
Rino bertandang ke rumah Revan saat ini, dia dan istrinya sedikit terkejut karena melihat ada mobil yang terparkir didepan rumah saat ini.
“Ini mobil siapa ya pa?” tanya Vina pada suaminya.
“Nggak tahu bun, mungkin tamunya Revan atau nggak Deo” jawab Rino yang juga tak tahu itu mobil siapa yang terparkir didepan rumah saat ini.
“Oh, atau jangan-jangan ini mobil Revan pa. Kan dia waktu itu bilang mau beli mobil.” Vina langsung teringat kalau anak suaminya itu pernah bilang akan membeli mobil.
‘mungkin bun, ya udah ayo masuk kedalam” pungkas Rino dan mengajak istrinya untuk segera masuk kedalam saat ini.
“ayo pa” balas sang istri.
Mereka berdua langsung berjalan masuk kedalam rumah saat ini, keduanya datang bukan karena ingin melihat mobil Revan. Mereka datang karena ada yang ingin mereka sampaikan pada Revan.
“Assalamualaikum van,” ucap keduanya memberi salam didepan pintu.
“Walaikumsalam, eh papa bunda” balas revan dari dalam, dia tak lama keluar dari dalam rumah.
“Lagi apa van di dalem?” tanya bunda pada putranya itu.
“Itu lagi masukin gelas habis ada tamu tadi” jawab Revan.
“Duduk Pa bunda” ucap Revan lagi mempersilahkan kedua orang tuanya untuk duduk.
“Di luar mobil siapa van?” tanya Rino membuka suaranya saat sudah duduk di sofa.
“Itu mobil baru ku pa, yang aku ceritakan sama Papa”
“Oh, alhamdulilah kalau kamu sudah eli mobil. Pekerjaan kamu kan makin muda sekarang ada kendaraan”
“Iya pa”
“Papa sama bunda ada perlu apa ya? Tumben kesini?” tanya Revan yang penasaran akan kedatangan papanya dan juga bundanya itu. karena tahu sendiri Papanya sibuk di Kodim selalu kedatangan tamu dan banyak kegiatan di sana.
“Begini Papa sama bunda kesini mau tahu jawaban kamu soal pertanyaan Papa beberapa waktu lalu saat kita di Jakarta.”
“pertanyaan soal apa ya pa?” Revan tampak tak mengerti dengan ucapan Papanya.
“Soal perjodohan kamu dan Chaca. Gimana kamu mau nggak van?” ucap Vina pada putranya itu. matanya menunjukkan rasa harap pada sang anak.
Revan terdiam, ia bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dia harus bilang apa kalau dia menolak ini dan Chaca juga tidak mau dengan perjodohan mereka.
“Kenapa diem van,? Masih ragu buat nikah? Apalagi yang kamu ragukan. Bisnis kamu sudah jalan malah makin maju rumah sudah ada kendaraan juga sudah ada. Lalu apa yang masih kamu raguin” ucap Rino menatap anaknya yang diam tampak memikirkan apa yang akan diucapkan.
“Chaca sudah mau loh menikah sama kamu, masa kamu nggak mau” ucap Vina yang membuka suaranya.
Revan langsung melihat kearah bundanya, dia menatap tak mengerti ucapan tersebut.
“Gimana bun? Chaca mau menikah sama aku? mana mungkin” Revan tampak terkejut mendengan ucapan dari bundanya.
“kenapa nggak, dia sudah ingin menikah juga. ibunya juga sudah pengen punya cucu dari dia” ucap Vina.
“bukan itu maksudku, dia punya calon lain bukan aku yang dia mau. aku juga nggak cinta sama dia bun”
“kata siapa Chaca punya orang lain, kalau dia punya orang lain nggak mungkin dia mau menikah sama kamu. buktinya dia mau kan? terus kalau kamu belum cinta sama dia masalah cinta itu gampang van. Nanti seiringnya waktu kamu juga cinta sama dia” ucap Rino menasehati sang anak soal hal itu.
__ADS_1
“”kataku lah pa. Aku lihat sendiri dia sama pacarnya mau nikah tapi putus karena perjodohan ini” tegas Revan.
“apa iya van, tapi Chaca ditanya soal ibunya dia nggak punya calon sendiri makanya dia mau nurutin janji papa kamu sama ayahnya”
Revan langsung membuang muka, dia tak mengerti kenapa Chaca tiba-tiba mau menikah dengannya jelas-jelas perempuan itu sudah punya pacar.
“kalau kamu masih bingung, Papa tunggu jawabanmu segera van. Papa sama bunda pergi dulu di kodim masih ada tamu papa. Ayo bun” Rino mengajak istrinya untuk berdiri dan berpamitan pada sang anak.
“Ya udah van, bunda sama Papa kamu pamit pergi dulu ya. Kamu pikirin dulu mateng-mateng soal ini” ucap sang bunda.
“Iya bun” jawab Revan yang ikut berdiri dari duduknya saat ini mengantar kedua orang tuanya ke depan.
.........................................................
Thalia sedang menggendong Relia di depan rumah saat ini, dia saat ini mengurus anaknya tak di bantu oleh Mamanya lagi. Karena mamanya berpikir sudah hampir sebulan usia anaknya jadi dia bisa mengurusnya sendiri tanpa bantuan sang Mama.
“Anak Mama..” ucap Thalia sesekali bersenandung sambil melihat wajah anaknya itu.
