Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
20


__ADS_3

Dua hari sudah Fahri di rawat di rumah sakit saat ini. Dua hari juga Lita tidak menampakkan dirinya sama sekali, jujur Fahri sendiri merasa ada yang aneh saat tidak ada Lita. Tapi kenapa saat perempuan itu disini dia begitu membencinya.


"Arkhh, jangan gila Fahri. Kenapa kamu harus memikirkan perempuan itu, biarkan saja dia di rumah untuk apa juga dia kesini malah nanti akan membuatmu kesal saja" ucapnya mencoba membuat hatinya yang menurutnya sudah gila itu untuk sadar.


"Fahri Papa sudah mengurus biaya administrasinya, kau nanti pulang dengan Mamamu. Papa mau pergi dulu," ucap Sasongko.


"Mama tidak mau menemui ku lagi Pa, dia marah denganku" ucap Fahri yang akan turun dari tempat tidurnya.


"Mamamu Marah kenapa?"


"Tanyakan saja padanya, aku pulang sendiri saja. Supirku juga sudah menjemput ku" ucap Fahri berjalan perlahan karena kakinya sedikit tertatih.


Sasongko yang melihat anaknya dengan beberapa perban dan juga jalan tertatih membuatnya menghela nafas.


"Kau seharusnya membiarkan istrimu disini, agar bisa membantumu" ucap Sasongko dan berjalan menghampiri anaknya itu.


"Aku tidak butuh bantuannya Pa, aku tidak sudi badanku di sentuh oleh perempuan pembunuh itu"


"Ternyata kau tidak mempercayai apa yang Papa ucapkan dua hari lalu. Papa sengaja tidak menemui mu dua hari ini agar kamu sadar. Tapi kamu masih tetap saja begini"


"Sudahlah Pa, daripada Papa ngomel mending aku jalan sendiri saja. Papa bisa pulang" ucap Fahri seakan tidak mau diceramahi oleh Papanya.


"Terserah dirimu saja Fahri, yang penting Papa hanya mengingatkanmu jangan pernah kau menyesal saat kehilangan Lita nanti. Karena penyesalan mu itu sia-sia" ucap Sasongko dengan masih terus memapah anaknya berjalan keluar dari ruang rawatnya.


"Untuk apa aku menyesal, dia bukan orang spesial di hatiku." tukas Fahri.


Sasongko hanya diam dengan ucapan itu, Fahri memang keras kepala seperti dirinya.


………………


Di Belanda Lita dan keluarga Dira tengah menikmati makan siang mereka di situ juga adik David yang ikut makan siang.


"Lita kamu yang banyak, Mama lihat kok tubuh kamu kelihatan kurus." ucap Sekar mengambilkan potongan ayam besar untuk Lita.


"Mama Sekar tidak usah Ma, aku bisa mengambilnya sendiri" ucap Lita merasa tidak enak.


"Kalau kak Lita bisa mengambil sendiri kenapa tidak mengambilnya dari tadi." ucap Wily yang duduk di sebelah David.


"David kamu juga makan yang banyak nak, anggap seperti rumah kamu sendiri" ucap Sekar pada David.

__ADS_1


"Iya tan," jawab David tersenyum kecil.


"Papa lihat-lihat kamu seperti tidak tenang Lita, ada apa?" ucap Vadri yang memperhatikan Lita.


"Hah, Gimana Pa?"


"Tuh kan bener, kalau kamu jawab begitu berarti kamu sedang mikirin sesuatu. Kamu mikirin apa?" ucap Vadri.


"Nggak Pa, aku nggak mikirin apa-apa"


David memperhatikan adiknya itu, Pasti Lita sedang memikirkan pria brengsek itu.


"Kak Lita sepertinya berbohong" batin Willy memperhatikan Lita yang makan dalam diam. dia tidak yakin jika perempuan itu tidak ada masalah pasti ada masalah.


Bahkan David saja tampak seksama memperhatikan Lita seakan sedang menelisik semua itu.


"Apa kak David tahu masalah kak Lita ya? besok aku akan tanya padanya. Tidak mungkin jika aku bertanya pada kak Lita langsung" ucap Wily berbicara di dalam hatinya memikirkan tentang Lita yang aneh.


