Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 60 (Season 2)


__ADS_3

“Ayo kita pulang ke apartemen” ajak Rendi pada Thalia yang sedang duduk di tempat tidur sambil memegangi kepalanya.


Rendi sendiri baru saja naik ke kamar mereka setelah lari pagi bersama dengan ayah mertuanya.


“Nggak mau, aku disini saja” tolak Thalia, perlahan berdiri dari duduknya dengan lemah.


“kenapa tidak mau? Itu apartemen kita. Kamu masa masih marah denganku” pungkas rendi berjalan mendekati Thalia yang akan membuka lemari. Tetapi entah kenapa dia terasa ingin limbung ke belakang. Rendi yang menyadari hal tersebut langsung berlari mendekati sang istri.


“kamu kenapa? Kamu sakit?” tanya Rendi saat dia menangkap tubuh Thalia, dan dia langsung menuntun pelan istrinya itu ke tempat tidur.


‘Nggak tahu, pusing kepalaku. Makanya kamu jangan banyak bicara” ucap Thalia setengah kesal.


“Sudah, kamu berbaring lagi” pungkas Rendi membaringkan istrinya di tempat tidur.


“Sejak kapan kamu pusing? Barusan atau bagaimana” tanya Rendi sambil duduk di tepi tempat tidur tepat di sebelah istrinya.


“Barusan habis bangun tidur ini,” jawab Thalia tampak lemah. Dia tiba-tiba saja memeluk perut Rendi.


Rendi sendiri hanya diam, dia mengusap bahu sang istri dan juga memijat pelan kepala istrinya tersebut.


“Mau aku ambilkan sesuatu?” tanya Rendi pada istrinya.


“hangat,.” Gumam Thalia sambil memeluk Rendi.


“Hah,.” Ucap Rendi karena tidak jelas ucapan Thalia barusan.


“memelukmu ternyata begitu hangat” ucap Thalia.


“Ayo pulang ke apartemen, nanti aku akan memelukmu lebih hangat. Kasihan rumah kita tidak ditinggali. Kamu mau pulang ya, aku sudah minta maafkan sama kamu semalam. Aku jga sudah melakukan apa yang kamu suruh. Bukan itu saja aku sudah melempar ponselku ke kolam renang” ucap rendi dnegan cukup panjang berusaha membujuk Thalia agar pulang.


“kamu sekarang bicaranya panjang sekali, tidak seperti dulu yang seperti robot” ucap Thalia sambil mendongakkan kepalanya melihat sang suami.


“mau ya pulang,” rendi mengabaikan ucapan itu. dia memelas mengajak Thalia untuk pulang.


“Ya, tapi gendong aku sampai bawah” ucap Thalia manja.


“Kamu kan bisa jalan, kenapa minta gendong sayang” ucap rendi.


“kenapa keberatan ya udah, aku nggak ma..”


“Oke gendong, ayo” ucap Rendi langsung berdiri.


“Aku belum mandi, aku mau mandi dulu” ucap Thalia pada Rendi.


“Nggak usah mandi, mandi di apartemen saja. Ayo buruan aku gendong” ucap Rendi berusaha untuk bersabar dalam menghadapi sang istri.


‘Kamu memang pria nyebelin” ucap Thalia.


“Kamu pusing beneran atau cuman bohong sih sayang,” ucap Rendi curiga.


“tadi aku pusing tapi sekarang nggak. Kamu nggak percaya sama aku” ucap Thalia saat berada di gendongan Rendi.


“Bukannya begitu, ya udah nggak usah dibahas. Aku tidak masalah kamu mau bohongi aku atau bagaimana. Yang penting kamu mau pulang aku senang” ucap rendi pasrah saja jika memang sang istri membohongi dirinya.


Rendi berjalan keluar kamar sambil menggendong Thalia di punggungnya, dia tidak masalah menggendong istrinya saat ini


...........................


Mereka berdua sudah berada di dalam mobil dan saat ini mobil sudah melaju di jalanan. Mereka akan kembali ke apartemen mereka saat ini.


“Berhenti-berhenti.” Ucap Thalia sambil menutup mulutnya.


“kenapa aku harus berhenti,” ucap rendi yang belum menghentikan mobilnya dia masih melihat sang istri dengan heran.

