Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
44


__ADS_3

Rey akhirnya datang juga ke Amerika dia ingin bertemu dengan David. Melihat Rey, Lita begitu senang dia langsung menghambur ke pelukan sahabat kakaknya itu. Rey tidak canggung ataupun risih dengan Lita yang memeluknya saat ini karena memang dia sudah menganggap Lita sebagai adiknya juga.


David dan Naya yang berada disitu hanya melihatnya saja. Mereka saat ini ada di taman depan rumah.


"Kenapa kak Rey baru datang sekarang, aku kesepian tahu kak" ucap Lita melepas pelukannya menatap Rey.


"Kamu kesepian nggak ada aku, ah aku jadi baper ini" ucap Rey pada Lita sambil tersenyum.


"Ya elah Baper, masa" ucap Lita terkekeh tak percaya.


"Iya, nih mau pegang jantungku berdebar karena kamu" ucap Rey memegang tangan Lita dan akan mengarahkan ke dadanya.


Lita langsung menarik tangan itu,.


"Iya deh iya,." ucapnya.


"Gimana kabar kamu?" ucap Rey memegang lembut kepala Lita.


"Kan aku ta.."


"Sudah-sudah kalian jangan bikin kita iri, jangan mesra-mesra di depan kita" ucap David menyela perkataan Lita.


"Apaan sih kak David, siapa juga yang mesra-mesraan. Kak Rey kan sudah seperti kakak aku. Dia juga pacarnya Thalia kan?" ucap Lita. Ucapan Lita itu membuat semua orang yang ada di situ melihat kearah Lita saat ini mereka cukup terkejut mendengarnya. Lita mengetahui darimana?


"Kenapa pada melihatku begitu?" ucap Lita heran.


"Kamu tahu darimana kalau Rey pacar Thalia?" heran David menatap adiknya itu.


"Beberapa bulan lalu waktu ulang tahu perusahaan, aku tidak sengaja melihat kak Rey mencium Thalia" jelas Lita.


David langsung melihat kearah Rey dengan tatapan tajam, dia tidak habis pikir Rey berani mencium adiknya yang satu lagi.


Rey yang mendengar itu langsung mendapat menelan ludahnya.


"I..itu dulu. Aku sekarang sudah putus dengan Thalia" pungkas Rey memalingkan wajah dari David yang terus melihatnya.


"Apa? kenapa putus. Kok Lia nggak bilang sama aku" ucap Lita cukup terkejut.


"Sudahlah Thalita, kau tidak usah banyak tanya sana masuk dengan Naya. Naya ajak dia masuk kedalam." ucap David dengan nada memerintah.


"Iya aku masuk, jangan kasar-kasar kenapa kak sama mbak Naya" ucap Lita menatap kesal pada kakaknya.


"Ayo mbak," ucap Lita mengajak Naya untuk masuk kedalam meninggalkan David dan Rey yang masih berdiri berhadapan.


Setelah Lita dan Naya masuk David langsung mendekat pada Rey mencengkram kerah baju pria itu.

__ADS_1


"Beraninya kau mencium Thalia,?"ucap David.


"Aku minta maaf tapi itu dulu, aku terpaksa melakukannya agar dia tidak memutuskan ku. Tapi tetap saja dia melakukannya"ucap Rey lirih memang dulu dia begitu mencintai Thalia adik David dan juga Thalita. Walaupun Thalia anak bungsu tapi entah kenapa dia menyukainya. Tapi sayang sekarang Thalia tidak mencintainya lagi.


"Sebegitu cintanya kau pada Thalia padahal dia semena-mena padamu, dan kau ku suruh mendekati Lita tidak kau lakukan" ucap David menatap temannya.


"Mau bagaimana lagi aku tidak mencintai Thalita dan Thalita pun juga begitu. Dia mencintai suaminya" tegas Rey dan langsung berjalan duduk.


"Thalita bagaimana? dia sekarang sudah mendingan sepertinya. Dia tersenyum tadi dan tampak senang" ucap Rey menatap David.


"Ya yang seperti kau lihat, dia tampak ceria selama dua minggu ini. Aku merasa heran sekaligus khawatir"


"Khawatir? kenapa?"


"Aku khawatir kalau dia pura-pura bahagia" ucap David.


"Ada kabar apa di Indonesia?" David duduk di depan Rey menatap penasaran pria itu.


