
Thalia dan Rendi sudah mendarat di Jakarta, pria itu berjalan sambil menggandeng istrinya dan juga tangan satunya ia gunakan untuk menarik koper milik Thalia dan pundaknya juga tampak menggendong tas ransel. Tak lupa kaca mata hitam melengkapi penampilannya saat ini.
Sedangkan Thalia memakai dress putih hingga di bawah lutut sehingga tidak terlalu mengekspos paha perempuan itu. karena Rendi tidak suka istrinya memakai pakaian minim apalagi saat hamil ini. sepatu juga Rendi yang menentukannya, Thalia tidak diijinkan memakai sepatu hak tinggi sehingga saat ini hanya memakai sepatu Flat shoes.
“Kita mau pulang dulu atau mau ke rumah sakit?” tanya Rendi sambil melihat sekilas kearah istrinya.
“Pulang dulu ya, aku capek. Pinggangku pegal” lirih Thalia sambil memegang pinggangnya sediri yang terasa pegal saat ini.
“Pinggang Mu sakit? Kenapa nggak bilang” tanya Rendi dan berubah menjadi cemas.
“cuman begini masa aku harus bilang lebay banget” pungkas Thalia.
“Ya udah ayo kita pulang dulu kamu istirahat dulu di rumah. Kalau ke rumah sakit juga mau apa, Lita sudah melahirkan. Jadi percuma kalau kamu ke sana karena tidak bisa melihat dia melahirkan” jelas Rendi mengajak istrinya ulang saja.
“Anaknya perempuan atau laki-laki lagi?” tanya Thalia.
“Fahri tadi sih bilangnya laki-laki lagi, ayo jalan itu ada taksi” ucap Rendi mengajak Thalia untuk jalan kembali setelah mereka sempat berhenti untuk sekedar bicara.
“mereka dapat anak laki-laki lagi, kalau misalkan anak kita lahir nanti aku ingin dapat anak perempuan saja.”
“Kenapa mau anak perempuan?”
“Ya kan Anak Lita laki-laki semua, kak David juga laki-laki. Jadi aku ingin anakku perempuan nantinya agar disayang oleh kakak-kakaknya” ucap Thalia penuh harap.
“Aammin, dan semoga saja anak kita tidak cuman satu tapi dua sekaligus. Kamu nggak masalah kan?”
“Maksud kamu kembar?”
“Iya kembar, nanti kita ke rumah sakit kan. kita sekaligus lihat jenis kelamin anak kita mau kan?” ucap Rendi meminta pendapat Thalia.
“Terserah kau saja” ucap Thalia seakan tidak keberatan dengan ucapan Rendi.
.................................
Rendi saat ini sedang duduk di kursi dapur, dia tampak sibuk memegang ponselnya sedari tadi saat dia bangun tidur sehabis pulang dari bandara. Thalia sendiri saat ini tengah tidur membuat dia bisa keluar sebentar untuk menelpon seseorang.
Dia memang sengaja menunggu Thalia tidur agar dia bisa menghubungi orang yang akan dia ajak bicara saat ini.
“Halo,” ucap Rendi saat panggilan di seberang sana sudah di angkat.
“Iya halo, ada apa kamu meneleponku Ren?” tanya seseorang laki-laki di seberang sana.
“Aku ingin bicara sesuatu padamu tetapi kau jangan mengatakannya Thalia?”
“Apa yang akan kau bicarakan?”
“Kau berjanjilah dulu padaku Rey, jangan katakan apapun pada Thalia nanti” ucap Rendi menyuruh Rey untuk berjanji padanya saat ini.
__ADS_1
Benar, yang di telpon Rendi adalah Rey. Dia ingin bicara dnegan mantan pacar istrinya itu tanpa sepengetahuan Thalia.
“kenapa kau menyuruhku berjanji, memang apa yang akan kau katakan?”
“Ini soal rahasia mu dengan Thalia, bagaimana? Kau mau menuruti ku. Jangan katakan apapun pada Thalia”
“Ya,.” Jawab Rey menyanggupi untuk tidak mengatakannya pada Thalia.
“Ada apa?” tanya Rey meminta Rendi untuk segera bicara.
“Kau membantu Thalia soal Melody kan? kalian memberikan perawatan terbaik pada Melody benar atau tidak” tukas Rendi.
“Ya, kau sudah tahu sendiri dari Thalia kan. lalu untuk apa kau bertanya lagi padaku?”
“Aku hanya tanya rencana apa yang kau lakukan dengan Thalia?”
“Rencana apa maksudmu, aku tidak ada rencana apa-apa?” heran Rey tak mengerti dengan pertanyaan Rendi.
“mana mungkin kalian tidak ada rencana, kalian pasti ada rencana untuk mempertemukan Melody denganku kan. buang jauh-jauh rencana itu, dan aku minta tolong padamu bilang pada keluarga Melody kalau yang membiayai semua pengobatan itu Thalia dan katakan pada Melody kalau aku sudah punya istri yaitu Thalia yang membiayai dirinya. Kau bisa kan mengatakan itu, saat ini kaus edang di Inggris bukan?” tanya Rendi pada Rey.
“Kau serius memintaku mengatakan itu, bukannya kau seharusnya senang karena Melody akan pulang dan akan bertemu denganmu. Lalu kenapa kau malah menyuruhku mengatakan semua soal Thalia pada Melody?”
“kata siapa aku senang Melody pulang,?”
