Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 150 (Season 2)


__ADS_3

“Relia baru sebulan lebih tapi kayak bayi yang udah lahir beberapa bulan tahu Thalia” ucap Nafa melaporkan apa yang ia lihat pada cucunya.


“Maksudnya gimana ma?” Thalia yang duduk di meja makan depan mamanya menatap tak mengerti.


“ya masa dia kayak udah tahu mama ngomong apa, terus kepalanya udah agak ngangkat gitu. Mama kaget lah” cerita Nafa yang terlihat syok.


“Oh aku kira apa, aku kira Relia udah bisa lari” canda Thalia tapi menunjukkan wajah biasa saja sambil santai mengoles selai di rotinya.


“kamu ini..” ucap Nafa dan seakan memukul Thalia.


“ya habisnya bayi begitu biasa kali ma, bayi modern gitu loh”


“terserah kamu lah percaya atau nggak, ngomong-ngomong mana suami kamu?” tanya Nafa sambil melihat –lihat rumah Thalia yang terlihat sepi.


“Rendi ya kerja lah ma” jawab Thalia menatap mamanya aneh,.


“Oh, Mama kira dia libur.”


“Dia mana ada libur bulan ini, kemarin liburnya diambil semua. Sekarang dia gantian sama temennya yang gantiin dia waktu itu” jelas Thalia sambil memakan rotinya.


“Oh,”


“Kemarin relia rewel nggak ma?” tanya Thalia pada mamanya.


“Rewel sih kalau malem, tapi terus mama kasih susu dia diem.” Jawab Nafa.


“tapi anak kamu termasuk diem sih nggak terlalu rewel, Arsen sama Darren ngalahin Relia sampai mama kadang bingung kalau mereka berdua sering nangis dulu” ucap Nafa menceritakan kedua cucunya yang lain.


“Masa sih Arsen sama Darren begitu, perasaan umur setahun lebih ini mereka banyak diam deh. Malah Axel yang aktif banget tuh anak bikin kesel kadang” pungkas Thalia.


“Iya Asen dulu waktu seusia Relia dia sering dititipin ke mama kan, pasti Rewel terus makanya Lita jarang nitip ke mama lagi karena anaknya rewel terus. Kalau Axel itu malah nggak makanya betah banget di rumah. Lita juga seneng kan bawa Axel ke rumah”


“Iya sih, apa mungkin anak kecil kalau bayinya nggak rewel dia besarnya aktif banget. Tapi kalau kecilnya rewel besarnya nggak” ucap Thalia hanya tebakannya saja sih belum terbukti benar atau nggak nya.


“Tahayul,” jawab Nafa.


“Mereka begitu ya mungkin karena anaknya begitu”lanjut Nafa.


“Mungkin”


“Kamu nggak keluar lagi?”


“keluar kemana?”


“Mama nggak tahu, kan mama tanya kamu nggak kelar lagi kayak kemarin?” tukas Nafa menatap anaknya.


“Nggak, suamiku marah nanti”


“Kemarin kamu dimarahi rendi?”


“hemmm”


“Mampus, makanya kalau keluar ijin suami. Kamu keluar main keluar aja, ingat kamu itu udah jadi ibu-ibu udah punya anak masih aja keluar ketemu temen” ucap Nafa yang malah menasehati Thalia.


“Ya kan aku mikirnya bantu jane nggak bakal rendi marah, tahunya dia malah marah sama aku.” pungkas Thalia yang sedikit kesal mengingat suaminya yang marah kemarin.


“Ya salahmu sendiri, kamu ini nggak diambil pelajaran kisah hidup kakak kamu. kamu punya suami lebih baik dari kakak kamu. tapi kamu nya malah seenaknya sendiri ya wajar Rendi marah”


“Berarti maksud Mama Fahri nggak baik gitu? Wah, aku aduin ke lita” ucap Thalia menatap sang mama sambil tersenyum menyebalkan.


