Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 26 (Season 2)


__ADS_3

Thalia saat ini sedang berada di luar dia tengah menunggu seseorang di pinggir jalan, dia mengenakan kacamata hitam sambil melihat ke sana kemari. Dia tampak kesal sendiri karena orang tersebut tak kunjung datang membuat dirinya menunggu kepanasan terkena terik matahari.


“mana sih tuh orang lama banget” kesalnya.


Tak berselang lama datang sebuah mobil berwarna biru berhenti tepat di hadapannya kini.


“Maaf lama membuatmu menunggu?” ucap Lita yang membuka kaca mobilnya.


“Kau lama sekali, kau tidak tahu kulitku langsung hitam seketika gara-gara dirimu” keluh Thalia pada Lita dia langsung masuk kedalam mobil tersebut.


“Salahmu sendiri meminta bertemu disini, dan untuk apa kau meminta bertemu denganku. Bahkan aku tidak bilang pada Fahri kalau aku naik mobil sendiri” pungkas Lita yang tidak terima di begitu kan.


“Salahmu sendiri tidak bilang” ucap Thalia enteng.


“Minggir aku saja yang menyetir, kau hamil kan. Aku tidka mau suamimu itu mengomel padaku kalau kamu kenapa-kenapa” tukas Thalia meminta Lita turun dan bergantian menyetir.


Lita langsung turun dari kursi pengemudi, Thalia sendiri langsung berpindah tempat saat Lita sudah turun. Kini Thalia yang menyetir mobil tersebut.


“Sebenarnya ada apa meminta bertemu denganku?” tanya Lita yang sudah masuk kembali kedalam mobil.


“nanti saja bicaranya, kita ketempat yang enak untuk bicara” jawab Thalia dan langsung menjalankan mobilnya


Lita hanya mendengarkannya saja, ia menuruti saja apa yang dikatakan adiknya itu.


..........................


Rendi berdiam diri di dalam mobilnya yang sudah terparkir di basemen apartemen miliknya. Dia ingin turun dan naik keatas tapi dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan pada Thalia. Ia kembali memikirkan apa yang dikatakan papa Fahri. Benarkah dia mencintai Thalia, jika benar dia tidak ingin ada penyesalan seperti Fahri. Dia harus pandai bersikap dan membedakan mana cinta dan mana sebuah rasa bersalah.


Sebelum turun dari mobilnya Rendi menghela nafas berat, benar ini sudah terlanjur dan Thalia sudah menjadi istrinya meskipun karena sebuah hal seperti ini. dia harus menjalani pernikahan ini sebaik mungkin. Bagaimanapun perempuan itu sekarang dia harus menjadikannya lebih baik karena dia sebagai suami Thalia.


Rendi langsung turun dari mobil, dia berjalan kearah Lift yang akan membawanya ke apartemen miliknya. Dia harus bersikap biasa pada Thalia dan bersikap sedikit hangat karena mereka sudah sepasang suami istri sekarang.


Beberapa menit kemudian Rendi sudah sampai di apartemen miliknya dia membuka pintu apartemen itu. Dia masuk perlahan kedalam sambil melihat-lihat suasana dalam apartemennya


Suasana sunyi begitu terasa di apartemennya saat ini membuatnya keheranan, dia perlahan melangkah masuk kedalam kamar tidak ada orang di dalam kamar. Lalu kemana Thalia sekarang batin Rendi. Dia kembali menutup pintu kamarnya dan berjalan duduk kearah sofa.

__ADS_1


“kemana dia sekarang? Kenapa tidak menelpon ku kalau keluar” ucap rendi pada sedikit kecewa karena Thalia keluar tidak bilang padanya.


Rendi langsung mengeluarkan ponselnya, dia akan menghubungi perempuan itu bertanya dia dimana sekarang.


Tidak menunggu lama rendi langsung menekan nomor ponsel Thalia yang sudah dia simpan dari kemarin. Dia mendekatkan ponselnya itu di telinga menunggu panggilan tersambung.


Namun ada yang aneh kenapa bunyi ponselnya terdengar begitu jelas sekarang, Rendi langsung berdiri mencari arah sumber suara yang ternyata berasal dari kamar. Dia berjalan kearah kamar dengan perlahan. Ia membuka pintu itu dan mencari benda yang menjadi sumber suaranya.


