
Revan sudah begitu rapi pagi-pagi sekali, dia hari ini bertekad untuk pergi dari Indonesia, dia sudah menyiapkan barang-barang miliknya juga di sofa yang berada di apartemen Rendi. Dia semalam menginap lagi di apartemen adiknya tersebut.
“kau serius ingin pergi dari negara ini?” tanya Rendi yang menghampiri Revan, dia tidak sendiri mendekati kakaknya tersebut melainkan bersama dengan Thalia.
“Iya, mau ngapain juga gue disini.” Ucap Revan dan memeriksa barang di koper takut-taku ada yang tertinggal.
“Aturan kau disini saja agar bisa menjaga apartemen ini” ucap Thalia membuka suaranya.
“Apartemen ini mau kalian jual kan, buat apa aku menjaganya” jawab Revan,
“Sudah ya, ayo kalian antar aku ke bandara. Mobil ku sudah ku jual” lanjut Revan yang berdiri tegap menatap sepasang istri didepannya.
“Bukan apartemen ini maksudku tapi rumah yang akan kita tempati, karena pasti tidak ada yang menempati tempat itu nantinya” ucap Thalia.
Rendi yang mendengar ucapan itu menatap Thalia aneh, tapi dia hanya diam saja tidak bicara yang lain.
“tidak ada yang menempati bagaimana, jelas-jelas yang akan tinggal disitu kau dan Rendi” tukas Revan yang juga merasa aneh.
“Ayo Ren, buruan antar, orang banyak tanya ini.” ucap Thalia segera mengajak Rendi untuk mengantar Revan.
“Ayo van, aku antar kamu ke bandara. Seharusnya kau mendengarkan ucapan ku untuk pergi ke rumah Papa saja daripada kau kembali ke Amerika” ucap Rendi merasa kecewa dengan keputusan Revan.
“Lain kali saja aku ke rumah Papa” lirih Revan dan langsung menarik koper miliknya keluar dari apartemen sang adik.
“OH iya kemarin Melody meneleponku” ucap Rendi saat menutup pintu apartemennya.
Thalia yang berada didekat mereka mendengar ucapan itu, tatapan dia semakin tidak senang saat mendengar hal tersebut.
“Dia bilang apa?” tanya Revan.
“Tidak aku angkat” jawab Rendi.
“Baguslah kalau tidak kau angkat, setidaknya kau bisa menjaga perasaan istrimu” ucap revan dan sekilas melihat kearah Thalia yang langsung memalingkan wajahnya.
‘Jangan berpendapat sendiri, lebih baik tanyakan dan bicarakan sebelum berpikir yang tidak-tidak” ucap Revan sambil berjalan meninggalkan dua orang itu. entah ucapan tersebut ia tujukan pada siapa.
“Ucapan mu itu kau tujukan untuk siapa?” tanya Rendi yang tak mengerti.
“Untuk siapa saja yang merasa. Sudahlah tidak usah banyak tanya buruan, nanti aku ketinggalan pesawat.”
Revan langsung pergi begitu saja, begitu juga Thalia yang berjalan mengikutinya tanpa bicara lebih dulu pada Rendi.
“Kenapa dengan istriku, dari kemarin dia bersikap dingin seperti itu” heran Rendi melihat Thalia yang seperti cuek terhadapnya.
Rendi langsung berjalan menyusul keduanya yang sudah pergi lebih dulu, dia semakin merasa ada yang tidak beres dengan Thalia saat ini. apa istrinya itu masih memikirkan soal pertemuan dia dan Meldoy waktu itu.
“Entahlah, mana mungkin Thalia masih memikirkannya. Aku sudah menjelaskan semua padanya masa dia tidak percaya sama sekali dengan” heran Rendi masih bingung sebenarnya apa salahnya. Perasaan dia sudah minta maaf tapi istrinya masih tetap sama. Atau mungkin karena Thalia pengaruh kehamilannya makanya begitu saat ini.
............................................................
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam mereka akhirnya sampai di bandara, Revan segera turun dari mobil sang adik.
“Kalian pulanglah, aku langsung berangkat terimakasih sudah mengantarku” ucap revan saat selesai mengambil koper miliknya dari bagasi sementara Thalia dan juga Rendi masih berada didalam Mobil dan akan turun tetapi Revan melarangnya.
__ADS_1
“Kenapa kalau kita menunggumu disini, mana mungin pesawat mu langsung berangkat” ucap Thalia aneh dengan sikap Revan yang seperti sengaja mengusir mereka berdua untuk segera pergi.
