Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 135 (Season 2)


__ADS_3

Thalia menuruni tangga dirumahnya, dia melihat dibawah ada kedua orang tuanya dan juga orang tua Fahri yang datang berkunjung untuk melihat anaknya.


“Manis banget cucu oma, gemes banget sih kamu nak. Baru seminggu tapi gemes begini” ucap Nafa yang menoel beberapa kali pipi cucunya yang menggemaskan itu. dia tengah menggendong sang cucu sambil duduk di sofa, sedangkan disebelahnya Mama fahri duduk melihat pada bayi kecil tersebut.


“Iya, ya jeng cucu kita kenapa gemes begini. masih seminggu padahal” sahut Wulan sepakat dengan ucapan Nafa barusan.


“Nenek-neneknya berisik sendiri pak Aryo” ucap Sasongko pada Aryo yang menyilang kan kaki sambil menyandarkan dirinya di sofa single.


“Wajar pak Sasongko, anak Rendi sama Thalia kan cucu perempuan satu-satunya. Wajar kalau istri kita begitu. Eh maaf, cucu perempuan kedua buat pak Sasongko kan?” tukas Aryo mengulangi ucapannya lagi. Karena Sasongko sudah memiliki cucu perempuan sebelumnya yaitu anak dari kakak fahri.


Meskipun ini bukan cucu kandung Sasongko tapi karena Rendi sudah ia anggap sebagai anak kandung. Jadi ini termasuk cucunya juga.


“Iya anaknya Shela juga perempuan, Cucu perempuanku dua sekarang. Rasanya seru memiliki cucu lagi seperti” jawab Sasongko sambil tersenyum tulus melihat bayi mungkin yang di gendong oleh besannya.


“Mama,..” panggil Thalia yang sudah berjalan mendekati mereka berempat.


“Iya sayang,” jawab Nafa langsung menoleh kearah Thalia yang berada di dekatnya.


“Mama tahu Rendi dimana?” tanya Thalia menanyakan keberadaan suaminya yang sedari tadi pagi belum dia lihat.


“Suamimu katanya ke Bandara Thalia?” sahut Wulan lebih dulu, karena tadi saat dia mau kesini Rendi pamit padanya kalau mau ke bandara.


“Dia ke bandara? Mau apa dia ke bandara mama Wulan?”


“Iya dia ke bandara kenapa?” tanya Aryo yang tidak tahu soal itu, Nafa juga tidak tahu. dia melihat kearah besannya.


“Dia tadi bilang mau menjemput Papanya dan bundanya. Sama kakaknya juga,” jelas Wulan pada semuanya.


“Orang tua Rendi mau kesini? Kenapa Rendi tidak bilang pada kami?” kaget Nafa.


“Mereka datangnya juga nggak bilang, tiba-tiba nelfon Rendi tadi saat didepan” balas Wulan menjelaskan alasan Rendi yang tidak sempat bilang soal Papanya yang akan datang.


“Oh,” jawab Nafa.


“Sini Thalia duduk” ucap Wulan menyuruh Thalia untuk duduk, dia sendiri tadi barusan bangun tidur.


“Syukur deh kalau Papanya Rendi mau kesini, soalnya saya belum pernah ketemu besan.” Ucap Aryo sedikit lega jika memang benar Papa kandung Rendi datang ke Jakarta. Karena dia sama sekali belum pernah bertemu dnegan besannya itu. pernah melihat saja hanay satu kali saat dulu ketika Rendi menikahi Thalia itu saja melalui panggilan telpon saja.


“Iya syukur kalau dia mau kesini pa, tapi kenapa ya dia bau kesini hari ini. anaknya sudah menikah lama dengan Thalia. Tapi dia baru kesini” ucap Nafa yang sedikit kecewa dengan sikap Papa Rendi ayng tak pernah berkunjung ke Jakarta.


“Jangan gitu Ma, Papanya Rendi kan tentara, maklum kalau nggak bisa kesini. Dia juga sudah tinggi pangkatnya. Papa denger dia Dandim di salah satu Kodim di Padang” Aryo mencoba membuat mengerti istrinya akan sikap besannya.