“cepet gede ya sayang, nanti kita jalan-jalan sama papa” Thalia mulai berbicara pada sang anak yang jelas belum mengerti.
Rendi sendiri saat ini sudah berangkat dinas, karena sudah agak siang, pria itu banyak pekerjaan di kantor apalagi nanti dia pamit untuk pulang malam karena harus patroli.
Pekerjaan Rendi yang padat itu karena menggantikan tugas rekan-rekannya yang dulu menggantikan dinas Rendi saat Rendi mengambil cuti lama.
“nanti Papa kamu pulang malem, kita enaknya ngapain ya” ucap Thalia berbicara pada anaknya lagi.
“Non Thalia, den rendi menelpon” ucap Bi Jumi yang berlari dari dalam sambil membawakan ponsel milik Thalia yang tengah berdering.
“Mana bi” pinta Thalia
“Ini bi tolong gendong Relia sebentar” pungkas Thalia sambil menyerahkan sang anak pada asisten rumah tangganya itu.
“iya non” Bi Jumi langsung mengambil alih Relia dari tangan sang majikan dan Thalia sendiri langsung mengangkat panggilan tersebut.
“Halo ada apa?” tanya Thalia langsung pada suaminya.
“Sayang tolong kamu liatin di kamar ada map biru apa nggak?”
“kenapa memangnya? Ketinggalan ya?”
“Iya aku tadi lupa nggak bawa itu, komandan mau lihat catatan kriminal yang aku bawa”
“Kamu kok bisa lupa sih,”
“Ya namanya manusia sayang ada lupanya. Tolong ya?” pinta Rendi di seberang sana.
“Ya udah, aku liatin dulu. misalnya kalau ada gimana?”
“Kamu suruh orang anterin kesini aja”
“Hemm, ya udah nanti aku anterin”
“Jangan kamu, orang lain aja. Aku nggak mau kamu nyeri atau apa karena jalan jauh”
“Naik mobil kok jalan”
__ADS_1
“ya habis turun dari mobil apa nggak jalan”
“Hemm, ya udah aku lihatin dulu” pungkas Thalia.
“Bi tolong gendong relia sebentar ya, misalnya kalau tidur di taruh di kamar bawah aja. Aku mau keatas sebentar” perintah Thalia pada sang asisten rumah tangga.
“Iya non,”
Thalia langsung berjalan pergi meninggalkan Bi Jumi dan anaknya, dia harus melakukan apa yang disuruh suaminya itu.
Bi Jumi sendiri menggendong anak majikannya dan sesekali dia juga bersenandung untuk membuat bayi yang hampir sebulan itu tidur.
.........................................
Andre dan Hardi tengah duduk didepan kantor polisi melihat beberapa motor yang berhasil di razia rekan-rekannya. Mereka yang polisi senior disitu berkewajiban melihat hasil kerja para juniornya dan juga rekan sebayanya yang menangkap para pemotor yang melanggar aturan dan juga motor yang tidak sesuai standar.
“Gila anak jama sekarang motor di modif kayak begini dibawa kejalan raya” ucap Andre saat melihat salah satu motor yang tampak berwarna dan sudah di modifikasi dengan bentuk yang agak berbeda.
“Maklum dre anak jama sekarang kreatif-kreatif semua” sahut Hardi.
“Iya sih kreatif tapi nggak begini juga, lihat ada motor yang knalpotnya bong begini.” ucap Andre sambil geleng kepala melihat itu.
“Ndre, itu istrinya endi kan. kok kesini dia?” ucap Hardi sambil menunjuk kearah Thalia yang baru saja keluar dari mobil.
“Iya, itu singa betina. Ngapain dia kesini? Jadi de javu waktu itu yang dia ngamuk-ngamuk. Jangan-jangan mau rusuh lagi” tebak Andre yang sudah negatif thinking terlebih dulu saat melihat Thalia.
“Jangan suudzon lagian ngapain juga dia mau ngamuk marah-marah. Rendi aja nggak kenapa-kenapa” pungkas Hardi yang berbicara ditelinga Andre.
“Iya juga sih, dilihat-lihat tuh orang kayak makin gede aja”
“Ya wajarlah, dia habis melahirkan”
“Iya juga sih” ucap Andre yang baru ingat soal itu.
“Maaf, boleh kesini” ucap Thalia yang sudah berada didekat dua orang itu meminta keduanya yang memang sedari tadi melihatnya untuk lebih dekat lagi.
“Siapa? Kita?” tukas Andre.
“Iyalah siapa lagi. Ya kali polisi yang jauh di sana” tukas Thalia sambil melihat dua orang polisi yang memang bersama mereka berdua tapi agak jauh.
“Tumben bilang maaf, ada apa?” tukas Hardi yang menatap aneh Thalia.
“Nah, itu tumben bilang maaf. Ya aku pikir dirimu bicara dengan orang lain”
“Bukannya kalian yang sering mencibirku tidak punya tata krama. Makanya aku bertata krama dengan kalian sekarang.” Pungkas Thalia pada kedua rekan suaminya.
“Ada apa perlu apa kemari?” tanya Andre.
“Tolong panggilkan suamiku dong, ini berkasnya ketinggalan di rumah” ucap Thalia.
“Ya sebentar kita panggilkan” ucap Hardi dan akan pergi untuk memanggil Rendi terlebih dahulu.
°°°
T.B.C
__ADS_1