Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
41


__ADS_3

Naya masuk kedalam kamar Lita, dia masuk setelah perempuan itu mempersilahkannya untuk masuk.


Naya sendiri datang bukan karena keinginannya, melainkan karena David yang menyuruhnya saat ini. Dia tidak menemui Lita karena ingin membuat Lita tenang, dia ingin Lita menenangkan dirinya sendiri tanpa gangguan dari siapapun.


Dia ikut memposisikan diri diposisi Lita yang seperti saat ini pasti butuh sendiri dan menenangkan pikiran.


"Ada apa mbak Naya?" ucap Lita datar.


"Mbak mau ngajak kamu keluar, yuk kita jalan-jalan" jawab Naya lembut menatap Lita yang duduk di tempat tidur.


"Aku lagi males keluar mbak, mbak Naya saja sama kak David" ucapnya lirih merasa tak enak tapi bagaimana lagi dia sedang tak ingin pergi kemana pun.


"Ayolah Lita, jangan begini. Kalau aku tidak mengajakmu keluar kau tahu kakakmu itu bagaimana?" ucapan Naya terkesan memohon pada Lita.


Lita diam melihat Naya yang tampak cemas,


"Baiklah ayo kita jalan keluar mbak, aku mau keluar demi mbak Naya. Aku tahu kakakku itu, aku tidak mau mbak Naya di marahi" ucap Lita mengusap lembut tangan Naya.


"Terimakasih adikku," ucap Naya mengusap lembut kepala Lita.


Naya sangat menyayangi Lita seperti adiknya sendiri karena dia anak sulung dan terpisah dari adiknya yang ada di Indonesia. Dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi, ia hanya memiliki David makanya itu dia tinggal di Amerika bersama David.


Mereka dulu bertemu di sebuah Hotel, karena David menolongnya. Dan dari situlah mereka menjadi sepasang kekasih hingga saat ini.


………………


David diam saja, dia hanya berjalan dibelakang dua orang perempuan didepannya. Dia memperhatikan dua orang itu yang memilih-milih baju, beberapa kali Naya menawarkan baju untuk Lita tapi Lita hanya diam dan mengiyakannya saja tak bersemangat.


"Kakakmu mengajakmu keluar agar kamu bersenang-senang bukan merasa terkurung" cibir David yang ada di belakang Naya dan Lita.


"David sudahlah, kau diam saja" tegur Naya pada kekasihnya itu.


"Aku minta maaf" lirih Lita dia memang merasa bersalah.


David hanya membuang muka saja, menaruh tangannya kebelakang.


"Ayo Lita, kita cari makanan saja" ucap Naya menggandeng tangan Lita.


"Iya kak ayo,." jawab Lita berusaha tersenyum sungguh dia tidak ingin mengecewakan orang-orang yang membantu dirinya untuk bangkit. Sungguh tidak ingin,


"Lita kau pasti bisa, kau pasti bisa untuk bangkit" ucap Lita didalam hatinya.


Mereka bertiga langsung berjalan mencari tempat makan. Sudah hampi dua jam mereka berkeliling untuk membeli pakaian tapi tidak ada yang dibeli karena niat Naya dan David bukan membeli pakaian melainkan untuk menghibur Lita.


"Kak David kenapa tidak pernah mengajak Rey kesini, aku butuh teman kak" ucap Lita tiba-tiba.

__ADS_1


David yang berjalan langsung berhenti menatap adiknya.


"Dia sibuk, dan tidak mau kesini. Kau butuh teman atau butuh informasi mengenai Fahri" ucapan penuh kecurigaan David pada Lita begitu ketus.


"Kakak nih kenapa sih selalu saja berpikiran buruk tentang aku kak, kakak sendiri yang menyuruhku untuk tidak memikirkan Fahri. Tapi kakak sendiri yang membuatku terus mengingat nama itu. Aku tidak ingin mengetahui kabar tentangnya kak, kakak semakin membuatku sulit saja" ucap Lita penuh kekesalan pada David kakaknya. Dia langsung berjalan lebih dulu meninggalkan Naya dan juga David yang terdiam.


"Kau puas, adikmu sudah berusaha untuk melupakan suaminya. Aku bisa melihat itu, ada kebencian dalam matanya dan juga rasa kecewa. Bukan hanya itu saja, masih ada rasa cinta dalam hati adikmu. Dia berusaha untuk menghapus setitik cinta itu dari hatinya tidak mudah untuk menghapusnya butuh proses. Tapi dia saat dia bertekad kau malah menuduhnya aneh-aneh. Aku tidak habis pikir denganmu David" ucap Naya penuh kekecewaan pada kekasihnya tersebut.


Dia akan pergi menyusul Lita tapi David langsung menariknya kuat masuk kedalam pelukan pria itu.


