
Rendi saat ini duduk di kursi kerjanya, dia sedang tidak ada tugas di luar. Tugasnya saat ini hanya duduk mencatat laporan warga. Tapi karena dia pangkatnya lebih tinggi dari yang lain jadi anak buahnya yang melakukan tugas tersebut. Tugasnya sekarang hanya duduk santai.
Meskipun dia sedikit lebih santai tapi dia juga memeriksa pekerjaan juniornya. Dia mengawasi para polisi muda yang di tugaskan di timnya saat ini.
“Parah lo, nikah nggak bilang-bilang sama kita” ucap Andre yang datang bersama Hardi, mereka langsung menarik kursi yang ada di depan meja Rendi saat ini.
Mereka akan mengintrogasi temannya itu yang tidka bilang pada mereka kalau tiga hari yang lalu dia menikah.
“waktunay mendesak dan tiba-tiba. Jadi tidak sempat untuk memberitahu kalian” jawab Rendi.
“masa? Kita tida percaya. Kau sembunyi-sembunyi menikah kenapa?” heran kedua temannya.
“Siapa yang sembunyi-sembunyi, aku sudah bicara pada pimpinan” sangkal Rendi.
“Terserah kau lah, tapi kita ingin tahu kau menikah dengan siapa?” tanya Hardi menatap penasaran Rendi.
“Lo aneh sih Har, ya jelas dia nikah sama tunangannya lah” tukas Andre menatap aneh Hardi
Rendi terdiam mendengar kata tunangan, dia jadi ingat dengan Melody. Tiga hari dia tidak melihat perempuan itu bahkan dia tidak mengabari orang tua melody kalau dia menikah dengan orang lain. Bagaimana tanggapan orang tua Melody padanya nanti.
Hardi langsung menyenggol Andre setelah melihat wajah Rendi yang tertunduk,
“Apaan sih main senggol-senggol aja” kesal Andre.
Hardi melihat kearah Rendi yang diam saja membuat Andre ikut melihat kearah temannya tersebut.
“Ada yang salah ya sama ucapan gue” lirih Andre melihat rendi.
Rendi langsung tersadar dari lamunannya dan menatap kedua temannya tersebut.
“Tidak ada yang salah dari ucapan mu” jawab rendi pelan.
__ADS_1
“Aku bukan menikah dengan tunangan ku tapi dnegan orang lain” jawab Rendi jujur.
Seketika dua orang didepannya langsung saling padang satu sama lain, mereka merasa salah dengar tentang hal itu.
“Tunggu, darimana kau tahu aku punya tunangan sebelumnya” ucap Rendi yang abru sadar kalau temannya itu menyebutkan soal tunangannya.
Hardi dan juga Andre langsung terdiam, mereka tahu soal itu karena senior mereka dulu yang bilang.
“da..dari Senior Fajri” jawab Andre.
Rendi hanya diam saja, dia sudah menduga kalau orang itu yang bilang, karena Fajri tidak suka padanya. Fajri adalah seniornya dulu tapi saat ini orang tersebut sudah di mutasi ke daerah lain.
“Sudah ya kita pergi, kalau lo tidka mau bilang menikah dnegan siapa. Kita tidak ingin tahu kok” ucap Andre dan langsung mengajak Hardi pergi. Karena sepertinya Rendi tidak ingin privasinya di ketahui orang lain. Jadi mereka lebih baik pergi sekarang, situasi juga tidak mendukung lagi untuk bicara. Rendi terkesan tidak ingin untuk membahasnya.
“Iya kita pergi dulu ya, kita haru ke Lapas melakukan pemeriksaan Napi di sana” tukas hardi dia juga ikut berdiri saat Andre berdiri.
Rendi hanya diam sambil memperhatikan kedua temannya yang berjalan pergi meninggalkan dirinya sekarang.
.................................
Thalia sedang berada di apartemen, dia mematuhi apa yang dikatakan Rendi. Meskipun begitu tapi dia merasa bosan di apartemen terus sedari tadi dia cuman keluar masuk kamar, nonton tv dan melakukan kegabutan lainnya.
