
Lita duduk di meja makan dalam diam, didepannya kedua mertuanya sedang makan saat ini.
"Lita kamu tidak makan nak,." ucap Wulan yang melihat menantunya hanya diam tanpa menyendok kan makanan sedikitpun.
Lita langsung mendongak melihat Mama mertuanya, begitu juga Fahri yang langsung melihat Lita yang menatap Mamanya saat ini.
"Iya Ma," hanya jawaban singkat saja yang diucapkan oleh Lita dan dia makan dengan tidak bernafsu sama sekali. Sesekali dia juga melihat kearah Fahri yang melihatnya dengan tajam.
"Dua hari lalu Mama sakit ya? aku minta maaf ya ma tidak bisa menjenguk Mama" ucap Lita lagi menatap sang mertua.
"Iya tidak apa, kamu kan sedang sakit juga" ucap Wulan.
"Hah,.Aku.." ucapan Lita terhenti karena kaki Fahri yang ada di bawah meja menendang dirinya saat ini.
"Kamu kenapa Lita?"
"Tidak Ma, aku tidak apa-apa" ucap Lita berbohong.
"Papa sudah Makannya, Lita Papa ijin berjalan-jalan di taman belakang ya" ucap Sasongko pada Lita.
"Kenapa harus ijin Pa, ini rumah Papa juga. Anggap sendiri saja" jawab Lita.
"Bagaimana bisa Papa begitu, ini rumah kamu" ucap Sasongko.
Lita terdiam memang ini rumahnya pemberian Papanya tapi rumah ini diberikan atas nama Fahri bukan atas namanya.
Sasongko lalu berjalan pergi menuju taman belakang sementara di meja makan masih ada ketiga orang itu.
"Kalian sedang marahan ya, kok sedari tadi tidak bicara satu sama lain" ucap Wulan yang menangkap ada sesuatu yang berbeda diantara kedua orang didepannya.
"Nggak Ma, kita nggak bertengkar kok" sahut Fahri.
"Iya kita tidak sedang bertengkar kok" kata Lita ikut menimpali.
………………
Lita sedang duduk di halaman depan rumahnya saat ini bersama Rey yang sedang bertandang ke rumahnya.
"Hahhaa lucu, masa iya kamu dan kakakku dulu begitu" Lita tertawa saat mendengar kisah masa lalu Rey dan kakaknya David dulu.
"Iya, dulu kita tuh cupu abis sampai rambut tuh model itu wowo atau siapa itu yang di sinetron apalagi kakakku parah abis dia, cupu banget" ucap Rey menahan tawa saat menceritakan David dulu.
"Masa sih, dulu dia cupu kok sekarang dia cool abis galak banget lagi" sungguh ia tidak mempercayai kalau dulu David cupu.
"Kamu mau lihat foto kakakmu itu, sini aku tunjukkan" Rey berdiri dari duduknya saat ini sambil mengambil Hp dari saku celananya saat dia berdiri tanpa sengaja netra matanya melihat Fahri yang sedang berdiri di balkon memperhatikan mereka berdua.
Rey semakin mendekatkan dirinya pada Lita, dia menaruh Hpnya di meja dan tiba-tiba saja memegang wajah Lita. Lita tentu saja terkejut apalagi Fahri dia terkejut melihat istrinya yang menurutnya mesra dengan pria lain.
__ADS_1
"Aku minta maaf ya," bisik Rey ditelinga Lita membuatnya seakan terlihat mencium Lita jika di lihat dari atas.
Fahri yang melihat itu melebarkan matanya, dia menggenggam erat besi pembatas di balkon.
"Mereka berani sekali berciuman di rumah ku," Dada Fahri naik turun merasa kesal dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Aku tidak bisa tinggal diam," Fahri langsung pergi begitu saja, berjalan cepat. Ia akan memberikan pelajaran untuk mereka berdua, lihat dan tunggu saja.
Di bawah sendiri Lita menatap Rey yang sudah menjauhkan dirinya.
"Ada apa kau minta maaf padaku?" heran Lita menatap Rey.
"Tidak apa, maaf saja" ucap Rey sambil duduk saat ini.
"Aneh," desis Lita.
"Aku memang aneh" ucap Rey tersenyum.
"Dokter kok aneh,"
"Dokter juga manusia kali" mereka saling tersenyum satu sama lain. Hingga sebuah tangan menarik kasar Lita memaksanya untuk berdiri.
"Ayo masuk," tarik Fahri kuat.