Ponsel Thalia tergeletak di nakas meja kamar itu, Rendi memegang ponsel tersebut tertera nomornya di ponsel itu yang belum disimpan oleh Thalia.


“Dia tidak menyimpan nomorku” batinnya


“Dimana dia, kenapa tidak membawa ponselnya sekarang” ucapnya lagi.


Rendi menaruh ponsel itu ditempatnya lagi, dia mendudukkan dirinya sendiri di kasur sambil melihat sekeliling kamar koper perempuan itu masih berada di tempatnya.


Entah apa yang dipikirkan Rendi, dia melihat terus kearah koper milik Thalia yang berada di dalam kamar.


..........................


“Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan padaku?” tanya Lita


“bagaimana caramu menjadi istri yang baik?” ucap Thalia tiba-tiba menanyakan hal itu.


Lita yang tadinya sedang minum melalui sedotan langsung melihat kearah Thalia,


“kenapa kamu bertanya begitu? Kamu ingin belajar menjadi seorang istri?” heran Lita


“Bukannya aku sudah menikah, ya tentu aku harus belajarlah aneh” kesal Thalia karena Lita bukannya menjawab malah banyak bertanya.


“Kamu serius mencintai Rendi, sudah move on dari Rey bukannya belum lama kamu marah denganku gara-gara Rey menolak kembali padamu” ucap Lita merasa aneh dengan Thalia.


“Masa lalu tidak suah dibahas” jawab Thalia.


“Bukannya ingin membahas tapi kamu aneh saja,” tukas Lita yang masih belum percaya.

__ADS_1


“Kamu tahu nggak, dia pria yang beda dari yang lain. Sebaiknya Rey tapi Rendi menurutku lebih baik. Dan pria satu-satunya yang menolak ku. Dari situ aku merasa harus mendapatkannya” cerita Thalia pada kakaknya.


“Kamu terlalu ambisius, tapi kalau kamu memang benar menyukai rendi dan rendi juga menyukaimu. Maka lakukan saja, kamu jadi istria yang baik untuk dia. Masakan apa yang dia suka, dan lakukan apapun yang dia suka” pungkas Lita.


“udah cuman itu”


“Iya cuman itu saja”


“Tapi tunggu, perlu kamu ketahui kalau aku dan Rendi tidak saling cinta. Kau bisa menyebutku sekarang mencintai rendi tapi pria itu sepertinya tidak mencintaiku” jelas Thalia.


Lita langsung melebarkan matanya, dia menatap tak percaya adiknya


“Apa?” kagetnya


“Jangan bercanda Thalia? Kamu gila. Kamu ingin menderita sepertiku dulu” bentak Lita pada Thalia.


“Tidak akan aku menjadi seperti dirimu, jika dia kasar padaku. Aku lawanlah memang aku bodoh sepertimu yang diam saja saat suamimu yang bodoh itu memukulmu” tukas Thalia.


“Kamu jangan gila Thalia, kalau dia tidka mencintaimu kenapa kamu menikah dengannya”


“Aku berbohong padanya” jawab Thalia jujur.


“Berbohong? Berbohong soal apa?” tanya Lita.


“Kau tidak perlu tahu”


“kau memang gila Thalia,” Lita hanya bisa geleng kepala saja percuma kalau dia menceramahi Thalia perempuan itu pasti tidak mendengarkannya. Sekarang dia malah khawatir dnegan Thalia bagaimana kalau Rendi sampai melukai hati Thalia nantinya. Dia tidak ingin Thalia seperti dirinya dulu.


“Sudahkan cuman itu yang harus aku lakukan, kalau begitu ayo aku antar dirimu pulang. Mobilmu untukku ya, kau tahu sendiri aku tidak membawa mobil dari rumah” ucap Thalia pada Lita. Dia mengajak kakaknya itu untuk pulang dan meminta mobil sang kakak.


“Terserah ambil saja, itu mobil kak David. Tapi jangan salahkan aku kalau dia marah denganmu karena mengambil mobilnya” pungkas Lita yang sudah mulai berdiri dari duduknya.


“Aku tidak perduli, sudah baisa. Dia marah denganku” ucap Thalia dengan enteng tanpa rasa takut. Dia juga ikut berdiri ia harus mengantarkan Lita pulang baru setelah itu dia juga pulang ke apartemen Rendi melakukan apa yang disuruh Lita. Ia akan mencoba memasak meskipun dia belum pernah melakukannya.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2