Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 05 (Season 2)


__ADS_3

“Wow, Lo disini pria sombong” pungkas Thalia malah tersenyum melihat siapa yang ada didepannya saat ini.


“Lepaskan perempuan itu,” tekan Rendi, menatap ketiga preman di depannya.


“Hah, tidak semudah itu tuan. Dia calon pemuas kita malam ini, kau siapa? Pacarnya atau suaminya?” sinis pimpinan preman tersebut.


“Tidak perlu anda tahu, kalian ingin cari halus atau cara kasar untuk membuat kalian pergi dan melepaskan perempuan itu” ancam Rendi.


Rendi dengan santai mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, membuat ketiga orang itu menatap penasaran. Sedangkan Thalia sudah hampir tidak sadarkan diri karena pengaruh alkohol.


“Apa yang kau lakukan?” mereka berucap dengan sedikit gemetar saat melihat apa yang dipegang Rendi saat ini.


Rendi tengah memegang pistol ditangannya, dia mengarahkan pistol tersebut kearah ketiganya.


“Bukannya aku tadi tanya pada kalian, ingin cara halus atau cara kasar. Kalian hanya diam saja, maka aku yang menentukan pilihan,” ucap rendi dnegan tajam.


“Itu palsukan, anda ingin mengancam kitakan, Ramos pukuli dia” perintah pimpinan tersebut tidak percaya dengan yang dibawa Rendi sungguhan atau palsu.


Rendi tersenyum sinis, dan


Dorr..


Dia menembakkan pistol tersebut ke udara,


“Kalian lihat, pergi dari sini” gertaknya kepada ketiga orang tersebut.


“Bo..bos, kita berdua tidak ingin mati. Lepaskan saja perempuan ini” bisik alah satu dari dua anak buah itu.


Pimpinan mereka tersebut, tiba-tiba saja langsung mendorong Thalia kearah Rendi,


“Kita kabur,” serunya pada keduanya.


Mereka bertiga langsung berlari dengan kencang pergi meninggalkan Thalia yang sudah tidak sadarkan diri, untung saja saat di dorong tadi Thalia jatuh tepat di pelukan rendi yang menahannya.


“Hoi, sadarlah. Pulang ke rumah mu,” rendi merenggangkan pelukannya melihat Thalia yang tidak sadar.


Thalia tentu saja diam, karena dia tak sadarkan diri, berkali-kali Rendi membangunkan Thalia tidak kunjung bangun juga.


“menyusahkan,” sinis Rendi terpaksa menggendong Thalia, sambil memikirkan mau ia ke manakan perempuan ini.

__ADS_1


Rendi memasukkan kembali pistolnya kedalam wadahnya yang berada di pinggangnya, yang terlihat seperti saku.


Dengan langkah berat, dia membawa Thalia masuk kedalam mobilnya sekarang.


...........................


Rendi akhirnya sampai di apartemen miliknya, dia menggendong Thalia yang terpaksa dia ajak ke apartemennya saat ini. karena dia bingung mau ia antar kemana, tidak mungkin ke rumah Fahri dan juga Thalia.


Dengan pelan rendi menaruh Thalia di tempat tidur miliknya, karena memang tempat tidur di apartemennya hanya satu-satunya tidak ada kamar lain.


“Kenapa diriku harus berurusan dengan perempuan ini” gumamnya sambil menaruh Thalia di tempat tidur, dan dia akan bangkit tapi tiba-tiba saja kerah bajunya di cengkram oleh Thalia membuat Rendi terjatuh ditubuh perempuan itu. Segera saja ia ingin bangkit melepaskan diri dari Thalia, dia melihat sekilas perempuan tersebut yang perlahan membuka matanya.


“Aku minta maaf telah mengkhianatimu dulu, tapi tidak sepantasnya kau menjelekkan ku seperti itu. Kau tidak perlu khawatir Rey, aku tidak mencintaimu lagi. Ini bentuk salam perpisahan dariku” ucap Thalia yang membuka matanya, tapi di matanya kalau di depannya saat ini adalah rey,.


Dia menarik rendi semakin mendekat, dan ia langsung menempelkan bibirnya d bibir Rendi. Seketika Rendi terdiam menerima ciuman tersebut, dia terpaku saat ciuman Thalia sudah terlepas karena cengkraman perempuan tersebut dilehernya sudah mengendur.


