
Fahri saat ini sedang minum-minum sendirian disebuah bar terkenal. Dia memegang gelas kecil berisi alkohol ditangannya. Ini sudah gelas kesekian kalinya, pria itu sendiri saja sudah terlihat mabuk tapi masih terus meneguk minuman ditangannya.
"Kau bodoh Fahri, kau bodoh bagaimana bisa tadi kau mencium perempuan itu" Fahri merutuki dirinya terus. Atas apa yang dia lakukan tadi siang pada Lita. Bagaimana bisa dia mencium perempuan itu untuk kedua kalinya.
"Jangan goyah ingat niat awal mu, dia harus kau bunuh Fahri" ucap Fahri menguatkan hatinya.
"Hei.." sebuah tangan pria menepuk pundak Fahri saat ini.
Fahri langsung melihat kebelakang, melihat siapa yang telah menepuk bahunya.
"Rendi.." ucapnya saat melihat mantan rekannya di kepolisian dulu.
"Hai, lama tidak bertemu" ucap Rendi mengambil duduk disebelah Fahri.
"Sudah tidak usah minum lagi, Sekarang kau tidak menjaga kesehatan mu sama sekali ya semenjak keluar dari Kepolisian" pungkas Rendi mengambil gelas kecil ditangan Fahri.
"Bukan urusanmu" Fahri yang setengah mabuk akan mengambil lagi gelasnya tapi keburu di minum oleh Rendi.
"Mau mu apa?" kesal Fahri menatap temannya itu.
"Kita berteman lagi seperti dulu, ayolah jangan begini. Kau marah denganku karena aku menceramahi soal dirimu yang akan balas dendam, sungguh seperti anak kecil saja kamu" tukas Rendi.
Fahri terdiam,
"Kenapa kau kesini ada masalah dengan istrimu atau dengan ingatan Dira di kepalamu"
"Ayolah Fahri, Dira sudah tiada dan istrimu itu bukan pembunuhnya" ucap Rendi meyakinkan Temannya.
"Cih, kau tahu apa? kau saja polisi rendahan yang tidak bisa menangani kasus itu" sinis Fahri.
"Memang aku polisi kelas bawah tidak menangani kasus itu. Tapi aku punya saudara yang menangani kasus itu dan dia punya bukti kuat kalau istrimu tidak membunuh Dira"
"Pergilah dari sini, aku tidak akan percaya dengan perkataan mu"
"Terserah dirimu saja Fahri, aku menemui mu hanya ingin bilang itu. Aku tidak ingin nantinya kamu menyesal telah melukai wanita baik seperti istrimu"
"Baik, baik darimana. Kalau dia baik tidak mungkin berselingkuh, sudah pembunuh selingkuh" ucap Fahri entah karena dia sudah dalam pengaruh Alkohol atau apa.
"Maksudmu?"
"Sudahlah, aku mau pulang" Fahri mulai berdiri tapi badannya seakan tidak tegap. Dia sempoyongan.
Fahri akan limbung tapi Rendi sudah menahannya terlebih dahulu agar Fahri tidak terjatuh.
"Ayo aku antar kau pulang" ucap Rendi membantu Fahri.
"Tidak usah, kau pasti akan berceramah terus-terusan" ucap Fahri menghempas tangan Rendi yang memegangi dirinya.
__ADS_1
Fahri berjalan sempoyongan berjalan ke depan.
"Fahri,.." panggil Rendi mengejar temannya itu.
Dia khawatir kalau Fahri akan kenapa-kenapa mereka dulu sahabatan tapi karena pria itu terlalu ingin membalaskan dendam membuatnya menjauh.
Fahri berjalan dengan masih sempoyongan dan tiba-tiba dia menabrak seseorang.
"Minggir,." kesuhnya kasar menyuruh pria tegap didepannya untuk pergi.
"Kau Fahri kan?" tanya Pria tegap tersebut.
"Ya, kenapa kau mau cari masalah denganku" tantang Fahri.
"Ada titipan untukmu" Pria tegap berotot itu menyerahkan amplop coklat itu dan langsung pergi.
"Hei. hei..apa ini" teriak Fahri berisik.
"Fahri, Fahri tenanglah kau kenapa?" tanya Rendi yang sudah berada di samping Fahri saat ini.
"Ada orang aneh yang memberiku ini. Apa ini" Fahri langsung membuka amplop itu.
