Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 116 (Season 2)


__ADS_3

“Suster, Suster tolong istri saya sus” terik Rendi sambil memanggil perawat rumah sakit. Dia menggendong Thalia yang kesakitan sedari tadi.


Dua orang perawat datang menghampiri Rendi saat ini, mereka datang membawa brankar. Segera saja Rendi menaruh Thalia disitu dan membantu kedua perawat tersebut mendorongnya di koridor rumah saki.


“Kandungannya kenapa ya pak kalau boleh saya tahu” ucap salah satu perawat sambil mendorong brankar.


“Tadi istri saya sempat terjatuh ke lantai” jawab Rendi tanpa melihat kearah sang perawat dia terus memegangi tangan Thalia.


“Ren, sakit ren,.” Rintih Thalia menggenggam tangan suaminya yang memang telah menggenggam tangannya sedari tadi.


“Sabar sayang, tahan dokter akan menangani mu” ucap Rendi.


“Anak kita tidak akan kenapa-kenapa kan, dia tidak kenapa-kenapa nanti kan?” ucap Thalia sambil menahan sakit dia mencemaskan kandungannya saat ini. dia tidak ingin anaknya kenapa-kenapa.


“Kamu tenang saja, anak kita tidak akan kenapa-kenapa.” Ucap Rendi berusaha untuk membuat Thalia tidak takut.


“Maaf pak, bapak tunggu di luar saja. Biar dokter yang menangani istri anda” ucap sang dokter yang sudah berada di situ dan sudah meminta dua perawat tersebut membawa masuk Thalia keruangan.


“Kenapa saya harus tunggu diluar, itu istri saya membutuhkan saya sekarang. Ijinkan saya masuk dok” ucap Rendi yang memaksa masuk kedalam.


“Maaf pak tidak bisa, istri anda harus ditangani dengan intens. Nanti saya kabari bapak apabila sudah saya periksa” ucap sang dokter.


“Saya mohon ijinkan saya masuk,” ucap rendi sedikit menaikkan nada suaranya.


“Maaf sekali saya bilang tidak bisa ya tidak bisa pak. Kalau anda tetap masuk malah membuat kami susah untuk menangani pasien. Istri anda butuh pertolongan intensif saat ini. kondisinya sangat mengkhawatirkan” ucap sang dokter memberi pengertian pada Rendi.


Rendi terdiam mendengar ucapan itu, dia tampak frustasi karena hal ini. ini salahnya, kalau dia tidak emosi tidak mungkin Thalia seperti ini saat ini.


Dokter itu langsung masuk kedalam saat Rendi tengah sibuk dengan pikirannya sendiri,


“Akkhh, Bodoh kamu Ren” ucapnya frustasi, dia memukul tembok begitu saja dengan tangannya.


Perlahan Rendi luruh kelantai sambil memegangi kepalanya frustasi, dia begitu menyalahkan dirinya atas semua ini. andai tadi dia mendengarkan Thalia untuk pergi maka semua ini tidak akan terjadi


“Ya tuhan aku mohon, sembuhkan istriku dan semoga anak yang dikandung istriku tidak apa-apa” ucap Rendi begitu memohon dnegan sangat.


.......................................


Sudah hampir satu jam berlalu tapi dokter yang menangani Thalia tak kunjung keluar juga memberi kabar.


“kemana dokter ini kenapa dia belum keluar juga, bagaimana kondisi Thalia sekarang” ucap Rendi gelisah sambil berjalan ke sana kemari tak tenang.


Baru saja dia pertanyakan keberadaan dokter tersebut, tak lama kemudian pintu ruang IGD terbuka menampilkan wajah dokter pria itu yang menatap Rendi dengan tatapan tidak enak untuk mengatakannya.


“Dok, bagaimana istri saya dan bayi yang dia kandung’ ucap Rendi langsung menghampiri dokter tersebut.


Dokter pria itu sesekali menunduk dan menatap wajah suami dari pasiennya, rasanya sulit untuk mengatakan hal ini.

__ADS_1


“Jawab dok,” ucap Rendi yang tak sabar langsung mencengkram jas dokter tersebut.


“Sa..saya minta maaf pak, sa..saya sudah melakukan yang terbaik ta..tapi,” ucap dokter itu terputus-putus semakin membuat Rendi tidak sabar dan dia semakin takut mendengar kalimat selanjutnya. Dan hatinya mulai merasa resah karena ucapan dokter itu diawali oleh kata maaf pasti ada sesuatu dnegan Thalia atau dengan bayi yang ada di kandungan istrinya.


“cepat katakan, jangan sepatah dua patah. Katakan bagaimana istriku dan bayinya” ucap Rendi.


“Is..istri anda saat ini kondisinya tak sadarkan diri dan.. dan ba...bayi yang dikandungan tidak selama dua-duanya pak” ucap sang dokter.


Jedar...


Bagai petir di siang bolong bagi Rendi mendengar hal itu, cengkeramannya di kerah baju dokter tersebut langsung melemah dan menatap tak percaya.


“jangan bercanda dok, anak ku tidak apa-apa kan. jangan bercanda,.!!” Bentak Rendi masih tak percaya.


“Saya tidak bercanda pak, istri anda telah keguguran. Dan bayi yang di kandung istri anda dua-duanya tidak selamat dan calon bayinya sudah kita keluarkan dari dalam perut istri anda agar anda bisa menguburkan mereka nanti” ucap dokter itu lebih jelas lagi.


Rendi langsung terduduk di lantai, kakinya terasa lemas mengetahui kenyataan kalau Thalia keguguran saat ini.


