
David pagi-pagi sekali sudah pulang dari Bali, dia berjalan masuk kedalam rumahnya dengan cepat bersama dengan Naya yang dia gandeng.
“David tenanglah dulu, jangan langsung emosi begini. bicarakan baik-baik dengan Thalia” lirih Naya meminta David untuk tidak langsung emosi nantinya.
“akan aku coba, kalau dia masih tidak bisa menyadari kesalahannya. Aku tidak akan bisa menahan emosiku pada bocah itu” ucap David melihat kearah istrinya tersebut.
“loh kalian sudah pulang?” ucap Nafa yang terkejut melihat anak dan juga menantunya sudah ada di rumah pagi-pagi sekali dan mereka tidak bilang kalau akan pulang ke Jakarta.
“Thalia dimana ma?” bukannya menjawab sang mama David malah menanyakan Thalia adiknya itu.
“Dia masih tidur di kamarnya, memang kenapa?” heran Nafa karena David menanyakan Thalia.
“Dia semalam pulang jam berapa? Dalam kondisi sadar atau mabuk”
“mama tidak tahu ulang jam berapa mama semalam sudah tidur. Memangnya kenapa kamu pulang-pulang menanyakan adikmu”
”Sayang, kamu masuk dulu ke kamar nanti aku menyusul mu” David menatap kearah Naya menyuruh istrinya untuk ke kamar dulu.
“Ya sudah aku ke kamar dulu, tapi ingat kamu jangan langsung emosi nantinya” ucap Naya memperingatkan David.
Sementara David hanya mengangguk saja dengan ucapan istrinya itu. Dia melihat kearah Mamanya saat ini.
“Ma, aku ke kamar dulu ya” pungkas Naya pamit meninggalkan mereka berdua.
“Iya nay, kamu pasti lelah” ucap Nafa saat sang anak menantu pamit untuk pergi ke kamar lebih dulu.
“Ayo kita bicara sambil duduk ma” ajak David pada sang Mama.
“Apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan pada Mama, David” Nafa semakin penasaran sebenarnya apa yang ingin dibicarakan putra sulungnya pada dirinya saat ini.
“Thalia semakin kurang ajar saja Ma, anak itu membuat ulah lagi” tegas David menatap sang Mama tanpa ragu.
Mata Nafa menatap terkejut putranya,
__ADS_1
“Apa? Thalia membuat masalah? Maksudmu apa David bagaimana bisa adikmu membuat masalah?”
“Ini akibatnya kita memanjakan dia selama ini terutama Papa dan juga Mama yang terlalu memanjakannya sampai membuatnya seakan tak bersalah sekarang”
“kenapa kamu jadi menyalahkan Mama dan papa, memang apa yang adikmu lakukan sehingga membuatmu marah seperti ini” ucap nafa menatap anaknya.
“Thalia beberapa hari lalu dia marah-marah dengan Naya minta uang dan Naya tidak memberikannya. Ia memaki-maki istriku ma, bukan hanya Naya dia juga dalam kondisi mabuk marah-marah pada Lita. Anak itu seperti orang yang tidak waras”
“apa? Dia begitu. Tidak mungkin David?”
“tidak mungkin darimana Ma, Fahri yang bilang padaku dan Naya juga bilang. Anak itu tidak ada perubahan sama sekali, masih kurang apa dia selama ini. semua perhatian padanya, dimanjakan fasilitas terus kurang apa lagi”David kesal sendiri dengan hal ini.
“Coba nanti mama bicara dengan Thalia, kamu jangan marah dulu padanya malah dia semakin keras nantinya. Mama saja yang bicara pelan-pelan dengannya” lirih Nafa mengusap bahu anaknya yang naik turun menahan marah.
“Aku yang tidak habis pikir, dia bilang kalau Lita merebut semua darinya. Merebut darimana coba, jelas-jelas dia mendapatkan kasih sayang dari kita lebih dari apa yang Lita dapatkan.” Ucap David membuang mukanya dengan tangan berkacak pinggang. Dia terlihat emosional seperti sekarang karena dia anak pertama laki-laki dan adik-adiknya perempuan. Tentu saja dia yang harus memperhatikan adik-adiknya.
