
Rendi keluar dari mobil miliknya, dia melihat rumah megah bercat putih di depannya. Hari pun sudah menggelap sehingga membuat rumah tersebut semakin tampak megan nan mewah. Rumah siapa lagi itu kalau bukan rumah dari sahabatnya Fahri. Dia baru saja dari rumah sakit dan langsung datang ke rumah sahabatnya tersebut.
Niatnya kemari tentu saja ingin bicara dengan Fahri soal adik ipar pria itu yang terus membuat dirinya terganggu. Rendi menutup pintu mobil miliknya lalu melangkah dengan tegap berjalan kearah pintu besar rumah tersebut.
Dia membunyikan bel rumah itu, agar terdengar dari dalam, setelah membunyikannya dia diam sembari menunggu pintu di bukakan. Tak lama setelah dia membunyikan bel pintu pun terbuka menampakkan seorang perempuan paruh baya yang dia kenal. Mbok Jum, asisten rumah tangga Fahri. Tentu saja dia mengenal orang itu, karena setahun lalu kurang lebihnya dia sering ke rumah Fahri yang dulu melihat kondisi temannya ketika terpuruk.
“Oh den Rendi, silahkan masuk den” ucap Mbok Jum sambil tersenyum mempersilahkan Rendi untuk masuk.
“Fahri Nya ada mbok?” Rendi balas tersenyum dan sembari menanyakan keberadaan Fahri.
“Ada den, silahkan masuk mbok panggilkan dia dulu” ucap Mbok Jum menutup pintu kembali setelah rendi masuk.
“Kok den Rendi sekarang lebih kurus ya, aden banyak pekerjaan?” tanya Mbok Jum yang melihat Rendi tampak kurusan.
“ya gitu lah mbok” jawab Rendi sambil tersenyum kecil.
Mereka berdua berjalan beriringan, mbok Jum menyuruh Rendi menunggu sebentar di ruang tamu. Sedangkan dia langsung ke atas untuk memanggil sang majikan yang kemungkinan sedang ber sendau gurau dengan istri dan anaknya.
Rendi duduk di ruangan tamu rumah itu, dia melihat rumah milik Fahri. Ini pertama kalinya dia datang ke rumah baru Fahri, dia tersenyum ikut bahagia karena Fahri membangun rumah dengan kerja kerasnya sendiri. Sebagai seorang pengusaha,
Tak lama kemudian Fahri datang seorang diri, melambaikan tangan padanya sambil tersenyum.
“Wih, tumben kesini. Lama banget nggak ketemu sama lo Ren,” ucap Fahri berjalan mendekat pada Rendi.
Rendi sendiri langsung berdiri dan memeluk Fahri, mereka berdua saling peluk singkat dan baru setelah itu mereka duduk.
“Maaf ya gue jarang ketemu sama lo sama Lita, gue sibuk” jawab Rendi.
“LO mah parah, anak gue pengen lihat omnya padahal eh lo nya nggak pernah kesini” ucap fahri.
Rendi hanya berucap saja, sembari tersenyum canggung. Merasa tidak enak dengan hal itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia begitu sibu banyak kasus terus yang harus dia kerjakan ditambah saat dia longgar, ia harus ke rumah sakit melihat Melody.
“Sorry, kalau begitu mana Axel. Aku ingin bertemu,” ucap rendi
“Dia sudah tidur sama mamanya, besok lo kesini lagi ya. Lita sama Axel pasti senang” pungkas Fahri.
“Aku usahakan”
“Tumben ada perlu apa lo kesini?” tanya Fahri pada sang sahabat yang sudah dia anggap sebagai saudara sendiri.
“Sebelumnya gue minta maaf sama lo,” Rendi merasa tidak enak untuk bicara, tapi bagaimanapun dia harus membicarakan hal ini dengan fahri.
“kenapa minta maaf, ngomong aja” pinta Fahri melihat rendi yang seakan tidak enak dengannya.
“Begini, sebenarnya gue kesini karena adik ipar lo”
“Adik ipar gue? Thalia maksudnya”
“Ya”
“kenapa dengan dia?”
__ADS_1
“Tolong kau bicara dengannya untuk tidak mengganggu ku”
“Apa? Dia mengganggumu?”
“ya begitu” ucap Rendi dengan sangat.
“Apa yang dia lakukan padamu,? Aku minta maaf jika memang Thalia mengganggumu. Aku nanti akan bilang ada kak David agar dia memberitahu Thalia. Karena tidak mungkin aku atau Lita yang memberitahunya, dia tidak bisa di beritahu sama sekali” ucap Fahri.
“Terimakasih, kalau begitu aku pulang dulu” pamit Rendi yang langsung berdiri.
Hal tersebut membuat Fahri terkejut. Karena Rendi baru saja datang tapi sudah pamit pulang.
“Jangan bercanda rendi, kau baru saja tiba sudah mau pulang” ucapnya menatap sang sahabat.
“Aku harus istirahat, sedari tadi aku belum pulang dan besok aku harus melakukan penyergapan di salah satu hotel” ucap Rendi yang sudah berdiri sembari menatap Fahri yang masi duduk di tempatnya.
“kau memang habis kemana? Sampai belum pulang ke rumah. Aku kira kamu malah mau berangkat dinas” ucap Fahri.
“Aku habis menemui seseorang” jawab rendi singkat.
