
Thalia berjalan cepat mengejar Rendi yang berjalan agak jauh darinya, pria tersebut sudah berjalan jauh didepan karena langkah dari pria itu yang begitu lebar sedangkan dirinya melangkah dengan sedikit hati-hati karena memakai sepatu hak tinggi.
“Lo sombong banget sih, woi pria sombong. Jalannya bisa pelan nggak sih, gue mau ngomong sama lo” ucap Thalia yang berjalan mengejar Rendi yang sama sekali tidak menghiraukan dirinya.
Rendi tentu saja mendengar hal itu tapi dia diam saja mengabaikannya, karena untuk apa dia menanggapi orang yang seperti itu. Dia saja tidak mengenalnya, hanya bertemu beberapa kali karena perempuan tersebut terlibat kasus terus.
“Ih, lo budeg atau gimana sih. Ganteng-ganteng tapi budeg, gue mau ngomong sama lo. Nama lo siapa sih, Rendi bukan?” ucap Thalia yang tidak menyerah bicara pada rendi yang berjalan didepannya.
Rendi sama sekali mengacuhkan dirinya saat ini, hal itu sangat melukai harga diri seorang Thalia Ravero. Dia belum pernah mengejar pria sampai segini nya. Karena kesal diabaikan dan di tinggal begitu saja. Thalia berhenti di tempatnya saat ini dan dia melepas sepatu hak tingginya yang berwana merah mengambilnya dan seketika sepatu itu langsung melayang saat dia lemparkan.
Brukk
Sepatu tersebut mendarat tepat sasaran mengenai bahu Rendi yang refleks langsung memegang bahunya yang kesakitan. Terlihat bahwa pria itu berbalik kebelakang melihat benda yang baru saja mengenai punggungnya. Dia melihat sepatu hak tinggi berwarna merah yang telah teronggok di lantai dan pandangannya beralih pada sang pelempar yang tersenyum puas menatapnya.
“mampus lo, salah sendiri ngabain gue. Berhenti juga kan lo,” sinis Thalia, dia merasa puas dengan apa yang dia lakukan.
Kedua Rekan Rendi yang sebelumnya berjalan di belakang mereka tampak terkejut melihat rekannya di lempar sepatu high heels.
“Gila tuh cewek,” gumam keduanya melihat dua orang didepannya saat ini.
“Anda sebenarnya kenapa? Kenapa terus menggangu saya hah. Bukannya saya bilang buang saja sapu tangan itu ke tong sampah” ucap rendi dengan nada bicara yang terkesan ketus.
“Gue kesini bukan buat mulangin sapu tangan lo, lo sendiri yang nyuruh gue buang. Ya udah gue buang” ketus Thalia, dia berbohong soal sapu tangan
“Lalu buat apa anda kemari? Ini bukan diskotik yang bisa anda datangi sesuka hati” tegas Rendi.
“Siapa bilang ini diskotik, gue minta nomer lo. Mana nomer lo” ucap Thalia sambil mengulurkan tangannya minta nomor dari rendi.
“Buat apa anda minta nomor saya, pergi dari sini. Saya sibuk” ucap Rendi mengusir Thalia dia benar-benar malas untuk menanggapi perempuan tak masuk akal yang datang-datang meminta nomornya.
Thalia malah menyeringai mendengar hal tersebut, dia malah berjalan semakin mendekati Rendi saat ini. membuat Rendi bingung dengan perempuan itu yang malah berjalan mendekat kearahnya.
“Gue makin suka sama lo, pria yang tegas tak tergoda” ucap Thalia yang sudah berada didepan Rendi.
Rendi hanya diam saja, menatap Thalia.
“jangan melihatku begitu, kau bisa terpesona denganku nanti” ucap Thalia sambil tersenyum melihat Rendi yang menatapnya datar.
“Anda sebenarnya ada apa kesini,?” dingin Rendi bertanya pada perempuan didepannya.
“masa kamu tidak tahu, ya untuk menemui mu. Babe” ucap Thalia yang tiba-tiba saja mencium pipi Rendi.
Rendi terpaku ditempatnya, dia langsung mendorong Thalia
__ADS_1
“Anda perempuan sinting” bentak Rendi sambil mendorong sedikit kuat Thalia.
“Jangan pernah datang kemari, lebih baik anda datang ke rumah sakit jiwa” tegas Rendi dan langsung pergi dari hadapan Thalia.
Thalia sendiri hanya terdiam, melihat respon rendi barusan.
“Kau pikir aku akan menyerah begitu saja, kau pasti terngiang dengan ciumanku dan lihat kau pasti yang akan mengejar ku polisi sombong” ucap Thalia yang terkesan puas dengan apa yang dia lakukan barusan.
.........................
Rendi berjalan cepat masuk kedalam kantor polisi, dia tidak habis pikir dengan perempuan psiko yang menghadangnya tadi. Benar dia menjuluki Thalia psiko karena dia tahu tidak mengenalnya.
Saat dia berjalan banyak rekan-rekannya yang melihat kearahnya saat ini, bukan melihat biasa mereka tersenyum dan sesekali berbisik satu sama lain setelah melihatnya. Hal itu membuatnya aneh sendiri dengan rekan-rekannya.
