Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 115 (Season 2)


__ADS_3

“Ayo turun sayang” ucap Rendi saat dia sudah menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah berlantai dua bercat coklat sedikit keemasan.


Thalia langsung turun lebih dulu saat mendengar ucapan Rendi itu, dia mengabaikan saja perkataan Rendi barusan. Rendi langsung menyusul turun dari mobil saat ini.


“Ini rumah yang akan kau tempati nanti?” tanya Thalia yang sudah berdiri di sebelah Rendi. Ia sesekali melihat rumah yang lumayan besar didepannya.


“Bukan aku yang akan menempati tapi kita bertiga nanti bersama anak kita” ucap Rendi merevisi ucapan Thalia.


Thalia hanya diam tidak membantah ucapan itu, malas saja dia berdebat dengan Rendi sekarang.


“Ayo masuk, kita lihat kedalam” ucap Rendi langsung menggandeng tangan Thalia berjalan beriringan menuju pintu rumah tersebut.


“Gimana dari luar kamu suka nggak? Dari warnanya dan arsitektur luarnya kamu suak atau tidak?” tanya Rendi meminta pendapat pada Thalia.


“Warnanya kurang suka, aku tidak suka warna seperti ini” jawab Thalia.


“Ya sudah nanti aku ganti warna rumahnya. Kamu suka warna apa?” ucap Rendi dan kembali bertanya pada Thalia soal warna baru rumah mereka nantinya.


“Warna putih kayaknya bagus” jawab Thalia.


“Oke, sesuai permintaan nyonya besar nanti sebelum kita pindah kesini aku suruh orang untuk mengecat rumah ini lebih dulu. ayo amsuk sayang, kamu pasti penasaran kan didalamnya seperti apa” ucap Rendi dan tidak sabar mengajak Thalia untuk masuk kedalam rumah mereka.


Rendi segera membuka pintu rumah tersebut dan mengajak Thalia masuk kedalam untuk melihat keadaan di dalam rumah.


......................................................


Mereka berdua sudah masuk kedalam rumah saat ini, mereka berdiri di ruang tamu yang cukup besar dan terlihat interior yang begitu bagus meskipun tidak begitu mewah.


“bagaimana kamu suka?” tanya Rendi.


“Iya,” jawab Thalia lirih.


“Di atas itu ada kamar tiga kamar sayang, dibawah sini juga ada tiga kamar termasuk kamar asisten rumah tangga satu” ucap Rendi memberitahu Thalia soal kamar-kamar yang ada di rumah mereka.


“Dan di atas ada satu kamar mandi di luar kamar dibawah ada dua kamar mandi di luar kamar juga. satu untuk tamu dan satu untuk asisten rumah tangga kita nanti” lanjut Rendi.


“Bukannya kau tidak suka tinggal di rumah yang begitu besar, kenapa kau membeli rumah ?” ucap Thalia penasaran.


“Ya aku membelinya karena dirimu, kau selama ini terbiasa tinggal di rumah yang cukup besar dan terpaksa tinggal di apartemen beberapa bulan. Jadi aku membeli rumah ini untukmu dan anak-anak kita nanti. Makanya aku memilih ruah yang memiliki banyak kamar. Karena aku ingin punya banyak anak” ucap Rendi sambil merengkuh pinggang istrinya.


Thalia hanya diam saja, dia tidak mengajukan pertanyaan lagi, perkataan Rendi seakan benar dari hatinya tapi dia begitu ragu sekarang. Keraguannya sudah mencapai tingkat atas. Dia saat ini hanya berusaha menahannya saja demi anak yang dia kandung.


“Kamu kepa diam saja? Kamu nggak suka sama rumah ini?” tanya Rendi penasaran karena sikap Thalia yang tidak begitu antusias.


“Aku suka kok,” jawab Thalia berusaha tersenyum meskipun terasa dipaksakan.


“Kamu mau kamar dibawah atau di atas?” tanya Rendi.


“Terserah kamu saja, aku ikut kemauan mu” ucap Thalia pasrah.


“Kalau aku sih pengen kamar kita dibawah, misalkan nanti kedepannya kalau kamu hamil lagi aku tidak perlu cemas memikirkan kamu naik turn tangga. Bagaimana kalau kamar kita dibawah saja?” tanya Rendi pada Thalia.


