
Dua bulan berlalu dan saat ini perut Thalia sudah mulai terlihat menonjol karena usia kehamilannya yang sudah tiga bulan. Dia melihat dirinya sendiri di depan cermin sambil memperhatikan perutnya dimana kaos yang dia gunakan sedikit ia singkap ke atas agar dia bisa melihat perutnya yang sudah menonjol itu.
“Lucu juga ya hamil begini, perut buncit begitu” ucapnya terkekeh melihat dirinya sendiri. tiga bulan menjadi perempuan hamil merupak hal yang belum pernah ia pikirkan sama sekali dan saat ini dia menjalaninya.
“Kenapa tersenyum sendiri, ada yang lucu?” ucap Rendi yang baru saja masuk kedalam kamar dan dia mendekati istrinya tersebut.
“Lucu aja, lihat perut sendiri yang buncit” jawab Thalia masih melihat pantulan dirinya di cermin saat ini.
Rendi memeluk Thalia dari belakang dan memegang tangan Thalia yang ada di perut, dia mengusap perut Thalia yang sudah kelihatan itu.
“Aneh kamu sayang, apanya yang lucu. Gemas iya,” pungkas Rendi menaruh kepalanya di bahu Thalia.
“Kamu lari pagi di mana tadi?” tanya Thalia sambil mengusap rambut Rendi
“Di taman, kenapa? Kamu takut aku melihat perempuan lain” jawab Rendi dan balik bertanya pada Thalia.
“Nggak ngapain takut, aku nggak takut kalau kamu lihat perempuan lain. Biar aku bisa beri pelajaran perempuan yang kau lihat” ucap Thalia.
Rendi tersenyum sambil mencium leher Thalia, dia mengecup leher tersebut.
“Nggak akan mungkin lah aku lihat perempuan lain, sampai kapanpun kau perempuan ku” jawab rendi.
“Hari ini aku libur, kita mau kemana?” tanya Rendi melihat Thalia sekilas.
“Terserah kamu mau kemana? Aku ikut saja” pungkas Thalia
“Ke rumah Papa mu saja yok, kita lihat keponakanmu” ucap rendi mengajak Thalia ke rumah orang tua perempuan itu.
“Ngapain bosen di sana” tolok Thalia.
“ya mau kemana?” ucap Rendi bingung harus kemana.
Drrrttt,
Terdengar bunyi ponsel yang berada di tempat tidur membuat perhatian mereka teralihkan saat ini.
“Ponsel kamu bunyi” ucap Thalia pada Rendi yang masih memeluknya.
“Sebentar aku angkat dulu,” rendi melepaskan pelukannya pada Thalia dan dia langsung berjalan ponsel yang ada di tempat tidur.
“Siapa?” tanya Tahlia pada Rendi.
“mamanya Fahri,” ucap rendi dan langsung mengangkatnya.
__ADS_1
“Halo Ma,.” Ucap Rendi saat mengangkat panggilan itu.
“Iya halo Rendi, kamu dimana sekarang” tanya perempuan paruh baya di seberang sana.
“Aku di rumah ma, kenapa?” tanya Rendi balik.
“Mama di rumah Jakarta, ini lagi ada acara kamu datang ya. Ada Fahri sama Lita juga, kamu bawa istri kamu” ucap Mama dari fahri.
“Acara apa Ma?” tanya Rendi penasaran.
“Acara syukuran, Papa buat usaha baru.” Jawab sang Mama.
“Ya sudah nanti aku sama Thalia kesitu” ucap Rendi.
“Benar ya, Mama tunggu. Awas kamu kalau bohong,” tukas Wulan mengancam.
“Iya ma” ucap rendi dan panggilan langsung terputus, Rendi langsung melihat kearah Thalia yang melihatnya aneh saat ini.
“Ada apa? Mamanya Fahri bilang apa?” pungkas Thalia penasaran.
“Dia menyuruh kita ke rumahnya hari ini. kau mau?” ucap Randi melihat sang istri.
“terserah dirimu, aku ikut saja”
“Ya sudah kalau kau mau, nanti kita ke sana. Kamu sudah mandi?” tanya Rendi pada Thalia.
..............................
Rendi sekarang sudah selesai mandi, dia juga sudah berpakaian rapi untuk pergi ke rumah orang tua Fahri.