“aku pulang ya, salam untuk Lita dan Axel” tambah Rendi sambil menjabat tangan Fahri.
Fahri segera berdiri saat temannya tersebut mengulurkan tangannya,
“ ya sudah kalau begitu, oh iya aku punya kabar gembira untukmu” ucap fahri sambil menjabat tangan rendi.
“Kabar gembira? Apa?”
“maksudmu?” rendi masih tidak mengerti keponakan? Maksud dari Fahri apa. Bukannya Fahri adiknya belum menikah.
“Kau tidak mengerti, istriku hamil lagi dan aku bakal punya dua anak. Adi dirimu punya keponakan lagi” seru fahri
Fahri memang menganggap rendi bukan hanya seorang sahabat tapi juga sebagai adik, karena dia lebih muda setahu dari fahri.
“Serius? Lita hamil lagi. Waah selamat ya” ucap rendi ikut bahagia dia memeluk Fahri memberi selamat untuk temannya tersebut.
“Iya terimakasih, makanya kau cepat menikah sana biar aku punya keponakan juga darimu” suruh fahri sambil melepaskan pelukannya melihat Rendi.
Rendi terdiam, wajah dinginnya kembali terlihat. Dia tak berekspresi menanggapi perkataan dari fahri.
“Aku pergi ya” ucapnya tidak menanggapi ucapan tersebut. Dia malah pamit untuk pulang.
Fahri langsung merasa aneh dengan sikap rendi tersebut, kenapa wajah Rendi berubah saat dia membicarakan hal itu. Apa ada yang salah dengan ucapannya,
“Hati-hati,” uap fahri akhirnya, karena dia tidak mungkin bertanya pada Rendi apa yang terjadi. Karena sepertinya itu privasi bagi sahabatnya tersebut.
Rendi langsung melangkah pergi, setelah dia saling jabat tangan dengan fahri. Diikuti fahri yang berjalan dibelakangnya mengantar dirinya sampai keluar.
.......................
Thalia berjalan di jalanan dengan sempoyongan, dia sepertinya habis dari salah satu club. Karena dia tengah ada di depan club tersebut berjalan ke arah jalanan, meninggalkan mobilnya ditempat dengan begitu saja.
__ADS_1
“Lo memang menyebalkan Rey, lo pria brengsek. Memang gue seburuk itu dimata lo, kayak cewek lo suci aja” teriaknya sambil terus berjalan.
Beberapa pasang mata melihat kearahnya dengan aneh, bahakan berbisik-bisik karena mengetahui siapa dia. Tapi mereka hanya dia saja melihat Thalia yang terus berjalan sambil berteriak-teriak.
“Dasar Rey brengsek, brengsek” teriak thalia dengan cukup keras.
“Lo pikir cowok paling tampan apa, huh..Lo brengsek..” ucapnya sambil duduk di jalanan melepas sepatunya dan melemparkannya begitu saja sehingga entah melayang kemana sepatu tersebut.
“Eh ada nona-nona cantik nih” ucap beberapa pria gondrong dan bertato mendekati Thalia.
“Sedang apa neng disini, nungguin kita ya” ucap salah satunya dan mencoba memegang tangan Thalia.
Thalia yang tadi berada dalam pengaruh alkohol langsung mendongak melihat siapa yang berani memegang tangannya.
“APAAN sih lo,” ucapnya menepis tangan tersebut dan langsung berdiri.
Tatapan menantang keluar dari mata Thalia, dia tidak takut dengan pria-pira didepannya.
“Lo tahu siapa gue, macam-macam sama gue habis lo” ancam Thalia melihat semuanya, dengan tubuh yang sempoyongan.
Mereka ada yang tersenyum sinis menanggapi pertanyaan Thalia tersebut
“Kita orang nggak tahu nona siapa, yang kita tahu nona malam ini akan menyenangkan kita bertiga. Iya nggak” ucap salah satu pria bertato dengan rambut cepak nya. Dia melihat kearah teman-temannya. Mereka saling tertawa mengiyakan.
“Cih, siapa juga yang mau nyenengin lo. Cowok berandalan. Nggak guna” sinis Thalia sambil meludahi salah satu dari mereka.
“Wah kurang ajar nih cewek, pegang. Seret dia, mari kita pakai bersama” seru pria yang di ludahi Thalia tersebut.
Tangan Thalia langsung dipegangi oleh dua orang lainnya,
“Woi lepasin tangen gue. Lo macem-macem sama gue habis” ancam Thalia yang masih tidak takut.
“Gue biang lepasin” dia memberontak saat diseret oleh kedua orang itu.
“kenapa anda takut, makanya jangan sombong” ucap pria yang tadi.
“Lepasin gue nggak” ucap Thalia
“bawa dia ketempat sepi,” seru pimpinan dari mereka bertiga.
Thalia terus memberontak minta dilepaskan, bahkan dia beberapa kali melakukan perlawanan dengan menendang kaki mereka tapi dia masih tetap kalah.
“LEPASIN cewek itu” terdengar suara Barito meminta gerombolan preman tersebut melepaskan tangan Thalia.
“Siapa dia? Minggir lo nggak usah ikut campur” seru ketiganya.
“Wow, Lo disini pria sombong” pungkas Thalia malah tersenyum melihat siapa yang ada didepannya saat ini.
°°°
T.B.C
__ADS_1