
Lita duduk diam di teras kamarnya, ter sinari sinar mentari yang begitu terasa hangat di kulit. Di meja kecil sebelahnya teronggoh sebuah koran harian pagi. Dia tak bersemangat melihat koran itu. Matanya ia fokuskan kearah taman yang ada didepannya saat ini.
Ini sudah dua minggu dia meninggalkan keluarganya, menghilang untuk selamanya dari hidup mereka. Rasa sakit yang begitu menyakitkan hatinya berusaha ia singkirkan dengan cepat karena dia tidak ingin larut dalam kesakitan ini terus. Untuk apa dia masih memikirkan pria yang tidak mencintainya, pria yang membuat hidupnya menderita selama beberapa bulan menikah dengan Fahri.
“Memikirkan apa dirimu diam saja disini, memikirkan pria brengsek itu” nada sinis yang terdengar begitu sadis membuat Lita menengok kesal.
“Siapa yang memikirkan Fahri kak, jangan asal menuduh. Aku tidak memikirkannya” ucap Lita kesal karena kakaknya terus saja menuduh kalau dia masih memikirkan Fahri.
“Lalu apa yang membuatmu melamun begini kalau bukan pria brengsek itu, pria itu sudah ku habisi mengerti” David menarik kasar kursi yang ada disebelah Lita menatap adiknya datar.
“APA?? Ke..kenapa kakak menghabisinya, Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau habisi dia kak” ucap Lita langsung berdiri terkejut menatap kakaknya yang hany menatapnya santai.
Mendengar pertanyaan retoris tersebut David tersenyum miring menatap adiknya,
“Kenapa kau khawatir begitu? Kau masih menyukainya, kau bodoh atau apa?” ucapnya.
“Hanya aku tipu seperti ini kau sudah bertanya begitu padaku, aku bukan penjahat yang bisa membunuh orang Lita” tambah Fahri terlihat kecewa, dia langsung berdiri dan akan pergi.
“Kak dengar aku tidak mencintainya, aku bilang tidak kak. Aku membenci pria itu,..” seru Lita mengiringi langkah kaki sang kakak yang kian menjauh dari pandangannya.
“Aku tidak mencintainya lagi, aku membencinya, aku membencinya” teriak Lita histeris menguatkan hatinya kalau dia memang membenci pria itu.
...........................
Dua minggu tanpa Lita dihadapannya membuat hidup Fahri benar-benar kosong, tak kuat dan tak sanggup lagi untuk menjalani kehidupan ia rasakan saat ini. Tubuhnya yang tak terurus, dengan bulu kumis serta jenggotnya yang lebat. Terduduk dilantai bersandar kasur menatap kosong foto pernikahan yang tidak pernah ia pajang selama ini.
Air mata menetes di wajahnya, jemarinya mengusap wajah Lita yang tersenyum dan wajahnya hanya dingin saja disitu tersenyum canggung.
“Baru dua minggu kau tidak disini, tapi hidupku terasa mati Lita..” ucap fahri terus mengusap wajah Lita.
“Aku tak sanggup begini terus tanpa mu, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf,” Fahri menangis seseguk kan memeluk foto pernikahannya dengan Lita.
Tok tok
Terdengar ketukan pintu dari luar kamar.
“den Fahri boleh saya masuk,.” Mbok Jum membuka pintu perlahan melihat ruangan yang gelap dengan Fahri yang duduk dilantai menangis memeluk sebuah bingkai foto besar yang tidak ia ketahui foto siapa itu.
__ADS_1
Fahri masih dalam posisinya dia tidak menanggapi ucapan Mbok Jum, dia masih menangis sibuk dengan dunianya sendiri.
Mbok Jum bingung harus bagaimana, dia melihat suami Lita yang menangis terpukul, walaupun tidak disuruh masuk mbok Jum berjalan mendekat.
“Didepan ada tamu den ingin bertemu dengan aden” lirih mbok Jum takut-takut.
“Suruh dia pergi,”
“Tapi katanya penting, dia ingin...”
“Aku bilang suruh dia pergi, “ bentak Fahri sambil melempar bingkai foto itu kesamping.
Mbok Jum seketika terkejut melihat didepannya saat ini,.
“Lita, Lita...Lita aku minta maaf. Aku tidak sengaja, kau tidak terluka kan..” ucap Fahri langsung berlari kearah bingkai foto yang pecah tersebut. Dia seperti orang yang tidak waras.
Mbok Jum melihat itu semua, dia menatap sedih Fahri.
“Keluar dari kamarku, keluar ini semua gara-gara dirimu. Gara-gara dirimu Lita terluka,..” ucap Fahri dengan begitu keras mengambil pecahan kaca dari bingkai foto itu.
“Keluar saja mbok, aku bicara langsung saja padanya” ucap Rendi yang datang memegang bahu mbok Jum yang gemetar takut bercampur sedih melihat fahri didepannya.