“ya..ya bukan gitu. Fahri baik tapi kan dulu kamu tahu sendiri Fahri gimana beda dengan Rendi. Yang kamu bohongi tapi masih bisa nerima kamu.” ucap Nafa berharap Thalia bisa bersyukur dan selalu menurut apa yang di perintahkan Rendi. Karena anaknya itu termasuk bersyukur punya suami yang sabar seperti Rendi.


“hemm,” Thalia hanya mendehem saja, malas untuk bicara lagi mamanya terus-terusan saja menceramahi dirinya. Padahal dia juga tidak akan mengulangi hal itu lagi.


“Bi Warsih masak apa tadi? Mama laper?” tanya Nafa karena tiba-tiba saja perutnya lapar saat ini.


“masak Rendang daging sama apa ya..entah aku lupa masa apa. aku tadi cuman makan spaghetti aja.” Jawab Thalia


“Mama ke dapur dulu kalau gitu,” Nafa langsung berdiri dari duduknya, ia langsung berjalan menuju ke dapur saat ini perutnya meronta dari tadi ingin segera diisi.


Thalia sendiri malah fokus makan rotinya, dia sedari tadi tak berhenti makan, entah mungkin karena dia tengah menyusui jadi nafsu makanannya meningkat drastis

__ADS_1


.....................................................


Chaca saat ini tengah menghadap komandannya di ruangan sang atasan yang sebentar lagi juga akan menjadi mertuanya. Dia duduk di dengan sikap tegapnya sesekali melihat sang atasan yang masih menyelesaikan pekerjaannya.


“Cha maaf ya, tunggu bentar” ucap Rino sambil menandatangani beberapa berkas persetujuan.


“Iya Ndan” jawab Chaca.


Chaca yang duduk diam disitu sesekali melihat ruangan sang atasan yang ada beberapa foto keluarga disitu.


Disitu tak banyak foto Revan hanya beberapa foto saja, itu pun foto baru-baru ini. hal itu membuatnya merasa sedikit aneh kenapa Revan hanya foto keluarga baru-baru ini sedangkan momen-momen penting revan tidak ada.


Dan fokus Dea ada pada foto kecil Revan yang bersama bocah seumuran dengannya,


“Dia itu kembarannya, apa yang foto lainnya itu juga kembarannya tapi kenapa mereka tidak mirip” batin Chaca sambil melihat foto yang terbaru dimana foto itu sangat lengkap. Ada Revan dan yang lainnya termasuk tambahan dua orang perempuan dan laki-laki berseragam polisi.


“Lihat apa Cha,” ucap Rino yang tiba-tiba saja sudah duduk di depan Chaca.


“Ng...nggak Ndan” ucap Chaca terbata.


“Itu foto revan sama Rendi adik kembarnya. Mereka nggak kembar identik. Terus itu yang foto belum lama ini, itu Rendi sama istrinya” ucap Rino memberitahukan siapa saja yang ada di foto itu.


Chaca hanay mengangguk sungkan sambil melihat foto-foto yang tetempel di dinding.


“Saya manggil kamu kesini cuman mau tanya kok Cha?” ucap Rino yang membuka suaranya langsung mengatakan hal itu membuat Chaca langsung menoleh kearahnya saat ini.


“Mau tanya apa ya Ndan?” tanya Chaca balik.


“begini bentar lagi kamu nikah sama Revan, saya pengen tanya kamu mau lanjut jadi kowad atau mau keluar dari tentara Cha” ucap Rino pada calon menatunya tersebut.


Chaca diam sejenak dia bingung harus menjawab apa, jujur dia tidak ingin keluar dari tentara. Ini impiannya dan impian ayahnya juga. meskipun dia seorang wanita, tapi ia wanita yang kuat dan urusan rumah tangga nantinya pun bisa dia lakukan bersamaan dengan tugasnya dengan meminta pengertian suaminya saja.


“Saya pengen lanjut jadi Kowad ndan, karena itu impian ayah saya dan itu keinginan saya ndan” jawab Chaca lirih.


Rino diam sejenak, dia takut kalau revan tidak mengijinkan Chaca untuk meneruskan karirnya karena dia tahu revan tidak ingin yang menjadi pendampingnya bekerja.


“Bagus Cha, kalau memang kamu masih ingin lanjut. Saya setuju, kamu terus jadi tentara.”


