
Thalia sedang berada di dalam kamarnya, dia melihat ponselnya saat ini. Dia saat dia asik mengirim pesan pada Jane ada sebuah pesan lain yang masuk dan itu dari Nicholas.
“Thalia kapan kau bisa menemui ku? Kau bilang kemarin tapi malah kau tidak atang. Hari ini bisa temui aku?”
Begitulah isi pesan dari Nicholas, dia meminta bertemu dengan Thalia, entah apa yang ingin pria tersebut bicarakan pada Thalia.
“Ini orang dari kemarin ngajak ketemu, apa sih yang mau dia bicarakan” heran Thalia saat membaca pesan dari mantannya tersebut.
“Sekarang aku bisa, kapan dimana?” balas Thalia.
Sebuah pesan balasan masuk dari Nicholas,
“Disebuah hotel X ya, kita kumpul di sana dengan teman-temanku yang juga kau kenal” balas Nicholas.
“ya,’ balas Thalia singkat. Dia tidak menaruh curiga sama sekali, karena dia dan juga yang lainnya kalau bertemu di hotel. Tidak melakukan apapun di sana hanya makan saja di restoran hotel tersebut karena menu makanannya yang enak.
Setelah membalas pesan dari Nicholas, ia segera melempar ponsel miliknya ke sisi ranjang. Kemudian dia merebahkan dirinya merentangkan tangannya sehingga memenuhi ranjang tempat dia berbaring. Seperti biasa Thalia menatap langit-langit kamarnya.
“Pria berama rendi itu sombong tapi dia baik juga, membuatku semakin ingin mendapatkannya saja. Kau memang sekarang belum memperhatikan diriku sepenuhnya tapi tunggu saat dirimu tergila-gila denganku” gumam Thalia sambil tersenyum merekah mengkhayal saat dirinya bisa bersama dengan rendi nanti. Tak terasa perlahan mata indah Thalia mulai tertutup, dia mengantuk berat sekarang. Lebih baik dia tidur dulu baru ia akan menemui Nicholas nanti.
..........................
Rendi sudah sampai di hotel tempat dimana dia melakukan penggerebekan tapi saat dia sudah datang, seorang rekannya yang ia suruh untuk memata-matai mengatakan kalau mereka belum berkumpul terlihat batang hidungnya sama sekali.
Terpaksa Rendi menyewa kamar tepat disebelah kamar yang menjadi tempat berpesta narkoba. Dia akan menunggu disitu, bersama yang lainnya.
Kali ini mereka yang menggunakan barang haram itu tidak boleh lolos dari kejarannya, ia harus bisa menangkap mereka semua.
“Ndan, kita masuk saja ke kamar sekarang” ucap rekan dari rendi.
“Ayo, sebelum mereka menyadari kita disini” jawab rendi dan mengajak dua rekannya untuk masuk kedalam kamar yang telah mereka pesan.
“Kali ini kita tidak boleh lolos mengerti” tegas rendi kepada keduanya.
“Siap mengerti ndan” jawab mereka serempak.
“Bagus, kita jangan pernah mengulang kesalahan yang sama” lagi Rendi menekan ucapannya dengan penuh tekad.
__ADS_1
Mereka bertiga langsung berjalan masuk kedalam kamar sambil berhati-hati dan melihat ke sekeliling melihat beberapa orang yang mungkin menyadari mereka sekarang. Tapi tidak mungkin kalau mereka menyadari kedatangan mereka. Ia sudah memastikan semuanya agar hari ini tugas mereka berjalan lancar.
Rendi duduk di kursi yang ada di kamar tersebut sementara kedua rekannya berada di depan jendela besar melihat keluar jendela.
Rendi diam di tempatnya, ia sesekali melihat ponsel yang ada di tangannya, dia menunggu pesan masuk dari atasannya tersebut. Siapa tahu atasannya ada rencana lain soal hal ini.
Tapi tidak ada pesan apapun, membuat dirinya beralih melihat ke galeri ponselnya melihat dimana foto Melody disitu bersama dengannya yang tersenyum. Foto itu diambil saat dia baru saja lulus pendidikan sebagai seorang polisi.