Ada beberapa foto yang membuatnya melebarkan mata terkejut.
Itu Foto seseorang yang mirip Lita sedang berciuman dan satu lagi yang membuat Fahri menatap marah foto itu. Itu foto Lita sedang ada di atas kasur dengan seorang pria tanpa busana hanya selimut saja yang menutupi mereka.
"I..itu istrimu" ucap Rendi yang juga terkejut.
"Lihat apa yang akan aku lakukan padamu wanita murahan" Fahri pergi dengan sangat marah meninggalkan Rendi yang terpaku. Apa benar itu istri dari temannya masa berselingkuh.
Rendi menunduk mengambil salah satu foto yang dijatuhkan Fahri barusan, tapi kenapa foto ini seakan ada yang aneh, batin Rendi curiga.
………………
Lita melihat sekeliling kamar yang dulu juga menjadi kamarnya. Kini ia ada di kamar ini lagi setelah beberapa bulan tidak ia tempati, terakhir dia tidur di sini saat dia baru menikah dengan Fahri sebelum dia mengetahui apa yang pria itu lakukan padanya.
Kenapa hatinya begitu bodoh untuk terus mencintai Fahri padahal Fahri sudah jahat terhadapnya selama ini.
Pagi tadi sebenarnya dia berat menandatangani surat cerai itu tapi tekatnya begitu kuat dia sudah menyerah dengan apa yang dia tahan saat ini. Dia punya harga diri, tapi kenapa dia sudah tersiksa begini Fahri masih saja tidak mau menceraikannya pria itu sudah ia suruh untuk membunuhnya tapi menolak kenapa dia menolaknya.
Saat Lita tengah merenung duduk di atas tempat tidur didalam kamar yang sunyi ini seseorang membuka pintu kamarnya kasar membuat dia langsung melihat kearah pintu.
Fahri yang membuka pintu itu, dia menatap tajam Lita.
"Mas Fahri," ucap Lita yang terkejut berdiri melihat Fahri yang memegang daun pintu sambil melihatnya marah.
"Wanita murahan, wanita pelacur, wanita keji pembunuh" ucap Fahri dengan segala lontaran kebencian ia ucapkan pada Lita yang berdiri terpaku mendengarnya.
__ADS_1
Dia berjalan mendekati Lita saat ini,
"Mas,..ke..kenapa dirimu. Kau mabuk" ucap Lita yang gemetar saat Fahri mencengkram tangannya.
"Murahan kau"
Plakkk
Fahri menampar kuat Lita sampai perempuan itu terjatuh di kasur.
"Mas kau kenapa? kenapa kau pulang-pulang marah padaku"
"Diam lah perempuan murahan kotor sepertimu" ucap Fahri membuka kemejanya.
Lita melihat heran kenapa Fahri membuka kemejanya saat ini.
Fahri mengunci pintu kamarnya, dan dia melihat Lita dengan tatapan menakutkan.
Melihat itu bulu kudu Lita seakan berdiri, dia benar-benar takut melihat Fahri yang tampak marah begitu.
Fahri mendekat pada Lita, mendorong kuat perempuan itu saat akan berdiri.
"Mas kau mau apa?" ucap Lita takut saat Fahri mendorongnya kuat di atas kasur dan langsung naik keatas tubuhnya.
"Menjarahi tubuh kotor mu itu wanita murahan. Beraninya kau menyelingkuhi ku seperti itu"
"Apa maksudmu mas? aku tidak mengerti, aku tidak selingkuh. Rey dan aku hanya bohongan"
Plakkk
"Diam kau wanita murahan,"
"Arkh, sakit mas. Lepaskan mas, lepaskan aku" ucap Lita memberontak saat Fahri mencengkram tangannya dikedua sisi.
"Tidak akan aku lepaskan sebelum aku memberi pelajaran padamu"
"Mmmmhhh"
Fahri langsung mencium kasar Lita, mencium dengan sangat kasar seperti tadi siang.
"Mas minggir, lepaskan aku, aku mohon" ucap Lita.
"Diam lah, aku meminta hak ku sekarang" ucap Fahri mencium Lita lebih dalam lagi bahkan terkesan menuntut.
Lita sekuat tenaga mendorong Fahri, dia bukannya menolak memberi hak pada pria itu tapi ini salah. Fahri sedang dalam kondisi marah dan dalam pengaruh alkohol.
°°°
__ADS_1
T.B.C