"Lepaskan, aku masih mau bicara dengan Rey" Lita melepaskan paksa tangan Fahri.
"Jangan pernah kasar dengan perempuan" ucap Rey sambil memegang tangan Lita.
"Bukan urusanmu, dia istriku" ketus Fahri.
"Lepaskan tangan Istriku" tambah Fahri menekankan kata istri.
Rey menarik kuat tangan Lita hingga terlepas dari tangan Fahri.
"Dia memang istrimu, tapi istri yang tidak kau cintai. Untuk apa kau masih mempertahankan pernikahan ini lepaskan dia, dia kekasihku biarkan kita bersama" ucap Rey dengan cukup berani, dia merengkuh Lita saat ini.
"Rey sudahlah, malah nanti ini menjadi ribut lebih baik aku masuk saja" ucap Lita lirih mencoba melepaskan rengkuhan Rey.
"Biarkan saja ribut, jika harus bertengkar dengan pria brengsek itu aku tidak perduli. Aku tidak terima dirimu diperlakukan kasar seperti itu" tukas Rey lantang menatap Fahri.
"Ciih, kau jangan sok tahu. Lepaskan istriku dari pelukanmu. Kemari" Fahri menarik kasar Lita membuat Lita tertarik.
"Arkkh," rintihnya kesakitan karena harus menjadi tarik-menarik dua orang.
"Rey aku tidak apa, lepaskan saja." ucap Lita pada Rey.
"Aku tidak bisa Lita, aku sudah janji dengan kakakmu untuk merebut mu dari pria brengsek ini"
__ADS_1
"Aku mohon lepaskan tanganmu"
"Kau tidak dengar dia bilang apa lepaskan tangannya" tegas Fahri.
Rey menatap Lita, dan Lita mengangguk seakan mengiyakan.
Dengan terpaksa Rey melepaskan tangan Lita, Fahri yang merasa menang tersenyum.
"Ayo masuk" dia menarik kuat Lita meninggalkan Rey yang hanya menatap saja kepergian mereka berdua.
Didalam rumah Fahri menarik Lita kasar, dia terus menarik Lita cepat sebelum Mamanya mengetahui ia kasar pada istrinya. Dia dengan kuat menarik Lita menaiki tangga.
"Mas lepas tanganku sakit," ucap Lita pada Fahri.
"Tidak akan, kau harus ku beri pelajaran terlebih dahulu mengerti" Fahri berjalan cepat masuk kedalam.kamar sambil terus menarik Lita.
Dia langsung membanting Lita ke kasur, menampar perempuan itu berkali-kali.
"Kau kenapa sih, kau kenapa? rasanya aku tidak tahan denganmu mas. Aku menyerah bunuh aku saat ini, aku sudah tersiksa dengan apa yang kau lakukan ini. Kau tidak mencintaiku kan maka lepaskan aku atau bunuh aku" ucap Lita yang memegangi wajahnya yang sakit karena tamparan dari Fahri.
Hatinya begitu sakit, mendapat perlakuan seperti ini dari Fahri kenapa tega sekali pria itu padanya.
"Memang inilah tujuanku membuatmu menderita, rasakan penderitaan mu ini. dan tunggulah ajal mu dalam penyiksaan ku"
"Huhuhu,.." Lita menangis menatap Fahri.
"Tangis mu tidak akan membuatku luluh mengerti"
"Kau memang pria brengsek mas, aku..aku" Seakan sulit sekali mengatakan benci pada Fahri.
"Apa hah" Fahri mencengkram kuat dagu Lita.
"Itu hukuman bagimu karena sudah berciuman di rumahku,"
"Aku.." ucapan Lita berhenti karena Fahri yang menciumnya saat ini.
Ciuman itu terkesan menuntut bahkan membuatnya langsung terbaring di kasur dan Fahri berada di atasnya saat ini.
"Arkh," rintih Lita nyeri pada bibirnya begitu terasa karena Fahri menggigitnya begitu dalam.
"Buka mulutmu, kau mau aku gigit" tegas Fahri menatap Lita yang menangis.
"Ini hukuman bagimu" Lagi Fahri ******* bibir ranum Lita dengan paksa terus menggigit bibir itu setiap Lita tidak mau membuka mulutnya. Fahri mencium Lita begitu kasar bukan kasar lagi tapi sangat kasar. Lita tidak bisa apa-apa karena tangannya terpegang erat oleh tangan Fahri yang mengungkung dirinya saat ini.
°°°
T.B.C
__ADS_1