“Ya udah nggak pa-pa” jawab Thalia.


“Kalau kamu nggak pa-pa soal itu, ayo lihat kamar kita, terus nanti lihat kamar anak kita di atas” ucap Rendi mengajak Thalia untuk melihat kamar mereka berdua.


“Ayo” jawab Thalia singkat.


“Kamu kenapa? Kamu sakit?” tanya Rendi cemas, karena sedari tadi Thalia tampak lesu tak bersemangat sama sekali.


“Nggak kok, ayo buruan. Aku ada janji temu dengan Nicholas” ucap Thalia mengajak Rendi untuk segera melihat kamar mereka.


“Kamu jadi bertemu Nicholas?” tanya Rendi yang bukannya berjalan malah melihat Thalia yang berdiri disebelahnya menatap kearahnya saat ini.


“Jadilah, kenapa harus tidak jadi” jawab Thalia tidak perduli dengan ekspresi Rendi yang menahan marah.


‘terserah kau saja kalau begitu, tapi nanti aku tidak akan tinggal diam kalau dia mengusik mu atau diriku” ucap Rendi. Dan langsung berjalan meninggalkan Thalia pergi seorang diri melihat kamar mereka.


Thalia hanya bisa diam melihatnya, dia perlahan melangkah menyusul Rendi yang lebih dulu pergi. Inilah yang semakin membuatnya ragu soal perasaan Rendi, pria itu mampu meninggalkan dirinya seperti ini berjalan sendiri padahal dia jelas-jelas tahu kalau ia tengah hamil saat ini dan perutnya begitu besar sekarang tidak sesuai usia kehamilannya ayng baru enam bulan. Dia saja heran kenapa perutnya begitu besar padahal baru enam bulan.


Rasanya dia merasa saat ini bukan hanya hamil satu bayi tetapi dua bayi, tapi saat di usg beberapa waktu lalu dokter tidak bilang kalau bayinya kembar.sedangkan perutnya saat ini seakan menunjukkan kalau dia hamil bayi kembar.

__ADS_1


...................................................


“Maaf Ndan, lapor didepan pos ada anak komandan mau ketemu” ucap seorang tentara yang melapor pada ayah dari rendi yang sedang makan di kantin Kodim


“anak saya siapa? Reza atau..”


“Maaf Ndan bukan mereka berdua” ucap tentara tersebut memotong ucapan komandannya.


‘Terus siapa?”


“Saya juga nggak tahu ndan, dia cuman bilang anak komandan yang dari Amerika” ucap pria itu pada sang atasan.


Ayah Rendi terdiam mendengar hal itu, dan dia refleks langsung berdiri, bukan berdiri saja dia langsung pergi dengan tergesa-gesa untuk segera menghampiri orang itu.


Anak buahnya menatap aneh pada sang atasan yang langsung pergi begitu saja setelah mendengar laporannya.


Siang hari Revan sudah sampai di Padang, dia langsung menemui Papanya ditempat sang Papa berdinas. Ia ingin langsung meminta maaf dan mencium kaki ayahnya yang sudah bertahun-tahun tidak ia temui.


Revan berdiri sambil sesekali melihat jauh memandang menunggu ayahnya dengan gugup dan sesekali dia melihat kearah kopernya yang berada di depannya.


“Revan,.” Seru seseorang yang memanggilnya membuat revan langsung mendongak menatap ke depan. Matanya berkaca-kaca melihat sang papa yang berjalan cepat untuk menghampiri dirinya saat ini.


Papanya meskipun sudah berumur tapi tampak masih gagah, rasanya dia de javu mengingat masa kecilnya dulu saat di bali dimana dia dan rendi selalu menunggu papa mereka didepan pos dinas dan sang papa berjalan menghampiri mereka berdua dnegan senyuman seperti sekarang saat Papanya tersenyum padanya.


“papa,” lirih Revan, tak terasa air mata menetes di wajahnya. Dia benar-benar haru dnegan situasi saat ini.