Dimana di foto tersebut Melody tersenyum direngkuhannya sambil memegang sebuket bunga mawar merah.
“wah, siapa itu ndan?” tanya rekan rendi yang tidak sengaja melihat seniornya tersebut sedang melihat sebuah foto.
“kekasih saya” jawab Rendi singkat dan langsung mematikan ponselnya, ia seakan tidak ingin yang lain melihat wajah cantik Melody.
Pram, polisi tersebut langsung terdiam. Ia merasa tidak enak karena bertanya seperti itu pada komandan timnya tersebut. Dia langsung memundurkan diri.
Rendi sendiri langsung berdiri dari duduknya, dia bingung harus apa sekarang. Karena orang-orang itu belum juga datang padahal dia sudah siap untuk meringkus semuanya.
...........................
“kenapa orang itu” herannya saat melihat pria dengan baju hitam terlihat sedang mengintai sesuatu.
“Apa perduli ku juga sih, habis menemui Nicholas kemana ya? Apa aku ke kantor polisi saja untuk menemui polisi sombong itu” ucap Thalia pada dirinya sendiri, dia berjalan pergi dari basemen hotel tersebut.
Thalia melangkah masuk kedalam lift bertepatan dnegan seorang pria yang terlihat mengintai tadi.
“Kau polisi ya?” tebak Thalia pada orang tersebut yang hanya diam tak menanggapi dirinya saat masuk kedalam lift tadi.
Seketika pria tersebut menoleh kearah thalia,
“bagaimana bisa kau tau?” tanyanya heran saat seorang perempuan mengetahui dirinya adalah seorang polisi.
“kau polis amatir atau bagaiman, siapa yang tidak tahu kalau kau polisi. Lihat di pinggang mu” cibir Thalia sambil menatap geli pria yang mungkin seusianya atau malah lebih muda .
Pria itu langsung melihat kearah dimana Thalia melihat, matanya terperanjat. Benar juga, dia begitu ceroboh sampai tidak menyadari kalau pistol miliknya terlihat menyembul.
“Kau polisi baru? Ceroboh sekali” Thalia kembali mencibir pria tersebut.
__ADS_1
“Iya,” jawab pria itu terkesan malu sendiri karena kecerobohannya.
“terima kasih sudah memberitahuku, kalau kau tidak memberitahuku bisa-bisa sasaran ku mengetahui semua ini. dan kalau itu terjadi komandan timku bisa membunuhku ditempat” ucap pria itu malah mencurahkan kegamangannya.
“sama-sama” jawab Thalia singkat dan mengabaikan pemuda itu.
“Kalau boleh tahu siapa namamu?” ucap pria itu bertanya pada Thalia.
Thalia langsung melihatnya kembali,
“kau tanya namaku? Kau tidak tahu diriku?”
“Tidak”
“Oke, kenalkan aku Thalia Ravero.” Ucap Thalia dnegan percaya dirinya mengulurkan tangannya lebih dulu.
“Oh, kalau begitu salam kenal nona cantik dan baik hati. Saya Kevin,” ucap pemuda tersebut dengan tersenyum memperkenalkan dirinya.
Mereka berdua saling jabat tangan bertepatan dengan itu, pintu lift terbuka. Segera saja mereka berdua melepaskan tangan masing-masing.
Kevin sedikit menurunkan bajunya agar pistol miliknya tidak terlihat, dia bersiap untuk keluar tapi sebelum itu dia melihat Thalia.
“semoga kita bisa bertemu lagi nona,” ucapnya sambil melempar senyum manis untuk Thalia.
“Oke,” ucap Thalia sambil membuat tanda oke dengan jarinya.
Setelah memberikan tanda itu ternyata, Thalia juga keluar dari lift tersebut. Karena tempat dia bertemu dengan Nicholas ada di lantai satu ini.
Basemen di hotel tersebut memang menyediakan lift untu keatas, jadi tidak heran Thalia naik kedalam lift.
Dia sekilas melihat kearah reseptionis, dimana ada seorang rekan dari rendi yang berdiri di situ. Membuat Thalia mengamatinya terus.
“Itu bukannya teman si sombong? Dia ada disini juga berarti?” ucap Thalia menduga-duga.
°°°
T.B.C
__ADS_1