Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
22


__ADS_3

"Cepetan lama sekali sih kamu, lemot" bentak Fahri didepan kamar Lita saat ini. Dia sudah siap dengan tuxedo hitam yang di perpadukan dengan kemeja putih didalamnya serta ada secarik sapu tangan yang terlipat rapi di kantung atas tepat di dadanya.


"Iya, Iya sabar mas" ucap Lita yang keluar dari dalam kamarnya saat ini.


"Kamu bilang aku harus sabar, sudah be.."ucapan Fahri berhenti seketika saat melihat Lita yang sudah rapi mengenakan gaun elegan dengan bahunya yang terekspos serta rambut perempuan itu yang terikat keatas.


Sungguh ia terpukau dengan kecantikan Lita saat ini. Bukan itu saja wanita itu juga tampak seksi dengan baju yang begitu pas ditubuhnya.


"Kenapa mas? ada yang salah denganku ya? apa bajuku jelek? aku ganti ya?" ucap Lita dan akan masuk kedalam kamarnya lagi.


Namun tangannya di cekal oleh Fahri sehingga membuatnya terhenti.


"Tidak usah, ini saja. Mau habis berapa jam kamu ganti pakaian, kau membuang waktuku saja ayo" ucap Fahri melepas tangan Lita dan berjalan dulu meninggalkan perempuan itu.


Lita berjalan pelan saat ini, walaupun dia sudah ditinggal sang suami duluan. Mau bagaimana lagi dia susah berjalan saat ini karena high heels yang ia gunakan.


Ini terlalu tidak nyaman untuknya, tapi bagaimana lagi. Ini kenang-kenangan yang diberikan Fahri dulu saat berpacaran dengannya. Ia ingin membuat pria itu tersentuh karena dia masih mau menggunakan high heels ini.


………………


Fahri masuk lebih dahulu kedalam tempat diadakannya pesta perayaan ulang tahun RV Group. Lita yang berjalan di belakangnya terseok-seok karena high heels yang entah kekecilan atau bagaimana yang jelas kakinya terasa sakit. Tapi sebisa mungkin ia tahan, mau bagaimana lagi, dia harus memakai ini.


"Ayo buruan lama sekali jalannya" tukas Fahri menatap kebelakang melihat Lita.


"Iya mas," jawab Lita lirih.


"Eh, eh itu Lita kan? Makin cantik sama tamba seksi aja dia. Gila body goals banget dia, konglomerat memang beda" ucap Beberapa pria yang ada disitu. Fahri mendengar hal tersebut membuat dia sekilas menatap ketiga pria yang sedang memegang minuman.


"Eh Jer, lihat tuh nyesel kan lo mutusin Lita dulu. Body lihat woy body goal aja dia makin cantik lagi" ucap ketiga orang itu menepuk bahu pria berkulit putih serta rambut yang sedikit keriting dengan wajah yang tampan.


Fahri yang mendengar kata mantan langsung bola matanya tertuju kepada pria yang baru saja datang tersebut.


"Itu mantan pacar Lita," ucap Fahri sinis.


"Udahlah kalian, itu udah masa lalu. Gue sama Lita nggak cocok dan udah nggak saling cinta lagi. Dia juga sudah punya suami"


"Suami? kapan dia married"


"Beberapa bulan lalu dia nikah, masa kalian tidak tahu siapa orang kepercayaan RV Group sekarang? yang disuruh untuk memimpin cabang utama RV"


"Maksudmu pemimpin DRV anak perusahaan dan sekaligus yang mengurusi RV Group saat ini"


"Iya,"


"Bukannya orang kepercayaannya kak David kakak dari Talita?"

__ADS_1


"Bukan tapi suami Lita yang mengurus semuanya sekarang."


"Whatt, jadi pria yang gue temui beberapa hari lalu di DRV itu suaminya. Pantes banget Lita cepat move on dari lo. Suaminya aja tampan dan keren banget" ucap Lucas


"Sialan lo" ucap Jery.


"Maaf bercanda"


Fahri seakan merasa menang sendiri saat ini, karena dia dipuji begitu.


"Tapi kemana suaminya? apa Lita datang sendiri. Gue ke sana ah, buat gandeng tangan mulusnya itu" ucap Nando genit.


