
Thalia dan Rendi sudah sampai di rumah baru mereka, Rendi yang habis membukakan untuk istrinya langsung ke arah bagasi mobil untuk mengambil barang-barang mereka yang ia taruh di belakang.
“Kamu masuk aja dulu, biar aku yang nurunin koper kamu” pungkas Rendi menyuruh istrinya tersebut untuk masuk kedalam lebih dulu.
“nanti ah, sama aku. aku takut masuk sendirian” tolak Thalia yang tidak mau masuk kedalam lebih dulu.
“Takut apa? hantu, nggak ada hantu sayang” pungkas Rendi pada sang istri.
“Nggak usah disebutin kenapa, kalau mereka denger terus dateng gimana” ucap Thalia yang langsung was-was.
“Hantu itu nggak ada, udah nggak usah takut. Kalau kamu nggak mau masuk sendiri ya udah tunggu aku” ucap Rendi langsung membuka bagasi mobil dan mengeluarkan dua koper miliknya dan juga Thalia. Barang-barangnya yang lain, akan dibawa orang suruhannya nanti.
“Nanti Mama Wulan katanya mau kesini, dia mau bantu kamu beres-beres disini, dia juga mau ngirim asisten rumah tangganya kesini” ucap Rendi memberitahu sang istri kalau Mama dari fahri akan berkunjung ke rumah mereka saat ini.
“Kamu beritahu dia kalau kita hari ini pindahan, kenapa kamu malah lebih akrab sama mamanya Fahri daripada orang tuamu sendiri. Papamu tidak kau beritahu soal kamu pindah dan dia juga tidak kamu beritahu soal uangmu yang kurang untuk beli rumah tapi kenapa kamu selalu memberitahu Mama Fahri. Dia bukan siapa-siapa kita?” ucap Thalia yang merasa aneh dan dia sebenarnya sedikit tidak suka karena baginya orang tua Fahri adalah orang lain bagi rumah tangga mereka.
“Aku kan pernah cerita sama kamu, orang tua Fahri sudah seperti keluargaku sendiri. semenjak aku kenal Fahri aku merasa memiliki keluarga baru, dan mereka sudah seperti keluargaku sendiri kau tahu sendiri perlakuan Papa Sasongko dan Mama Wulan seperti apa. mereka sama sekali tidak membeda-bedakan diriku maupun dnegan Fahri. Dan soal Papa yang tidak aku beritahu soal ini, karena aku tidak ingin membuatnya kerepotan. Adikku ada dua dan mereka butuh biaya untuk sekolah, Papa pasti membantuku tapi aku kasihan kalau Papaku harus mengeluarkan uang untukku lagi.” Jelas Rendi mencoba memberi pengertian pada istrinya kenapa dia lebih banyak berkeluh kesah pada orang tua Fahri.
“Kan ada Papaku, kenapa tidak bilang Papaku” ucap Thalia.
Rendi langsung mendekati istrinya, memegang tangannya saat ini.
“Bukannya aku tidak mau bilang pada Papamu, tapi aku menantu dan kamu istriku. Aku tidak ingin orang tuamu membantu diriku, karena ini tanggung jawabku. Kalau Papamu tahu soal uangku yang kurang untuk membeli rumah ini, dia pasti akan membelikannya begitu saja. Aku tidak mau itu, aku ingin membeli rumah ini untukmu dnegan uang kerja kerasku selama ini. kamu mengerti apa yang aku maksud kan?” ucap Rendi memegang tangan sang istri sambil menatap Thalia.
“Iya, aku mengerti maksudmu, aku beruntung punya suami yang bertanggung jawab seperti dirimu. Lebih beruntung diriku daripada Lita, suaminya dulu tak ada tanggung jawab sama sekali” ucap Thalia sambil tersenyum.
“Jangan begitu, itu kakakmu dan Fahri sudah seperti kakakku juga. dia sekarangkan tidak begitu lagi” ucap Rendi.
“Iya sih, ya sudah buruan. Ayo masuk kedalam” ucap Thalia dan segera mengajak masuk suaminya kedalam.
“Ya udah ayok, kopernya juga sudah aku turunkan” ucap Rendi dan langsung meraih dua koper yang berada di belakang mobil.
“Kamu jalan sendiri tidak apa kan, hati-hati kalau jalan” ucap Rendi mengingatkan Thalia untuk berhati-hati.
“hemm, nggak usah lebay deh.” Tukas Thalia pada Rendi.
“Bukannya lebay, tapi aku takut kalau mimpi Lita jadi kenyataan”
__ADS_1
“Ya kamu jangan takut begitu, itu sama aja doa. Biasa aja, nggak usah mikirin mimpi” ucap Thalia.
“Iya, ayo jalan” ucap Rendi dan langsung berjalan dibelakang Thalia yang berjalan dulu didepannya.
.......................................................
“Ini susumu, buruan diminum” ucap Rendi yang menyerahkan segelas susu pada Thalia yang duduk di tepi tempat tidur.
Mereka saat ini berada didalam kamar mereka yang ada di rumah baru, barang-barang di rumah itu tentu saja sudah tersedia karena dalam waktu tiga hari Rendi mengejar semuanya untuk mengisi perabotan rumah.
