
“Ren, Mama mohon Ren lepasin Mama Ren mama mohon” ucap Mama Rendi, dia saat ini berada di dalam sel tahanan sedangkan Rendi berada di luar menatap mamanya itu yang terus-terusan merengek minta di bebeskan.
“Untuk apa aku melepaskan pembunuh seperti mu?” sinis Rendi menatap mamanya dingin.
“Apa maksudmu, mama bukan pembunuh. Lepasin Mama ren,” tukas Monariya pada anaknya.
“Kau bilang bukan pembunuh, lalu apa yang kau lakukan pada istriku? Kau melakukan hal itu masih pantaskah disebut mama. Perempuan macam apa dirimu sehingga layak disebut Mama. Dan sejak kapan aku menjadi anakmu? Ciih rasanya tidak sudi aku lahir dari dirimu” sinis Rendi penuh kebencian dalam matanya.
“Ka..kau bilang Mama pembunuh a..apa istrimu tidak selamat” ucap Mama Rendi terbata merasa takut sendiri dengan itu, jika memang benar begitu bisa-bisa dia tidak bisa bebas dari dalam penjara.
“Jaga mulutmu, istriku baik-baik saja tapi anakku, cucumu yang kau bunuh mengerti!!”
“Kenapa kau selalu menyusahkan anakmu saja hah, rasanya kepalaku pusing memiliki Ibu seperti mu. Orang tua yang tak tau malu, ya dirimu seorang. Mendekam lah di penjara selamanya ma, jangan pernah ganggu keluargaku ataupun Revan. Kau bukan Mama yang layak untuk kami. Sesali semua penderitaan mu disini” tukas Rendi dan akan meninggalkan Mamanya tapi tangannya sudah di tahan oleh Mamanya.
“Ren, Mama mohon ren, Mama mohon bebaskan mama. Mama minta maaf atas perbuatan Mama. Mama mohon keluarkan mama dari sini. Mama tidak bisa tidur disini ren”
“Mama pikir dnegan minta maaf anakku bisa kembali,” Rendi menghempaskan tangan sang Mama dan memberikan tatapan penuh kemarahan pada perempuan yang melahirkannya dulu.
Dia begitu marah saat ini saat mengingat anaknya yang sudah tiada, wajah mungil anaknya yang pucat terbayang jelas di kepalanya dan kesedihan Thalia juga terbayang di kepalanya saat ini.
“Iya mama tahu Mama tidak bisa mengembalikan semuanya tapi mohon Mama minta maaf, bebaskan Mama dari sini ren. mama janji Mama tidak akan mengganggumu ataupun Revan”
“ucapan Mama saat ini tidak mempan untuk ku, dan aku tidak akan membebaskan Mama sampai kapanpun. Biar hukum yang berbicara, kau sewa lah pengacara hebat minta suami tercintamu itu membebaskan dirimu dari sini. Aku tidka peduli dengan keadaanmu sekarang”
Rendi memasukkan tangannya ke saku celana dan langsung pergi meninggalkan Mamanya yang berteriak-teriak minta di bebaskan, Rendi tak perduli dnegan hal itu dia langsung pergi begitu saja setelah mengangguk pada rekannya yang berada disitu.
................................................
Rendi baru saja pulang dari kantor polisi dia langsung menemui istrinya yang masih dirawat di rumah sakit, dia membuka pintu ruangan itu dan saat ini dikamar rawat itu ada Lita dan juga Fahri yang berusaha membujuk Thalia untuk makan.
“Kau sudah pulang ren?” tanya Fahri saat melihat Rendi masuk kedalam ruangan.
__ADS_1
“Kenapa dengan Thalia?” tanya Rendi balik sambil melihat kearah istrinya yang diam tak membuka mulutnya saat Lita ingin menyuapinya.
“Thalia ayo makan, kamu dari tadi belum makan, jangan begini bisa” ucap Lita berusaha membujuk Thalia agar makan walaupun hanya sesendok.
“Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak mau” tukas Thalia menatap tak senang pada Lita.
“Samapi kapan kau akan begini, aku bosan denganmu yang seperti ini” tegas Lita yang mulai habis kesabaran, dia berdiri menatap adiknya.
“Makan Thalia, lihat suami sudah pulang, sedangkan kau belum makan” ucap Lita sambil menyodorkan sendok kearah Thalia.