“Nggak, nggak mungkin. Apa yang harus aku katakan pada Thalia, ini salah ku, ini semua salahku” ucap Rendi menyalahkan dirinya sendiri, di mengacak rambutnya sendiri.


Dan dia langsung terhenti dan mendongak, karena dia tadi seperti salah dnegan maksud dokter itu tadi keduanya. Bukannya anaknya hanya satu yang dikandung Thalia kenapa dokter menyebut dua-duanya.


“Ta..tadi dokter bilang dua-duanya tidak terselamatkan. Maksud anda apa?” tanya Rendi memastikan kecurigaannya.


“Maksud saya bayi kembar anda, dua-duanya tidak selamat pak”


“Tidak pak, dia mengandung bayi kembar dan tadi kita sudah mengambil keduanya dari dalam perut istri anda” tukas sang dokter menjelaskan.


Rendi semakin syok saat ini, karena dia tidak menyangka Thalia tegah hamil kembar karena kemarin yang terlihat saat pemeriksaan kandungan hanya satu janin.


“Nggak mungkin anakku dua-duanya tiada, nggak mungkin. Kau pembunuh Ren, kau bukan membunuh satu anakmu tapi dua anakmu sekaligus” ucap Rendi perlahan mundur kebelakang hingga dia lemas.


Ia semakin merasa bersalah dengan semua ini, semua ini salahnya. Keda anaknya telah pergi sekarang. Gara-gara dia dua bayi tak berdosa harus pergi begitu saja.


“Kalau begitu saya permisi pak, anda silahkan masuk temui istri anda. Takutnya nanti saat dia sadar, ia langsung syok melihat perutnya sudah kempes” ucap sang dokter yang tidak tega melihat Rendi yang begitu terpukul sehingga memutuskan untuk pergi saja dari hadapan pria itu.


Rendi hanya diam saja teronggok lemah di lantai, pandangannya kosong membuat dia tidak mendengar ucapan dokter tersebut.


“Hei Rey, darimana?” seru dokter itu saat baru saja melangkah sudah melihat rekan sesama dokternya yang lewat didepannya saat ini.


Rey langsung menoleh melihat Crish yang melambaikan tangan padanya saat ini, dan dia tersenyum sambil melambaikan tangan kembali tapi fokusnya teralihkan pada Rendi yang duduk dengan begitu terpuruk di lantai.


“Rendi?” gumamnya dan langsung berjalan cepat mendekati pria itu.


“Rey, hari ini ka...” ucapan Chris terhenti karena dia pikir Rey datang menghampirinya ternyata menghampiri pria yang merupakan suami dari pasiennya tadi.


“Ren, Rendi, sedang apa kau disini?” tanya Rey yang sudah berdiri didepan Rendi yang diam menunduk bak orang tak waras.

__ADS_1


Rendi perlahan mendongak melihat siapa yang memanggilnya saat ini.


“Kau?” lirihnya menatap Rey.


“Iya aku, kau sedang apa disini” tanya Rey menatap penasaran Rendi.


“Thalia mana?” lanjut Rey pada Rendi.


“Thalia, thalia didalam” lirih rendi menunjuk kearah ruang UGD.


“Thalia ada disitu, dia kenapa?”


Perlahan Rendi berdiri dia berusaha untuk kuat dengan kenyataan ini, dia harus kuat demi istrinya. Kalau dia rapuh istrinya itu pasti lebih rapuh darinya.


“Thalia keguguran,” ucap Rendi.


“Apa? bagaimana bisa dia keguguran”


“Ini salahku, ini semua salahku. Gara-gara aku dia kehilangan anaknya” ucap Rendi menyalahkan dirinya sendiri.


Mendengar jawaban dari rendi itu membuat rey tak mengerti,


“Apa yang kau lakukan, bagaimana bisa kau menjadi penyebabnya” tanya Rey penasaran.


Rendi akan menjawab pertanyaan dari Rey tapi satu perawat keluar dari ruangan saat ini dan berbicara pada Rendi.


“Maaf pak, pasien harus di indahkan keruang perawatan sekarang. Dia harus di rawat beberapa hari di rumah sakit” ucap sang perawat pada Rendi.


“Iya, istri saya sudah siuman?” tanya Rendi.


“Belum pak,” jawab perawat tersebut yang langsung masuk kembali ke ruangan itu.


“sebenarnya ada apa dnegan Thalia, kenapa dia bisa keguguran dan tidak sadarkan diri sekarang?” tanya Rey yang begitu penasaran karena pertanyaannya dari tadi belum di jawab.


“Nanti aku jelaskan, sekarang aku minta tolong padamu. Tolong berikan ruangan yang bagus untuk Thalia, tolong bantu aku, kau salah satu dokter berpengaruh di rumah sakit ini kan” ucap Rendi meminta bantuan pada Rey.


“cepatlah, tolong aku. aku harus menghubungi kedua orang tua Thalia lebih dulu, baru setelah ini aku harus menguburkan janin kedua anakku” ucap Rendi lagi dengan begitu memohon dan hancur hatinya mengatakan hal itu.


Rey yang seakan memahami kesedihan dari rendi langsung mengiyakannya meskipun rasa penasarannya lebih tinggi saat ini.


“Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu, nanti aku kesini dengan temanku tadi yang menangani Thalia. Dia pergi begitu saja tanpa tanggung jawab pada pasiennya” ucap Rey, dia juga kesal dnegan Crish yang pergi begitu saja tadi. Seharusnya Crish yang menyuruh Rendi untuk memesan kamar bukan perawatnya.


“Terimakasih, kalau begitu aku amsuk dulu. nanti kabari aku” ucap rendi dan langsung masuk kedalam meninggalkan Rey yang begitu bingung dengan situasi saat ini.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2