Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 113 (Season 2)


__ADS_3

Thalia memang pergi ke rumah Jane saat ini, dia duduk di tempat tidur milik Jane. Disitu bukan hanya ada Thalia saja tetapi juga ada Putri yang berada disitu mereka duduk berdekatan di tempat tidur.


“Tumben lo ngajak kumpul di rumah Jane, biasanya lo ngajak ke cafe” ucap Putri membuka suaranya menatap aneh pada Thalia.


“Lagi males keluar sebenarnya tapi terpaksa karena pikiranku penuh sekarang, jadi lebih baik aku ke rumah Jane bisa untuk tidur juga” ucap Thalia.


“Lo kenapa? Ada masalah sama suami lo?” tanya Jane penasaran.


“aku bingung, entah itu di sebut masalah atau karma yang harus aku terima” jawab Thalia yang membuat kedua temannya saling tatap satu sama lain, mereka bingung dnegan ucapan Thalia barusan.


“Maksud lo apa sih?” tanya Putri tak mengerti dengan ucapan Thalia.


“Udahlah nggak usah dibahas masalahku, males mau bahas” ucap Thalia yang terasa enggan untuk mengatakan masalahnya.


“Kalau lo males ngomong terus ngapain lo kesini, tujuan lo kesini karena mau curhat kan. Udah bilang aja, kenapa. Ibu hamil nggak boleh banyak pikiran sama nyimpen masalah sendiri” ucap Jane menasehati Thalia.


“aku bingung mau mulai darimana kalau mau cerita, ini juga termasuk salahku sih. Nanti aku cerita kalian bilang aku bodoh” ucap Thalia yang terasa semakin enggan untuk mengatakan hal itu.


“LO kalau nggak mau cerita nggak usah buka omongan kenapa, bikin kita penasaran aja.” Kesal Putri pada Thalia yang terasa berat untuk bicara.


“menurut kalian Rendi itu cinta padaku atau tidak?” tanya Thalia tiba-tiba.


Kedua teman Thalia yang mendengar itu langsung menatap aneh sahabatnya tersebut.


“Ya cinta lah, lo istrinya masa nggak cinta sama lo aneh banget. Terus kalau nggak cinta sama lo nggak mungkin ada ini disini” ucap Putri sambil memegang perut Thalia.


“Lo kenapa sih ragu begitu sama perasaan suami lo, lo ada masalah atau ada hal lain cerita sama kita. Siapa tahu kita bisa bantu” ucap Jane.


“entah kenapa semenjak hamil ini aku selalu meragukan perasaan Rendi padaku, aku juga merasa takut kalau dia tidak mencintaiku. Apalagi sekarang tunangannya dulu sudah kembali berkat diriku, aku memang bodoh kenapa aku menyembuhkan orang itu dan sekarang malah aku ketakutan sendiri” ucap Thalia dengan mata berkaca-kaca menceritakan hal tersebut


“Thalia buang pikiran itu, gue yakin Rendi cinta sama lo. Lo jangan mikir aneh-aneh” ucap Putri mendekatkan dirinya pada Thalia mengusap bahu sang sahabat untuk menenangkannya.


“Lo sih, gue udah bilang kan waktu itu. jangan sok lah buat bantu keluarga tunangan suami lo, tapi lo malah percaya dirinya ngelakuin hal itu. dan lihat sekarang lo yang takut suami lo bakal balik sama cewek itu, mana keberanian lo dan sikap acuh lo saat itu. tunjukkin, kenapa sekarang jadi melempem begini” ucap Jane yang emosi dengan Thalia yang seakan ketakutan sendiri dnegan idenya dulu., dia dulu memang sudah memperingatkan Thalia soal ide gila perempuan itu tapi apa dia malah tidak mendengarkannya.


“Ya aku nggak tahu kalau bakal hamil sekarang, makanya aku berani begitu. Tapi semenjak hamil ini aku merasa lemah takut dan lain-lain” ucap Thalia merasa sedih, benar lagi-lagi dia sedih dan tampak lemah dia benci dirinya yang seperti ini.


