Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 49 (Season 2)


__ADS_3

Rendi hari ini sudah di perbolehkan pulang, dan Thalia berusaha membantu Rendi berjalan padahal suaminya itu bisa berjalan normal. Hal itu Thalia lakukan karena banyak perawat yang kemarin terang-terangan tersenyum pada Rendi sehingga hari ini Thalia menempel terus pada suaminya agar tidak di lirik oleh orang lain.


“Aku bisa jalan sendiri, kenapa kamu membantuku?” tanya Rendi melihat sekilas kearah Thalia.


“banyak penggoda yang melirik milikku, aku tidak menyukainya” tukas Thalia sambil memapah Rendi.


Rendi tersenyum mendengar hal tersebut, baginya Thalia begitu menggemaskan saat cemburu. Padahal perempuan itu menurutnya dulu perempuan liar tapi sekarang menurutnya Thalia menggemaskan.


“Aku tidak akan berpaling darimu meskipun banyak penggoda yang menggodaku, jadi bisa lepaskan” lirih Rendi


“kamu tidak mau aku peluk seperti ini ya?” ucap Thalia menghentikan langkahnya dan melihat kearah Rendi.


“Bukan begitu tapi dirimu dan juga diriku malah susah jalannya” ucap Rendi berharap agar Thalia mengerti.


Memang mereka berdua saat ini kesusahan untuk berjalan karena Thalia begitu erat memeluknya.


“Ya sudah kalau itu mau mu,” ucap Thalia langsung melepaskan pelukannya pada rendi dan dia menjaga jarak dari sang suami.


“Sana jalan” perintahnya pada Rendi yang masih berdiri disebelahnya.


Rendi malah tersenyum simpul dan tangannya meraih pergelangan tangan Thalia,


“Tidak memeluk tetapi menggenggam, mereka juga akan tahu kalau aku milikmu dan kamu milikku. Ayo sayang kita jalan” ucap rendi menggandeng tangan Thalia, dia berucap sangat manis membuat Thalia sendiri langsung berdebar saat mendengar Rendi memanggilnya sayang.


“Kenapa diam, ayo jalan sayang” ucap rendi lagi mengajak Thalia untuk berjalan


“Ayo,” pungkas Thalia tersenyum dan berjalan disebelah Rendi sekarang, mereka berdua bergandengan sangat erat.


..........................


“Polisi tampannya sudah pulang ya, kita jadi tidak bisa cuci mata lagi sama polisi itu. bukan dia doang yang tampan teman-temannya juga. kenapa harus buru-buru pulang” tukas seorang perawat yang tengah berbicara dengan temannya yang berjalan disebelahnya saat ini.


“jangan jadi otak-otak pelakor deh, polisi itu sudah punya istri. Istrinya yang kemarin yang selalu lihatin kamu saat menggantikan perban” tegur teman si perawat.

__ADS_1


“masa sih itu istrinya,” ucap perawat itu.


“Iya itu istrinya, kemarin aja aku yang dibelakang kamu tahu dia mau mukul kamu karena pegang-pegang suaminya. Tapi karena polisi itu yang ngasih kedipan mata supaya tidak aneh-aneh sama kamu. Dia jadi diem tapi melakukan gerakan-gerakan kesal padamu” jelas teman si perawat.


“yah, gagal deh dapat jodoh polisi tampan. Padahal pengen banget punya suami kayak dia” ucapan kekecewaan begitu terasa pada perawat tersebut saat mengetahui kenyataannya.


“udah buang jauh, jauh aja. Kalau nggak bisa tuh ke teman-teman polisi itu kemari kan dijaga banget ruangannya. Dan misalnya kamu kalau masih mengharapkan polis tampan yang kamu rawat kemarin buang jauh-jauh kamu bakal kalah saing juga sama istirnya.”


“kenapa aku kan cantik juga, nggak kalah sama istrinya”


“ya jelas kalah lah, kamu nggak tahu istri dari polisi yang bernama Rendi kemarin siapa?” ucap teman si perawat.


“memang siapa, dia manusia kan makan nasi sama seperti kita”


“Kamu tahu nggak keluarga Ravero, itu anak bungsu mereka. Udah positif kalah saing modal cantik doang nggak jamin sis. Udah ah, ngga usah banyak mengkhayal. Kita kerja yok, kena marah dokter bisa-bisa” tukas teman perawat itu dan langsung mengajaknya untuk cepat berjalan.


