
Fahri berjalan menuju rumah itu, dia berjalan dengan mantap penuh harap. Semoga yang tinggal di rumah itu memang Lita, dia berjalan dengan penuh doa dan harapan. Menghela nafas panjang sebelum mengetuk pintu rumah besar berwarna coklat keemasan yang lampunya menyala terang benderang.
Tok, tok
Fahri mengetuk pintu rumah tersebut dengan harapan yang sangat besar. Dia sesekali membenarkan tas ranselnya yang dia sampirkan di bahu.
“Aku mohon, semoga itu memang kamu Lita.” Gumamnya penuh harap menanti pintu rumah dibukakan. Tak ada yang membuka pintu itu setelah dia mengetuk, membuatnya terdiam memperhatikan jendela rumahnya.
Sekali lagi Fahri mencoba mengetuk, dan matanya menangkap bel rumah yang tertempel ditembok. Segera saja dia menekan pintu rumah tersebut.
Ting...
Fahri diam, mulai terasa keputusasaan dalam dirinya. Menunduk sedih, seakan harapannya telah runtuh untuk menemukan Lita. Namun ditengah keputusasaannya pintu terbuka membuat Fahri langsung mendongak penuh kesenangan namun sekali lagi kekecewaan yang dia tunjukan. Yang membuka pintu bukan Lita melainkan orang lain yakni wanita paruh baya yang melihatnya curiga.
“maaf siapa?” tanya perempuan itu yang kemungkinan seusia Mamanya.
“Saya fahri, apa benar ini rumah Nona Devina?” ucap fahri dengan berusaha menutupi kekecewaannya dia bertanya penuh harap.
“Iya benar, tapi sekarang dia tidak ada disini”
“Dia tidak ada disini? Lalu kemana dia? Apa boleh saya tahu kemana dia saat ini?”
“Maaf saya tidak bisa memberitahukannya, karena anda orang asing. Jadi maaf”
“Baiklah kalau begitu, tapi bolehkah saya bertanya satu hal?” ucap Fahri sambil membuka tasnya.
Dahi perempuan itu seketika berkerut memperhatikan pria asing yang tidak ia kenal membuka tasnya.
“Maaf Apa ini nona Devina?” ucap Fahri menyodorkan foto Lita.
Perempuan paruh baya itu mengambil foto Lita, melihatnya dengan seksama.
“benar ini Nona Devina, kalau boleh tahu anda siapanya Nona Devina?” perempuan paruh baya itu kembali menyerahkan foto Lita pada Fahri.
Senyum kebahagian langsung terlihat di wajah tampan Fahri, benar berarti dia memang Lita. Dia berhasil meyakinkan dirinya sendiri.
“Aku suaminya, aku mohon beritahu aku dimana dia. Aku merindukannya, aku mohon” Fahri memegang tangan perempuan paruh baya itu memohon untuk memberitahukannya.
__ADS_1
“Suami,.?”
“Maaf tuan jangan mengaku-aku, Nona Devina sudah ada suami dan suaminya saya tahu” ucap perempuan paruh baya menatap Fahri yang memegang tangannya.
Seketika Fahri terkejut mendengar hal itu, siapa yang mengaku menjadi suami Lita. Tidak mungkin kalau Lita sudah menikah lagi.
“Saya tidak mengaku-aku, saya memang suami dari perempuan bernama Devina itu. Dia istri saya dan hamil anak saya sekarang” tegas Fahri seakan tidak terima pada orang yang mengaku suami Lita.
“Tapi non Devina istri dari tuan tama, dia seorang dokter yang bekerja di Indonesia” jelas perempuan paruh baya itu.
Deg,
Fahri terdiam, hatinya terluka mendengar ini. Mungkinkah Lita memang sudah menikah dengan orang lain, tapi siapa Tama. Dia tidak tahu siapa itu Tama dan profesinya seorang dokter. Kalau Rey tidak mungkin nama pria itu bukan Tama. Dia tidak perduli Lita sudah menikah lagi atau belum yang jelas dia akan menemui perempuan itu dan mengakui anaknya.
“Aku mohon beritahu aku dimana Devina, aku mohon” ucap Fahri terus memohon.