__ADS_1


“Aku bilang berhenti. Cepetan pinggirin mobilnya” ucap Thalia memaksa agar mobil yang dikemudikan Rendi berhenti.


Rendi langsung melihat ke spion memastikan tidak ada mobil yang dekat dengan mobil. Dia langsung menghentikan mobil miliknya itu di pinggir jalan.


Saat mobil sudah berhenti Thalia buru-buru membuka pintu mobilnya dan dia langsung keluar dari dalam mobil.


Thalia memuntahkan semua makanan yang ada di dalam perutnya saat ini, melihat itu Rendi langsung berjalan keluar dari dalam mobil menghampiri sang istri.


“kamu kenapa?” tanya Rendi saat sudah berada di samping Thalia sekarang.


“kamu tidak lihat sedang apa?” ketus Thalia sekilas melihat Rendi yang menatapnya cemas.


Thalia kembali memuntahkan sesuatu tetapi kali ini bukan sisa-sisa makanan tetapi hanya berupa lendir saja.


Rendi dengan cekatan langsung memijat leher Thalia supaya lebih enakan.


“kamu makan apa tadi? Kenapa muntah-muntah begini” pungkas Rendi khawatir.


“Aku tidak makan apa-apa” jawab Thalia lirih.


“Sudah aku tidak apa-apa, ayo pulang” ucap Thalia dan langsung berjalan pergi masuk kedalam mobil.


Rendi merasa cemas dengan istrinya, dia langsung menyusul Thalia yang sudah masuk kembali ke dalam mobil.


“Ke rumah sakit ya?” ajak Rendi pada istrinya.


“Nggak perlu, aku tidak sakit” tukas Thalia.


“Kata siapa kamu tidak sakit, barusan apa kalau kamu tidak sakit” ucap Rendi


“Aku bilang aku tidak apa-apa, sudahlah ayo pulang. Kepala ku pusing. Aku mau tidur” rengek Thalia pada Rendi.


Rendi merasa tak percaya kalau Thalia tidak apa-apa, kalau dia tidak apa-apa kenapa muntah-muntah.


“kenapa belum jalan, buruan” ucap Thalia saat Rendi tidak kunjung menjalankan mobil miliknya.


...............................................


Thalia sudah di baringkan Rendi di tempat tidur, karena sedari tadi perempuan itu bilang badannya lemas. Rendi masih berada di dapur untuk mengambilkan air hangat untuk Thalia karena sedari tadi Thalia terus muntah bahkan saat disuapi nasi dia malah memuntahkannya kembali.


Rendi pikir Thalia tadi hanya tidak enak badan karena belum sarapan tapi saat dia suruh makan dan dia suap Thalia malah muntah-muntah. Sangking lemahnya Thalia sampai tidak marah-marah dengannya tadi.


Drttt.


Drttt


Ponsel yang berada di nakas meja sebelah Thalia berdering membuat Thalia yang tadi hanya membaringkan tubuhnya perlahan mulai duduk dan mengambil ponsel tersebut.


“kenapa ini orang nelpon?” kesalnya karena dia sedang tidak dalam kondisi baik sekarang.


“Apa kakakku yang cantik?” ketus Thalia saat sudah menjawab panggilan itu.


“Kamu sedang apa sekarang, jalan berempat yuk” ajak Lita dari seberang sana.


“Males, aku tidak enak badan sekarang” jawab Thalia.


“Tidak enak badan kenapa? Kamu sakit?” terdengar rasa cemas dalam pertanyaan Lita.


“ya mana aku tahu, sudah dulu ya.” Ucap Thalia akan mematikan panggilannya.


“Tunggu, tunggu, jangan-jangan kamu hamil. Kamu muntah-muntah tidak?” tanya Lita pada Thalia.


“jangan asal deh lo, mana mungkin” ucap Thalia.

__ADS_1


“Ya mungkinlah, kamu sudah menikahkan. Dan melakukan hubungan suami istri ya jelas hamil lah” ucap Lita.


“Jangan asal, gue belum mau punya anak dari pria yang masih labil” tukas Thalia mengelak nya dengan keras.


“Kau sedang bicara dengan siapa? Kenapa membawa-bawa anak dalam pembicaraan kalian” ucap Rendi yang baru saja masuk kedalam kamar sambil membawa segelas air hangat di tangannya. Dia menatap curiga Thalia yang langsung diam,


“Nanti aku telpon lagi” ucap Thalia sebelum menutup panggilannya.


