Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 65 (Season 2)


__ADS_3

Thalia sudah pulang kerumahnya, dia pulang siang karena dia takut Rendi tiba-tiba pulang ke rumah dan melihatnya tidak ada di rumah bisa-bisa pria itu akan marah padanya karena tadi sudah mewanti-wanti dirinya untuk tidak pergi keluar rumah.


“Aduh, capek juga. orang hamil apa begini, baru jalan beberapa langkah sudah capek” ucapnya menjatuhkan diri ke sofa. Dia bersandar di sofa ruang tv sambil memegang remot untuk menyalakan televisi.


“Gue nggak bodoh kan, karena nyembuhin tunangan suami gue” ucap Thalia tampak ragu dengan apa yang telah dia lakukan.


“Nggak gue nggak bodoh, kalau misalkan Rendi pilih perempuan itu gue nggak bakal pergi dari hidup Rendi. Dia sudah milik gue” ucap Thalia begitu yakin akan dirinya bisa mempertahankan Melody.


Alasannya mengirim Melody ke Inggris tentu saja ingin perempuan itu segera sadar, dan dia ingin melihat reaksi Rendi kalau masa lalunya tersebut ada di depannya. Di tambah dia juga ingin bersaing dengan perempuan itu secara adil, rasanya lebih menantang kalau Melody, Melody itu sadar.


“tapi kenapa gue juga takut kalau Rendi ninggalin gue dan gue nggak bisa apa-apa” ucap Thalia, baru kali ini Thalia merasa gelisah memikirkan hal itu tapi ini keinginan dirinya agar dia bisa bersaing secara langsung dengan Melody.


.................................


“hari ini kita mau Razia lagi, awas ren jangan ngelamun lagi kayak sebulan lalu bisa fatal” ucap Hardi yang datang ke bangku yang berada dekat pintu masuk kantor polisi tersebut. Dia mendekati temannya itu yang duduk bersama yang lainnya sambil memasang tempat pistol di pinggangnya.


“Iya, tidak perlu mengkhawatirkan ku” tukas Rendi.


“Bukannya diriku khawatir soal dirimu, tapi soal istrimu. Kalau kau kenapa-kenapa seperti sebulan lalu bisa-bisa dia menghancurkan kantor polisi ini bukan itu saja bisa-isa kita yang di hancurkan oleh istrimu itu.” pungkas Andre merasa ngeri sendiri kalau melihat istri dari Rendi yang menurutnya cukup berani komandan mereka saja di bentak-bentak dan di marahi.


“Gila memang istrimu Rendi, berani banget dia” ucap Fardi salah satu rekan Rendi yang berada di situ.


Rendi malah tersenyum tipis mengenai aduan-aduan temannya soal sikap Thalia yang bar-bar.


“Lah malah senyum dia,” ucap Andre dan langsung membuat Rendi menunjukkan wajah seriusnya menatap kearah pria tersebut.


Seketika Andre langsung terdiam mulutnya terkunci rapat karena tatapan Rendi barusan, Hardi hanya menyenggol Andre sambil meledek pria itu yang langsung diam tak bersuara karena tatapan Rendi.


“Sudah ayo, jangan banyak bercanda. Pimpin anak buah kita,” ucap rendi memberi aba-aba. Dia langsung berdiri dari duduknya dan sesekali dia memeriksa pistol yang ada di pinggangnya.


Dia sediri saat ini tidak mengenakan seragam dinas Resmi hanya kaos yang berwarna biru navy yang tertulis Polisi di belakangnya. Begitu juga yang lainnya yang akan berdinas hari ini. mereka sendiri hari ini ada tugas dari komandan untuk melakukan penggerebekan di sebuah rumah kosong yang ada di pinggi kota. Dari laporan masyarakat disitu tempat tersebut di gunakan sebagai tempat remang-remang dan juga transaksi obat-obatan terlarang.


“Hardi, kau benar sudah memeriksanya kalau itu memang tempat mereka melakukan transaksi”


“Iya sudah, aku dan Aldo yang memeriksanya sendiri kemarin. Dan juga tadi tim gabungan sudah mengirimkan mata-mata kita ketempat itu” jawab Hardi sambil mengikuti langkah Rendi berjalan.

__ADS_1


“Oke, ayo berangkat. Tim lain sudah ada di sana kan Andre” tanya Rendi berganti pada Andre yang berjalan di sebelah kanannya.


“Siap sudah, kita tinggal datang ke sana dan mengintainya baru kita lakukan penangkapan” jawab Andre.


Rendi hanya diam dan berjalan di depan dan dua orang itu mengikuti langkah rendi yang masuk kedalam mobil berwarna hitam.


.............................


Thalia terbangun dari tidurnya di sofa, dia tidur sedari tadi di tempat itu. sedari dia pulang dari rumah sakit tadi. Dan dia melihat jam yang berada di dinding saat ini sudah menunjukan jam tiga lebih membuatnya langsung terbangun.


“Busyet, gue tidur lama banget” dia tampak kaget karena tidur cukup lama.


“perut gue laper,” ucapnya lagi dan langsung berdiri sambil memegangi perutnya yang seperti tidak diisi sedari tadi padahal sebelum pulang ke rumah tadi dia sudah makan.