“Inspektur Rendi, anda di pang..” ucapan bawahan Rendi terdiam saat dia melihat rendi yang ada bercak bibir di pipinya.
“Kenapa diam teruskan?” heran rendi dengan anak buahnya tersebut yang malah diam melongo melihatnya.
“be.begini, anda dipanggil komandan untuk menghadap” ucap sang bawahan melanjutkan ucapannya mengabaikan apa yang ada di wajah atasannya tersebut.
“Ya saya ke sana” jawab rendi dan langsung berjalan keruangan kepala kepolisian
Rendi membuka pintu ruangan tersebut melangkahkan kakinya masuk kedalam,
Kepala kepolisian yang tadinya menunduk sibuk degan pekerjaannya langsung mendongak melihat Rendi. Dia terdiam dan sedikit tertawa melihat wajah bawahannya itu.
Kernyitan timbul di dahi Rendi sekarang, dia bingung dengan atasannya yang menahan tertawa.
“Anda barusan melakukan hal apa Briptu Rendi?” ucap komandan polisi.
“Siap pak tidak melakukan apa-apa?”
“kau serius, kekasihmu habis dari sini” gurau atasan Rendi.
“Siap tidak pak,”
“Lalu kenapa di wajahnmu ada cetakan merah” canda atasan Rendi tersebut.
Rendi langsung bingung maksud dari atasannya, dia perlahan memegang wajah sebelah kirinya. Tapi tidak ada sesuatu disitu.
“Bukan disitu, di sebelah kanan” ucap sang atasan menahan senyum.
Rendi langsung mengikuti atasannya, dia memegang wajah sebelah kanannya saat ini dan melihat di jari tangannya yang berwarna merah. Dia terbengong dnegan hal tersebut, bagaimana bisa ada..batinnya terhenti karena mengingat kejadian tadi sebelum dia masuk kedalam kantor.
__ADS_1
Dimana adik ipar fahri menciumnya tadi, rendi langsung mengepalkan tahannya. Dia menahan malu dnegan perbuatan itu apa lagi komandannya melihat saat ini.
“ sudah tidak usah malu santai saja,”
“Hari ini kau libur, besok kau saya tugaskan merazia salah satu hotel. Ada transaksi narkoba di hotel tersebut. Lokasinya saya kirim kan melalui pesan di grup nanti”
“Siap pak,’
“Sekarang kamu boleh keluar”
Rendi langsung memberi hormat, dan dia berjalan keluar dari ruangan sang atasan. Hari ini dia libur. Ia harus pergi ke suatu tempat menemui seseorang yang beberapa hari ini tidak ia temui. Baru setelah itu dia harus menemui Fahri, ia akan bilang soal adik ipar temannya tersebut yang terus mengganggunya. Perempuan itu memang gila, bagaimana bisa dia seberani itu mencium dirinya tadi.
..................
Rendi berjalan di parkiran mobil, ia hari ini akan pulang ke rumah. Tapi langkahnya berhenti saat melihat perempuan psiko tadi ada di depan dirinya sambil melambaikan tangan.
“Anda mau apa lagi, belum puas membuat saya malu dengan apa yang anda lakukan?” ucap Rendi.
“belum, aku minta nomormu dulu. dan namamu siapa?”
Rendi memalingkan wajahnya jengah dan dia langsung melewati Thalia begitu saja. dan tentu saja Thalia tidak menyerah dengan hal tersebut.
“Pelit banget sih jadi orang, tinggal kasih gue nomor lo, sama nama lo. Ribet banget, lo sengaja ya biar gue ngajar-ngejar begini” cerocos Thalia sambil berjala mengejar Rendi yang akan menuju mobilnya.
Thalia buru-buru mengejar pria tersebut sebelum, pria itu benar-benar masuk kedalam mobil. Tapi kakinya langsung keseleo karena sepatu yang ia kenakan. Dia terjatuh dengan lutut yang mendarat lebih dulu.
“Argh,.” Rintih nya kesakitan.
Rendi yang sudah membuka daun pintu mobil langsung melihat kebelakang, dia menghela nafas lelah. Ia menutup kembali pintu mobilnya dengan keras. Dan berjalan mendekati Thalia yang merintih kesakitan.
“berdiri,” ucapnya sambil mengulurkan tangan saat dia sudah berdiri di depan perempuan tersebut.
Thalia mendongak melihat uluran tangan Rendi,
“Akhirnya kau berbalik” ucapnya kesenangan.
“Jangan senang dulu, aku hanya tidak ingin melihat perempuan terluka” pungkas Rendi melihat dingin Thalia yang masih terduduk di tanah.
Thalia dengan sigap meraih tangan rendi dan berdiri sedikit berjinjit karena kakinya sakit.
“Aku sudah terluka, hatiku terluka karena dirimu. Kau mau menyembuhkannya?” Thalia berucap dengan sangat serius melihat kearah Rendi yang membulatkan matanya menatap perempuan yang ada di depan dirinya.
°°°
__ADS_1
T.B.C