“Udahlah Jane, itu dulu. Thalia, percaya sama gue, Rendi cinta sama lo sepupu gue sih Andre pernah bilang sama gue kalau Rendi itu cinta sama lo. Nggak usahlah mikirin soal mantan Rendi yang kembali lagi. Rendi aja udah nggak perduli kan sama dia, lo fokus aja sama kehamilan lo sekarang kasihan anak lo tahu” ucap Jane pada Thalia.


“Tuh dengerin, jangan asal ambil kesimpulan aja. Nanti lo nyesel sendiri baru mampus” tukas Jane.


“Kata siapa dia nggak perduli sama tuh cewek, buktinya kemarin dia habis nemuin tuh cewek. Bukan nemuin aja tapi dia sempet megang kepala tuh cewek ngusap lembut kepalanya, sambil tersenyum seperti dia senyum ke gue” ucap Thalia mengingat apa yang dia lihat di ponsel Nicholas kemarin.


“Apa? masa sih” ucap Jane dan juga Putri berbarengan.


“Iya ngapain aku bohong soal ini” ucap Thalia


“Udah ah, aku numpang tidur sebentar. Nanti bangunin waktu Rendi jemput” ucap Thalia dan merebahkan dirinya perlahan, Putri mau tidak mau harus bergeser membiarkan Thalia berbaring di tempat tidur Jane saat ini.


Dua orang itu hanya melihat antara percaya tak percaya kearah Thalia, mereka bingung harus berkata apa soal hal ini. ingin percaya tapi dilihat dari sikap Rendi yang terlihat mencintai Thalia rasanya mereka tidak yakin kalau Rendi masih mencintai masa lalunya.

__ADS_1


.............................................


“Kamu mau apa? selagi kita masih dijalan” ucap Rendi menanyakan keinginan Thalia.


“nggak mau apa, pulang aja. Badanku gerah, aku mau mandi di rumah” ucap Thalia pada suaminya.


Saat ini sudah malam kemungkinan habis magrib karena magrib tadi Thalia masih berada di rumah Jane bersama dengan Rendi. Baru selesai magrib mereka pulang ke rumah.


“Serius nggak mau apa-apa, nanti sampai di rumah pengen sesuatu” ucap Rendi yang seakan tak percaya kalau Thalia tidak ingin apa-apa.


“beli nasi goreng kambing aja ya? Mau?” tanya Rendi menawari sang istri nasi goreng kambing. Karena biasanya Thalia ingin makan itu.


“Terserah kamu aja” jawab Thalia.


“Ya udah kita beli itu,” putus Rendi.


“hemm” jawab Thalia.


Rendi mengusap kepala istrinya gemas, dan Thalia langsung menepisnya begitu saja membuat Rendi sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Thalia.


“Kenapa?” tanya Rendi


“Nggak pa-pa, nggak suka aja dipegang kepalanya sekarang” jawab Thalia jujur.


Rendi merasa aneh dnegan jawaban Thalia barusan, biasanya Thalia biasa saja saat dia mengusap kepalanya tapi kenapa sekarang melakukan penolakan dengan keras begitu.


“Kamu masih marah sama aku soal kemarin?” tanya rendi pada akhirnya karena dia merasa Thalia masih marah soal hal kemarin tentang Melody.


Rendi kembali fokus melihat ke depan karena memang ada mobil didepan mobilnya, dia harus hati-hati saat ini.


Tapi matanya sesekali melihat kearah Thalia yang memutuskan memalingkan wajah dari dirinya. Jujur dia melihat ada yang aneh dari istrinya itu tapi apa,.


Saat Thalia melihat kearah jalan, ponsel yang dia genggam sedari tadi bergetar membuat dirinya melihat ponsel yang bergetar itu.


Rendi tentu saja juga mendengarnya dan dia melihat sekilas ponsel milik istrinya yang layarnya tidak kelihatan siapa yang menelpon.


Thalia melihat kearah layar ponsel miliknya, dia sesekali memperhatikan Rendi saat dia melihat nomor tidak dikenal yang menelponnya saat ini. itu pasti Nicholas yang menelpon dirinya sekarang.


“Halo?” ucap Thalia saat mengangkat panggilan itu.


“Kau tidak perlu khawatir, sudah aku belikan. Kau tinggal beres saja, tidak akan. Sudah aku matikan” ucap Thalia dan langsung mematikan panggilannya dengan kesal.