“Iya ma, Papa Rino sibuk di sana. Dia dandim jadinya, tidak bisa cuti lama dan tidak bisa ditinggal. Rendi juga di sana punya dua adik yang masih sekolah” jelas Thalia membela mertuanya.


“Oh gitu,”


“Papanya sepertinya baik ya Thalia. Kamu tampak nyaman membicarakan keluarga Rendi?”

__ADS_1


“Iya mereka baik, bahkan memaklumi ku yang bar-bar. Papanya sangat beda dnegan wanita iblis yang di penjara saat ini” tukas Thalia dan dia tampak sedikit emosi saat mengingat Mama Rendi yang sudah mendekam di penjara.


“Sudah sayang, nggak usah diingat. Mama mertuamu sudah mendapatkan balasannya,. Udah jangan emosi” ucap Aryo yang mendekati putrinya mengusap pundak sang putri.


Thalia hanya diam saja, entah emosinya tersulut mengingat Mama Rendi yang ia benci. Gara-gara perempuan itu satu anaknya telah tiada.


..........................................


“Apa kabar Pa, bunda, dan kau Revan?” tanya Rendi duduk di bagian sopir melihat kearah belakang dan juga sampingnya. Dimana sudah duduk Revan dan juga Papa dan bundanya.


“Baik Ren, kamu sendiri bagaimana. Thalia juga bagaimana kondisinya?” jawab Rino dan juga istrinya.


“Kurang baik pa,” jawab Rendi lirih.


“Kurang baik bagaimana maksud kamu?” tanya Papanya.


“aku dan Thalia habis berduka Pa, kita kehilangan satu anak kita” jawab Rendi.


“Astagfirullah bagaimana bisa” seru bundanya dari belakang.


“Iya bagaimana bisa Ren, tunggu maksudmu Thalia lahiran kembar gitu terus satunya tidak selamat” ucap Revan penasaran.


Keluarga Rendi memang belum tahu permasalahan yang terjadi, Rendi hanay mengabari kalau Thalia melahirkan. Dan dia juga tidak memberitahu soal Mamanya yang ia jebloskan ke penjara karena mengakibatkan Thalia dan anaknya dalam bahaya.


Meskipun Rendi tidak bilang, Tapi Rino tahu soal masalah Rendi ayng menjebloskan Mamanya ke penjara. Meskipun tahu tapi dia pura-pura tidak tahu, karena dia sendiri tidak mengerti permasalahanya bagaiman sampai Rendi menjebloskan Mamanya ke penjara. Begitu juga Revan yang sudah tahu kalau Mamanya di penjara, tapi alasannya dia sendiri juga belum tahu alsan adiknya itu.


‘Ceritanya panjang bun, nanti aku ceritakan pada kalian. Sekarang kita ke rumahku dulu, pasti mertuaku senang bertemu dengan Papa. Mereka ingin ketemu papa selama ini” ucap Rendi dan langsung menyalakan mesin mobilnya


“Oh iya, bukannya kau bilang tidak mau ikut ke Jakarta. Kenapa tiba-tiba kau ikut ke Jakarta saat ini?” tanya Rendi melihat kearah Revan.


“Ada sesuatu yang ingin ku pastikan” jawab Revan dan memalingkan wajahnya.


“Apa?” tanya Rendi sebelum menjalankan mobilnya.


“nanti saja aku ceritakan” jawab Revan tanpa melihat kearah Rendi.


Rendi hanya diam saja mendengar jawab dari Revan, dia sangat menjunjung tinggi rasa menghargai orang.


.....................................


Thalia sedang didalam kamar sendiri, dia melihat anaknya yang berada di box bayi tidak jauh dari kasurnya. Dia diam memperhatikan anak perempuannya tersebut, anak perempuan yang belum diberi nama. Kemarin Rendi bilang akan memberikan nama tapi karena ada rekan-rekan Rendi yang dari Sumatera Selatan datang berkunjung ke rumah membuat suaminya itu gagal untuk memberi tahukan nama anak mereka.