“Ayo kita berang,” ucap Rendi pada Thalia yang menunggunya di sofa.
Thalia langsung melihat kearah Rendi saat ini dia menatap tatapan miring melihat penampilan suaminya tersebut.
“Kamu serapi itu mau kemana? Mau menemui siapa? Ada perempuan incaran mu di sana?” tukas Thalia menatap curiga Rendi.
“Perempuan incaran siapa? Tidak ada, jangan mulai deh sayang” ucap Rendi pada Thalia yang melipat tangannya di dada sambil melihatnya saat ini..
“Lalu kenapa pakaianmu rapi begitu, aku saja begini” ucap Thalia, Thalia memang hanya mengenakan pakaian santai memakai rok serta kaos saja.
“Ya sudah kalau kamu tidak mau aku berpakaian begini, aku ganti baju dulu” ucap Rendi dengan langkah berat memutar arah untuk kembali ke kamar lagi.
Dia hanya bisa pasrah, Thalia semenjak hamil terlalu posesif dan selalu menaruh curiga padanya. Mau tidak mau dia harus menuruti hal itu, mau bagaimana lagi Thalia istrinya dan dia mencintainya.
__ADS_1
Thalia sendiri melihat Rendi yang masuk kedalam kamar tersenyum puas bisa membuat suaminya itu menurut padanya saat ini. entah mengapa dia juga heran kenapa ia bisa se protektif itu pada Rendi.
Thalia memutuskan untuk duduk di sofa kembali, menunggu Rendi yang sedang mengganti pakaiannya.
....................................
Mobil yang di kendarai Rendi saat ini sudah sampai di depan rumah orang tua fahri, dan disitu juga sudah ada mobil Fahri yang terparkir di depan rumah. Bukan mobil itu saja sih tapi ada mobil-mobil lain juga yang ada di situ.
“Ramai sekali rumahnya?” tanya Thalia melihat rumah mertua Lita yang ramai.
“Iya, karena papa sasongko mengadakan syukuran pembukaan usahanya yang baru” jelas rendi pada Thalia.
“Ayo turun” ajaknya pada sang istri.
Thalia langsung turun dari mobil begitu juga Rendi yang cepat-cepat turun, dia berjalan mengitari mobil untuk menggandeng sang istri yang sudah keluar dari mobilnya.
“Mereka membuka usaha apa?” tanya Thalia sambil berjalan dengan melingkarkan tangannya pada sang suami.
“Aku tidak tahu, usaha baru apa yang dijalankan Papa Sasongko”
“Oh” lirih Thalia.
Dan dia menatap Rendi kembali tapi seperti tidak enak untuk mengatakannya,
“Kenapa melihatku terus, nanti kamu jatuh kalau tidak melihat ke depan” ucap rendi yang menyadari sang istri memperhatikannya terus.
“Kau selalu membawaku kesini mengobrol dengan orang tua Fahri, tapi kau tidak pernah mengajakku untuk mengobrol dengan keluargamu sendiri” ucap Thalia .
Rendi langsung menghentikan langkahnya, otomatis langkah kaki Thalia juga berhenti, dia menatap penasaran Rendi yang tiba-tiba berhenti berjalan.
“kamu ingin bertemu dnegan keluargaku? Kamu tahu sendiri keluargaku berantakan”
“ya sudah kalau kau tidak mau mengajakku bertemu mereka ayo jalan, nanti orang tua Fahri menunggumu” ucap Thalia mengajak Rendi untuk kembali berjalan.
“Bukannya aku tidak mau sayang, kamu jangan salah sangka. Aku pernah bilang padamu kan akan mengajak dirimu kalau ke hamilanmu sudah besar. Aku janji akan mengajakmu, atau nggak nanti saat usia ke hamilanmu empat bulan lebih. Aku ajak kamu menemui Papaku yang tinggal di Padang” tukas Rendi meyakinkan sang istri.
“Ya sudah kalau itu keputusanmu, aku tunggu saat itu.” jawab Thalia.
“kamu tidak marah kan?”
Thalia menggeleng, dan dia kembali untuk mengajak Rendi berjalan.
“Syukurlah kalau kamu tidak marah. Ayo masuk” pungkas Rendi sambil menggandeng sang istri berjalan masuk kedalam rumah orang tua fahri.
__ADS_1
°°°
T.B.C