“Ini gue mau ngapain coba, bodoh banget gue soal urusan hati. Bucin terus dnegan yang namanya pria. Kesel gue,” rutuknya berkali-kali. Thalia memang begitu meskipun dia sering berganti pria tapi dia selalu menjadi budak cinta saat benar-benar telah jatuh cinta. Ini kedua kalinya dia menurut dnegan pria pertama dengan Rey kedua dengan rendi. Dan dia selalu terlibat dengan pria yang berawalan huruf R.
Thalia mendudukkan dirinya di sofa, sambil memangku dagu.
“Tapi gue nggak nyesel sih begini sama cowok kulkas, dia tegas jadi nggak jadi budak gue terus beda sama Rey. Rey selalu ikut saja dengan ucapan ku tidak menantang. Tapi Rendi begitu membuatku bersemangat” ucapnya diiringi senyum saat membandingkan kedua pria yang pernah mengisi hatinya.
‘Gue bosen, mau ngapain coba” ucap Thalia langsung berdiri dari duduknya. Dia akan mengeksplor seluruh apartemen Rendi.
Dia sekarang ada hak di apartemen ini karena dia istrinya. Thalia berjalan kearah meja yang memiliki loker. Dia merasa tertarik dengan meja yang berada di dekat dapur itu sedari kemarin dia ingin melihat meja tersebut.
__ADS_1
Akhirnya Thalia memutuskan untuk berjalan kearah meja itu, dia akan mengurangi rasa penasarannya dengan loker meja itu. Meja yang sedikit tersembunyi pasti ada rahasia tersendiri di situ.
Dia juga ingin mengurangi rasa penasarannya dnegan perempuan bernama Melody karena Rendi belum juga menceritakan soal perempuan itu
“Perempuan yang bernama Melody itu sebenarnya seperti apa, kenapa Rendi belum juga membicarakannya padaku. Jangan-jangan orang itu masih bingung menentukan hatinya milik siapa” ucap Thalia menduga-duga.
“Ah nggak mungkin, hatinya sudah jadi milikku. Dan dia sendiri yang bilang aku miliknya berarti dia juga milikku” ucap Thalia menggeleng kecil.
Dia membuka loker lemari yang membuat dirinya penasaran, dia perlahan membukanya sambil mencoba menguatkan hatinya kalau menemukan sesuatu di dalam situ.
“apa ini?” ucapnya saat menemukan bingkai foto yang terbalik. Dia langsung mengambil bingkai itu dari dalam loker.
“Ini foto siapa? Apa kedua orang tuanya?” ucap Thalia penasaran saat melihat Rendi tengah di apit oleh sepasang suami istri. Mereka bertiga tersenyum kearah kamera.
Itu foto ketika Rendi baru lulus pendidikan di kepolisian,
“Dia bisa tersenyum lepas seperti ini?” ucap Thalia sambil mengusap foto rendi yang bersama dengan orang tua paruh baya yang kemungkinan adalah orang tua Rendi.
“Aku harap dia juga bisa tersenyum lepas begini saat bersamaku” ucap Thalia tanpa sadar.
Entah mengapa dia menginginkan Rendi juga bisa tersenyum lepas saat dengannya,
Thalia mengambil salah satu bingkai lagi yang ada di dalam situ, yang dalam kondisi sama terbalik sehingga dia tidak bisa melihat foto siapa itu.
Thalia akan membaliknya dan ingin melihat foto tersebut, tapi saat tangannya sudah memegang itu dan bersiap untuk melihatnya. Pintu apartemen berbunyi membuat Thalia mengurungkan niatnya.
“Siapa itu yang datang? Ah, apa Rendi. Dia sudah pulang” ucap Thalia langsung bersemangat saat mengingat ucapan Rendi yang akan pulang cepat.
Thalia langsung berjalan kearah pintu dnegan bersemangat melupakan lac meja yang terbuka. Dia begitu senang kalau misalnya itu Rendi yang datang.
°°°
__ADS_1
T.B.C