
Rendi bangun dari tidurnya, dia langsung melihat ke sebelahnya saat ini tak ia temukan Thalia disebelahnya membuat dia langsung terduduk.
“Dimana dia?” ucapnya sambil melihat jam yang hampir menunjukkan jam enam sore. Dia tadi tidur siang bersama dengan istrinya tetapi sekarang sang istri malah tidak berada disampingnya.
“Kemana Thalia apa dia pergi dengan teman-temannya, atau malau dia bersembunyi dariku” batin Rendi langsung turun dari tempat tidurnya. Dia saat ini berada di rumah mertuanya tetapi sang mertua tadi siang tidak di rumah.
Baru saja Rendi akan membuka pintu kamar, pintu tersebut sudah di ketuk terlebih dahulu oleh seseorang dari luar.
“Iya,” jawab Rendi membuka pintu kamar Thalia itu dan dia cukup terkejut saat melihat ibu mertuanya berdiri didepan kamarnya sambil tersenyum ramah pada dirinya.
“maaf ya Ren mama ganggu kamu, Mama cuman mau bangunin kamu buat makan malam. Habisnya Thalia nggak mau buat bangunin kamu. aneh itu aneh suruh bangunin suaminya nggak mau” pungkas Nafa menjelaskannya pada sang menantu alasannya di situ.
“Iya mbak, nggak pa-pa. Aku juga sudah bangun kok. Thalia dimana ya ma?” tanya Rendi menanyakan keberadaan istrinya tersebut.
“Dia di bawah, ayo kita kebawah. Papa juga sudah nunggu kamu di bawah, kita makan malam bersama” ucap Nafa.
“Iya ma,” Rendi langsung berjalan keluar dan menutup pintu kamarnya mengikuti sang mertua berjalan menuju ke ruang makan yang berada di lantai bawah.
..........................
Thalia sedang duduk berdua dengan sang Papa di meja makan sambil menunggu Rendi dan juga Mamanya yang masih di atas.
David dan istrinya sendiri hari ini memang tidak ada di rumah mereka sedang pergi berlibur melakukan baby moon karena sebentar lagi Naya akan melahirkan jadi mereka harus liburan dulu sebelum anak mereka lahir.
“Kamu sudah menjadi seorang istri bukan anak kecil lagi Thalia, seharusnya kamu yang bangunkan suami kamu terus di ajak turun makan bersama kita bukan Mama kamu yang melakukannya” ucap Aryo menasehati sang anak.
“Papa cemburu Mama kepincut brondong?” tanya Thalia menatap sang Papa.
“Kamu ini ngomong apa sih, nggak jelas kamu ini.” sentak Aryo dengan pertanyaan anaknya yang konyol.
“Siapa tahu cemburu,”
“Kamu ini memang aneh, Papa bahas apa kamu bahas apa. Thalia, Thalia” ucap Aryo tak habis pikir dengan sang putri.
Thalia sendiri hanya cuek saja, dia malah memakan apel dengan santai. Tidak terlalu menggubris ucapan sang papa
Tak lama kemudian Nafa dan juga Rendi sampai di meja makan. Rendi langsung duduk disebelah Thalia dan Nafa di depan Thalia saat ini.
“kenapa nggak bangun aku tadi?” bisik Rendi di telinga sang istri.
“males” jawab Thalia singkat,
Rendi hanya bisa meneguk ludahnya dan dia akan bicara lagi tetapi Papa mertuanya sudah menyelanya lebih dulu.
“Kalian kesini tadi jam berapa? Kok Papa sama Mama pulang sudah ada mobil kamu di depan?” tanya Aryo pada sang menantu.
__ADS_1
Dia melihat sekilas kearah Thalia dan baru melihat kearah mertuanya.
“tadi siang pa” jawab Rendi.
“Oh,”
“Kalian tidur disini saja ya malam ini. rumah sepi soalnya David sama Naya sedang pergi?” pinta Aryo pada kedua orang itu.
“Nggak Pa, yang menginap disini hanya aku saja dia ada tugas malam dari kantornya” ucap Thalia lebih dulu sebelum Rendi menjawab.
Seketika Rendi langsung melihat kearah Thalia,
“Kamu ngomong apa sih, aku masih cuti” lirih Rendi agar tidak di dengar kedua mertuanya.
“Iya Ren, kamu malam ini dinas” tanya sang ibu mertua.
“Nggak kok Ma Pa, hari ini aku cuti. Dua hari lagi berangkat dinas” elak Rendi.
“Kamu bagaimana sih Thalia jadwal kerja suaminya nggak tahu” omel sang Mama.
“Udah ah ayo makan. Kenapa sekarang di meja makan boleh ngomong begini, ini kalau David di rumah sudah ngomel itu orang. Ayo buruan makan” pungkas Thalia dan langsung menyendok lauk dan juga sayuran kedalam piringnya. Tetapi saat piringnya sudah penuh dengan makanan Rendi langsung menarik ke arahnya.
“Untukku, seharusnya istri mengambilkan untuk suaminya” ucap Rendi.
Thalia hanya menatap kesal Rendi, dia tidak mungkin bicara ngegas dengan pria itu didepan orang tuanya. Bisa-bisa dia sendiri yang kena amuk oleh keduanya.
Aryo dan Nafa hanya senyum-senyum melihat sepasang suami istri di depannya. Mereka berharap putri manja mereka bahagia dengan suaminya.
............................