“maaf tuan, saya tidak bisa memberitahukannya. Silahkan pergi dari sini” perempuan itu akan menutup pintu rumahnya saat ini.
Fahri kembali mencegahnya,
“Aku mohon, aku ingin bertemu dengan Devina” ucapnya menahan tangan perempuan itu yang akan menutup pintu rumah.
Blamm
Pintu tertutup dengan cukup keras tepat didepan wajahnya.
Fahri menggendor-gedor pintu tersebut memohon untuk dibukakan, dan dia berkali-kali memohon untuk diberitahu dimana Lita sekarang.
“Ayolah aku mohon, aku benar-benar suami Devina. Bukakan pintunya aku mohon, beritahu aku dimana dia sekarang” ucapnya terus mengetuk pintu tersebut.
Sangking putus asanya dia menendang keras pintu yang tertutup tersebut.
..............................
Fahri saat ini sudah berada di hotel yang dia tempati untuk beberapa minggu selama dia disini. Di berdiri didepan kaca kamar mandi, ia habis membasuh wajahnya menatap dirinya sendiri didepan cermin saat ini.
“Kau harus kuat Fahri temukan Lita dan hidup bahagia dengannya. Mulai hidup barumu” ucap Fahri didepan cermin berbicara pada pantulan dirinya itu.
__ADS_1
“hari ini tidak kau temukan, besok kau temukan Fahri yakin, yakinlah dengan itu” ucapnya penuh keyakinan dan penuh penguatan untuk dirinya sendiri.
Dia mengambil handuk putih yang ada disitu, mengusap wajahnya dengan handuk itu dan dia menaruhnya kembali ketempat nya. Dia langsung keluar dari kamar mandinya saat ini.
“aku harus mengabari papa Aryo, kalau memang Lita masih hidup” ucapnya segera mengambil Hp miliknya yang berada di nakas meja samping tempat tidur.
Dia mengambil hp itu dan duduk di pinggir tempat tidur saat ini.
“Halo Pa,” ucapnya saat sambungan telpon sudah terhubung.
“Iya ada apa Fahri, kamu menemukan bukti kalau Lita masih hidup”
“Iya Pa, Lita masih hidup Pa. Tapi aku tidak tahu dimana dia sekarang, dia sudah pindah rumah dari tempat tinggalnya yang dulu. Tapi entah itu Lita atau bukan karena dia menggunakan nama Devina dan dia memiliki suami bernama Tama Pa” ucap Fahri menceritakannya pada Aryo.
“Devina itukan nama tengah Lita, itu berarti memang Lita Fahri. Tapi katamu dia punya suami bernama Tama. Siapa tama itu?”
“Kata perempuan yang menjaga rumah tempat Lita dulu tinggal. Tama itu suaminya seorang dokter dan orang indonesia”
“jangan-jangan Lita sudah menikah dengan orang lain Fahri,” ucap Aryo menduga kalau anaknya memang telah menikah lagi.
“itu yang aku takutkan Pa, aku takut kalau Lita sudah menikah dengan orang lain dan anakku menjadi anak orang lain. Aku tidak bisa menerimanya Pa” ucap Fahri menahan sedih jika memang itu yang terjadi.
“Semoga saja itu benar, semoga Lita belum menikah lagi Fahri dan kamu bisa hidup bahagia dengannya memulai yang baru”
“Iya, Amiin Pa”
“Kamu pasti capek kan, sudah kita lanjut lain kali. Kau istirahat saja sekarang” ucap Aryo pada Fahri.
“Iya Pa,” panggilan telpon pun langsung terputus.
Fahri kembali menaruh Hpnya di atas nakas dan dia mengambil foto yang berada di samping hpnya itu. Foto siapa lagi kalau bukan foto Lita yang selalu ia bawa kemana-mana.
Dia menjatuhkan tubuhnya yang lelah ketempat tidur, mengangkat foto tersebut ke udara melihatnya penuh kerinduan.
“Semoga dugaan ku tidak benar, dan kau masih tetap menjadi istriku. Aku mohon kembalilah padaku Lita” ucap Fahri penuh harap menatap foto tersebut.
°°°
__ADS_1
T.B.C