
Fahri masuk kedalam kamarnya, saat dia membuka pintu. Dia mendapati istrinya yang diam saja membelakangi dirinya.
“Sayang,.” Panggil fahri pada Lita.
Lita yang merasa terpanggil, menoleh kebelakang melihat kalau suaminya ternyata sudah pulang dan sedari tadi dia tidak mendengar pintu dibuka. Dia tengah tenggelam dalam dunianya sendiri, pikirannya terbayang Thalia tadi yang marah-marah dengannya.
“kamu sudah pulang,” ucap Lita berdiri dari duduknya untuk berjalan menghampiri Fahri yang mendekat kearahnya saat ini.
“Tadi kamu tampak terkejut, saat aku masuk. Kamu tidak mendengar ku pulang?” tanya Fahri memegang lengan Lita yang sudah berada di depannya saat ini. dia mengamati istrinya yang seperti sedang memikirkan sesuatu. Entah apa yang membuat istrinya terlihat lelah.
“Kamu sedang memikirkan apa? Kenapa tamak lesu begitu. Kamu sakit?” tanya Fahri dengan penuh kekhawatiran dalam dirinya. Dia menatap Lita yang diam sembari sesekali memalingkan wajah.
“kamu sakit? Mau aku antar ke dokter” tanya Fahri sekali lagi karena istrinya terlihat enggan untuk merespon.
“nggak, aku tidak sakit. Sini aku lepas dasi mu,” ucap Lita menarik dasi Fahri sehingga membuat Fahri seketika mendekat padanya. Fahri diam saja tapi dia tidak lepas menatap istrinya.
“Sayang, jangan bohong padaku. Kalau kamu tidak sakit, kamu ada masalah? Masalah apa cerita padaku” Fahri masih bersikeras bertanya pada Lita yang sepertinya tidak mau menjawabnya.
“Aku tidak ada masalah, sudah aku lepas dasi mu. Sana kamu mandi dulu, aku buatkan teh hangat untukmu” ucap Lita dan melipat dasi Fahri. Ia berjalan menjauh dari suaminya itu menaruh dasi yang habis digunakan Fahri ke keranjang cucian kotor.
Fahri hanya memperhatikannya saja, tapi dia terlihat begitu penasaran dan dia tidak bisa seperti ini terus. Ia harus tanya pada istrinya sebenarnya apa yang membuat Lita tampak lesu begitu.
“kamu kenapa, cerita nggak sama aku?” akhirnya Fahri bicara dengan tegas. Dia menahan tangan istrinya yang akan melewati dirinya saat ini.
“Sini, cerita sama aku. kamu kenapa?” ucap Fahri menarik Lita pelan mereka duduk di pinggir tempat tidur sekarang.
“Nggak pa-pa, kamu khawatir banget sih sama aku sayang. Ini aku nggak pa-pa, aku hanya lelah saja” Lita berbohong sambil tersenyum menunjukan deretan giginya dan memegang kedua pipi Fahri.
“Aku nggak pa-pa sayang, kamu mandi sana. Aku buatkan teh hangat, kalau kamu tidak mau mandi aku tidak mau tidur denganmu loh” ucap Lita lagi masih memegang wajah Fahri. Dia mendekatkan dirinya pada sang suami saat ini dan mencium bibir Fahri.
“Sudah, sana mandi. Aku sudah kasih hadiah kan” pungkas Lita sambil tersenyum dan dia mulai berdiri.
“Ya sudah kalau kamu tidak apa-apa, aku mandi dulu” ucap Fahri yang ikut berdiri dan dia melihat sekilas kerah istrinya lalu berjalan kearah kamar mandi saat ini.
...........................
__ADS_1
Fahri sudah selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang ter sampir di bahunya saat ini. dia melihat istrinya tengah duduk di sofa dengan melamun lagi seperti tadi. Dia semakin yakin kalau Lita saat ini sedang memikirkan sesuatu. Pasti ada yang istrinya itu sembunyikan darinya.
“Udah kamu bilang sekarang sama aku, kamu mikirin apa. Jangan sama aku, bilang sayang” ucap Fahri dengan tegas menyuruh istrinya tersebut untuk jujur. Ia berjalan menghampiri Lita yang langsung melihat kearahnya.
“Aku nggak mikirin apa-apa, itu teh kamu buruan diminum” ucap Lita mengalihkan pembicaraan dia sedikit bergeser karena Fahri duduk disebelahnya sekarang.