“Bukannya kau begitu?” Rey malah balik bertanya.
“Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak senang Melody pulang. Aku tidak berharap dia kembali ke Indonesia dan bertemu denganku. Aku sangat butuh bantuan mu meyakinkan Thalia kalau aku tidak mengharapkan Melody lagi dan tolong jangan menurut apa yang dia katakan. Dan katakan pada keluarga Melody dan juga perempuan itu kalau aku sudah menikah” pungkas Rendi sedikit pelan sambil was-was takut Thalia akan keluar dari kamar.
“Aku memang yakin kalau kau mencintai Thalia tapi perempuan itu bodoh tidak tahu perasaanmu, dia masih terus gelisah soal ini. kalau kau memang serius mencintai Thalia aku akan lakukan apa yang kamu minta. Aku juga tidak ingin melakukan rencana gila Thalia, perempuan itu memang tengah gila.”
“Terimakasih karena mau membantuku”
“Ya, aku bantu. Tapi, aku juga takut hubunganmu dengan Thalia kedepannya. Perempuan bernama Melody ini terus bersikeras untuk pulang dan ingin bertemu denganmu. Lusa dia akan pulang dengan pria bernama Revan dan juga dengan keluarganya. Ia ingin menemui dirimu, bagaimana tanggapan mu soal ini” pungkas Rey.
“Katakan saja soal apa yang aku bilang padamu, kalau kau bilang mungkin perempuan itu tidak ingin menemui ku lagi” ucap Rendi dengan begitu yakin.
“Oke, kalau begitu besok aku bilang padanya. Disini sudah malam, aku tidur dulu” ucap rey pada Rendi.
“Terimakasih sebelumnya”
“Sama-sama bro,”
“Aku matikan” tukas Rendi dan langsung mematikan panggilannya.
Dia langsung buru-buru memasukkannya ke saku celana agar Thalia tidak melihatnya. Setelah itu Rendi langsung berjalan pergi kedalam kamar. Dia akan membangunkan Thalia untuk melihat Lita dan juga anaknya yang baru saja di lahir kan.
..........................................
__ADS_1
Thalia dan Rendi saat ini berjalan di koridor rumah sakit, dengan Rendi yang menggandeng tangan Thalia. Dia seakan tidak ingin jauh dengan istrinya.
“kamu harum banget?” ucap Thalia yang tiba-tiba mencium leher Rendi membuat langkah Rendi langsung berhenti karena ulah aneh istrinya.
“Masa sih nggak ah, jangan sembarang deh sayang” ucap Rendi menatap aneh istrinya.
“hehhe bercanda, ayo jalan” tahlia malah tersenyum mendengar. Dia memang sedang menjahili Rendi, entah mengapa dia ingin jahil saja dengan pria itu yang sedari tadi diam sambil berjalan.
“Kamu ini memang nakal” tukas Rendi dan sedikit menggigit telinga thalia dan dia mengecup leher istrinya.
“Nah gini, masa dari tadi diem aja. Memang aku cuman patung kamu diemin” ucap Thalia yang kesenangan bahkan dia semakin mengeratkan rengkuhannya pada lengah kokoh Rendi.
“Ya mau gimana, kita lagi jalan masa mau ngobrol. Ini rumah sakit” ucap Rendi yang bingung dia harus apa.
“Aku mau bermain denganmu nanti?” ucap Thalia sedikit berbisik ditelinga Rendi.
“bermain denganku?” ucap rendi menghentikan langkahnya dan menatap Thalia.
“”masa kau tidak mengerti?”
“Aku mengerti, tapi dimana. Ini di rumah sakit, mau di mobil?” ucap Rendi pada istrinya yang sepertinya hormon kehamilannya sedang meningkat.
“Di salah satu ruangan disini. Fahri Kan memboking banyak ruangan. Kita pinjem satu, untuk kita bermain” ucap Thalia dengan manja.
“Ya, terserah dirimu. Apa yang kamu inginkan aku lakukan” ucap Rendi yang menurut saja apa kata Thalia.
“Thanks,” ucap Thalia dan dia tiba-tiba saja berjinjit dan mencium bibir sang suami.
“Ayo jalan, aku malu sendiri begini” ucap Thalia lagi dan langsung mengajak Rendi untuk berjalan lagi.
“Salahmu sendiri, tapi aku suak denganmu yang agresif begini” ucap Rendi yang mengganti letak tangannya. Yang kini merengkuh pinggang istrinya.
“Itu ruangan Lita, ayo buruan. Nanti mereka menunggu-nunggu kita” ucap rendi mengajak Thalia untuk cepat.
“hemm,” sahut Thalia.
“Habis itu kita ke dokter kandungan dulu ya, kita lihat kandungan mu baru kita melakukan apa yang kamu mau tidak apa kan?” ucap Rendi sambil berjalan merengkuh istrinya.
“Oke,” ucap Thalia senang.
Rendi melepas rengkuhannya pada Thalia saat dia akan masuk kedalam ruang rawat Lita, dan Thalia sedikit bergeser di belakang suaminya untuk masuk kedalam .
Belum juga pintu terbuka, ada seseorang yang dilihat Thalia, perempuan itu melambaikan tangannya sambil tersenyum pada orang tersebut. Membuat rendi melihat kearah Thalia melihat yaitu tepat didepan mereka. Wajahnya langsung mengeras saat melihat orang tersebut.
°°°
T.B.C
__ADS_1