“Aku tanya padamu, kau bicara dengan siapa?” tanya Rendi lebih lirih lagi dia berdiri di depan sang istri menatap curiga.


“Dengan Lita” jawab Thalia singkat.


“Lalu kenapa membawa-bawa soal anak, dia bilang apa memang?” tanya Rendi lagi seperti tidak mempercayai perkataan Thalia.


“Nggak usah dibahas mana airnya, perutku mual lagi” ucap Thalia langsung mengambil gelasnya begitu saja.


“Augh panas,” rintih nya kesakitan.


“Kamu aneh sih, ini masih panas” ucap Rendi langsung menaruh gelas itu di nakas meja dan di duduk di pinggir tempat tidur sambil memegang tangan Thalia sambil meniup jari sang istri.


Thalia memperhatikan Rendi terus, dia juga sesekali memikirkan perkataan Lita tadi yang bilang kalau kemungkinan dia hamil sekarang.


“Kalau aku hamil, kamu bagaimana?” tanya Thalia sambil melihat Rendi yang sedang meniup jarinya dan pria itu langsung mendongak melihat sang istri.


“bagaimana apanya? Ya aku senanglah kalau kamu hamil” ucap Rendi pada Thalia.


“serius kamu senang kalau aku hamil, tidak kecewa” lirih Thalia.


“Astaga, kamu ini ngomong apa sih. Mana ada suami kecewa sama istrinya yang hamil” ucap Rendi mulai jengah sendiri dengan keraguan Thalia padanya.


“Ya kan kamu cinta sama Melody, nanti kalau aku hamil kamu tinggalkan begitu saja. Aku yang rugi tidak bisa cari yang lain karena hamil anakmu”


Rendi langsung melepaskan tangan Thalia, dia berdiri menatap sang istri kecewa,


“Aku capek, kamu bilang Melody, Melody terus dari kemarin. Berapa kali aku bilang, aku tidak mencintai Melody lagi. Dan kenapa juga aku meninggalkanmu, tapi terserah lah pikiran begitu. Aku capek” kesal Rendi dan berjalan pergi meninggalkan Thalia.


“Ya udah, kalau kamu capek sama aku. ya udah, hikss, hikss” tiba-tiba saja Thalia menangis terisak membuat Rendi yang sudah beberapa langkah untuk keluar dari kamar langsung berhenti karena melihat Thalia yang tiba-tiba menangis.


Rendi terkejut melihat Thalia menangis terisak begitu, Thalia selama ini tidak pernah menangis di depannya. Tapi sekarang perempuan itu menangis.


Terpaksa Rendi yang tadinya kesal langsung kembali menghampiri istrinya tersebut, dia duduk lagi di tempatnya tadi.


“kenapa menangis?” lirih Rendi sambil mengusap air mata Thalia.


Tapi Thalia menepis tangannya dan diam sambil menangis, membuat Rendi merasa sedih sendiri melihat perempuan yang biasanya kuat saat ini menangis.


Rendi langsung menarik Thalia kedalam pelukannya, dia mengusap punggung istrinya tersebut.


“kenapa kamu nangis, kalau soal ucapan ku tadi aku minta maaf. Makanya jangan mulai kalau tidak ingin aku habis kesabaran. Tolong percaya padaku, aku mencintaimu bukan mencintai Melody. Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu nanti” liih Rendi sambil mengusap punggung istrinya dan dia mencium pucuk kepala sang istri.


“Aku pegang janjimu” ucap Thalia dalam pelukan Rendi.


“Iya pegang saja ucapan ku”


“Aku sepertinya hamil”


“Apa?” Rendi langsung merenggangkan pelukannya dan menatap wajah istinya dengan berbinar.


“kau serius,” ucapnya sambil tersenyum berbinar.


“Aku juga tidak tahu, cuman kata Lita saja.” Lirih Thalia.


“Ya sudah nanti kalau enakkan, kita cek ke dokter” ucap rendi dan langsung memeluk Thalia dengan gembira. Akhirnya yang selama ini dia nanti sebentar lagi akan hadir di tengah-tengah mereka. Semoga saja itu sebuah kebenaran kalau istrinya tersebut tengah mengandung anaknya.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2