Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 125 (Season 2)


__ADS_3

Rendi saat ini mengendarai mobilnya pulang ke rumah, hari ini dia sangat lelah harus ke sana kemari mengantar komandannya ditambah dia juga hau ikut melakukan interogasi bersama dnegan Andre tadi sore.


Sekarang ini waktu sudah menunjukkan malam hari, dia pulang sedikit terlambat dan dia juga sudah memberitahu Thalia kalau dia pulang terlambat.


Saat tengah fokus menyetir, ponsel yang ada di saku celananya bergetar membuat Rendi langsung menepikan mobilnya saat ini. dia perlahan mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang menelpon dirinya.


Ia terdiam melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


“Kenapa lagi dia meneleponku,” gumam Rendi saat melihat nama Melody yang ada di layar tersebut.


Dengan begitu malas Rendi mengangkat panggilan dari Melody, saat dia mengangkat panggilan itu yang terdengar pertama di telinganya adalah suara sesegukan.


“Ren..Rendi bantu aku bicara dnegan Revan Ren, dia tidak mau lagi bicara padaku. Aku mohon bantu aku” ucap Melody diseberang sana sambil menangis.


“Aku tidak ingin ikut campur lagi urusanmu dengan Revan, kalau misalkan Revan tidak ingin bicara lagi denganmu ya suah tinggalkan saja dia cari orang lain. Biarkan Revan sendiri Melody” ucap Rendi memerintah Melody untuk meninggalkan Revan saja, karena baginya Revan sudah banyak terluka karena Melody.


“Aku tidak bisa Ren, aku tidak bisa melepasnya. Aku tidak ada siapa-siapa lagi yang mendukungku. Aku tidak bisa melepaskannya karena dirimu sudah bukan milikku lagi” ucap Melody.


“Terserah dirimu, tapi jika kau masih bersikeras mendapatkan Revan kau akan terluka sendiri. sudah jangan hubungi aku lagi” pungkas Rendi langsung mematikan panggilannya begitu saja.


Rendi langsung memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana, dia sudah malas bicara dengan Melody saat ini. karena baginya dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan perempuan bernama Melody.


“Aku beli mie goreng untuk Thalia, dia pasti suka” ucap Rendi dan langsung menjalankan mobilnya saat dia teringat istrinya yang kemungkinan suka kalau dia membelikan mie goreng pinggir jalan.


...............................................


Thalia masih belum tidur, dia duduk di sofa ruang tengah menonton Tv sambil menunggu suaminya pulang.


“Non, jadi di buatkan susu tidak?” tanya Bi Warsih pada Thalia yang duduk di sofa.


“Iya bi jadi, tolong buatin ya” ucap Thalia melihat kearah Bi Warsih yang berdiri di sampingnya.


“Ya sudah kalau begitu bibi ke dapur dulu” perempuan paruh baya yang sudah menjadi asisten rumah tangga di rumah Thalia mulai hari ini menjadi teman Thalia di rumah.


Ting..


Bel rumah berbunyi saat Bi Warsih sudah berada di dapur terpaksa membuat Thalia yang ada diruang tengah harus berdiri untuk membukakan pintu.


Perlahan Thalia berdiri dengan memegangi pinggangnya, ia melangkah ke depan untuk membukakan pintu rumah.


Setelah berjalan beberapa menit, Thalia langsung membuka pintu tersebut dan tampaklah Rendi yang berdiri di depan pintu itu.


“Sudah pulang,” ucap Thalia yang tampak senang melihat suaminya yang sudah pulang ke rumah.


“Sudah, kamu kok belum tidur. Terus kenapa kamu yang bukain pintu katanya ada asisten rumah tangga” pungkas Rendi berjalan masuk dan menutup pintu rumah kembali.


“BI Warsih masih di dapur buatin susu untuk aku, kamu bawa apa itu?” tanya Thalia saat melihat Rendi yang memegang kantung plastik berwarna hitam.


“Ini mIe goreng buat kamu, sudah makan atau belum?”


“Sudah tadi, tapi nggak pa-pa sini aku makan aja” ucap Thalia mengambil makanan yang dibawa suaminya, dia menghargai pemberian suaminya tersebut.


“Memang kamu belum kenyang, kok mau makan lagi?”


“belum” Thalia menggeleng.


“Ya sudah dimakan kalau begitu, besok kalau aku pulang jangan kamu yang bukain pintu. Jangan jalan jauh-jauh” ucap rendi memepringatkan Thalia.

__ADS_1


“Ya aku terpaksa, kalau aku bukain kamu gimana, mau diluar terus” tukas Thalia menatap Rendi aneh.


“Ya nggak, besok aku buat cadangan kuncinya. Biar aku bisa bawa satu”


“udah yok, jangan diri disini terus, aku temani kamu makan” ucap rendi langsung melingkarkan tangannya di pinggang Thalia mengajak istrinya itu berjalan.


“Kamu makan juga, bagi dua” ucap Thalia dengan nada manja.


“Iya,”


“Tadi Melody nelpon aku” ucap Rendi berbicara jujur soal Melody yang menelponnya tadi saat dia pulang.