“Kenapa malam-malam di pinggir kolam renang, nanti sakit?” ucap Rendi yang mengambil selimut kecil yang terletak di bangku pinggir kolam renang tersebut. Dia baru saja berbicara dengan mertuanya baru di kesini setelah tidak mendapati istrinya di dalam kamar.
Rendi menyelimuti Thalia dari belakang dengan selimut tersebut, Thalia sendiri hanya diam dan masih menatap kedepannya tanpa melihat kearah Rendi.
“kamu sampai kapan mau marah denganku, aku minta maaf soal tadi pagi” ucap Rendi yang sudah berdiri disebelah Thalia.
“Sayang jawab aku, aku minta maaf. Harus dengan cara apa aku buktiin ke kamu kalau aku menyesal soal tadi pagi dan soal cinta ku ke kamu. aku jarang jadi orang terus-terusan bilang cinta begini dengan orang kecuali kamu” ucap Rendi menghadapkan Thalia agar menatap ke arahnya.
“Apa sih, minggir sana. Aku mau disini, jangan ganggu aku” ucap Thalia dan akan memalingkan wajahnya dari Rendi.
“Oke, kamu perlu bukti apa kalau memang nggak cinta sama Melody tapi cinta sama kamu” ucap rendi berusaha meyakinkan Thalia.
“Blokir semua tentang Melody di hp kamu. dan buang apapun tentang Melody di depanku baru aku percaya” tegas Thalia menatap serius Rendi.
Rendi terdiam sejenak memperhatikan keseriusan ucapan Thalia.
__ADS_1
“Oke itu mau kamu kan, aku lakukan supaya kamu percaya. Lihat,” ucap Rendi mengambil ponsel miliknya dari dalam saku.
“Ini nomor Melody, aku blokir. Dan lihat aku hapus nomornya”
“Lihat lagi, ini nomor Papanya” ucap Rendi lagi dan dia melakukan seperti apa yang dia lakukan pada nomor Melody.
Thalia melihat keseriusan Rendi, tetapi dia hanya diam tak bersuara.
“Apa lagi, kamu masih tidak percaya. Oke, lihat.” Ucap rendi langsung membuang ponsel miliknya kedalam kolam Renang.
“Puas, Percaya sama suamimu. Kalau aku sudah tidak mencintai Melody semua komunikasi ku dnegan keluarganya sudah aku putus.” Ucap Rendi
Thalia melebarkan matanya saat Rendi membuang ponsel tersebut kedalam kolam renang, dia tidak menyangka Rendi akan melakukannya sampai seperti itu.
“Apa lagi sayang yang belum membuatmu percaya?” ucap rendi kembali memegang bahu Thalia dan menghadapkan padanya lagi.
“Kenapa kamu malah membuang ponselmu, seharusnya tidak perlu sampai sebegitu nya. Nanti kau menyesal sendiri” ucap Thalia memalingkan wajahnya.
“Tidak akan pernah aku menyesal melakukan seperti itu, aku akan menyesal kalau kamu meninggalkanku” ucap rendi dnegan sangat serius.
Thalia langsung menatap Rendi,
“Serius, kamu menyesal kalau pergi dari mu. Baru saja aku akan melakukan itu seharusnya, aku lakukan saja agar kau menyesal. Aku ingin lihat se frustasi apa dirimu kalau aku tidak ada. Apakah akan sama seperti kau frustasi saat melody menghilang” ucapnya menatap Rendi.
“Jangan bicara seperti itu, tidak akan aku biarkan kamu pergi dariku. Aku akan lebih gila kalau kamu pergi” ucap rendi.
“Tolong percayalah denganku Thalia, aku benar-benar sudah tidak mencintai Melody. Aku mencintaimu, kamu pikir saja kalau aku mencintai Melody. Buat apa aku sekarang ada disini dan malah revan yang pergi ke Inggris.” Ucap Rendi setengah frustasi karena Thalia tak kunjung mempercayai dirinya.
“Ya sudah tidak usah di bahas lagi, aku mau ke kamar. Aku ngantuk” ucap Thalia enteng, dan itu malah membuat Rendi merasa bingung saat ini. Thalia berkata ringan begitu tandanya sudah memaafkan dirinya atau apa. Jujur dia tidak mengerti dengan sikap istrinya sekarang.
“Ya sudah ayok, tapi kamu sudah memaafkan ku kan?” tanya Rendi memastikan soal Thalia sudah memaafkan dirinya atau belum.
“Gendong aku ke kamar, aku ngantuk” ucap Thalia mengabaikan pertanyaan Rendi. Dia malah mengulurkan tangannya pada sang suami.
“Apa?”
‘Telingamu di mana sih, aku bilang gendong” ketus Thalia.
Rendi yang bingung hanya menuruti saja, dia langsung berjongkok didepan sang istri.
“Ayo naik,malam ini kita tidur disini. Tapi bisa kita pulang ke rumah kita ya?” lirih Rendi sambil menggendong sang istri.
“lihat besok” pungkas Thalia di gendongan Rendi.
Rendi hanya bisa menghela nafasnya saja, dia benar-benar bingung harus bicara apalagi dengan Thalia agar perempuan itu percaya. Rendi langsung berjalan masuk kedalam rumah sambil menggendong Thalia saat ini. jika memang Thalia masih marah besok dia harus berjuang lagi untuk mengembalikan kepercayaan sang istri padanya.
__ADS_1
°°°
T.B.C