“Siapa?” tanya Rendi saat menyadari istrinya tengah kesal.


“Lita,” jawab Thalia berbohong.


“Kenapa Lita?”


“Dia minta Axel dibelikan baju baru juga seperti anak keduanya. Katanya Axel iri sama adiknya” ucap Thalia berbohong lagi.

__ADS_1


“Oh, kalau begitu besok aku belikan juga untuk Axel” ucap Rendi.


“Terimakasih” ucap Thalia.


“Oh iya sayang, besok kamu ikut aku kita lihat rumah baru kita” ucap Rendi


“Rumah baru? Kau sudah membelinya?” tanya Thalia.


Rendi bukannya menjawab, dia malah menghentikan mobilnya ke pinggir jalan. karena dia ingin bicara dnegan Thalia, jadi tidak mungkin dia bicara sambil menyetir seperti tadi.


“hehhe iya, aku sudah beli rumah untuk kita bertiga nanti. Aku minta maaf, aku tidak bilang” ucap Rendi dan memegang tangan Thalia.


“Kamu mau kan maafin aku, karena aku belinya diam-diam tanpa sepengetahuan kamu” ucap Rendi lagi


“Dapat uang darimana, bukannya kau bilang beli rumah harus jual apartemen, kenapa sudah beli sedangkan apartemen masih kita tempati” ucap Thalia yang heran dengan hal itu.


“Papa sama Mamanya Fahri yang membantuku membelinya, rumah yang ingin aku beli dekat dengan rumah mereka. Dan waktu aku melihat rumah itu kebetulan Papa melihatku di sana dan dia tanya-tanya soal diriku yang kenapa ada disitu. aku bilang semuanya dan dia malah menambahi untuk membeli rumah tersebut. Tapi aku bakal ganti pemberiannya saat apartemen kita sudah ke jual nantinya” ucap Rendi menejelaskan semuanya pada Thalia.


Thalia terdiam mendengar ucapan Rendi, dia merasa lega karena punya rumah baru tapi dia juga merasa sedih karena kemungkinan bukan dirinya yang menempati rumah itu tapi Melody pasti yang berada disitu.


“Kamu nggak masalahkan kalau Papa Sasongko membantuku membeli rumah itu?” ucap rendi merasa khawatir kalau Thalia tidak setuju.


“Nggak pa-pa, nanti kita kembalikan uang Papa Sasongko saat apartemen kita terjual” ucap Thalia tidak masalah.


“Terimakasih kalau kamu tidak masalah, besok mau kan kamu ikut aku lihat rumah itu” ucap Rendi.


“Iya, lihat besok” ucap Thalia.


“Buruan jalan, katanya mau beli nasi goreng. Kakakmu itu pasti cerewet nunggu kita di rumah” ucap Thalia dan dia mengingat Revan kalau dia akan menginap lagi di apartemen mereka.


Tadi revan sempat bilang padanya kalau dia akan membawa semua barang-barangnya dari apartemen lama ke apartemen Rendi. Karena besok dia akan kembali ke Amerika.


“Oke, kita beli nasi goreng sekarang” ucap Rendi dan mulai menyalakan mesin mobilnya.


“Revan memang jadi kembali ke Amerika besok?” tanya Rendi penasaran, karena sepertinya Revan banyak bercerita pada Thalia seharian ini.


“Bilangnya begitu, tapi nggak tahu juga. kau tanya saja sendiri, dia kakakmu kan” ucap Thalia dan kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela.


Rendi sendiri kembali menjalankan mobilnya di jalanan ibu kota, dan sesekali dia mencari warung makan pinggir jalan yang menjual nasi goreng kambing saat ini.


“Anak kita hari ini nggak rewel kan?” tanya Rendi sambil memegang perut Thalia.


“Nggak, udah kamu fokus aja nyetir.” Jawab Thalia sambil menyingkirkan tangan rendi dari perutnya saat ini.


“Iya, aku cuman megang bentar. Ya udah kamu tidur aja, nanti kalau sudah ketemu yang jual nasi goreng aku bangunkan” ucap Rendi pada Thalia.


“Hemm” lagi-lagi Thalia hanya mendehem, tapi Rendi tidak masalah akan itu karena Thalia memang baisa menjawab seperti itu padanya.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2