
Fahri benar-benar sakit sehabis kehujanan kemarin, badannya saat ini begitu panas dan kepalanya terasa pusing. Dia tidur di dalam kamarnya saat ini disebelah anaknya. Lita sendiri saat ini sedang mengambilkan teh hangat untuk Fahri.
“Aku sudah buatkan teh untukmu, diminum” ucap Lita saat masuk kedalam kamar membawa secangkir teh.
Fahri bangun perlahan dan bersandar di sandaran tempat tidur saat ini, dia menatap istrinya.
“maaf, gara-gara aku hari ini kita tidak jadi pindah rumah” tukas Fahri merasa bersalah karena niat mereka untuk pindah ke rumah baru harus di batalkan hari ini. karena dirinya yang sedang tidak enak badan.
“Tidak apa, tidak usah merasa bersalah. Besok-besok juga bisa kalau pindah rumah” ucap Lita pada Fahri.
“Kamu mau makan apa? Aku buatkan” pungkas Lita pada suaminya itu.
“Aku tidak ingin makan apa-apa, mulutku rasanya pahit untuk makan” tukas Fahri pada Lita
“makanya kalau aku bilang kemarin, menurut saja. Lalu sekarang apa, kamu sakit kan” ucap Lita mulai mengomeli Fahri.
“Maaf, aku pikir aku tidak apa kalau kehujanan. Ternyata malah membuatku sakit begini” ucap Fahri.
“Kamu tidurlah, aku mau memandikan Axel habis itu aku akan membuatkan mu bubur ayam” tukas Lita dan mulai berjalan ke sisi lain dari tempat tidur mengambil Axel untuk ia mandikan.
“habis mandikan Axel, mandikan aku juga ya” ucap Fahri sambil tersenyum jahil.
Mendengar hal itu Lita langsung menatap Fahri dengan tajam,
“jangan bercanda,” kesal Lita sambil mengambil Axel dari tempat tidur dan menggendongnya ke kamar mandi.
“Maaf,” ucap Fahri sambil tersenyum. Lita tidak mengindahkannya dia terus berjalan ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
...........................
Lita sedang duduk di sofa yang berada di luar kamar. Dia memegang Hp miliknya saat ini mencari nomor kakaknya yang sudah ia simpan di nomor baru miliknya tersebut.
Dia harus menelpon David untuk memberitahu kalau dia telah mengganti nomornya. Ia menekan nomor milik David itu dan mendekatkan ponsel miliknya di telinga sekarang.
“halo kak,” ucap Lita langsung saat panggilan sudah diangkat oleh David.
“lita?” David begitu saja langsung mengenali suara Lita saat ini.
“Iya kak, ini aku”
__ADS_1
“kamu mengganti nomormu? Kenapa kamu menggantinya?” tanya David dari seberang sana.
“tidak apa,” jawab Lita singkat. Karena dia juga tidak mungkin bilang sebenarnya pada sang kakak.
“lalu ada apa kau meneleponku saat ini?” tanya David menanyakan alasan Lita menelpon dirinya.
“tidak ada sih, aku hanya ingin memberitahumu saja soal nomor baru ku ini” tukas Lita.
“kamu ke Bali tidak bilang padaku kak?” ucap Lita lagi
“Aku kesini tanpa rencana, hanya ingin saja” jawab David singkat.
“baguslah, kalau kau ingin berlibur hanya berdua saja dengan Mbak Naya. Kasihan mbak Naya karena dirimu yang jarang menghabiskan waktu bersama dengannya” pungkas Lita sedikit lega dengan niat kakaknya itu yang mengajak istri untuk berlibur berdua. Karena David tidak pernah pergi berdua saja dengan Naya. Dan menurutnya kakaknya itu tidak ada sisi romantis sama sekali.
“Karena aku ingin punya anak sepertimu” ucap David
“Apa? Kamu serius kak.?” Tanya Lita tampak terkejut dengan apa yang dia dengar saat ini kalau kakaknya ingin punya anak.
“Untuk apa aku bercanda” tegas David kalau dia saat ini sedang bicara sebenarnya.
“baguslah kalau begitu,” pungkas Lita pada sang kakak.
“Iya, kau jaga kesehatanmu. Dan jika suamimu berulah bilang padaku” tegas David sebelum adiknya menutup telponnya.