‘Namamu siapa ya? Mama bingung mau ngasih nama kamu apa. Papa kamu yang tahu, tapi di belum pulang” gumam Thalia cemberut, karena dia tidak ada inspirasi nama untuk anaknya dan Rendi katanya sudah ada nama untuk anak mereka.


“Sayang,.” Baru saja dia memikirkan Rendi, eh pintu kamar terbuka dan Rendi melihat kearahnya saat ini.


“Iya,.” Jawab Thalia langsung berbalik melihat kearah suaminya ayng baru saja masuk kedalam.

__ADS_1


“kamu kemana aja sih nggak bilang sama aku” lanjut Thalia dan langsung berdiri menghampiri Rendi, dia langsung memeluk suaminya manja. Entah mengapa, dia rindu dengan Rendi padahal baru beberapa jam saja tidak melihat suaminya rasanya seperti ngidam padahal dia baru melahirkan.


“kenapa? Kamu nyariin aku. aku minta maaf ya nggak bilang kalau mau pergi. Tapi mama Wulan tadi sudah bilang kan kalau aku ke bandara”


“Iya, tapi kamu aturan bilang sama aku.” pungkas Thalia sambil mendongak melihat wajah Rendi tentu saja dia masih memeluk suaminya.


“Iya maaf Mamanya Relia Ravero Hartawan” ucap Rendi mengeratkan pelukannya pada sang istri.


“Siapa Relia,” tanya Thalia.


“Anak kita,”


“Anak kita kamu bernama Relia, jadi sudah ada namanya anak kita” tukas Thalia antusias.


“Iya sudah ada nama dari dia lahir, tapi aku belum memberitahumu dan yang lainya”


“Lagi-lagi kamu bikin aku kesel tahu nggak, bisa-bisanya nggak bilang kalau anak kita udah ada namanya”


“Ya aku sengaja buat kamu kesel, habisnya kamu kurang asik beberapa hari ini.” ucap Rendi sambil tersenyum dan memegang dagu istrinya dan sedikit mendongakkannya. Rendi langsung mencium bibir manis Thalia.


“Terus artinya apa nama Relia, dan kenapa kamu pakai nama Ravero di tengahnya?” tanya Thalia penasaran.


“Relia singkatan dan nama kita Rendi Thalia, dan ada artinya juga sayang?”


“Apa artinya?”


“Artinya Emas yang bersinar, dia anak kita yang bagaikan emas dan akan selalu bersinar di manapun.” Jelas Rendi.


“Dan Nama Ravero, aku memang sengaja memberikan untuk anak kita agar adil. Ada nama dari keluarga kamu dan ada Nama dai keluargaku juga”lanjut Rendi.


“bagiamana kamu suka kan?” tambah Rendi meminta pendapat pada istrinya.


“Iya aku suka,” jawab Thalia dan memeluk Rendi lebih erat.


Mereka berdua saling berpelukan satu sama lain, saling membagi kebahagiaan diantara keduanya.


“Oh iya sayang, anak kita yang sudah pergi aku beri nama dia Reno, lain kali kita lihat dia kamu mau kan?” ucap Rendi.


“Iya,” jawab Thalia lirih, rasanya sedih mengingat anaknya yang satu lagi yang belum pernah ia tahu bahkan gendong.


“Ya sudah kalau begitu ayo kebawah, dibawah ada Papa sama bunda. Ada Revan juga” ajak Rendi, dia memang ke kamarnya untuk melihat istrinya sekaligus mengajak istrinya turun untuk menemui orang tuanya.


“Ya sudah ayo, selagi Relia tidur” Thalia mengiyakan ajakan dari Rendi untuk turun, mereka berdua lalu berjalan beriringan keluar dari kamar saat ini.


°°°


T.B.C

__ADS_1


p.s: Maaf ya buat reader semua misalkan kalau nama Papanya Rendi salah. Dan nama belakangnya juga salah, soalnya author lupa siapa namanya hehehe. mohon di maklumi ya, Makasih🤗😁


__ADS_2