Rendi langsung berdiri, melihat Thalia yang tidur. Dia menatap dingin perempuan tersebut, melihatnya sekilas dan langsung pergi dari kamarnya saat ini.


...................


Matahari sudah bersinar dengan sangat terangnya, Rendi masuk kedalam kamarnya sekarang, dia sudah sangat rapi dengan baju dinas polisinya berjalan kearah jendela kamarnya membuka tirai jendela tersebut.


Dan langsung cahaya masuk kedalam kamar miliknya membuat kamar yang tadinya sedikit gelap kini berubah menjadi begitu terang.


“Kau sudah bangun, cepatlah pergi dari apartemenku” ucap rendi sakartis, melihat dingin pada Thalia yang mengucek matanya.


Mendengar suara tersebut seketika Thalia melihat kearah pria yang menatapnya dingin.


“kamu, kau ke rumahku?” Thalia langsung duduk melihat rendi.


“Jangan salah sangka, kau yang ke rumahku. Bangunlah dan pergi dari sini” ucap Rendi sinis.


Thalia langsung mengedarkan pandangannya melihat interior kamar yang memang berbeda dnegan kamarnya.


“Ini rumahmu, kau membawaku kesini, lalu kita melakukan apa semalam” Thalia dengan bersemangat turun dari tempat tidurnya menghampiri Rendi.


“kamu memang perempuan gila,” sinis Rendi dan akan pergi dari hadapan Thalia, Tapi Thalia buru-buru menahannya lebih dulu.


“Tunggu, kau mengapa mengajakku kesini?” tanya Thalia penasaran. Karena dia sedikit ingat kalau dia semalam mabuk dan ada preman yang mengganggunya.

__ADS_1


“Karena aku tidak tahu rumahmu” jawab rendi.


“Cepat pergi dari kamarku” lanjut Rendi mengusir Thalia.


“Dasar menyebalkan” sinis Thalia melihat rendi yang keluar setelah melepaskan tangannya dari lengan pria tersebut.


Rendi tak mau ambil pusing, dia langsung pergi begitu saja. Hari ini dia harus kekantor untuk absen barus setalah itu dia akan berganti baju juga di sana mengenakan pakaian biasa. Karena tidak mungkin dia mengenakan pakaian dinas, dia hari ini akan melakukan penggerebekan di hotel.


Rendi berjalan kearah dapur untuk mengambil minum, baru setelah itu ia akan berangkat e kantor. Saat dia tengah membuka kulkas Thalia keluar dari kamarnya dan menghampiri dirinya saat ini.


“kau akan berangkat, aku bisa menebeng denganmu?” tanya Thalia melihat kearah Rendi.


“Tidak” jawab rendi singkat.


Dia langsung menegak air minum ditangannya langsung dari botol tersebut.


Thalia hanya melihatnya saja, dia terpaku dengan Rendi yang sedang minum, pria itu begitu menggoda.


Setelah melihat Rendi, Thalia langsung mendekati pria tersebut. Rendi yang selesai minum menatap heran Thalia yang tiba-tiba saja berjalan mendekat kearahnya.


“Semalam aku bicara aneh tidak?” tanya Thalia dengan lembut seperti mereka sudah kenal lama.


Rendi hanya diam saja, dan akan pergi, dia malas menanggapi orang yang sok akrab dengannya.


Baru saja Rendi akan melangkah melewati Thalia, perempuan tersebut menahan lengannya saat ini.


“Apa yang kau lakukan, cepat pergi dari apartemenku. Aku harus pergi” tukas rendi melihat manik mata Thalia yang menatapnya.


Thalia hanya diam terus memperhatikan dirinya membuat dia merasa, kikuk sendiri dengan tatapan perempuan didepannya.


“Kalau kau tidak mau pergi ya sudah,” ucap rendi hanya pasrah saja, ia melepaskan tangan Thalia kembali dari lengannya berniat akan pergi membiarkan perempuan itu tetap di apartemennya.


Karena percuma dia bicara terus perempuan keras kepala didepannya tidak akan mendengarkan.


Thalia tidak melepaskan tangannya sama sekali, justru dia malah menarik Rendi semakin mendekat. Dan dia langsung berjinjit mencium pria didepannya.


Cupp,


Rendi menerima ciuman itu hanya terdiam, masih tidak percaya seperti semalam saat Thalia menciumnya.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2