendi sedang duduk di ruang tengah apartemen itu bermain dnegan Axel yang diajak Fahri ke tempat Rendi sekarang. Thalia tentu saja juga berada di ruang tengah dia duduk bersama Lita yang memperhatikan anaknya bersama mertuanya.
“Bagaimana bisa kamu ke tembak,?” tanya Fahri dnegan pelan agar orang tuanya yang berada didalam tidak mendengar pembicaraannya dengan Rendi.
“Musibah” jawab rendi singkat.
“Iya musibah, tapi terdengar konyol saat kamu yang tertembak Ren. Aku tahu kamu tipe orang yang teliti dan tidak pernah teledor dalam bekerja” ucap Fahri tidak mempercayainya.
“Mama dan kembaran ku kembali ke negara ini” jawab Rendi yang akhirnya jujur.
“Apa? Mamamu yang kau bilang meninggalkanmu dan Papamu dulu.kembali ke negara ini. untuk apa dia kembali? Tidka puas dia menelantarkan dirimu dan Papamu” ucap Fahri yang merasa kesal sendiri mendengar hal tersebut. Dia memang tahu cerita keluarga Rendi, karena pria itu cerita dnegan orang tuanya dan orang tuanya cerita padanya sehingga dia tahu masalah ini.
__ADS_1
“Dia mengajak anak dari suaminya sekarang, ingin mengenalkan ku dengan anaknya”
“Tidak habis pikir aku dengan Mamamu, bisa-bisanya dia begitu. Tidka tahu malu sama sekali.”
“kalau kembaran mu, dia mau apa kesini dan kenapa kamu dan Thalia pindah apartemen” lanjut fahri menanyakan sesuatu yang membuat dirinya penasaran.
“Itu apartemenku dan Melody dulu. jadi tidak mungkin aku tinggali dnegan istriku. Aku sudah punya masa depan baru dnegan Thalia bukan dnegan Melody. Lagi pula itu sudah ditinggali Revan sekarang” jelas Rendi sedikit menunduk menceritakan alasan dirinya pindah.
“melody? Maksudmu tunangan dulu” kaget Fahri karena dia tidak tahu kalau apartemen itu juga milik Melody.
“Iya,.”
Fahri hanya menghela nafasnya,
“Revan kembaran mu itu kenapa dia yang malah tinggal di apartemen tersebut, bukannya kamu bilang tadi itu milikmu dan Melody”
“Dia selingkuhan Melody, dan dia menyukai Melody”
“Apa?” lagi-lagi fahri dibuat terkejut. Dia memang belum mengetahui fakta ini.
“ya sudahlah, aku sekarang hanya minta padamu. Fokuslah dengan pekerjaanmu, jangan membuat dirimu celaka ingat kalau kamu punya istri dan keluarga lain yang menyayangimu. Bagaimana kalau terjadi apa-apa padamu, pasti mereka akan sedih serta terpukul dnegan kenyataan” ucap fahri menasehati Rendi.
“Iya terima kasih atas nasehatnya” pungkas Rendi.
“Oh iya, satu yang ingin aku tanyakan padamu lagi. Kamu tidak ada keinginan untuk menemui Papamu dan mengenalkan Tahlia padanya”
“Ada, tapi tidak sekarang” ucap Rendi.
“bagus kalau memang ada niat untuk mengenalkan Thalia padanya, kamu tidak usah menganggap kalau dirimu asing dengan Papamu. Meskipun papamu sudah menikah dan memiliki keluarga lain, dia tetap Papamu, orang tuamu. Yang merawat mu hingga dewasa seperti ini” tukas Fahri.
“Iya, “ ucapnya lirih.
................................
__ADS_1
“Kamu mau mandi? sini aku bantu melepas bajumu” ucap Thalia yang barus aja masuk kedalam kamar dan melihat Rendi yang kesusahan melepas baju di dekat kamar mandi.
Thalia langsung berjalan mendekati Rendi yang langsung diam menanti istrinya mendekat padanya.
“Badan kamu hangat, tidak usah mandi saja ya” ucap Thalia yang membantu Rendi menaikan bajunya.
“Aku bukan anak kecil yang badannya hangat tidak mandi, tidak masalah kalau aku mandi” ucap Rendi sambil melihat Thalia yang sudah melepaskan baju untuknya.
“Ah nggak usah, kamu nggak suah mandi. sudah sini kamu duduk saja. Tubuhmu aku usah dengan air hangat saja” ucap Thalia mendorong Rendi pelan agar duduk di tempat tidur.
“Thalia aku tidak akan kenapa-kenapa kalau badanku panas terus mandi” pungkas Rendi sambil melihat Thalia yang masuk ke kamar mandi entah mengambil apa istrinya itu didalam kamar mandi.
“Oh iya aku lupa belum mengambil baskom untuk wadah air hangat” ucap Thalia langsung berlari kecil keluar dari dalam kamar mandi. dia membuka pintu kamar meninggalkan suaminya yang hanya melihat apa yang dia lakukan.
Tidak terlalu lama, Thalia kembali dengan membawa mangkuk yang agak besar serta handuk yang ada di bahunya saat ini.
“Kamu pokoknya jangan mandi, aku usap saja” ucap Thalia berdiri didepan rendi sekarang.
“Astaga, aku bukan anak kecil” ucap Rendi seakan menolak untuk menuruti Thalia.
“Aku tahu kamu bukan anak kecil,” tukas Thalia meremas handuk yang sudah dia masukkan kedalam mangkuk yang berisi air panas.
Dia mulai mengusap tubuh Rendi dnegan handuk tersebut, sedangkan Rendi hanya melihat Thalia yang begitu sigap mengusap tubuhnya.
Dia tidak menyangka Thalia yang notabennya anak seorang konglomerat dan juga selalu dimanja keluarganya bisa mengurus suami seperti saat ini.
“bagaimana, enakkan. Meskipun tidak mandi tapi segarkan aku usap begini?” tukas Thalia.
“Iya,” jawab Rendi.
Thalia terus membersihkan tubuh sang suami, dia mengusapkan handuk basah itu dengan begitu lembut dan penuh perhatiannya. Agar sang suami terlihat segar meskipun tidka mandi.
°°°
__ADS_1
T.B.C