“Akhirnya kamu atang nak, sudah lama Papa nunggu kamu nemuin Papa” ucap ayah Rendi sambil memeluk Revan dengan begitu hangatnya. Rasanya dia rindu dengan putranya yang bertahun-tahun tidak dia temui selama ini.


“Pa, a..aku, aku minta maaf Pa” ucap Revan dnegan bibir bergetar.


“Kamu minta maaf kenapa? Kamu nggak salah” ucap sang ayah.


Revan langsung melepaskan pelukan ayahnya itu dan dia langsung berlutut didepan sang ayah.


“Nggak Pa, aku banyak salah sama Papa. Aku salah Pa, aku salah ninggalin Papa sama Rendi, aku minta maaf pa” ucap Revan berlutut di kaki sang ayah, dia memegangi kaki ayahnya itu untuk mengurangi dosa-dosanya selama ini.


“Nggak van, kamu nggak salah. Itu bukan salah kamu van, jangan begini. diri van, Papa bilang berdiri” ucap Ayah Rendi sambil membantu Revan berdiri.


“Kamu nggak ada sama Papa dan itu bukan salah kamu. itu pilihan bukan kesalahan dan Papa juga nggak marah sama kamu” ucap ayah Rendi dan kembali memeluk anaknya lagi.


“Aku malu Pa, aku malu ketemu Papa. Aku merasa bersalah telah ninggalin papa” ucap revan dengan terisak.


“Kenapa harus malu, Papa ini Papa kamu.” ucap sang ayah.


“Sudah yok, masuk Kodim dulu ke rumah dinas Papa. Di Sana ada bunda juga dan adik-adik kamu sebentar lagi pulang sekolah” ucap sang ayah dan mengajak Revan ke rumah dinasnya.


“Aku malu sama bunda pa, nggak pa-pa kalau ku ke rumah dinas Papa”


“Ya nggak pa-pa, bunda pasti seneng kamu datang. Dan adik-adik kamu penasaran sama abangnya yang sering kasih hadiah tapi nggak pernah tahu wajahnya. Ayo masuk koper kamu bawa” ucap Ayah mengajak Revan masuk ke lingkungan Kodim.


Revan langsung memegang kopernya dan berjalan di samping sang Papa, dia begitu lega karena dia sudah memberanikan diri untuk menemui sang Papa yang sudah bertahun-tahun tidak ia temui.


...........................................


Thalia dan Rendi saat ini sudah berada didalam mobil yang terparkir di halaman parkir sebuah cafe. Mereka berada disitu karena Thalia benar-benar akan bertemu dengan Nicholas di Cafe tersebut.


“Kau ikut masuk atau tidak?” tanya Thalia pada Rendi.


“tentu saja aku ikut, pria itu pasti akan macam-macam denganmu” pungkas Rendi menatap serius Thalia dan dan dia langsung turun dari mobil begitu saja. Dia sedikit berlari memutari mobil untuk membukakan pintu mobil bagi Thalia.


“Ayo sayang” ucapnya mengulurkan tangan pada sang istri.


Thalia menerima uluran tangan itu, dan dia berjalan keluar perlahan dari mobil tak lupa dia mengambil tas kecil miliknya yang sedari tadi dia tinggal didalam mobil saat mereka berdua mengunjungi rumah baru mereka.


Baru saja thalia keluar dari mobil ponsel miliknya yang berada didalam tas berbunyi membuat dia melepaskan tangan rendi dan langsung mengangkat panggilan tersebut.


“kau bisa sabar tidak, tidak akan ketinggalan pesawat sabar sedikit kenapa. Aku sudah di luar” ketus Thalia pada si penelpon.


“Siapa?” tanya Rendi penasaran saat melihat Thalia yang kesal dan langsung mematikan panggilan telponnya.


“Siapa lagi kalau bukan orang menyebalkan itu. ayo masuk” ucap Thalia mengajak Rendi masuk kedalam Cafe.

__ADS_1


.....................................................


Tak butuh waktu alma Rendi dan juga Thalia sudah amsuk kedalam Cafe. Dimana Rendi terus merengkuh pinggang Thalia, mereka mencari keberadaan Nicholas.


Tampak seorang pria yang memakai topi melambaikan tangan kearah mereka saat ini, siapa lagi orang itu kalau bukan Nicholas.