“Iya pesawat ku segera berangkat, sudahlah. Kalian pergi sana, nanti kalau akau sudah sampai aku kabari. Daa” ucap revan langsung berjalan pergi masuk kedalam bandara sambil melambaikan tangannya pada Thalia dan juga Rendi.
“Ya, nanti kabari kita” seru Rendi dari dalam mobil.
‘Kau tidak meninggalkan salam untuk mama?” seru Revan yang agak jauh dari tempat Rendi.
“Tidak, dia bukan Mamaku. Dia hanya Mamamu, aku pergi” pungkas Rendi dan langsung pergi begitu saja.
Sedangkan Revan, hanya memperhatikan mobil Rendi yang sudah berjalan pergi meninggalkan dia di bandara. Dia melihat sekilas tiket pesawat yang dia kemarin, dan disitu tertulis kalau tujuannya bukan Amerika melainkan Padang, Sumatera Barat. Benar, dia akan ke Padang menemui Papanya di sana.
Dia sebenarnya mendengarkan saran Rendi untuk tinggal bersama Papanya saja ketimbang Mamanya yang hanya memperbudak dirinya di Amerika.
Tapi dia tidak bisa bilang pada Rendi kalau dia akan ke Padang, karena dia malu, malu untuk mengatakan itu. ini saja dia malu untuk bertemu Papanya dan keluarga baru Papanya, Papanya itu mau memaafkan dia atau tidak saat ini.
“Ayo semangat Revan, Papamu orang baik pasti dia memaafkan dirimu” ucapnya sambil mengambil nafas dalam-dalam, dia langsung berjalan amsuk kedalam bandara dengan langkah yang berusaha ia buat ringan.
...........................................
Melody akhirnya datang ke apartemen milik dirinya dan juga Rendi dulu, ini baru pertama kalinya dia menginjakkan kaki kesini. Karena kemarin-kemarin dia begitu tidak mau menginjakkan kaki disini karena merasa di khianati oleh Redi dan apartemen ini memiliki kenangan manisnya dnegan Rendi.
Tapi saat ini dia datang bukan untuk mengingat kenangannya dengan rendi melainkan untuk menemui Revan.
Pria itu sedari mereka bertemu kemarin hingga saat ini tidak mengangkat panggilannya sama sekali, dan Rendi juga tidak mengangkat panggilannya padahal dia hanya ingin menanyakan dimana Revan sekarang.
Melody menekan bel pintu apartemen itu, dia menunggu seseorang untuk membukakan apartemen tersebut.
Lama dia menunggu tak kunjung di bukakan dari dalam membuat dirinya langsung mengetuk-ngetuk daun pintu tersebut dengan keras.
“Maaf mbak, mbak nyari siapa ya?” tanya seorang penghuni salah stau unit apartemen yang bertetangga dnegan Revan.
“Saya Melody mbak, Revan dimana ya. Mbaknya tahu, dia ada didalam atau tidak?” tanya Melody yang begitu ingin segera mendengar soal Revan ada di dalam atau tidak.
“Revan hampir tiga hari yang lalu tidak disini mbak, tapi kemarin dia sempat pulang ke apartemennya dan dia ngasih kunci ini buat orang yang bernama Melody. Mbaknya tadi bilang namanya Melody kan, berarti kunci ini untuk mbak” ucap perempuan muda itu sambil menyerahkan kunci apartemen pada Melody.
“Dia kemana? Bilang mau kemana atau tidak” ucap Melody yang menjadi gelisah mendengar kalau Revan sudah pergi.
“Dia nggak bilang mau kemana mbak, dia cuman nitip kunci ini sama saya” jawab perempuan itu.
“kalau begitu saya pergi dulu ya mbak, saya masih ada urusan” ucap perempuan itu lagi dan langsung pergi masuk kedalam apartemennya yang berada didepan apartemen Revan.
Melody memandangi kunci yang berada di tangannya, meratapi itu dnegan raut wajah sedih. Sungguh, dia sedih mengetahui Revan benar-benar pergi saat ini.
Kakinya terasa lemas dan seketika luruh kelantai,
“Revan, kenapa kamu ninggalin aku. kenapa van. Aku nyesel van, kembalilah lagi van kembali sama aku” ucap Melody menangis didepan pintu apartemen tersebut.
Dia begitu menyesal saat ini, menyesal telah menyia-nyiakan Revan yang telah perduli padanya. Ini lebih sakit daripada Rendi yang meninggalkannya,
“Van, aku minta maaf van.” Ucap Melody menangis meraung di tempat itu.
