Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 104


__ADS_3

Hoek, hoek


Fahri masih muntah di dalam kamar mandi, membuat Lita bergegas menyusul suaminya yang muntah-muntah itu. Dirinya khawatir dengan sang suami. Fahri sakit atau dia sedang ngidam.


Lita berjalan mendekat dengan masih menggendong Axel di dalam gendongannya.


“kamu kenapa sayang pagi-pagi sudah muntah-muntah” ucap Lita yang melihat sang suami masih berjongkok didepan closet.


“ya apa lagi, aku ngidam karena kamu hamil ini” lirih Fahri dan kembali memuntahkan cairan bening lagi dari dalam mulutnya.


“Salah sendiri suruh aku hamil lagi, sekarang rasakan ngidamnya. Enakkan,.itu belum seberapa . ketimbang melahirkan, sekarang ngerti perjuangan ibu hamil itu bagaimana” pungkas Lita.


“Kok kamu malah ceramah sih sayang, bantu aku berdiri” ucap Fahri melihat istrinya yang berdiri disebelahnya. Dia mengulurkan tangannya itu agar sang istri membantunya berdiri.


“Susah sayang, aku gendong Axel. Berdiri sendiri kenapa, jangan manja ah” ucap Lita tak habis pikir memperhatikan Fahri yang bak anak kecil.


“badanku lemas sayang, bantu suaminya kenapa. Bisa-bisa,.” Ucap Fahri memelas.


“Sini,” Lita meraih tangan Fahri menariknya agar berdiri., Fahri langsung berdiri dan dia merangkul pundak istrinya. Axel yang anak kecil hanya dia saja melihat wajah ayahnya.


“Papa pinjem Mama ya sayang,” tukas Fahri pada sang anak yang memperhatikannya.


“Kamu beneran ngidam?” tanya Lita tak percaya jika suaminya yang mengalami ngidam khas ibu hamil.


“ya kamu kira aku bohong, sayang buruan. Terus aku peluk” rengek Fahri seperti anak kecil, meminta Lita untuk segera membantunya ke tempat tidur. Dan dia ingin dipeluk sang istri.


“Kenapa sih sayang main peluk-peluk, aku banyak kerjaan belum mandiin Axel juga” ucap Lita menuntun sang suami ke tempat tidur dan dia melepasnya begitu saja saat sudah didekat tempat tidur.


“Ya aku pengen dipeluk sayang, Axel biar Mbok Jum saja yang memandikan ya. Kamu temani aku” rayu Fahri agar istrinya mau.

__ADS_1


Lita hanya menghela nafas menanggapi suaminya yang begitu manja saat ini, asli mending dia saja yang ngidam daripada Fahri. Seperti dia malah akan kesulitan melakukan apa-pa kalau suaminya yang ngidam. Hari pertama ngidam saja pria itu sudah manja begini.


...........................


Thalia sedang berkumpul bersama dengan teman-temannya, dia duduk di Cafe bersama ketiga temannya itu.


“Lo memang gila Thalia, mabuk-mabukan nggak ada habisnya. Lo cewek, main minum-minum alkohol” ucap Jane teman dari Thalia.


“ya gue sebel aja sama hidup gue, gara-gara mereka yang pilih kasih sama gue. Dan gara-gara Rey gue adi seperti ini” ucap Thalia.


“Pilih kasih gimana, kedua orang tua lo aja sayang sama lo” ucap Putri salah satu teman Thalia.


“ya pilih kasih, mereka lebih mentingin Lita daripada gue”


“Lo memang gila, jelas-jelas orang tua lo mentingin lo selama ini ketimbang kakak lo itu. Harusnya bersyukur kamu Thalia. Lita bukannya selama ini kurang kasih sayang, lo tahu sendiri dia bagaimana dulunya. Jauh dari yang namanya kasih sayang” skak Jane pada Thalia.


“dan soal Rey, gue denger lo nuduh Lita yang buat rey pergi dari lo. Maf ya bukannya gue belain kakak lo tapi. Disini lo yang salah, lo sendiri yang selingkuhin Rey sama model blasteran itu kan. Dan gue waktu Rey marah sama lo dulu soal lo selingkuh gue ada disitu. jadi itu salah lo sendiri” tambah Jane seakan menyadarkan Thalia dengan perbuatannya.


