
Rendi membuka cukup keras pintu ruangan Melody, dia masih berharap kalau Thalia masih berada di situ. Namun kenyataannya Thalia sudah tidak berada di tempat itu, ruangan tersebut terlihat berantakan dan juga vas bungan yang pecah berserakan di lantai. Rendi terperangah melihat hal itu,
“sayang aku minta maaf karena meninggalkanmu begitu saja” Rendi mengusap kasar wajahnya sendiri.
Dia langsung mengambil ponsel dari dalam sakunya, dia akan menghubungi sang istri menanyakan dia ada berada di mana sekarang.
“Tolong angkat Thalia, aku mohon angkat” ucap rendi saat sudah menekan nomor Thalia. Hanya nada sambung saja yang berbunyi, tidak kunjung diangkat juga oleh Thalia.
“kenapa kamu tidak mengangkat panggilanku,.” Ucap rendi menjauhkan ponsel dari telinganya.
Rendi langsung keluar dari ruangan itu sambil berusaha untuk menghubungi Thalia sekarang, dia begitu berharap sang istri mengangkat panggilannya.
Beberapa kali sudah Rendi menghubungi Thalia tetapi panggilannya sama sekali tidak di angkat oleh perempuan itu membuat dirinya kesal sendiri dan mendudukkan dirinya di kursi tunggu yang berada di depan salah satu ruangan.
“kamu dimana sih sayang, tolong angkat panggilanku” ucap rendi penuh harap saat dia mencoba kembali menghubungi Thalia.
“Rendi,.” Panggil sebuah suara dengan cukup pelan terkesan tak yakin kalau itu orang yang dia kenal.
Rendi langsung melihat mendongak melihat siapa yang berdiri didepannya.
“Kau,.” Ucap Rendi
“Sedang apa kau disini?” tanya Revan pada Rendi yang tampak frustasi.
“Kau sendiri sedang apa disini?” tanya Rendi
“Aku akan melihat Melody, kau kenapa kesini? Istrimu dimana?” tanya Revan menatap adiknya heran.
“Melody tidak ada disini” jawab Rendi.
“Apa maksudmu?” tukas Revan.
“Melody dibawa pergi oleh orang tuanya ke Inggris” jawab Rendi lirih.
“Apa? Jangan bercanda kau ren” tegas Revan dia menarik adiknya agar berdiri.
“Aku tidak bercanda tapi memang itulah yang terjadi. Dan gara-gara itu istriku pergi entah kemana?” ucap Rendi sambil menepis tangan Revan
Revan mengernyitkan dahinya tak mengerti apa hubungannya dnegan istri Rendi yang pergi entah kemana.
“Apa hubungannya dengan istrimu?” tanyanya melihat Rendi.
__ADS_1
“Aku tadi terkejut dan langsung meninggalkan Thalia di ruangan itu untuk bertanya pada pihak rumah sakit soal Melody” jelas rendi,
“Bodoh dirimu, istrimu kau tinggalkan demi tunangan mu. Dasar kau pria bodoh, hati mu masih labil atau bagaimana.” Ucap Revan tak percaya.
“Tidak usah kau maki, aku tahu diriku bodoh” tukas Rendi.
“Aku tanya padamu? Hatimu sekarang memilih siapa. Melody atau istrimu. Kalau kau memilih Melody, aku tidak akan menemui Meldoy lagi. Dan jika kamu memilih istrimu maka perjuangkan dia, dia perempuan yang mencintaimu tapi kau bodoh masih memikirkan masa lalu mu yang jelas-jelas mengkhianati dirimu”
“jelas aku memilih istriku, ambil saja Melody. Aku hanya terkejut saja tadi makanya aku langsung pergi begitu saja” pungkas rendi mantap memilih Thalia.
“Ya cepat cari istrimu dimana dia, aku akan mencari tahu di rumah sakit mana Melody di rawat sekarang” ucap Revan dan langsung pergi meninggalkan Rendi. Karena dia ingin tahu dimana Melody di rawat nantinya.
Rendi memikirkan perkataan Revan barusan, dia memang harus segera mencari istrinya. Dia akan kembali ke apartemen berharap semoga Thalia ada di sana meskipun itu sangat tidka mungkin. Karena dia tahu orang seperti Thalia itu bagaimana kalau sudah kecewa dengan orang yang dia percaya.
“Aku harap kamu ada di Apartemen kita sayang,” ucapnya penuh harap dan langsung berjalan pergi dari tempatnya saat ini.
............................
Thalia masuk kedalam kamarnya, dia melihat kamar yang hampir dua bulan tidak ia tempati lagi.