...............................
Fahri dan Lita saat ini sedang berada di mini market, mereka membeli cemilan dan juga beberapa mie instan. Lita ingin saja saat ini makan mie instan jadi mereka memutuskan pergi ke mini market sehabis menginap semalam di hotel. Mereka sendiri telah selesai membeli semua yang mereka butuhkan dan saat ini berjalan kearah mobil dengan Fahri yang menggandeng tangan Lita. Tapi saat mereka akan ke mobil, ada sebuah suara yang memanggil Fahri membuat langkah kedua orang itu terhenti dan melihat siapa yang memanggil saat ini.
Lita langsung melihat kearah fahri, saat suaminya tersebut yang seperti mengenal perempuan itu. Jujur dalam hatinya ia bertanya-tanya siapa perempuan yang telah memanggil Fahri barusan.
“Ternyata benar kamu, aku kira salah lihat tadi” ucap Vanya sekilas melihat tangan Fahri yang menggenggam erat seorang wanita yang bisa ia tebak kalau wanita itu adalah istri Fahri.
“Ada apa apa ya Van, kamu memanggilku?” tanya Fahri pada perempuan itu.
“tidak ada apa-apa kok. Aku cuman memastikan saja kalau itu kamu” ucap vanya menatap fahri.
Fahri melihat kearah Lita yang datar melihatnya, dan Fahri beralih menatap Vanya kembali.
“Maaf ya Van, kalau tidak ada yang ingin dibicarakan. Kita permisi dulu” ucap Fahri pada vanya. Yang seketika membuat perempuan itu terdiam.
“Eh iya silahkan. Aku juga mau asuk kedalam mini market untuk membeli sereal” ucap vanya.
__ADS_1
“Kita pergi ya,” tukas Fahri dan langsung pergi meninggalkan perempuan itu sambil menggandeng tangan Lita.
Lita sedari tadi diam saja, dia menatap Fahri curiga. Sebenarnya siapa perempuan tadi, kenapa Fahri tidak sama sekali mengenalkan dirinya pada perempuan itu. Apa itu acara Fahri saat dia menghilang.
“Sayang ayo masuk, kenapa melamun” ucap Fahri saat membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Lita masih diam, tapi dia melangkah masuk kedalam mobil tanpa menjawab ucapan Fahri, soal masalah ini akan ia tanyakan nanti pada Fahri. Dia tidak mungkin terus bertanya-tanya dalam hatinya, ia ingin bertanya langsung.
“kamu kenapa kok diem aja sih dari kita keluar mini market tadi?” tanya Fahri yang sudah masuk kedalam mobil sembari memakai seat belt miliknya.
“kamu jawab jujur pertanyaan aku, aku tidak suka kebohongan” Lita berbicara dengan serius.
“Ada apa sih sayang, apa yang harus aku jawab” Fahri tampak kebingungan dnegan ucapan Lita.
“siapa perempuan tadi? pacarmu saat aku menghilang dulu?” tanya Lita langsung.
“kamu ini ngomong apa? Itu bukan pacarku. Dia hanya teman ku saja”
“kalau dia temanmu, kenapa kamu tidka mengenalkan ku padanya”
“dia sudah tahu dirimu, dia itu Vanya. Kamu dulu pernah bertemu dengannya sat di rumah kak shela”
Lita langsung terdiam, dia mencoba mengingat siapa perempuan itu dan dia ingat itu perempuan yang kakaknya Fahri ingin jodohkan dengan Fahri.
“itu perempuan yang kakakmu jodohkan denganmu?”
“iya,”
“Dia menyukaimu sepertinya, kenapa kamu tidak menikah saja dengannya waktu itu saat aku menghilang. Kan itu kesempatan baik”
“kamu ini bicara apa sih sayang, untuk apa aku menikah dengannya. Cinta ku kamu, bukan dia”
Lita kemudian hanya diam saja, dia memalingkan wajahnya membelakangi Fahri. Jujur dia merasa cemburu dengan hal tersebut.
__ADS_1
°°°
T.B.C