°°°°°


Fahri pulang ke rumah sendirian, dia tidak mau diantarkan oleh Papanya dan malah minta sopirnya yang menjemputnya ke rumah sakit.


Dia tidak mau orang tuanya itu nantinya akan mengobrol dengan Lita, ia tidak ingin Lita dekat dengan orang tuanya. Dia begitu membenci Lita, sungguh dia sangat membenci perempuan itu. Bahkan rencananya ini, ia akan membuat pelajaran pada perempuan itu.


Wati berjalan mengambil tas Fahri dan Mbok Jum menghampiri Fahri berniat membantunya serta menanyakan dimana Lita.


"Nggak usah mbok, aku bisa jalan sendiri" tolak Fahri sembari berjalan kearah sofa yang berada di ruang tengah rumah besar itu.


"Nak Fahri pulang sendiri, Lita dimana nak?" tanya Mbok Jum yang berjalan di belakang Fahri saat ini.


"Ya mana aku tahu,.Kenapa mbok tanya aku" ketus Fahri yang mendudukkan dirinya di sofa.


"Kok kamu bilang begitu sih, diakan istri kamu nak. Dan yang menemani kamu di rumah sakit beberapa hari ini, tidak seharusnya kamu bicara begitu" ucap Mbok Jum menceramahi.


"Sudahlah mbok, mbok bisa diam nggak. Mau saya pecat" bentak Fahri membuat mbok Jum bergetar.


Dia tidak menyangka kalau Fahri yang telah menjadi suami Lita beberapa bulan ini bisa berkata kasar begitu.


"Maaf nak kalau mbok salah, tapi mbok cuma khawatir sama Lita perasaan mbok nggak enak. Lita menemani kamu di rumah sakit kan"

__ADS_1


"Tidak, dia aku suruh pulang dua hari lalu"


"APA?"


"Kenapa kau terkejut dengan itu?"


"Dua hari ini Lita tidak di rumah nak, dan Hpnya juga tidak aktif saat mbok hubungi" ucap Mbok Jum.


Fahri mendengar itu langsung menatap Mbok Jum yang menunduk takut.


"Apa?mbok tadi bilang apa? kemana dia?"


"Mbok juga nggak tahu, mbok kira dia di rumah sakit menemanimu nak"


Hati Fahri langsung terasa gelisah seketika, entah mengapa perasaan ini masuk dalam dirinya saat ini. Dan bayangan dua hari lalu dimana dia mengusir Lita dan menyuruh perempuan itu untuk pergi dari hidupnya terputar begitu saja.


"Apa mungkin dia pergi seperti apa kataku" gumam Fahri, dia seakan tidak ingin.


"Kenapa kau malah merasa kehilangan, seharusnya kau senang Fahri" ucap Fahri pada dirinya sendiri.


"Nak Fahri, lalu Lita sekarang dimana nak. Mbok benar-benar khawatir, tolong telpon dia nak telpon lagi" ucap Mbok Jum.


Fahri langsung tersadar dari lamunannya.


"Malas, mbok telpon sendiri saja. Apa urusanku, semoga saja dia mati dan tidak kembali" ketus Fahri dan langsung bangkit dari duduknya untuk pergi.


Mendengar hal itu membuat Mbok Jum terkejut dan tidak percaya dengan ucapan Fahri barusan.


……………


Meskipun Fahri tadi bilang begitu pada mbok Jum nyatanya dia sendiri saat ini justru menelpon Lita tapi zonk Hp perempuan itu mati panggilannya tidak tersambung sama sekali.


"Kemana perempuan itu? apa dia benar-benar memutuskan pergi. Bodoh kamu Fahri seharusnya kau tidak bilang begitu padanya, buat dia menderita lagi bahkan buat dia mati" ucapnya.


Satu pesan masuk kedalam Hpnya saat ini, matanya seketika melebar dan cengkeramannya pada Hp begitu kuat.


"Kau bersama dengan ke kasihmu ternyata saat ini, selain wanita kejam pembunuh kau juga wanita tukang selingkuh ternyata. Lihat apa yang akan aku lakukan padamu nanti"


Fahri entah sadar atau tidak emosinya begitu memuncak saat ini bahkan ia membanting hpnya ke lantai karena emosi melihat foto Lita tengah di peluk seorang pria yang ia tahu sebagai pacar perempuan yang menjadi istrinya tersebut.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2