“Tapi kenapa komandan tanya begitu sama saya ndan?”


“Ya sudah Cha, kamu kalau masih ada kerjaan nggak pa-pa kok keluar duluan. Saya suruh kamu kesini cuman mau tanya itu saja tidak ada yang lain” pungkas Rino lagi.


Chaca terlihat sedikit terkejut sih, karena komandannya memintanya menghadap hanya ingin bertanya seperti itu saja. Ia pikir akan memintanya melakukan apa nyatanya tidak.


‘Baik Ndan, kalau begitu saya permisi dulu” ucap Chaca yang langsung berdiri pamit untuk pergi.


“Iya, terimakasih sudah menyempatkan untuk datang keruangan saya” pungkas Rino saat sang calon menantu ingin keluar.


Chaca langsung keluar dari ruangan itu, saat berjalan entah banyak saja pikiran yang langsung bersarang di kepalanya saat ini. kenapa juga atasannya itu bertanya begitu apa jangan-jangan Revan tidak suka dia bekerja. Jika itu alasannya dia tidak bisa mengikutinya keinginannya, pria itu tidak bisa mengaturnya nanti.


“Cha, kamu sudah nemuin bapak?” sebuah suara tiba-tiba membuat Chaca sedikit terkejut dan langsung berbalik melihat siapa yang memegang tangannya.


“Su.sudah bu” jawab Chaca saat melihat isti dari komandannya.


“Kalau sudah yok temenin ibu ke toko perhiasan” ajak Vina pada Chaca.


“Siap bu,” jawab chaca.


“Ya sudah kamu suruh Nanda buat siapin mobilnya dulu, nanti ibu temuin kalian di parkiran. Ibu mau nemuin bapak dulu”


“Ya sudah, saya cari nada dulu bu, nanti saya tunggu di parkiran” balas Chaca mengiyakan ucapan sang atasan perempuan.


Vina hanya mengangguk dan dia berlalu sambil tersenyum pada Chaca, Chaca sendiri langsung pergi saat atasannya juga pergi. Dia harus memberitahu rekannya untuk menyiapkan mobil. Nanda ada ajudan dari Rino yang biasa menyupir kan mereka saat pergi kemana-mana.


.................................................


Vina sudah selesai membeli perhiasannya itu dia berjalan kearah parkiran dan sesekali melihat perhiasan-perhiasan yang dia beli. Tentu itu bukan untuk dirinya melainkan untu Chaca nantinya tapi dia sengaja tak memberitahu Chaca kalau itu akan diberikan pada perempuan yang akan menjadi menantunya tersebut. Itu bukan untuk Chaca saja sih tetapi untuk thalia juga yang belum pernah ia belikan sebagai menantu. Nanti kalau Thalia datang ke Padang akan ia berikan perhiasan itu pada menantunya yang satu lagi.


“mobilnya di sana bu” ucap Chaca sambil menunjuk kearah mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka.


“mana Cha?” ucap Vina melihat kearah Chaca menunjuk.

__ADS_1


Saat keduanya tidak fokus tiba-tiba saja ada yang menarik paper bag yang berisi perhiasan yang dibeli Vina barusan.


“Berikan tasmu,.” Ucap seseorang yang tiba-tiba saja menarik tas dan juga paper beg Vina.


Seorang pria yang terlihat tak rapi tiba-tiba saja datang dan menarik tas itu.


“Kau siapa, tidak mau ini milik saya” ucap Vina yang berusaha melawan.


Chaca yang memakai seragam biasa melihat itu langsung sigap melepas paksa tangan preman yang baru saja datang tersebut.


“Jangan macam-macam tuan, berani-beraninya anda mengambil barang milik orang lain terang-terangan begini” pungkas Chaca dan langsung berdiri didepan atasannya. Dia melakukan itu tentu saja harus melindungi atasannya tersebut.


“Kau perempuan sok berani, jangan ikut campur serahkan barang kalian. Kalau tidak ingin kenapa-kenapa” tukas pria itu mengancam.


