Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 122 (Season 2)


__ADS_3

Rendi duduk di sofa ruang tamunya, selagi menunggu Thalia yang masih ganti baju dia tampak sibuk dengan ponselnya saat ini.


Baru saja dia akan menelpon seseorang tapi kegiatannya itu terhenti karena ada dua orang yang masuk kerumahnya saat ini.


“maaf pak mengganggu, kita sudah selesai memasang engsel pintunya. Kita berdua juga mau pamit pulang pak” ucap salah satu dari tukang tersebut.


“Oh sudah selesai ya,” ucap Rendi yang langsung berdiri menghampiri kedua orang tersebut.


“sudah pak”


“Terimakasih ya sudah membenarkan pintu saya, ini mau saya bayar langsung atau besok saja sekalian dengan pembuatan kamar mandi di kamar tamu?” ucap Rendi.


“Kalau ini bapak tidak usah membayar kita pak, karena sudah di bayar sama bapak Sasongko” ucap kedua tukang tersebut.


“Loh, kok Papa Sasongko yang membayar kalian.” Ucap Rendi tampak terkejut.


“Iya karena kan kita pegawai pak Sasongko, dia bilang biar dia saja yang membayar upah pemasangan pintu” ucap salah satu pekerja itu.


“Oh begitu, terimakasih ya pak.” Tukas Rendi, dan dia langsung terdiam, dia memikirkan soal bantuan Sasongko padanya. Kenapa juga pria paruh baya itu membayarkan pekerjanya.


“Kalau begitu saya permisi pak” ucap keduanya pamit pergi.


“Iya,” lirih Rendi dan langsung duduk di sofa.


“kenapa Papa yang membayarnya, kalau tahu begitu aku tidak minta tukang yang bekerja di perusahan konstruksinya” gumam Rendi merasa tidak enak sendiri dengan Sasongko. Keluarga Sasongko sudah banyak membantunya, dan bukan itu saja ia juga merasa tidak enak dengan Fahri. Fahri yang anaknya sendiri dulu jarang dibantu. Tapi dia bukan siapa-siapanya malah jor-joran dalam membantunya.


“Kamu kenapa diem aja? Mikirin apa?” tanya Thalia yang tiba-tiba sudah berada di dekat Rendi saat ini.


Rendi langsung berdiri dan berjalan ke sebelah istrinya, dia melihat Thalia sekilas dan ragu untuk mengatakan ini. tapi dia sudah janji dengan dirinya sendiri kalau ia harus mulai terbuka dengan istrinya.


‘Itu, kan tadi ada orang yang kerja benerin pintu. Aku ambil mereka dari perusahaan Papa Sasongko. Kamu tahu kan Papa Sasongko punya perusahaan konstruksi?” ucap Rendi dan melihat wajah Thalia.


“Iya aku tahu, terus kenapa?” heran Thalia.


“Nah yang kerja tadi malah sudah di bayar sama Papa, aku jadi nggak enak sama Papa Sasongko dan Fahri.” Jelas Rendi mengutarakan kecemasan yang dia pikirkan.


“Ya udah, mau bagaimana lagi. Anggap saja itu rezeki kamu. kamu nggak minta kan, dia sendiri yang mau bayarin, nggak usah ngerasa nggak enak. Fahri juga pasti nggak pa-pa” ucap Thalia menenangkan Rendi, dia memegang tangan sang suami.


“Tapi, aku nggak enak aja sayang. Mereka sudah banyak bantu aku selama ini” ucap Rendi masih begitu risau.


“Udah nggak pa-pa, kamu kan juga dulu banyak bantu mereka soal Fahri, udah anggap aja balas budi mereka buat kamu” ucap Thalia.


Rendi tidak menjawab dia malah mencium kening Thalia sekarang, kemudian dia merengkuh sang istri membawanya ke pelukannya saat ini.


“makasih kamu selalu mengerti aku,”


“Seharusnya aku yang berterima kasih sama kamu, kamu selama ini selalu sabar sama aku. aku banyak ulah, selalu tidak percaya sama kamu tapi kamu selalu memahami aku. aku janji mulai sekarang aku nggak bakal berkata kasar lagi sama kamu atau melakukan hal yang buat kamu pusing sama sikap aku” ucap Thalia yang berada di pelukan Rendi.


“Kamu serius sama omongan kamu?” ucap Rendi sedikit melepaskan pelukannya.