Rey melihat-lihat keadaan.


"Suami Lita berkali-kali mencoba bunuh diri" ucap Rey pelan takut kalau ada yang mendengar termasuk Lita.


"Dia mati atau tidak?" ucap David datar.


"Beritahu aku kalau dia sudah mati, kalau dia masih hidup jangan pernah bicarakan dia di depanku atau didepan Lita" tegas David begitu lugas mewanti Rey.


"Dia seperti tersiksa hidup tanpa Lita, tak ada hara.."


"Apa perduli ku, itu memang yang harus dia rasakan karena telah membuat adikku tersakiti selama ini" ucap David.


Rey yang mendengar nada penuh kebencian tersebut langsung diam. Sudahlah dia tidak perlu lagi ikut campur terlalu banyak biarkan saja hal ini berjalan bagaimana nantinya.


………………


Fahri saat ini sedang ada di club malam ia sudah menghabiskan dua gelas wisky. Jangan ditanya seberapa kuatnya minuman alkohol tersebut memberikan efek.


Fahri sudah teramat mabuk saat ini dia tertidur di meja bar. Tapi sesekali dia tersadar memanggil nama Lita dengan melantur.


"Sudah ayo kita pulang Fahri," ucap Rendi yang baru saja datang menepuk pundak Fahri.


Semenjak dari Belanda Rendi sering mengikuti kemana perginya Fahri karena pria itu terus berusaha mengakhiri hidupnya bahkan terakhir Fahri menggoreskan pisau pada pergelangan tangannya sendiri.


"Aku mau Lita, bawakan Lita padaku.." ucap Fahri khas orang yang mabuk.


Rendi mulai memapah Fahri untuk berdiri,.

__ADS_1


"Sampai kapan kau akan begini Fahri, Lita sudah tiada, lupakan Dia. Biarkan dia tenang Fahri kau begini malah membuatnya tidak tenang di sana"


"Kenapa kamu malah menghabisi dirimu sendiri seharusnya pria seperti aku ini yang kau habisi" ucap Fahri berbicara pada Rendi karena mengira yang di samping membantunya berjalan adalah Lita.


"Kau akan terus disini bersamaku kan, jangan pergi lagi. Aku tidak bisa hidup tanpamu" ucap Fahri melantur.


"Sadarlah Fahri, aku Rendi bukan Lita"


………………


Rendi membawa sebotol air dan menyerahkannya pada Fahri yang mulai sadar di dalam mobil.


"Apa tuhan begitu membenciku sampai-sampai dia tidak menerima diriku Rendi, berkali-kali aku gagal untuk menyusul Lita. Selalu saja gagal gagal dan gagal usahaku untuk bertemu Lita" Fahri memukul-mukul stir didepannya.


"Itu berarti tuhan sayang denganmu bukan membencimu. Dia menyayangi dirimu agar kau berubah menjadi lebih baik lagi memperbaiki kesalahanmu"


"Tapi aku tidak bisa hidup tanpa Lita, separuh jiwaku telah pergi"


Saat Fahri akan bicara lagi dia tiba-tiba saja langsung membekap mulutnya dan keluar dari mobil memuntahkan sisa-sisa makanan di dalam perutnya saat ini.


Seketika juga badannya terasa lemas dan kepalanya pusing. Apa ini efek alkohol yang tadi dia minum. Tapi ini juga bukan pertama kalinya dia muntah hampir dua minggu semenjak dia pulang dari Belanda


"Kau kenapa?"


"Tidak tahu, mungkin efek alkohol tadi" ucapnya lemah dan langsung terduduk di aspal jalan bersandar pada mobilnya.


Rendi hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja.


"Jam segini apa masih ada nasi goreng yang buka" Fahri menatap Rendi yang duduk disebelahnya.


"Nasi goreng? jam satu malam? aku tidak tahu. Kenapa kau menanyakannya?"


"Aku ingin makan itu sekarang" ucap Fahri lirih.


Rendi menatap seksama pada Fahri, lebih tepatnya tatapan menilisik penasaran. Dan dia menangkap sesuatu yang aneh pada Fahri.


"Kau menghamili orang?" tanya Rendi asal menebak.


Fahri seketika langsung menatap kearah temannya itu.


"Jaga mulutmu jangan asal,"


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2