"Dasar lo genit banget," sorak teman-temannya.


"Biarin, gue mau menghampiri dia dulu ya. Dia kayaknya jalan kesusahan, lo jangan cemburu jer" ucap Nando dan akan berjalan mengarah pada Lita yang perlahan berjalan kerah Fahri yang memperhatikannya dari jauh.


Sebelum Nando berjalan mendekati Lita, Fahri terlebih dulu berjalan mengarah pada istrinya tersebut dan saat sampai di samping sang istri Fahri langsung melingkarkan tangannya di pinggang ramping Lita. Membuat Lita terperanjat karena Fahri yang langsung mendekap pinggangnya.


Sementara Nando yang akan berjalan kearah Lita langsung berhenti seketika saat perempuan cantik itu didekap oleh seorang pria.


"Siapa itu? apa suaminya?" batin Nando dan langsung menatap ketiga temannya.


Senyum mengejek malah di perlihatkan oleh ketiga temannya itu sungguh menyebalkan mereka. Dengan segera Nando berjalan kearah teman-temannya lagi.


"Iya itu suaminya bego, kasihan deh lo. Sedari tadi suaminya denger kita ngomong lagi mampus gue di pidana nggak ya" ucap Nando ketakutan.


"Mana gue tahu" ucap Jery.


Fahri masih melingkarkan tangannya di pinggang Lita saat ini. Dia terus mendekap istrinya itu menandakan pada semua orang kalau wanita cantik ini adalah miliknya tidak ada yang bisa memandangnya kecuali dirinya seorang.


"Mas lepasin," ucap Lita yang merasa risih karena Fahri begitu kuat memegang pinggangnya.


"Kenapa? kau ingin sedikit jauh denganku biar bisa jadi wanita godaan bagi pria hidung belang" ketus Fahri.


Perkataan Fahri itu membuat Lita terperangah, bagaimana bisa Fahri mengatakan hal itu padanya.


"Ayo temui keluargamu sebentar lalu kita pulang"


"Kenapa cepat pulang? kita saja baru sampai dan dirimu termasuk direksi di sini"


"Aku pulang untuk mengantarmu, kau jangan disini lagi"


"Kenapa?"


"Diam lah cerewet sekali, ayok" pungkas Fahri menarik pinggang Lita kasar.

__ADS_1


"Arkhh," rintih Lita karena kakinya sakit.


"Kenapa?" Fahri berhenti memperhatikan Lita.


"Tidak," ucap Lita berbohong.


"Ayok" karena jawaban Lita itu membuat Fahri langsung mengajak Lita untuk berjalan lagi.


………………


Fahri sedang mengobrol dengan para koleganya termasuk Aryo, Aryo mengenalkan Fahri kepada semua koleganya tersebut dengan tujuan supaya mereka tahu menantunya yang ia percaya.


Lita yang berdiri di sebelah Fahri saat ini merasa lelah dan kakinya seakan tidak kuat lagi untuk berdiri karena menahan sakit.


"Mas,." bisik nya ditelinga Fahri.


"Ada apa?"


"Aku boleh duduk dulu tidak, aku capek"


"Kau gila, bagaimana kau bisa duduk duluan. Tidak temani aku disini" sentak Fahri sedikit keras.


"Ada apa Fahri, Lita" ucap Aryo yang merasa ada yang aneh dengan anak dan menantunya itu.


"Ti.." belum juga Fahri menjawab Lita sudah menyelanya dulu. Dia tidak perduli lagi pada Fahri yang akan marah padanya nanti, dia butuh duduk sekarang karena tidak tahan dengan kakinya yang nyeri.


"Aku lelah Pa, aku boleh duduk" sela Lita.


"Iya kamu duduk saja kalau lelah" ucap Aryo.


"Biarkan istrimu untuk duduk Fahri," ucap Aryo pada menantunya.


"Iya Pa"


"Sana Lita gabung dengan Mamamu serta adikmu. Atau dengan Kakakmu itu" ucap Aryo sambil menunjuk dua tempat yang berbeda.


"Iya Pa, Mas Fahri kalau begitu aku duduk dulu dengan kak David"


"Ya Sudah sana"


Lita langsung berjalan menuju David yang sedang bersama teman-temannya saat ini.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2