Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
47


__ADS_3

Fahri duduk diruang tengah yang sekaligus ruang tamu di apartemennya itu dia memikirkan kembali perkataan Vano tadi soal apa yang terjadi pada dirinya. Sungguh perkataan itu membuatnya kepikiran terus hingga saat ini. Jika memang yang dia alami saat ini adalah tanda orang hamil berarti Lita sedang hamil saat ini karena dia hanya melakukan hubungan intim dengan Lita saja tidak dengan orang lain. Tapi ini semua tidak mungkin disisi lain Lita sudah meninggal. Sungguh ini membuatnya sangat pusing kepalanya memikirkan hal itu terasa ingin pecah.


Perkataan Vano sekali lagi membuatnya terdiam soal kemungkinan Lita masih hidup, tapi dia melihat sendiri mayat Lita walaupun wajahnya tidak bisa dikenali karena sudah membusuk. Ia yakin itu Lita dari baju hingga Hp milik istrinya yang memperkuat hal itu.


Fahri langsung tertegun saat memikirkan kemungkinan lain,


“Apa Lita benar-benar masih hidup dan dia disembunyikan dariku saat ini?” ucap Fahri lirih matanya menyiratkan sebuah harapan.


“Ya aku yakin dia saat ini pasti masih hidup, dia pasti disembunyikan oleh keluarganya agar membuatku menderita. Benar mereka pasti balas dendam padaku,”


“Aku harus menemui Papa Aryo sekarang, iya harus”


Fahri langsung berdiri dari duduknya dia harus segera menemui mertuanya itu pasti mertuanya tahu kalau Lita masih hidup. Dia harus menemukan Lita, harus, Lita tengah hamil anaknya saat ini.


Saat Fahri akan berjalan Rendi datang membawa minuman kaleng ditangannya, dia melihat heran kearah Fahri yang sepertinya akan keluar.


“Mau kemana?” ucapnya melihat sahabatnya tersebut.


“Aku ada urusan” buru-buru Fahri keluar dari Apartemen miliknya saat ini setelah sempat menyambar kunci mobil.


..........................


Lita duduk termenung di atas tempat tidur, dia melihat kedua lututnya memeluknya erat. Ingatannya kembali terbayang dimana dia diperkosa Fahri waktu itu. Hatinya sakit, hancur terluka, mengingat hal itu. Apalagi kenyataan saat ini dimana dia hamil anak Fahri sungguh dia tidak ingin tidak ingin sekali mengandung anak dari pria itu. Pria yang tidak mencintainya, dia tidak ingin.


“Nggak, Nggak mau anak ini. Aku nggak mau” tetesan air mata kembali keluar dari mata jernihnya itu. Dia kembali memukul-mukul perutnya seperti kemarin, sungguh dia tidak menginginkan anaknya.


Tapi perkataan David kembali terngiang lagi, kalau dia tidak menerima anaknya berarti dia sama saja dengan Mama kandungnya. Tidak, tidak dia tidak ingin seperti dia.


David berjalan masuk dengan perlahan mendekati Lita yang terdiam sambil air matanya tak berhenti keluar dari pelupuk matanya.


“Makan,” David menyodorkan piring yang terisi nasih kehadapan Lita.


Lita langsung mendongak melihat kakaknya tersebut.


“Aku tidak lapar” jawabnya dan kembali menunduk merenungi nasibnya menurut dirinya malang sekali.

__ADS_1


“Dari kemarin sore kau belum makan, makan sedikit saja” ucap David


“Aku tidak mau kak,.” Ucap Lita dengan nada suara sedikit meninggi.


“Untuk apa kau menghukum dirimu seperti ini, cepat makan” tegas David memaksa adiknya itu untuk makan.


“Kenapa nasibku begini? terlahir sebagai anak haram, Mama kandungku tidak menganggap diriku anak, menikah dengan pria yang kukira mencintaiku ternyata tidak malah benci terhadapku dan sekarang aku harus hamil anak pria itu. Kenapa? Kenapa nasibku begini kak” ucap Lita menangis menatap kakaknya seakan meminta jawaban dari semua yang ia rasakan itu.


“Jangan pernah menyesali semua takdir yang telah kita lewati, apa yang terjadi tersebut pasti ada hikmah tersendiri. Sudahlah, apa yang kamu rasakan selama ini pasti akan menemukan kebahagiannya. Yakin sama kakak” ucap David menaruh piring yang dia pegang dan perlahan memeluk adiknya.


.........................


Fahri yang sudah sampai didepan rumah orang tua Lita, langsung mengetuk-ngetuk pintu rumah itu dengan cukup keras.


“Pa..Papa..Papa Aryo” ucapnya tidak sabaran mengetuk pintu semakin keras.


Pintu langsung terbuka, seseorang sudah membukakan pintu tersebut. Thalia adik David dan Lita yang membukakan pintu untuk Fahri.