“Ya serius lah, masa nggak. Kan aku jadi istri polisi terus sebentar lagi aku juga jadi ibu. Aku janji nggak bakal ke kanak-kanakan lagi” ucap Thalia dengan sungguh-sungguh.


“Syukur kalau kamu serius, aku main cinta sama kamu” ucap Rendi.


“haruslah, kalau kamu nggak makin cinta sama aku. aku bakal pergi dari kamu” ucap Thalia dengan sedikit bercanda mengancam Rendi.


“Jangan ngomong gitu ah,” pungkas Rendi.


“Ayo buruan pergi, nanti keburu magrib malah nggak jadi keluar. Ayo ketemu sama rekan-rekan kamu” ucap Thalia yang langsung melepaskan pelukannya pada Rendi.

__ADS_1


“Ngebet banget sih sayang mau ketemu Andre sama Hardi, aku cemburu loh” ucap Rendi menatap istrinya.


“Lebay, gitu aja cemburu. Aku sama Rey kamu tidak cemburu jelas-jelas dia manta tercintaku” ucap Thalia menggoda Rendi dengan menyebut Rey mantan tercintanya.


“Kalau sama dia aku tahu sifatnya, dia mantan tercinta kamu tapi kamu bukan mantan tercintanya. Eh malah Lita yang bukan mantannya yang jadi cintanya wkwkwkw” ucap Rendi tidak mau kalah menggoda Thalia yang langsung cemberut kesal.


“Udahlah nggak suah dibahas, buat mood ilang aja.” Ucap Thalia kesal.


“Loh kok jadi marah, yang mulai dulu kan kamu sayang” ucap Rendi sambil tersenyum tipis menatap istrinya yang cemberut.


“Udah ah, ayo, nggak usah dibahas lagi” tukas Thalia dan langsung menarik Rendi untuk keluar dari rumah.


“Ngambek nih ceritanya” bisik Rendi di telinga sang istri.


“Nggak, udah ah. Aku ngambek beneran mampus kamu” ucap Thalia menatap kesal suaminya yang terus menggoda dirinya saat ini.


“Ya udah yok” ucap Rendi berganti menggenggam tangan istrinya itu berjalan keluar dari rumah.


...........................................................


Revan duduk di teras rumah seorang diri, dia memang saat ini sedang di rumah sendiri. Papanya sedang dinas dan bundanya juga bersama dnegan Papanya di Kodim mengikuti acara ibu-ibu tentara yang lain. Sedangkan adik-adiknya tengah pergi mengerjakan pr di rumah temannya.


Drttt


Ponsel Revan yang ia taruh di meja sebelahnya bergetar membuat pria itu langsung melihat siapa yang menelponnya saat ini. karena kemungkinan itu Rendi yang khawatir dengannya, tiga hari ponselnya ia matikan. Ia tidak ingin diganggu siapapun termasuk Rendi atau Melody.


Bukannya Rendi yang menelpon tapi Melody yang menelponnya saat ini, membuat Revan terdiam melihatnya. Dia berusaha menghindari perempuan itu tapi Melody malah menelponnya saat ini.


Dengan berat hati Revan mengambil ponsel miliknya, dan mengangkat panggilan tersebut.


“Ya, ada apa?” ucap revan langsung tanpa memberi salam atau apapun.


“Untuk apa kau tanya aku dimana, bukan urusan kamu aku dimana. Ada apa meneleponku, kalau tidak penting matikan saja. Aku sibuk” ucap revan begitu ketus terhadap Melody.


“kenapa cara bicara kamu begitu sama aku, aku mau minta maaf sama kamu van. Tolong kasih aku kesempatan van” ucap Melody terdengar begitu memohon pada Revan.


“Untuk apa kamu minta maaf, kamu nggak ada salah sama aku”


“Aku salah van, aku salah. Aku mau kita balikan van, aku, aku nggak cinta sama Rendi aku cintanya sama kamu” ucap melody terdengar isakan dari seberang sana.


Revan hanya diam saja dia tidka ingin bicara lagi, baginya mendengarkan orang menangis sungguh tidak tega.


“Van, kamu dengar aku ka? Aku cinta sama kamu van. Aku mau balikan sama kamu” tangis Melody pecah memohon pada Revan.


“Maaf Mel, aku nggak bisa. Mungkin kita nggak bisa lanjut lagi. Hubungan kita terlalu rumit, aku minta maaf sama kamu. kamu cari pria lain saja, tapi jangan adikku. Dia sudah ada istri dan sebentar agi ada anak. Sudah dulu kalau begitu aku matikan” ucap Revan menolak mentah-mentah permintaan Melody. Dia langsung mematikan panggilannya begitu saja.