“Hai, kamar kesayangan. I’m back” ucapnya masuk kedalam kamar itu.
“perasaan pernikahan gue baru bentar, eh sudah begini. karma gue mungkin,” ucapnya santai, meskipun dia terlihat biasa saja tetapi dari sorot matanya dia tampak sedih dengan apa yang Rendi tunjukkan tadi.
“Pria buaya memang lo, gue pengen bilang benci tapi hati gue yang bodoh bilang cinta sama lo. Kesel gue” gerutu Thalia dan langsung memiringkan tubuhnya,
‘hiks, hiks. Ternyata sakit juga hati gue, kenapa gue cengeng begini” ucapnya tak terasa air matanya menetes. Thalia mengusap air matanya tersebut, dia berusaha untuk tidak lemah tapi air mata itu malah keluar sendiri sekarang.
Drrrt
Drrttt
Ponsel milik Thalia yang berada di dalam tas kecil yang dia bawa tadi bergetar membuatnya melihat sekilas kearah tasnya yang berada di sebelahnya saat ini.
“Siapa sih yang ganggu orang lagi sedih” tukasnya dengan malas mengambil ponsel tersebut dari dalam tas.
“Kenapa dia nelpon sebanyak ini, gue memang penting buat lo” sinis Thalia dan langsung membanting ponsel miliknya ke lantai.
“Bebas, lo nggak bisa ganggu gue” ucapnya melihat ponselnya yang sudah teronggok di lantai. Ponsel itu tampak tidak hancur kemungkinan hanya mati saja.
Thalia langsung merebahkan dirinya lagi di tempat tidur sambil menutupi wajahnya, dia tidak ingin diketahui orang kalau sedang menangis. Benar, dia akhirnya menangis sekarang, sebenarnya dia benci seperti ini.
__ADS_1
...........................
“Kamu dimana sih sekarang, kenapa tidak ada di apartemen juga” ucap rendi yang terduduk di tepi tempat tidur mengacak rambutnya frustasi.
“Panggilanku juga tidak di angkat olehnya” pungkas Rendi, Rendi terlihat bingung harus menghubungi siapa agar dia tahu dimana Thalia sekarang karena perempuan itu tidak mengangkatnya sama sekali.
Saat Rendi tengah kebingungan, ponsel yang dia pegang berbunyi membuatnya langsung melihat siapa yang menelpon.
“kenapa pria ini meneleponku?” heran rendi karen Rey menelpon dirinya sekarang. Dia memang menyimpan nomor mantan kekasih istrinya tersebut karena dia bisa menanyakan soal Thalia pada pria itu.
“benar, alasanku menyimpan nomor pria ini karena ingi bertanya tentang Thalia. Kebetulan dia menelpon” ucap Rendi langsung mengangkat panggilan itu
“Iya halo ada apa?” ucap Rendi terlihat enggan untuk bicara.
“kau dimana” tanya Rey dari seberang sana.
“kenapa kau tanya aku dimana?” ucap rendi tidak suka saat rey bertanya seperti itu padanya.
“Kau dan Thalia bertengkar?” tanya Rey
“kenapa kau ingin tahu urusan rumah tanggaku. Sebenarnya ada apa kau menelpon diriku sekarang” tegas Rendi yang terkesan tidak suka dengan pertanyaan Rey.
“Aku hanya ingin bertanya saja, soalnya Thalia hari ini terlihat aneh” tukas Rey memberitahu soal sikap Thalia.
“kenapa kau mengatakan seperti itu tentang istriku”
“Ya karena tadi aku memberikannya tumpangan dari rumah sakit, dan dia yang memang biasanya aneh tapi hari ini lebih aneh dari biasanya. Dia melampiaskan kemarahannya padaku dan istriku” jelas Rey.
“Kau memberi tumpangan padanya tadi? Kau antar kan kemana dia?”
“Ke rumah orang tuanya, dia tidka bilang pa..”
Rendi langsung mematikan panggilannya begitu saja saat mendengar jawaban Rey, sekarang dia tahu dimana Thalia. Dia ahrus segara ke sana menjemput istrinya itu agar pulang ke rumah mereka sekarang.
Rendi langsung berdiri dan berjalan kearah lemari untuk mengambil jaket miliknya dan memasukkan ponsel yang ada di tangannya ke dalam saku celana yang ia kenakan sekarang.
“Aku harus ke sana, aku harus menyusul Thalia” ucap Rendi dan berjalan pergi dari dalam kamarnya saat ini.
°°°
T.B.C
__ADS_1