
Fahri saat ini menggendong Axel di balkon kamarnya, sedangkan sang istri sedang membuatkan bubur untuk dirinya. Karena sedari tadi dia belum makan dan mulutnya tidak enak untuk sekedar menelan nasi. Sehingga Lita berinisiatif membuatkannya bubur. Tapi sebenarnya tadi Lita menyuruh Mbok Jum tapi ia tidak mau, ia mau istrinya sendiri yang membuatkan bubur untuk dirinya bukan orang lain yang membuatkannya.
Dia duduk di kursi balkon memangku anaknya yang bermain jarinya saat ini,
“Anak Pa-pa sibuk mainan apa sih,” tanya Fahri melihat Axel yang memegangi jari tangannya.
Fahri menciumi wajah anaknya dengan begitu gemas, karena memang Axel cukup menggemaskan.
“kenapa kalian malah ada di luar, ini sudah malam loh. Kasihan Axel sayang,” ucap Lita yang datang sambil membawa semangkuk bubur di tangannya.
Fahri yangs edang menciumi sang anak, mengalihkan pandangannya melihat kearah Lita yang berjalan mendekati dirinya.
“Nggak pa-pa, Axel kita kan kuat. Iya kan sayang, anak Papa kan kuat ya” Fahri menunduk melihat sang putra yang jelas tak mengerti dengan ucapannya. Bayi enam bulan itu hanya tersenyum khas anak kecil melihat wajah kedua orang tuanya. Axel memang anak yang mudah tersenyum bukan hanya dengan orang tuanya saja.
“Ini dimakan sayang, dihabiskan” pinta Lita menaruh mangkuk bubur itu di meja dan duduk di kursi sebelah suaminya.
“Suapin sayang” ucap fahri melihat Lita,
“kan kamu bisa makan sendiri Papanya Axel,”
“Tapi aku mau disuapi,” Fahri memelas, menunjukkan wajah polosnya.
“sayang mama kamu tidak mau menyuapi Papa” adu Fahri pada anaknya.
Lita hanya menghela nafasnya saja dengan hal ini, ia terpaksa mengambil mangkuk bubur yang sempat dia taruh tadi di meja.
“Ya sudah sini aku suapi” Lita memilih mengalah saja menuruti kemauan fahri yang manja dua hari ini.
Fahri langsung tersenyum sumringah karena istrinya mau menyuapi dirinya, ia mendekatkan wajahnya pada sang istri dan membuka mulutnya lebar-lebar.
“Aaaa,..” ucapnya membuka mulut.
Lita langsung menyuapkan sesendok penuh bubu kedalam mulut Fahri,
“gimana enak?” tanya Lita saat sang suami sudah mengunyahnya.
“Sangat enak” ucap fari sambil mengunyah.
Mendengar itu Lita tersenyum, karena fahri menyukai masakannya.
“besok kita ke dokter ya?” ajak fahri sambil melihat istrinya.
“Iya, “ jawab Lita mengiyakan. Mereka ke dokter tentu saja untuk memeriksakan kandungan dirinya. Karena kemarin hanya melalui alat tes kehamilan saja. Mereka tidak tahu sudah berapa minggu bayi yang dia kandung..
__ADS_1
.............................
Matahari sudah bersinar dengan terangnya bahkan cahaya matahari sudah menembus masuk melalui cela-cela jendela di kamar Lita dan djuga Fahri bahkan Axel yang tidur bersama mereka saja sudah duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya yang masih tidur.
Bayi enam bulan tersebut berada di dekat wajah fahri, dia menepuk-nepuk wajah papanya membuat seketika membuat fahri terbangun, dia mengerjapkan matanya melihat sang anak yang malah tersenyum.
“Oh, anak Papa sudah bangun” ucapnya langsung duduk menyandarkan diri di sandaran tempat tidur.
‘Axel bangunin Papa ya,” ucapnya bicara pada Axel.
Bayi itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja , entah mengerti atau tidak yang dibicarakan oleh sang papa.
Fahri melihat sekilas kesamping nya lebih tepatnya di sebelah Axel, Lita sedang tidur dengan pulas menghadap kearahnya.
“Sayang, bangun. Sudah pagi” ucapnya menyenggol pelan bahu istrinya.
Lita tak kunjung bangun,
“Sayang,..” ucapnya sedikit menggoyang tubuh istrinya.
“iya..” jawab Lita masih dengan posisi yang sama.
“bangun sudah pagi,” ucap Fahri lagi meminta sang istri untuk bangun. Dia memegang Axel mendekatkan wajahnya pada sang istri dan mencium bibir manis istrinya itu.