“Tumben gue kelaparan, kemarin perasaan gue nggak mau makan, apa efek itu ya makanya sekarang laper banget” batinnya sambil berjalan ke arah dapur melihat makanan yang ada di dapur saat ini.


“bodoh, gue lupa kalau tadi pagi nggak masak nasi maupun sayuran. Gue kan tadi buat roti panggang” ucap Thalia memukul dahinya sendiri.


“makan apa gue sekarang,” bingungnya karena tidak ada makanan dirumahnya saat ini, dia lupa kalau sayuran dirumahnya habis dan juga tadi pagi dia tidak masak apa-apa.


Thalia yang sedang bingung mau makan apa dikejutkan oleh suara bel pintu apartemennya yang berbunyi.


“Siapa itu?” gumamnya


“Apa Rendi? Nggak mungkin, dia tadi bilangnya pulang sore” ucap Thalia sambil berjalan menuju pintu dnegan memegangi perutnya.


Dia membuka pintu apartemennya itu, dan sang mama berdiri tepat di depannya saat ini bersama dengan kakaknya David.


“mama kak David?” kaget Thalia menatap dua orang itu yang berada di depan pintu apartemen miliknya.


“Iya mama datang,” ucap Nafa dan langsung masuk begitu juga David.


“kenapa kak david juga disini, Mbak Naya siapa yang jaga, bukannya situ tidka mau meninggalkan mbak Naya sendiri. mama juga kenapa kesini bukannya bilang nggak bisa kesini karena mbak naya ada bayi” pungkas Thalia menatap aneh ke dua orang tersebut.


“kenapa? Nggak boleh kita kesini.” Tukas david dan langsung duduk di sofa Thalia, dia melihat-lihat apartemen adiknya itu yang belum pernah dia datangi sebelumnya semenjak Thalia pindah kesini.

__ADS_1


“mama kesini tuh karena Mama mikir kamu pasti di rumah sendiri, dan tadi Mama bilang sama Rendi mama mau ketemu kalian tapi Rendi bilang dia nggak di rumah dan kamu di rumah. Dia juga minta tolong sama mama buat belikan kamu makanan sama sayuran. Karena sayuran kalian habis belum sempat beli kan? Ini Mama bawakan sayuran dan makanan buat kamu” ucap Nafa menunjukkan kantung kresek besar berisi berbagai macam sayuran dan juga paper bag coklat yang di dalamnya ada box-box kecil berisi makanan yang sudah matang.


“Terimakasih,” lirih pada sang mama.


“Mama duduklah dulu sama kak David, aku buatkan minum dulu” ucap Thalia pada Mamanya.


David yang mendengar itu langsung melihat kearah Thalia, dia merasa tercengang dnegan sikap Thalia yang lebih bersahabat. Bahkan dia terlihat menghargai tamunya,


“Tidak usah repot-repot, kau duduk saja. Aku tidak haus, kalau aku haus aku bisa ambil sendiri” pungkas David pada Thalia.


“Iya kamu duduk saja Thalia, Mama saja yang buat. Kamu makanlah, belum makan dari pagi kan. Tadi Rendi bilang sama Mama” ucap Nafa meminta anaknya untuk duduk saja.


‘Nggak usah ma, suami aku ngajarin aku kala ada tamu harus ramah dan tamu disambut baik. Kalau Mama dan kak david nggak mau aku buatkan minum. Aku ambilkan saja minuman Rendi di kulkas” ucap Thalia dan langsung pergi ke dapur sambil membawa barang-barang yang dibawakan Mamanya. Dia akan mengambilkan minuman milik Rendi saja yang ada di dalam kulkas minuman sehat yang selalu diminum Rendi.


“Adik kau sudah sedikit berubah ya” lirih Nafa di sebelah David.


“Iya, suaminya ternyata mendidiknya dengan baik” ucap David sambil memprhatikan Thalia yang menurutnya lebih dewasa saat ini.


“Mama jadi makin bersyukur Thalia menikah dnegan Rendi, tidak ada yang mama khawatirkan juga soal Thalia. Karena dia dapat sami yang baik dan bertanggung jawab seperti Rendi” ucap Nafa terharu.


“Iya, dan baru kali ini aku menerima pria yang mendekati adikku, aku juga salut dengannya Ma. Rendi awal-awal menikah dnegan Thalia, aku pikir dia akan memanfaatkan Thalia saja ternyata tidak. Dia aku beri jabatan di perusahaan yang dulu di tempati Fahri dia tidak mau dan kukuh untuk menjadi seorang polisi.” Jelas David, David memang pernah menawari Rendi jabatan beberapa bulan lalu setelah menikah dnegan Thalia tapi Rendi menolak.


“Bukan itu saja yang buat Mama salut sama suami Thalia, dia diberi rumah tidak mau. Dan dia malah membeli apartemen yang besar ini dengan uang tabungannya sendiri.” ucap Nafa.


“Kalian membicarakan ku, tidak menarik membicarakan orang di belakang” tukas Thalia pada kedua orang yang tampak membicarakan sesuatu.


“nggak usah kepedean,” ucap David.


“Bodo,” sungut Thalia dan menaruh dua minuman kaleng non alkohol di depan kakak dan Mamanya.


Dia juga ikut duduk di situ bersama keduanya,


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2