
Didalam pesawat David yang duduk di samping Lita saat ini hanya melihat adiknya terus yang seperti tidak rela untuk pergi.
"Kamu tidak senang pergi ke Belanda?" ucap David melihat adiknya.
Lita langsung melihat kakaknya itu,
"Aku senang, tapi aku khawatir memikirkan suamiku yang masih lemah" ucapnya terlihat guratan cemas diwajahnya.
"Jangan memikirkan pria brengsek itu Lita, dia saja tidak memikirkan dirimu. Dengarkan apa kata kakak, Fahri menikahi mu hanya untuk balas dendam mengerti" tegas David memegang bahu adiknya.
Perlahan Lita melepaskannya
"Aku tidak bisa membencinya kak, aku mencintainya. Aku tidak perduli soal itu, tekad ku masih kuat untuk membuatnya mencintaiku. Tolong beri aku kesempatan baru jika aku tidak berhasil kakak bisa membawaku pergi" ucap Lita dengan pilu.
Sungguh, dia begitu mencintai Fahri. Karena baginya Fahri telah membawa warna tersendiri untuknya. Dia tidak perduli meskipun pria itu menikahinya karena dendam yang salah sasaran.
"Kau bilang cinta Lita, itu bukan cintamu tapi ambisi mu mengerti" pungkas David pada adiknya.
"Aku serius kak aku mencintai Fahri, aku mohon percaya padaku, diriku yakin pasti bisa menjelaskan padanya kalau aku bukan pembunuh Dira"
"Aku sudah menyelidikinya, dia pria keras kepala mana mungkin dengan mudah percaya denganmu begitu saja. Sebelum terlambat Lita kau pergilah dari hidupnya," ucap David memegang tangan adiknya itu. Dia tidak ingin adiknya terluka nantinya.
"Tidak, aku tidak akan pergi dari hidupnya sebelum dia benar-benar mengatakan ingin membunuhku atau menyuruhku pergi untuk selamanya" Lita masih bersikeras meminta keyakinan dari Kakaknya untuk percaya.
"Terserah dirimu, aku lepas tangan denganmu saat ini" ucap David dan langsung memalingkan wajahnya.
"Kak David daripada mengkhawatirkanku lebih baik khawatirkan Talia, dia adik kandungmu kan" ucap Lita lirih dan membuang muka ke jendela pesawat.
"Untuk apa aku mengkhawatirkannya, dia pandai dalam memilih hubungan sedangkan dirimu,?"
Mendengar itu Lita hanya diam, memang benar sih dia tidak pandai memilih hubungan karena keras kepalanya dan dirinya dulu yang pernah terlibat pergaulan bebas saat SMA untung dia bertemu Dira yang selalu mengingatkannya untuk menjadi orang baik.
………………
"Fahri seharusnya tadi kamu tidak bersikap seperti itu pada Lita," ucap Sasongko pada anaknya yang hanya berbaring dengan tangan terinfus menatap tv.
"Benar kata Papamu, dia istrimu Fahri. Kau tadi jahat sekali padanya" ucap Wulan sambil mengupas kan apel untuk Fahri.
__ADS_1
"Kalian berdua kenapa sih membela perempuan itu, jelas-jelas dia pembunuh tunangan ku. Tapi kalian malah membelanya, Dira calon menantu kalian dibunuh oleh wanita itu seharusnya kalian membencinya bukan mendukungnya seperti ini" ucap Fahri tidak senang.
"Mama rasanya tidak percaya kalau Lita yang membunuh Dira Fahri, Lita orang yang sangat baik. Bahkan dia yang merawat mu seharian ini sampai dia belum makan sama sekali" ucap Wulan.
Fahri langsung melihat mamanya tajam.
"Bagaimana bisa mama meragukan dia yang seorang pembunuh. Jelas-jelas aku melihat sendiri dia memegang pisau yang digunakan untuk membunuh Dira" Fahri mulai emosi saat mengingat hal itu dimana dia melihat dengan mata kepalanya sendiri Lita memegang pisau ditangannya dan tubuh Lita terbaring di jalan.
"Tapi Fahri dia hanya memegangnya dan be.." ucapan Wulan terhenti karena Fahri mengangkat tangannya untuk memperingatkan mamanya tidak bicara lagi.
"Sudahlah Ma anak ini memang keras kepala, biar dia mengerti serta tahu sendiri. Papa sepakat denganmu, Papa yakin Lita tidak bersalah" ucap Sasongko terlihat kesal dengan putranya itu.