“Aku minum nanti ya, baju belum masuk lemari. Aku beresi baju dulu bagaimana?” ucap Thalia sambil memperhatikan Rendi yang naik ketempat tidur dan duduk dibelakangnya.
“Nggak usah nanti-nanti bisa, susunya diminum. Kamu tadi belum minum susu kan, mulai hari ini jangan pernah telat minum susunya” ucap Rendi yang terkesan protektif kali ini.
Thalia melihatnya sambil menghela nafas, dia tahu sikap Rendi seperti ini karena mimpi yang dialami Lita dan lamunan Rendi beberapa waktu lalu makanya membuatnya menjadi seperti ini.
“kenapa lihatin aku begitu, buruan diminum” ucap Rendi melihat istrinya yang sedikit menoleh kebelakang melihatnya.
“Nggak pa-pa, kamu sendiri kenapa duduk dibelakang ku begitu?” tanya Thalia yang menatap aneh pada Rendi yang sudah mengambil duduk di belakangnya.
Thalia hanya membiarkannya saja dan dia langsung meminum segelas susu yang berada di tangannya saat ini.
Ponsel Thalia yang berada di atas meja berbunyi saat perempuan itu sedang meminum susunya.
“sayang bisa tolong ambilkan ponselku” pinta Thalia setelah menegak seteguk.
“Iya sebentar” rendi langsung mengambil ponsel milik Thalia yang posisinya lebih dekat padanya.
“Siapa?” tanya Thalia saat Rendi sudah memegang ponsel milik istrinya itu.
“Kak David” jawab Redi saat melihat nama yang tertera di layar ponsel istrinya.
“Kenapa dia nelpon, tumben siang begini” ucap Thalia sebelum mengangkatnya.
“Diangkat saja, siapa tahu penting” pinta Rendi.
Thalia langsung mengangkat telpon dari sang kakak,
__ADS_1
“Iya halo? Kenapa?” taya Thalia saat sudah mengangkat panggilan itu.
“Kau dimana sekarang, kenapa aku ke apartemen mu banyak orang yang membereskan barang-barang mu dan Rendi disini. kau pindah rumah dimana?” tukas David diseberang sana.
“Kau mau kabur agar aku tidak memarahimu begitu” ucap david lagi.
“Siapa juga yang mau kabur, kenapa juga aku takut kau marahi. Aku tidak salah apa-apa padamu” jawab Thalia heran dengan ucapan kakaknya.
“Tidak usah pura-pura dirimu, sekarang kau pindah kemana. Aku perlu bicara denganmu.” Ucap David.
“Nanti aku kirimkan alamatnya, tapi nanti. Aku mau berduaan dengan suamiku. Aku matikan, bye” ucap Thalia dan langsung mematikan panggilannya begitu saja tanpa menunggu ucapan David selanjutnya. Karena dia bisa menebak David pasti mengoceh dulu soal dirinya yang pindah rumah.
Jadi lebih baik ia matikan sepihak saja panggilan barusan, dan soal alamat rumahnya nanti saja ia kirimkan pada kakaknya itu.
“kenapa dia?” tanya Rendi pada istrinya.
“Biasalah, mau ngomel. tahu sendiri kak David bisanya ngomel” jawab Thalia dan menaruh ponselnya di kasur. Dia langsung melanjutkan untuk menghabiskan susunya.
“Oh iya, Revan bagaimana? Tiga hari ini sudah ada kabar?” tanya Thalia saat dia baru saja selesai menghabiskan susunya dan teringat akan kakak iparnya itu.
“Tiga hari ini aku hubungi dia tidak bisa, entah sebenarnya dia kemana” jawab Rendi yang sedikit terdiam. Dia sebenarnya mencemaskan Revan karena beberapa hari ini tidak ada kabar.
“Terus itu siapa mantanmu bagaimana? Dia tidak apa-apa karena Revan tidak ada kabar” ucap Thalia menanyakan soal Melody entah mengapa dia kasihan saja dengan perempuan itu yang sepertinya sangat menyesal karena Revan memutuskan pergi.
“Aku tidak tahu dia bagaimana sekarang, aku hanya bilang waktu itu saja kalau Revan tidak bisa di hubungi. Selebihnya aku tidak bicara apa-apa lagi dengannya” ucap rendi.
“Kenapa, kamu hubungi juga tidak apa-apa. aku tidak marah lagi karena aku tahu hatimu hanya untukku kan” ucap Thalia dengan percaya dirinya.
“Itu kamu tahu hatiku hanya untukmu. Tapi meskipun begitu aku tidak akan menghubunginya tanpa sepengetahuan dirimu. Dan untuk apa aku menghubunginya, aku ingin menjaga perasaan istri tercintaku ini” ucap Rendi dan langsung memeluk Thalia.
“Gombalan ala polisi dingin, lagi gombal kamu?” ucap Thalia menatap suaminya tersebut.
“gombalin istri sendiri nggak pa-pa kan,” ucap Rendi dan mengecup pipi Thalia, Thalia tersenyum menikmati kecupan yang sedikit lebih lama dari biasanya tersebut. Semoga rumah tangganya dengan Rendi akan terus begini selalu hangat dan saling menghangatkan satu sama lain kedepannya.
°°°
T.B.C
__ADS_1