“Lo dengerin deh apa yang dibilang Jane. Lo tahu sendiri dulu gue deket kan sama Lita tapi jadi nggak deket lagi sekarang. Gue rasa lo harus tahu soal ini” Ucap Putri meminta Thalia untuk mendengarkan apa yang dikatakan Jane.


“Apa yang ahrus gue tahu soal urusan itu, nggak penting” pungkas Thalia seakan nggak untuk mengetahuinya.


“Ya lo harus tahu, lo sendiri tahu dulu gue deket sama Lita kan ketimbang lo, nah dari situ Lita mulai nggak enak sama Lo karena lo yang ngenalin gue ke Lita jadi dia mutusin buat nggak temenan sama gue karena dia nggak mau lo ngerasa temen lo dirampas. Asli dia tuh perduli banget sama lo” ucap Putri mengungkapkan apa yang terjadi selama ini.


Thalia langsung dia dia antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang diucapkan teman-temannya itu.


Saat dia tengah memikirkan hal tersebut pandangannya tertuju pada seorang pria berseragam polisi yang berjalan masuk kedalam cafe seorang diri.


“Itu polisi yang nangkep gue kemarin. Nggak bisa gue biarin tuh polisi” gumam Thalia dan langsung berdiri.

__ADS_1


“mau kemana lo?” taya kedua temannya bersamaan.


“Ada urusan” ucap Thalia dan langsung berjalan pergi menghampiri Rendi yang tidak melihat kearah Thalia. Thalia sendiri berjalan mengendap sambil mengambil gelas yang berisi jus yang tinggal setengah milik pengunjung yang sudah pergi. Dia akan memberi pelajaran pada polisi yang sudah menangkapnya beberapa hari lalu


Polisi itu tentu saja Rendi, dia merasa ada yang mengikuti dirinya di belakang tapi ia berusaha tidak tahu. Dia begitu fokus mendengarkan derap langkah di belakangnya dan.


Dia langsung memelintir tangan perempuan yang berdiri dibelakangnya saat ini. membuat gelas yang ada ditangan perempuan itu terjatuh. Bukan itu saja Rendi juga menekuk lutut Thalia membuat perempuan itu terduduk dilantai dan tangannya berada di belakang karena rendi memelintirnya kebelakang.


“Argh, argh sakit” rintih Thalia kesakitan karena Rendi memelintir tangannya.


“lepasin gue, lo kurang ajar ya” ucap Thalia pada Rendi.


Rendi malah tersenyum sinis dengan ucapan Thalia tersebut.


“Ya kurang ajar disini siapa, lo mau ngapain gue tadi”ucapnya pada perempuan tersebut.


“Gue mau bales dendam sama lo. Gara-gara lo gue dimarahi oleh kakak gue dan orang tua gue” kesal Thalia.


“lepasin gue nggak?” sentak nya dan minta dilepaskan.


Rendi langsung melepaskan tangan Thalia yang masih terduduk di lantai, dan dia berpindah posisi menjadi didepan perempuan itu.


“Lo mau bales dendam sama gue, lo cari orang yang salah. Kalau anda masih bertingkah ke kanak-kanakan begini siap masuk ke jeruji besi untuk kedua kalinya” tegas Rendi menatap Thalia yang terlihat kesal dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini.


Rendi hanya tersenyum saja, dan dia mengambil sapu tangan di saku celananya. Ia mengambil sapu tangan itu dan mengambil tangan Thalia yang sempat dia pelintir tadi, bukan hanya pelintiran saja yang dia berikan tadi tapi sedikit cengkraman yang menusuk kulit mulus perempuan itu. Sedikit darah terlihat keluar di pergelangan tangan Thalia.


“kemari kan tanganmu,” ucap Rendi menarik tangan Kinan dan dia mengikatkan sapu tangannya disitu.


Setelah itu dia langsung pergi meninggalkan Thalia yang speechless dengan yang dilakukannya. Rendi berjalan keluar tidak jadi membeli minuman, niatnya sudah hilang.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2