“Punya sopan santun tidak di rumah orang, biasa aja kali ngetuk pintunya” kesal Tahalia menatap fahri sinis.


“Di dalam”


Tidak diam begitu saja, belum disuruh masuk Fahri langsung nyelonong masuk kedalam rumah dengan cepat tanpa memperdulikan Thalia yang kesakitan karena membentur pintu akibat Fahri yang mendorongnya.


“Kurang ajar sih pria itu. Heran deh, yang disuka Lita sama tuh cowok apanya coba” gerutu Thalia kesal menatap fahri yang sudah masuk kedalam.


“Pa..Papa Aryo.” Fahri memanggil-manggil Aryo.


Aryo yang ada dimeja makan sedang duduk bersama istrinya saling lihat satu sama lain.


“Siapa ya Ma?” ucapnya saat mendengar suara seseorang yang memanggil namanya.


“Itu seperti suara Fahri, kenapa pria itu datang kesini mama tidak suka dengannya. Gara-gara dia Lita kita meninggalkan kita saat ini” Nafa kembali sedih mengingat bahwa Lita sudah tiada.


“Sudahlah ma, itu sudah terjadi. Ayo kita temui Fahri, bagaimanapun dulu ia suami Lita” ucap Aryo menenangkan istrinya. Dia sudah dua bulan tidak bertemu Fahri karena Nafa melarang dirinya berkomunikasi atau apapun dengan Fahri. Karena istrinya masih marah terhadap pria itu.

__ADS_1


“Ada apa Fahri?” ucap Aryo yang melihat Fahri berdiri diruang tengahnya.


“Usir saja dia Pa, tidak punya sopan santun sama sekali. Nerobos begitu saja” adu Thalia saat sudah berada diantara mereka.


“Pa, beritahu aku dimana Lita Pa. Aku mohon” ucap Fahri mendekat kearah Aryo.


Seketika Aryo dan Nafa terkejut, mereka tidak mengerti maksud ucapan Fahri.


“Fahri apa maksudmu?” ucap Aryo menatap fahri yang memegang tangannya memelas.


“Aku mohon Pa beritahu diriku dimana Lita Pa, aku, aku ingin bertemu dengannya Pa” ucap Fahri tidak bisa menahan emosional kesedihan dalam dirinya. Di menggenggam tangan Aryo memohon.


“Fahri Papa tidak tahu maksudmu apa? Fahri sadarlah Lita sudah tiada fahri”


“Papa bohong, Lita belum meninggal. Dia masih hidup pa, Papa menyembunyikan dia kan” ucap Fahri menghempas kuat tangan Aryo yang dia genggam sebelumya. Dia menatap sang mertua tak percaya.


“Kau jangan pura-pura sedih dan terpukul seperti orang gila seperti ini. Kau senang kan anakku tiada” ucap Nafa yang tidak menahan emosinya dia menangis menatap marah pada Fahri.


“Kau pergi dari rumahku, kau yang membuat Lita tiada” Nafa akan mengusir fahri tapi ditahan oleh Thalia.


“Ma tenanglah Ma” ucap Thalia.


“Fahri kenapa kamu menuduh Papa menyembunyikan Lita, Lita sudah meninggal Fahri. Dia sudah pergi dari hidup kita untuk selamanya”


“Nggak Pa, Lita masih hidup Pa, Lita masih hidup dan dia mungkin saat ini hamil anakku Pa. Aku mohon Papa jangan berbohong Padaku. Jangan sembunyikan dia dariku Pa, aku, aku ingin menebus kesalahanku Pa. Aku mohon” Fahri menangis sambil terus memohon pada Aryo untuk tidak menyembunyikan Lita dari dirinya.


Aryo sama sekali tidak bisa bicara, karena memang dia tidak bohong. Dia tidak menyembunyikan Lita,dan apa yang dikatakan Fahri benar atau tidak kalau anaknya itu masih hidup tapi kenapa kalau dia masih hidup tidak pulang ke rumah.


“Fahri, berdirilah. Papa benar-benar tidak tahu soal Lita Fahri, ikhlaskan Lita Fahri. Kasihan Lita jika kau terus begini”


“Nggak Pa, Lita masih hidup Pa. Aku yakin dia masih hidup Pa. Jika Papa benar tidak menyembunyikan dia, maka bantu aku untuk mencari dia saat ini Pa. Aku yakin dia masih hidup Pa, aku mohon bantu aku. bantu aku untuk mencari istriku dan calon anakku Pa” uap Fahri memohon dengan sangat agar Aryo mau membantunya.


Aryo bingung dia harus apa, dia melihat istrinya yang menangis dan melihat kearah Fahri. Apa benar yang dikatakan menantunya itu soal Lita, kalau benar maka dia akan berusaha mencari putrinya itu di manapun dia saat ini.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2