“Lita, kau tidak apa kan? Mana yang terluka? Bilang padaku” ucap Fahri mengusap-usap lembut foto itu.
Rendi melihat itu merasa kasihan, dia berjalan mendekat menghampiri Fahri yang seperti orang gila. Rendi saat ini masih mengenakan seragam polisi dia baru saja pulang dan sengaja kesini, karena dia disuruh orang tua Fahri untuk menemui pria ini.
“Fahri,” ucapnya Lirih memegang pundak Fahri.
Fahri langsung menoleh melihat siapa yang memegang pundaknya.
“Rendi, Rendi antar kan aku, ayo antar kan aku ke rumah sakit Lita terluka gara-gara aku” ucap Fahri.
Rendi hanya terdiam memperhatikan Fahri,
“Fahri sadarlah Lita sudah tiada, Ikhlaskan Lita Fahri” ucap Rendi dengan lembut.
“Kau mau ku bunuh berbicara begitu,” ucap Fahri langsung menatap tajam Rendi.
__ADS_1
“Bunuh saja aku kalau kau puas. Aku berkata benar, Lita sudah tiada, kalau kau begini terus kau menyakiti dirimu sendiri bukan hanya dirimu tapi Mama mu mengerti. Bahkan kau tidak peduli dengan dia, Mama mu sakit Fahri” bentak Rendi menatap Fahri yang mencengkram kerahnya.
“Percuma kau bersikap seperti ini Lita tidak akan bisa kembali Fahri, ini salahmu dan ini perbuatan mu yang menyebabkan dia mengakhiri hidupnya. Tapi kau tidak bisa begini, kalau kau ingin menebus dosa mu jangan membuat dirimu menderita tapi buatlah orang-orang yang dia sayangi bahagia. Contohnya Mamamu yang Lita sayangi dan keluarga Dira yang selama ini dia bantu dan sayangi juga” jelas Rendi menatap fahri.
“Apa maksudmu keluarga Dira? Apa yang kau bicarakan? Kenapa Lita menyayangi keluarga Dira”
“Lepaskan aku dulu, dan ayo duduk dulu disitu” ucap Rendi.
“Bilang,.” Bentak Fahri tidak mengindahkan ucapan Rendi.
“Aku akan bilang kalau kau melepaskan ku,” lagi Rendi mengulang ucapannya.
Fahri langsung terdiam dan dia mulai melepaskan tangannya dari Rendi.
“Dari hasil penyelidikan ku, Lita memang mengetahui tentang keluarga Dira. Dia yang membantu keluarga Dira selama ini dan Keluarga Lita memberikan perusahaan mereka yang ada di Belanda untuk orang tua Dira.” Terang Rendi.
“Apa? Jangan bercanda. Kau tidak bohong?”
“Kenapa aku harus bohong? Aku serius. Dan dugaan mu tentang Lita selama ini salah, dia begitu baik dengan orang tua Dira mereka berdua bersahabat baik sejak dulu dan Lia sudah menganggap orang tua Dira sebagai orang tuanya” jelas Rendi pada Fahri.
Lagi-lagi Fahri seakan dihantam oleh sebuah kenyataan, dugaannya salah lagi. Lita tidak menyelakai keluarga Dira tapi membantu keluarga Dira. Hatinya semakin remuk mengetahui kenyataan pahit ini, kenapa semua ini bau ia ketahui setelah Lita tiada. Sungguh rasanya dia tidak sanggup lagi untuk hidup dengan penyesalan ini.
Fahri menangis, sejadi-jadinya disitu dia menangis meratapi penyesalan yang memenuhi hatinya.
“Tapi ada yang aneh Fahri?”
Fahri yang menangis langsung melihat kearah Rendi
“Dari hasil penyelidikan temanku, orang yang mengirimi dirimu dan yang meneror mu dengan foto-foto Lita juga berasal dari Belanda dan pemilik nomer itu, terhubung dengan keluarga Dira” ucap rendi ragu untuk bicara.
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti jangan bohong padaku”
“Aku tidak bohong, makanya kau jangan seperti orang gila begini. Kau membuat sakit hati semua orang, Mamamu sedih melihatmu. Dan sadarlah ke realita kalau Lita sudah tiada, rubah dirimu dan aku akan mengantarmu menemui keluarga Dira.”
“Aku tidak bisa, untuk apa aku menemui mereka cintaku pada anak mereka sudah tidak ada. Cintaku tertambat pada Lita yang malah aku buat terluka selama ini. Aku tidak ingin kemana-mana aku hanya ingin meratapi penyesalan ini”
“Fahri sadarlah jangan kau bersikap begini, Sudah kau dengarkan saja aku. Temui keluarga dira dan cari kebenaran tentang lita. Kau selama ini sudah berbuat salah padanya” ucap rendi menasehati fahri.
__ADS_1
°°°
T.B.C