“hemm” Lita hanya berdehem saja dan menutup panggilannya langsung.
......................
Sore hari badan Fahri sudah merasa baikan, dia sedari siang tadi tidur agar badannya cepat merasa enakan. Saat ini dia sudah bangun dan melihat ke sebelahnya tidak ada anaknya ataupun istrinya di dalam kamar. Lalu kemana mereka berdua saat ini.
Fahri perlahan melangkahkan kakinya turun dari tempat tidur, dia berdiri disebelah ranjang saat ini sambil menatap sekeliling kamar dan melihat kearah kamar mandi siapa tahu Lita di dalam kamar mandi bersama dengan anaknya. Tapi tak terdengar sara air dari dalam kamar mandi. Membuat Fahri langsung melangkah menuju pintu meraih gagang pintu itu dan memutarnya. Ia segera berjalan keluar dari kamar.
“dimana Lita? di luar kamar juga tidak ada” ucapnya sendiri.
Fahri segera masuk kedalam kamar lagi untuk mengambil Ponsel miliknya yang ada di dalam kamar. Dia berjalan kearah Nakas meja di sebelah tempat tidur. Hpnya dan disitu .
Fahri menekan nomor satu dan secara otomatis langsung menghubungi nomor ponsel milik Lita. Dia duduk di tempat tidur sembari menunggu panggilan diangkat.
“Halo, dimana sayang?” tanyanya langsung saat panggilan tersebut di angkat.
__ADS_1
“Aku di taman komplek apartemen dibawah” jawab Lita pada Fahri.
“kenapa ke sana?”
“Axel dari tadi rewel jadi aku ajak kesini” pungkas Lita dari seberang sana.
“memang kenapa? Kamu mencari ku? Kamu butuh sesuatu” lanjut Lita.
“Iya, bisa pulang sekarang” pungkas fahri meminta Lita untuk segera pulang.
“Ya sudah kalau begitu aku pulang, kamu sudah enakan?”
“Iya sedikit, lebih enakan lagi kalau kamu disini. Nanti aku langsung sehat saat kamu di dekatku” tukas fahri pada Lita
“Sudahlah jangan menggodaku terus, aku matikan.” Pungkas Lita dan langsung mematikan sambungan teleponnya. Daripada fahri terus menggoda dirinya.
............................
Lita masuk kedalam apartemen dan melihat Fahri yang ada di sofa menonton tv, Fahri yang mendengar pintu terbuka langsung melihatnya. Dan senyumnya langsung mengembang saat melihat sang istri yang datang bersama dengan anaknya yang ada di gendongan istrinya itu.
Fahri segera berdiri dan berjalan menghampiri Lita yang juga berjalan mendekat kearahnya.
“akhirnya kamu pulang, aku merindukanmu” ucap Fahri memeluk Lita dari belakang.
“jangan lebay deh, perasaan aku baru beberapa menit. Sudahlah sayang lepaskan, Axel kepanasan. Nanti dia bangun, aku susah-susah menidurkan dirinya” lirih Lita dengan pelan supaya Axel tidak terbangun. Ia juga sembari melepaskan pelukan Fahri dari pinggangnya.
“ya,” pungkas Fahri pada Lita, ia dengan berat hati melepaskan pelukan istrinya tersebut dan membiarkan Lita berjalan ke kamar mereka saat ini untuk menidurkan Axel.
Sedangkan dirinya mengikuti Lita dari belakang berjalan menuju kamar mereka, dia memperhatikan Lita yang menidurkan Axel dengan pelan serta hati-hati agar bocah itu tidak terbangun.
“Kamu kenapa mengikuti ku, tunggu aku saja diluar”
“Tidak apa, aku hanya ingin melihat saja wajah gemas Axel saat tidur” ucap Fahri sambil melihat anaknya yang sudah ada di atas kasur tidur dengan pulas nya.
“Sudah ayo keluar, nanti dia terbangun” ucap Lita langsung menarik pelan Fahri agar tidak mengganggu Axel. Karena pria itu aneh, anaknya belum tidur tidak di usili diajak bermain tapi kalau anak mereka sudah tidur pasti Fahri akan mengusili nya.
°°°
T.B.C
__ADS_1