Thalia menghentikan langkahnya, dia ingin bertanya curiga. Tapi dia harus mengendalikan diri, dia dan Rendi sudah saling janji untuk tidak tersulut emosi atau apapun.


“Kenapa dia menelpon? Tumben?” Tanyanya menatap sang suami.


“Kamu nggak marah kan?” tanya Rendi balik sebelum menjawab pertanyaan Thalia.


“Nggak, kenapa harus marah”


“Dia tadi nelpon minta aku bantuin dia buat bicara sama Revan” jawab Rendi.


“Terus jawaban kamu,”


“Ya aku nggak mau ikut campur urusan dia dan Revan, lagi pula revan sepertinya benar-benar tidak mau dengan Melody lagi”


“Bagus kalau begitu, tapi gimana perempuan itu nantinya”


“Sudahlah sayang tidak usah memikirkan Melody,”


“Ayo buruan kita makan mienya nanti keburu nggak enak” lanjut Rendi mengajak Thalia ke dapur.


......................................


“Ya aku tidak mau di menghubungiku lagi”


“Kenapa, bukannya kau mencintainya?”


“Iya, tapi aku tidak ingin mencintainya lagi. Cukup dua kali aku jadi orang bodoh ren.”


“Tadi dia menangis saat menghubungiku, kau sungguh tidak perduli dengannya”


“Tidak, bahkan tadi pagi aku juga mengusirnya.”


Rendi hanya menghela nafasnya, dia tidak ingin terlalu ikut campur dengan masalah Revan ataupun Melody saat ini.


“Mama tadi pagi kesini mencari mu”


“kenapa lagi itu orang, jangan pernah beritahu kalau diriku di Padang. Aku tidak sudi lagi bertemu Mama yang seperti itu, aku sudah ada Mama aru yang lebih baik dari dia” tukas Revan.


“Bunda baik kan padamu, andai kau mendengarkan ku dari dulu.”


“Ya aku memang bodoh, dulu”


“Sudah ya, aku mau istirahat sekarang, besok kalau aku sempat aku hubungi lagi” ucap Revan diseberang sana.


“Iya,” jawab Rendi dan langsung mematikan panggilannya,

__ADS_1


“kamu barusan nelpon siapa?” tanya Thalia yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Revan yang menelpon” jawab Rendi sambil melihat Thalia.


“Kenapa dia menelpon mu tumben?”


“Dia ganti nomer, makanya nelpon”


“Sini, sudah cuci muka kan. sekarang tidur, nggak usah nonton film” ucap Rendi yang langsung berdiri dan meraih tangan Thalia mengajaknya untuk duduk di tempat tidur.


“Ya habisnya kalau aku nggak nonton film dulu, aku nggak bisa tidur. Aku pasti gelisah mikirin ha aneh-aneh” ucap Thalia yang sudah duduk di pinggir tempat tidur.


Rendi langsung ikut naik keatas tempat tidur saat ini,


“Mikirin apa kamu, nggak usah banyak pikiran” tukas Rendi melihat istrinya khawatir.


‘Aku takut kalau lahiran nanti gimana, sakit nggak sih. Dua bulan lagi aku melahirkan, aku kepikiran itu terus” ucap Thalia mengutarakan kegelisahannya saat ini.


“Nggak usah dipikirin, nggak sakit kok”


“Iya kamu bilang nggak sakit, kamu nggak ngerasain apa yang aku rasain nanti”


“beneran sayang nggak sakit, jaman sekarang kan canggih alatnya. Udah jangan banyak pikiran, tidur dulu sekarang udah malem” ucap Rendi merebahkan Thalia ditempat tidur.


“Kamu miring kesini, jangan ke sana” perintah Redi meminta istrinya untuk menghadap saja kearahnya.


Thalia mengikuti saja ucapan Rendi,


“Kamu hari ini beda,?” ucap Thalia tiba-tiba.


“Beda kenapa?” kaget Rendi saat istrinya berkata seperti itu.


“kamu bisanya ulang cium perut aku atau pegang perut aku tapi kenapa hari ini kamu tidak melakukannya”


Rendi malah tersenyum,


“Oh, jadi kamu mau aku cium”


“Bukan aku anak kamu,”


“Anak kita,”


Rendi langsung memegang perut Thalia, dan mencium perut istrinya yang besar itu.


“Sudah kan, anak Papa pengen Papa cium ternyata. Mamanya pengen juga nggak” ucap Rendi langsung beralih melihat Thalia lagi.


“Nggak, aku mau tidur sambil peluk kamu” pungkas Thalia dan langsung memeluk Rendi, begitu juga Rendi yang memeluk Thalia.


“Ceritanya pengen dimanja ya” ucap rendi sambil memeluk Thalia.


“Iyalah” sungut Thalia dalam pelukan Rendi.


“Udah aku peluk dan manjain kamu kan, sekarang tidur ya” pungkas Rendi pada Thalia dan Thalia diam saja tidak menjawab, Rendi langsung melihat Thalia yang ternyata sudah memejamkan matanya.


“Sudah tidur sayang,” lirihnya sambil mengusap bahu sang istri. Dan Rendi juga ikut memejamkan matanya tidur sambil memeluk Thalia.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2