“nggak, aku tahu banget kamu. Kamu pasti ada yang dipikirkan” Fahri menekan Lita agar perempuan itu jujur.
“ya udah kalau kamu nggak percaya. Aku mau tidur aa” ucap Lita yang masih tidak mau jujur dia malah akan pergi ke tempat tidur saat ini.
“iya aku percaya,” ucap Fahri yang akhirnya mengalah karena daripada dia bertengkar dengan istrinya karena hal ini. besok-besok saja dia membicarakan hal ini lagi.
“Oh iya sayang sebentar,” Fahri berdiri tiba-tiba membuat Lita melihat kearahnya.
Lita melihat kearah Fahri yang mengambil sesuatu dari saku celana yang sudah ada di keranjang pakaian kotor. Terlihat Fahri mengambil sebuah dompet kecil seperti dompet wanita dari dalam saku itu. Tunggu dompet wanita, dompet siapa itu? Kenapa Fahri membawa dompet wanita di dalam saku celananya, batin Lita bertanya-tanya.
“Ini sayang, berikan pada adikmu.” Ucap Fahri menyerahkan dompet tersebut pada Lita dan dia berjalan untuk duduk kembali di tempatnya.
“Punya siapa?”
“kenapa kamu yang bawa, dia menemui mu? Dia bicara apa?” tanya Lita penuh selidik.
“Cemburu sayang, bukan aku yang membawanya tapi Rendy. Dia yang membawa dompet Thalia dan menyerahkannya padaku” jelas Fahri sambil mengusap gemas kepala istrinya yang menurutnya sedang cemburu saat ini.
“nggak, aku nggak cemburu. Bagaimana bisa Rendy membawa dompet Thalia?” heran Lita menatap penasaran Fahri.
“Dia bertemu Thalia di Club beberapa hari lalu dan dompetnya jatuh. Jadi dia memberikan itu padaku karena ada foto Mama dan papa disitu” jelas Fahri.
“Kamu saja yang berikan padanya,” lita mengembalikannya lagi pada Fahri.
Seketika Fahri dibuat heran, kenapa dengan Lita.
“Aku tidak mau sayang, nanti kamu cemburu” ucap fahri serius.
“nggak , siapa yang cemburu” Lita langsung meninggikan suaranya.
__ADS_1
“Ya elah beranda sayang,” kekeh Fahri melihat ekspresi istrinya.
“Nggak lucu,”
“Siapa bilang lucu?”
Lita langsung mencubit pinggang Fahri membuat pria itu mengaduh sakit sambil memperhatikannya.
“Sakit sayang,” keluh Fahri.
“salah sendiri,”
“Iya maaf. Kamu kenapa tidak mau memberikan ini pada Thalia, aku juga tidak mau memberikan pada adikmu itu” ucap Fahri, dia menatap Lita.
“nggak pa-pa, kalau kamu tidak mau memberikan padanya berikan saja pada kak David.” Pungkas Lita.
“Iya aku berikan pada kak David, tapi kamu yang menelponnya ya. Kamu tahu sendiri kakakmu itu padaku” ucap Fahri.
“kamu saja yang menelponnya, aku capek. Aku tidur duluan ya,” ucap Lita berdiri dari duduknya.
Tapi sebelum pergi dia menunduk mengecup singkat wajah Fahri.
“selamat malam suamiku, aku tidur dulu ya.” Ucap Lita setelah mencium Fahri dan dia langsung berjalan pergi dari hadapan suaminya itu.
Sementara Fahri menatap aneh pada Lita, dia semakin dibuat penasaran saja sebenarnya apa yang terjadi pada istrinya itu. Besok dia harus menanyakan lagi soal hal ini.
Fahri juga berdiri juga menyusul istrinya,
“sayang , ini masih sore loh. Masa kamu mau tidur, kebawah yuk temani aku makan. Aku pengen makan mie instan buatkan ya” ucap Fahri melihat Lita yang berbaring di tempat tidur.
Lita langsung mendudukkan dirinya dengan cepat menatap suaminya.
“kamu belum makan? Kenapa nggak bilang. Aku jadi nggak enak kan sama kamu. Ayo aku buatkan kamu makan” ucap Lita langsung beranjak dari tempat tidur dia langsung menggandeng lengan Fahri saat sudah sampai didekat pria itu.
°°°
__ADS_1
T.B.C