“Sudah aku bilang aku tidak mau” Thalia malah marah dan menepis mangkuk bubur dari tangan Lita membuat mangkuk itu terjatuh kelantai.
“terserah dirimu lah, aku sebagai kakak yang perduli denganmu tapi dirimu malah seperti ini. kau memang egois dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Anakmu yang satunya membutuhkanmu, kau bodoh tidak memikirkan satu anakmu yang masih hidup” tukas Lita dan langsung pergi kearah sofa mengabaikan Thalia yang meneteskan air matanya dan membaringkan tubuhnya memalingkan dirinya membelakangi semuanya.
Rendi dan Fahri yang berada disitu sedikit terkejut dengan apa yang di lakukan Thalia barusan tapi mereka hanya diam, dan Rendi langsung berjalan menghampiri sang istri. Begitu juga Fahri yang menghampiri Lita yang tengah kesal dengan apa yang dilakukan Thalia.
“kau kenapa seperti ini, Lita bermaksud baik padamu” ucap Rendi yang berdiri didepan Thalia yang masih berbaring.
“Sayang jangan ikut campur, biarkan mereka bicara. Kita keluar dulu saja” ucap Rendi dan mengajak istrinya untuk pergi meninggalkan ruangan Thalia.
“Ren, kita keluar dulu” ucap Fahri pada Rendi yang hanay mengangguk melihat mereka sekilas.
Rendi lalu berbalik melihat istrinya setelah Fahri dan Lita keluar.
“kamu kenapa begini? jangan diem aja jawab kalau aku ngomong” tegas Rendi menunduk melihat istrinya yang diam tak bersuara.
“Thalia, kau dengarkan” bentaknya pada sang istri.
Thalia diam, tapi dia langsung duduk dan melihat Rendi sambil menangis, kemudian dia langsung memeluk suaminya yang masih berdiri didepannya saat ini.
“A..aku aku nggak nafsu makan. A..aku juga nggak tahu kenapa hatiku sakit sekali saat ingat lagi soal anak kita. Kenapa..kenapa satu anak kita pergi..” tangis Thalia pecah sambil memeluk sang suami.
__ADS_1
Rendi yang masih sedih hanya diam dan mengusap bahu istrinya yang naik turun tangisnya begitu menyayat hati.
............................................
Sudah seminggu lebih akhirnya Thalia pulang ke rumah saat ini, dia berjalan dengan di pegangi Rendi disebelahnya sedangkan anaknya di gendong sang Mama masuk kedalam rumahnya.
“Kamu beneran kan nggak bakal kerja hari ini?” tanya Thalia melihat kearah suaminya yang ada disebelahnya saat ini.
“Nggak aku ambil cuti,” jawab Rendi.
“Aku minta maaf sama kamu” ucap Thalia tiba-tiba.
“Minta maaf apa?” heran Rendi saat istrinya mengatakan maaf padanya.
Thalia menghentikan langkahnya dan menatap Rendi.
“Aku minta maaf karena buat kamu sedih karena keegoisan aku beberapa hari ini, aku juga mau minta maaf karena buat kamu capek sampai nggak sadarkan diri” lirih Thalia menunduk sedih, dia mendengar kalau Rendi saat dia baru sadar pria itu ijin pergi tapi ternyata saat keluar Rendi tidak sadarkan diri karena pria itu terluka di lengannya dan tak kunjung di tangani.
“Kau tahu darimana?”
“Dari pembicaraan kak David dan mbak Naya”
“sudah nggak usah dipikirkan, aku tidak apa-apa kan sekarang. Aku tidak mau kau sedih lagi, jangan pikirkan kebelakang kita pikirkan ke depan dan mengurus anak kita dengan baik”
“Mau diberi nama siapa anak kita?”
“nanti aku beritahu, sekarang ayo masuk kamu istirahat didalam,” ajak Rendi pada Thalia, dia merengkuh istrinya mengajak masuk.
Sesekali Rendi juga mencium kening Thalia, dia bersyukur Thalia sudah bisa menerima semua ini membuat dirinya tak terlalu khawatir lagi soal kondisi Thalia. Walaupun begitu dia harus mengambil cuti, karena dia ingin menjadi suami siaga untuk Thalia di masa-masa ini.
°°°
__ADS_1
T.B.C