.....................................
__ADS_1
“Kita langsung lihat rumah baru kita bagaimana?” tanya Rendi pada Thalia yang duduk disebelahnya.
“Boleh, aku ikut saja” jawab Thalia.
“Aku ada salah ya sama kamu? dari kemarin kamu selalu jawab ucapan ku singkat begitu” ucap Rendi bertanya pada Thalia karena ia sungguh penasaran apa salahnya.
“Siapa bilang kamu ada salah,”
“Kalau aku nggak ada salah, kamu kenapa dingin begitu sama aku sayang” ucap Rendi.
“Aku nggak dingin sama kamu, udah deh jangan ngajak debat terus” ucap Thalia yang malas untuk berdebat saat ini.
“Ya udah terserah kamu, yang penting aku udah minta maaf.” Ucap rendi sambil memegang tangan Thalia menggenggamnya erat.
“Hari ini aku boleh ijin keluar atau tidak” ucap Thalia tiba-tiba dan melihat kearah Rendi sekarang.
“Mau kemana? Kemarin kamu sudah ijin keluar masa sekarang mau keluar lagi. Jangan cepek-capek ah” ucap rendi.
“Ada sesuatu yang mau aku urus”
“Apa yang mau kamu urus?” Tanya Rendi penasaran.
“Aku ketemu Nicholas” jawab Thalia jujur, dia memang memutuskan untuk jujur saja pada Rendi soal kemana dia akan pergi. Bukannya kunci dalam rumah tangga itu kejujuran, tidak mungkin dia berbohong seperti Rendi.
Seketika mendengar hal itu Rendi langsung mengerem mobilnya mendadak, Thalia dengan sigap langsung memegang perutnya dan untung saja dia memakai sabuk pengaman. Kalau tidak bisa-bisa dia terdorong ke depan.
“kau gila, kau ingin membuat aku dan anakku celaka” ucap Thalia menatap Rendi.
Rendi yang tadinya sedikit marah, langsung tersadar dan melihat istrinya tersebut.
“Maaf, Maaf sayang. Kamu tidak apa-apa, perut kamu tidak kenapa-kenapa kan?” tanya Rendi tampak cemas dengan kondisi Thalia.
Thalia hanya diam saja tidak menjawab ucapan Rendi,
“Aku minta maaf,” lirih Rendi merasa bersalah dengan tindakannya barusan.
“tidak usah minta maaf, yang ku perlukan bukan itu tapi jawaban darimu. Boleh aku keluar menemui Nicholas”
“Jangan aneh-aneh, kenapa kau harus menemui Nicholas. Sudah berapa kali aku bilang jangan temui pria itu lagi” tukas Rendi yang wajahnya berubah serius.
“Aku tahu kau tidak akan menginginkanku, tapi aku tetap akan menemui dia. terserah dirimu mengijinkan diriku atau tidak” ucap Thalia bersikeras menemui Nicholas.
“Aku bilang tidak ya tidak jangan temui pria itu”
“Kenapa kau melarang ku menemui dia, lebih baik diriku kan yang ingin bertemu manta tapi ijin daripada dirimu yang tidak ijin padaku” ucap Thalia menatap Rendi.
“Kau masih membahas soal pertemuan diriku dnegan Melody kemarin, iya aku tahu aku salah. Aku minta maaf tapi kali ini bisa tidak dengarkan aku jangan temui dia, apa yang akan kamu bicarakan padanya kenapa kau ingin sekali menemui dia”
“Kalau kau takut aku berduaan saja dengannya kau ikut saja denganku nanti, duduk disebelah ku biar kau tahu apa yang aku lakukan padanya. Puas,” tukas Thalia.
“Jika kau tidak mau ikut aku bisa pergi sendiri nanti, sekarang ayo jalan. bukannya kau bilang mau melihat rumah baru” ucap Thalia dan langsung memalingkan wajahnya dari Rendi.
Rendi melihat Thalia sekilas, dia merasa kesal marah tapi dia juga tidak bisa apa-apa, dia seakan terkena karmanya. Kemarin dia malah lebih parah menemui Melody tanpa sepengetahuan istrinya dan sekarang gantian istrinya yang akan bertemu mantan kekasihnya tapi bedanya Thalia ijin dengannya dan malah mengajak dirinya. Serasa tertampar dengan perbuatannya sendiri.
__ADS_1
°°°
T.B.C