"Terserah Mama dan Papa percaya dengan dia atau bagaimana. Kalau dia tidak bersalah kenapa rekaman CCTV yang ada di tempat kejadian harus dihilangkan. Bahkan sebelum aku melihatnya," ucap Fahri dengan mata nyalang.
"Fahri yang Papa dengar rekaman CCTV itu sudah dilihat oleh penyidik dan bahkan keluarga Dira sendiri sudah melihatnya katanya terbukti bukan Lita yang membunuh tapi perampok" jelas Sasongko.
"Tidak mungkin, mereka semua pasti sudah di bayar dan keluarga Dira pasti juga di ancam oleh keluarga mereka" ucap Fahri dengan alibinya sendiri.
"Terserah dirimu Fahri jika kamu tidak mempercayai kita berdua. Papa hanya memperingatkan dirimu untuk tidak menyesal nantinya ketika Lita telah pergi dari hidupmu" ucap Sasongko yang kesal dengan anaknya yang begitu keras kepala.
Pria paruh baya itu langsung keluar dari ruangan rawat anaknya saat ini. Malas rasanya dia berdebat dengan Fahri putra sulungnya yang keras kepala.
"Aku tidak akan menyesal ma, malah aku senang kalau dia pergi dari hidupku. Bahkan setelah aku menemukan keluarga Dira aku akan membunuh perempuan itu dengan tanganku" ucap Fahri.
Mata Wulan seketika melebar saat mendengar Fahri yang akan membunuh Lita nantinya.
Anaknya ini sungguh sudah gila,
"Jangan gila kamu Fahri, kau siapa berhak membunuh seseorang" Wulan langsung berdiri menatap anaknya marah.
"Kenapa aku tidak bisa membunuhnya sedangkan dia membunuh tunangan ku perempuan yang amat aku cintai" ucap Fahri.
"Mama benar-benar kecewa denganmu Fahri, Mama tidak menganggap mu anak sekarang terserah dirimu. Mama dan Papa benar-benar kecewa denganmu Fahri" Wulan begitu pilu mengatakan hal itu, sungguh hatinya sakit melihat anaknya sekarang layaknya iblis.
Dia menangis dan langsung keluar.
"Ma..Mama, Mama seharusnya mengerti diriku kenapa begini" teriak Fahri saat sang Mama berjalan cepat pergi.
__ADS_1
Fahri juga begitu teriris hatinya saat sang Mama menangis, tapi bagaimana lagi lukanya untuk membalaskan dendam jauh lebih besar ketimbang hal lain.
……………
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, Lita dan David sampai di sebuah rumah khas Belanda di perkotaan.
"Ma..Mama Sekar.." Lita terburu-buru masuk kedalam rumah itu dengan penuh ke khawatiran sementara barang-barangnya dibawakan David.
"Kak Lita,." seru Willy yang ada di ruang tengah menonton tv.
Pria muda yang baru lulus dari SMA itu segera berjalan menghampiri Lita yang berdiri terpaku saat melihat tiga orang tengah duduk di ruang tengah menonton tv bersama.
"Mama Sekar baik-baik saja?" ucapnya saat melihat Sekar yang sehat wal afiat.
Sekar dan Vadri berdiri berjalan mendekati Lita dan juga David yang sudah berdiri di sebelah Lita saat ini.
"Mama baik-baik saja Lita," jawab Sekar.
Lita langsung melihat kakaknya yang membuang muka.
"Kak David bohong padaku soal ini," ucapnya menatap sang kakak.
"Bukan salah kak David kak, tapi salahku dan Mama yang membohongimu" ucap Willy.
Seketika Lita langsung menatap pemuda itu,
"Apa?" ucapnya tidak percaya.
"Maafkan kita berdua Lita, Mama terpaksa melakukan ini. Karena kamu tidak pernah kemari melihat kita, kata David kamu merasa tidak enak dengan kita. Tapi kita disini tidak begitu justru kita yang merasa tidak enak dengan dirimu maupun keluargamu karena telah membatu kita sekeluarga, memberikan Papanya Dira pekerjaan tetap" ucap Sekar sedikit terharu mengingat kebaikan yang diberikan keluarga Lita pada mereka.
"Mama Sekar nih bilang apa sih, jangan begitu ah Mama. Kalian kan keluargaku" ucap Lita sedih dan langsung memeluk Sekar yang menunduk sedih.
"Kalau kamu menganggap kita keluarga kenapa kami jarang mengunjungi atau sekedar berkomunikasi dengan kita" ucap Vadri.
"Aku minta maaf, maaf aku salah" ucap Lita sedih dia juga memeluk Vadri yang sudah seperti Papanya juga.
°°°
__ADS_1
T.B.C