Revan langsung menaruh kembali ponsel miliknya di meja, dia menghela nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


Semoga apa yang dia lakukan ini memang jalan terbaik untuknya, dia harus bisa lepas dengan Melody.


.....................................................


“Kenapa lo pengen ketemu kita berdua?” tanya Andre pada Thalia yang duduk didepan dirinya saat ini bersama dnegan Rendi.


Disitu ada Andre dan juga Hardi yang sudah bergabung dnegan mereka di Cafe tempat keempatnya janjian bertemu.


“Nggak pa-pa, pengen aja ketemu sama teman-teman nggak jelas suamiku” ucap Thalia sambil menyedot minumannya.


“Kita nggak jelas, lo yang nggak jelas. Ngidam pengen ketemu kita, anak lo mirip kita mampus” ucap Andre.

__ADS_1


Rendi langsung memukul kepala Andre dengan sedikit pelan,


“Mana mungkin mirip kamu, dia anakku. Jangan asal bicara” tukas Rendi menatap tajam Rendi.


“Gue bercanda kali, nggak usah main pukul. Har, kayanya kita disini mau disiksa sama suami istri ini deh” ucap Andre setengah berbisik di telinga Hardi yang berada disebelahnya.


“Kayaknya gue nggak deh, tapi lo. Lo kan yang sering ada masalah sama singa betinanya Rendi” ucap harda tersenyum senang melihat Andre yang langsung melotot kearahnya.


“Kalian kenapa sih, pikirannya negatif melulu sama aku. aku kesini karena pengen aja beliin makanan buat kalian. Aku yang bayar, pesan aja sepuasnya” ucap Thalia pada kedua orang itu.


Rendi yang tidak tahu alasan istrinya ingin bertemu Andre dan juga Hardi langsung menatap kearah Thalia.


“kamu mau traktir mereka sayang?” tanya Rendi yang tak percaya dnegan itu.


“Iya” jawab Thalia sambil mengangguk.


“Eh, lo serius singa betina. Lo mau traktir kita” ucap Andre pada Thalia.


“Nggak usah panggil gue singa betina ya” kesal Thalia pada Andre.


“Lah, kenapa lo marah gue panggil singa betina. Tadi Hardi manggil lo beti lo nggak marah” ucap Andre merasa heran.


“Ya dia nggak pernah cari masalah sama aku. dia baik, dia sepupunya Putri” ucap Thalia.


“Hahah, mampus lo Dre” ledek Hardi.


“Wah Ren, istri lo pilih kasih” adu Andre pada Thalia.


“Udahlah, buruan kalian pesen apa.” ucap rendi mengabaikan aduan Andre barusan.


“Ini tapi serius lo mau traktir kita Thalia, ada apa?” tanya Hardi pada istri rekannya itu.


“Sebagai ucapan terimakasih ku buat kalian yang sudah mau menjadi rakan terbaik suamiku dan juga yang selalu menasehati dia selama ini” ucap Thalia pada keduanya.


“Kayak apa aja, kita rekan seperjuangan tentu saja saling menasehati” pungkas Andre.


“sudahlah buruan pesan. Sayang kamu mau apa?” tanya Thalia pada Rendi yang berada disebelahnya.


“apa aja sayang, kamu sendiri mau apa. biar aku yang pesankan” ucap Rendi balik bertanya pada istrinya.


“Apa aja terserah kamu yang penting jangan makanan berat, berat badanku kayaknya naik banyak” ucap Thalia.


“Iya, kalian berdua mau apa?” tanya Rendi pada kedua rekannya yang melihat kearahnya.


“Ini kayaknya kita dijadikan obat nyamuk sepertinya” cibir Andre.


“Pesan semua makanan saja, nanti kita saling cicip saja” usul Hardi


“Ya sudah kalau itu mau mu, kamu Andre mau apa?” tanya Rendi.


“sama aja, yang penting makan. Gue bete kalian cueki” ucap Andre sedikit cemburut.


Mereka semua mengabaikan saja, karena Andre memanglah orang begitu terlalu drama.


Thalia sekilas tersenyum ternyata enak juga adi orang yang sedikit lembut dan berbaur tanpa ada bersi tegang satu sama lain seperti ini. dia akan terus berusaha menjadi lebih baik lagi kedepannya.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2