Lita langsung membuka matanya melihat sang suami dan juga anaknya yang ternyata sudah bangun.
“jangan mulai ya, Kamu mau begitu tahan beberapa bulan. Aku masih hamil muda” ketus Lita langsung duduk melihat sang suami.
“Kita begituan juga nggak pa-pa, kenapa aku harus than beberapa bulan dulu. nggak mau, kamu nggak kasihan sama adik aku yang dibawah”
“Ya kamu mau anak yang kamu kandung kenapa-kenapa” ucap Lita tak mau kalah. Mereka berdua pagi-pagi malah berdebat sendiri meributkan hubungan panas mereka. Yang mendengarnya pasti geleng kepala sendiri.
“Ya makanya aku ngajak kamu ke dokter nanti buat konsultasi” tukas Fahri.
“jadi kamu ngajak ke dokter bukan mau periksa kandungan aku berapa bulan”
“ya mau periksa itu juga sayang, kok kamu malah ngegas sih bicaranya. Udah kita nggak usah debat. ayo kita mandi terus pergi ke dokter” ucap fahri.
Baru saja selesai bicara, dia sudah buru-buru menyerahkan anaknya pada sang istri.
“sayang-sayang pegang Axel, aku mau ke kamar mandi” ucapnya buru-buru memberikan sang anak pada Lita.
Dia sendiri bergegas turun dari tempat tidur, sambil membungkam mulutnya sendiri. Dia mulai merasakan mual lagi sekarang seperti kemarin.
__ADS_1
Lita hanya melihat suaminya saja, tapi setelah itu dia berjalan turun sambil menggendong Axel menyusul Fahri yang sudah muntah-muntah di dalam kamar mandi.
..........................
Seorang perempuan masuk kedalam kantor Polisi, mengenakan high heels yang cukup tinggi dan rok pendek di atas lutut serta baju yang mirip kemeja berwarna putih serta rambut yang bergelombang.
Semua mata yang ada disitu tertuju pada perempuan tersebut mereka saling berbisik satu sama lain melihat perempuan itu.
Rendi yang baru keluar dari ruangan komandannya, sedikit terkejut saat melihat perempuan yang beberapa hari ini dia temui.
“kenapa perempuan itu di sini?” batinnya saat melihat Thalia yang berhenti melangkah saat melihat dirinya.
Benar perempuan tersebut Thalia, entah ada tujuan apa dia datang ke kantor polisi saat ini.
Thalia yang melihat Rendi berada didepannya berjalan melangkah mendekati pria itu, sedangkan Rendi menatap tak mengerti.
“Aku mau bicara denganmu?” ucap Thalia langsung.
“mau bicara apa? Aku tidak ada yang ingin dibicarakan denganmu” ucap rendi dengan dingin.
“bisa ikut aku sebentar” ucap Thalia mengajak rendi ikut dengannya.
“Aku tidak mau, aku sibuk” Rendi akan berjalan melewati Thalia tapi perempuan itu menahan lengannya.
“Kau sombong sekali ya” sinis Thalia melihat rendi.
“Jangan sok tahu tentang seseorang,” ucap rendi tak kalah sinis. Dia melepaskan tangan thalia yang ada di pergelangan tangannya.
“kau mau bicara apa denganku? Bicara disini saja. Dan segeralah pergi dari tempat ini. tempat ini bukan Club” ketus rendi menatap Thalia.
Thalia sebenarnya sedikit kesal tapi entah mengapa dia seakan tidak bisa memaki seperti biasanya. Apa karena batinnya takut karena saat ini dia sedang di sarang macan. Tempat polisi berkumpul
Thalia membuka tas yang tersampir di bahunya. Dan mengeluarkan sapu tangan putih.
“Aku ingin memulangkan ini” ucapnya menyerahkan sapu tangan itu pada Rendi.
Rendi hanya melihatnya sekilas, dan dia langsung menatap mata Thalia.
“Aku tidak membutuhkannya lagi, kau bisa membuangnya” pungkas Rendi, dan dia langsung pergi meninggalkan Thalia. Dia saat ini benar-benar sibuk mengurus pekerjaannya.
Thalia tercengang dengan hal itu, dia seperti dipermalukan. Ia belum pernah mendapati penolakan dan nada bicara seperti itu dari pria. Biasanya pria-pria di luar sana selalu bertekuk pada dirinya. Tapi kenapa tidak terjadi pada pria tadi, batin Thalia, dia menatap Rendi yang sudah menjauh.
°°°
__ADS_1
T.B.C