Revan yang sedari tadi duduk di depan ruangan melody mendengar ucapan tersebut, dia baru saja tidak salah dengarkan kalau adiknya dirawat disini kemarin.


‘kenapa Rendi dirawat disini? Dan kenapa dia diperban. Aku harus cari tahu kenapa dia bisa dirawat disini” ucap Revan langsung berdiri dan dia melihat sekilas kearah ruangan Melody dimana kedua orang tua Melody yang setia menunggu anak mereka bangun dari tidur panjangnya.


........................


Rendi duduk disebelah Thalia yangs edang mengemudikan mobi, hari ini terpaksa Thalia yang menyetir mobil karena tidak mungkin rendi yang menyetirnya karena bahu sebelah kiri pria itu masih ter perban.


Mobil yang dikemudikan Thalia sendiri saat ini sudah terparkir di basmen apartemen mereka. Rendi sedari tadi melihat kearah Thalia yang akan melepaskan seat belt dan kini beralih melihat kearahnya.


“kenapa melihatku begitu? Ayo turun. Kamu perlu bantuan ku?” ucap Thalia dan langsung melepaskan seat belt milik Rendi.


“terimakasih, dan aku minta maaf harus membuatmu menyetiri diriku” ucap rendi pada Thalia.


“Tidak apa-apa, aku tidak keberatan. Bukannya seorang istri harus berbakti pada suami, dan selalu ada dikala suaminya sedang kesusahan” tukas Thalia.


“Kata-kata bijak darimana itu, kau dapatkan dari siapa?” heran Rendi dia cukup terkejut Thalia bisa berkata seperti itu. tahu sendiri Thalia seperti apa kalau bicara,.

__ADS_1


“Lita yang memberitahuku, dan menceramahi diriku”


“kakakmu memang luar biasa, kamu harus mencontohnya. Dia membuatku kagum saja” pungkas Rendi.


“Kamu mau jadi pebinor di rumah tangga Fahri, puji saja dia terus. Mau turun atau tidak” ekspresi wajah Thalia langsung berubah kesal saat Rendi bilang kagum dnegan Lita barusan.


“jangan cemburu,” ucap rendi memperhatikan sang istri yang cemberut serta memalingkan wajahnya.


“Ayo turun” ajak Thalia pada Rendi.


“bantu aku,” lirih Rendi, dia memasang wajah memelas.


Thalia langsung turun dari dalam mobilnya, dia langsung memutari mobi untuk membantu rendi turun. Segera saja dia membuka pintu mobil itu dan langsung memapah rendi turun dari dalam mobil.


“Udah ayo jalan, aku sudah membantumu kan” tukas Thalia


“Jangan ngambek dong sayang, aku cuman kagum dengan Lita. Dan aku cuman cinta sama kagum” ucap Rendi menggombal. Tidak seperti Rendi yang biasanya, dia saat ini berkata cukup manis dan menggoda sang istri.


Thalia sendiri yang mendengar itu terperangah, Rendi yang biasanya bicara “kaku saat ini bicara manis dengannya.


“Kulkas mu rusak ya?” tanya Thalia menatap heran Rendi.


Rendi sendiri tampak bingung dengan pertanyaan Thalia barusan.


“Kulkas? Kulkas apa sayang? Kulkas di apartemen?” bingung Rendi.


“Kulkas ditubuh mu, kulkas dua pintu yang membuatmu beku saat bicara. Sudah rusak ya makanya sekarang ngomongnya cair baik air”


“Aneh kamu sayang,. Tapi tidak apa-apa. Aku sudah mencintaimu dan aku menerima setiap hal yang ada dalam dirimu” ucap Rendi dengan begitu manisnya dan juga dia mencium pipi Thalia.


“Ayo ah masuk ke rumah, kamu kayaknya harus istirahat. Pengaruh obat ya makanya kau begini” ucap Thalia sambil menuntun Rendi berjalan kearah lift yang berada di basemen tersebut.


Rendi sendiri hanya tersenyum simpul setiap mendengar ucapan-ucapan Thalia yang menurutnya lucu dan begitu polosnya.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2