Chaca tak bergeming dia menatap pria itu yang melihat kearah lain, tanpa diduga ada seorang temannya lagi yang datang sambil membawa pisau menatap sinis chaca dan juga Vina.


“Cha, awas Cha dia ada temannya. Bawa pisau juga Cha” ucap Vina memperingatkan Chaca.


“Ibu tenang aja, saya bakal melindungi ibu”


Cepat serahkan,” bentak pria itu dan akan berusaha mendekati Vina tapi Chaca menghalanginya dnegan mendorong pria yang tidak membawa pisau sehingga sedikit terdorong kebelakang.


“Saya sudah bilang kan jangan macam-macam, kalian berdua bisa pergi dari sini” tukas Chaca tak ada rasa takutnya sama sekali.


“Wah, nih cewek berani banget sama kita” ucap pria yang satunya yang barusan datang membawa pisau.


“Untuk apa saya takut ada sesama manusia seperti kalian, kalian yang pergi atau diamuk masa disini” ucap Chaca.


Mereka melihat sekitar memang banyak orang yang menatap curiga mereka saat ini,.


“Ambil bos” ucap salah satunya dan maju tanpa perduli ancaman Chaca.


“Tolong, Tolong, ada perampok. Tolong kita” teriak Vina seketika saat salah satu preman itu maju.


Orang-orang yang berjalan mulai berhenti dan melihat kearah empat orang itu mereka langsung mendekat kearah teriakan Vina.


Salah satu preman berjalan dan berusaha mengambil saat Chaca lengah, dan Chaca langsung sadar tanpa menunggu lama dia menendang kuat pria yang hampir menarik tangan bosnya.


“Wah ada perampok, ayo ke sana” seru orag-orang yang bergegas berjalan dengan cepat menghampiri dua orang wanita yang di cegat perampok.


“masih berani mau melawan, pergi dari sini” ucap Chaca mendorong pria yang memegang pisau sampai terjatuh tetapi sebelum jatuh pria itu akan melukai Chaca tapi untung saja Chaca bisa menghindar dan hanya mengenai lengannya sedikit.


“Pak tolong pegang mereka” ucap Chaca saat kerumunan orang-orang sudah berada diantara mereka dan mengerubungi dua perampok itu.


“Iya mbak, kita pegangi” beberapa orang sudah memegangi dua perampok tersebut.


“Bukannya sudah aku bilang untuk pergi, apa susahnya pergi lebih dulu daripada ditangkap mangsa begini. seharusnya kalian butuh uang bilang jangan begini” tukas Chaca.


“Soak bijak kau perempuan” ucap salah satu dari mereka tak terima dan ingin memberontak.


“Ada apa ini Cha, bu. Maaf saya telat” ucap nanda yang berlari tergopoh-gopoh menghampiri keduanya.


“Ibu tadi hampir kecopetan tapi untungnya Chaca bisa lawan mereka” jawab Vina.


“Bang tolong telpon polisi” pinta Chaca pada Nanda.


“Iya bentar-bentar Cha” nanda segera merogoh sakunya untuk mengambil ponsel menghubungi polisi untuk menangkap mereka berdua.


“Tolong mas-mas semua dan bapak-bapak saya minta jaga sebentar dua orang ini. polis sebentar lagi datang” pinta Chaca.


“Iya mbak pasti kami jaga” sahut mereka semua bersamaan.


“ya sudah ayo bu jalan, kita pulang ke rumah” ucap Chaca mengajak Vina yang sedikit agak syok dengan kejadian ini.


“I..iya Cha, ka..kamu nggak pa-pa kan?” tanya Vina yang gemetar.


“Nggak pa-pa kok bu” jawab Chaca padahal lengannya sedikit nyeri saat ini. tapi untungnya atasannya itu tidka melihat luka itu.


“Sini bu, biar saya yang bawa” ucap nanda yang sudah selesai menelpon.


Vina langsung menyerahkan belanjaannya ke nanda, dia berjalan dengan di kawal oleh chaca yang berjalan disampingnya saat ini. mereka bertiga langsung pergi meninggalkan dua orang perampok itu yang sudah di tangani oleh beberapa orang.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2