David memeluk Lita kuat, dia melingkarkan tangannya pada pinggang Naya dan mencium bibir Naya yang seksi. Bukan hanya ciuman biasa tetapi ciuman yang terkesan menuntut,.


Naya mendorong David pelan, dia melepas paksa ciuman tersebut.


"Kenapa kau melepasnya, aku menginginkannya" ucap David yang terlihat kecewa.


"Kau pasti begini ketika aku marah dan kecewa padamu. Ini bukan saatnya kita untuk bermesraan David" ucap Naya dan langsung pergi dari hadapan David saat ini.


°°°°°


Fahri menatap dirinya didepan cermin dia begitu tidak terurus saat ini. Dengan kumis yang tebal dan brewok. Dia menatap dingin dirinya sendiri melalu pantulan cermin itu.


"Temui Keluarga Dira dulu Fahri, itu janjimu di makan Dira dulu kan. Dan tanya pada mereka yang sebenarnya." batin Fahri sambil mencukur kumisnya yang lebat itu.


"Kau harus sabar menungguku sayang, aku akan menyusul mu. Tapi aku harus menyelesaikan janji yang ku buat dulu dengan Dira. Aku pasti menyusul mu Lita" ucap Fahri pada dirinya sendiri didepan cermin entah apa maksud dari ucapan pria itu menyusul? menyusul kemana?


"Kau tampan tapi kau bodoh" ucapnya dingin dan langsung meninju kaca didepannya membuat kaca itu pecah dan pecahannya berhambur jatuh kebawah.


Tangan Fahri mengeluarkan dari yang bercucur tapi dia tidak perduli. Tidak ada rasa sakit ditangannya.


Dia membiarkannya saja dan langsung pergi dari kamarnya saat ini. Dia tidur dikamar milik Lita.


………………


Didalam pesawat dia duduk bersebelahan dengan Rendi yang menatap cemas Fahri lebih tepatnya tangan Fahri yang terbungkus perban.


"Kenapa menatapku begitu?" Fahri menoleh kesamping melihat Rendi yang menatapnya.


"Kau melukai dirimu, sudah dua hari dari yang aku bilang. Jangan melukai dirimu. Itu tidak akan membuat Lita kembali" pungkas Rendi pada Fahri.


Fahri hanya diam memasang earphone di telinganya.


Rendi hanya bisa menghela nafas menatap teman sekaligus rekannya di kepolisian dulu.


"Cintamu sepertinya lebih besar untuk Lita sobat, tapi kenapa dulu kau tidak menyadarinya. Dan kau baru menyadari setelah dia tiada, seharusnya kau tidak pernah bilang kata benci" ucap Rendi menatap Fahri yang memejamkan matanya.

__ADS_1


°°°°°


"Kak?" panggil Lita pada David yang duduk menonton tv.


"Kau disini hampir sebulan apa Papa dan Mama tidak curiga" ucap Lita yang duduk disebelah kakaknya.


"Aku bilang ke Belanda, dan aku sedang marah Pada Papa" ucap David.


"Kau marah pada Papa? marah karena apa?" tanya Lita begitu penasaran.


"Kau tidak perlu tahu, sana tidur." ucap David meminta adiknya itu untuk ke kamar.


"Oh iya aku mau tanya sama kakak"


"Tanya apa?"


"Kapan kak David menikahi mbak Naya? kasihan kak Naya kakak gantungkan terus beri dia kepastian kak" ucap Lita pada kakaknya.


David langsung terdiam melihat adiknya.


"Belum saatnya" jawab David setelah diam memperhatikan Lita.


"Kenapa belum saatnya kak, mbak Naya sudah nunggu lama. Dan kalian sering tinggal lama seperti ini, bayangkan bukan suami istri tapi sudah tinggal bersama"


"Ini bukan Indonesia Lita,"


"Aku tahu ini bukan.."


"Sudahlah sana masuk kekamarmu"


"Apa alasan kakak belum menikahi mbak Naya" Lita tidak mengindahkan ucapan kakaknya. Dia masih menatap David.


"Karena dirimu dengar" kesal David menatap Lita.


"Karena diriku, kenapa karena aku?"


"Kalau kamu belum bahagia, kakak belum bisa tenang. Kakak sudah janji dengan diri kakak kalau akan membahagiakanmu dulu" ucap David mengusap lembut kepala Lita.


"Jangan bilang karena rasa bersalah mu dulu padaku. Aku sudah memaafkan mu, dulu yang kau lakukan padaku itu wajar kak. Anak mana yang tidak marah pada anak haram dari Papa.."


"Jangan bilang kamu anak haram, kamu adikku dan bukan anak haram" ucap David.


Lita langsung memeluk kakaknya, dia begitu bersyukur memiliki kakak seperti David. Coba kalau tidak ada David saat ini mungkin dia sudah begitu terpuruk dan hancur.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2