“Itu orangnya’ ucap Thalia


Mereka berdua langsung berjalan mendekati Nicholas saat ini.


“Wow, sepasang suami istri ceritanya. Sengaja membuatku cemburu atau hanay untuk akting saja di depanku” ucap Nicholas kepada Thalia dan juga Rendi tapi tatapannya lebih kearah Rendi saat ini.


“Tidak suah banyak bicara, ini yang kau minta” ucap Thalia dan menaruh tiket itu di meja.


“Kau memang masih memperdulikan diriku ternyata, disaat kakakmu ingin membunuhku kau memberi kehidupan untukku. Masih cina denganku” ucap Nicholas didepan Thalia.


“Jangan asal bicara kau, mana mungkin istriku masih mencintaimu” tukas Rendi yang berusaha mengontrol emosinya karena terprovokasi ucapan barusan.


“Siapa juga yang asal bicara. Kenyataan” ucap Nicholas tidak takut sama sekali dnegan Rendi.


“sudahlah tidak usah di dengarkan pria tidak waras sepertinya” ucap Thalia berusaha menenangkan Rendi agar tidak terpengaruh ucapan Nicholas.


“Terimakasih sayang, berkat dirimu aku akan kembali ke negaraku” ucap Nicholas pada Thalia.


“Kau,..” rendi terlihat emosi dan akan memukul Nicholas tetapi Thalia menahannya.


“Sudahlah ayo pulang, tidak usah didengarkan pria gila itu” ucap Thalia mengajak Rendi pulang saja.


“Sampai jumpa di Jerman sayang, aku tunggu kesayanganmu nanti. Aku ajak anakmu juga tidak apa daripada dia kau tinggal bersama dnegan pria yang tidak tulus denganmu. See yo sa...” Nicholas langsung terdusur ke lantai karena Rendi yang berbalik kearahnya langsung memukul dirinya begitu saja.


“Jangan kau pikir pernah menjebloskan aku ke penjara aku bakal takut begitu, kau salah bung. Aku tidak akan takut pada pria gila sepertimu yang berani memanggil istriku sayang, kau memang ahrus disadarkan” cuap rendi memukul Nicholas berkali-kali saat dia sudah berada di atas tubuh pria tersebut.


Nicholas tentu saja tidak diam saja, dia membalas memukul Rendi dengan menjatuhkan Rendi saat ini.


“kalian apa-apaan sih kenapa malah bertengkar, Nicholas lepaskan suamiku” ucap Thalia begitu cemas dan takut akan perkelahian didepannya saat ini.


Rendi memukul Nicholas hingga terjungkal, dan membuat kesempatan dirinya bisa memukuli pria bule yang kurang ajar itu.


“Tolong, Tolong, kalian tolong pisahkan mereka berdua” ucap Thalia histeris meminta bantuan pada orang-orang yang sedari tadi hanya


melihat.


Pegawai Cafe mencoba memisahkan Rendi dan juga Nicholas yang saling hajar satu sama lain. Tapi tidak bisa malah mereka yang terdusur karena dorongan Nicholas ataupun Rendi.


Thalia semakin bingung dnegan situasi saat ini, dia bingung harus melakukan apa.


Rendi dan Nicholas sama babak belur dan mereka masih tidak mau mengalah satu sama lain. Rendi yang sekarang yang terlihat mendominasi, dia terus memukuli Nicholas hingga hampir tak sadarkan diri.


Thalia yang melihat itu tidak ingin suaminya nanti mendapat masalah, langsung berniat menarik tangan rendi agar berhenti memukuli Nicholas.


Rendi, rendi lepaskan dia Ren, lepaskan Ren,” ucap Thalia sambil menarik tangan rendi.


Rendi ayng tengah kalut karena emosi tang sengaja menghempas kuat tangan yang memegangi lengannya dia tak begitu sadar kalau itu istrinya sendiri.


Thalia yang dihempas cukup kuat langsung terjatuh ke lantai dan perutnya membentur lantai lebih dulu.


“Argggh,..” teriaknya kesakitan sambil memegangi perutnya.


Rendi ayng mendengar itu baru tersadar dan matanya membuka lebar saat dia mendapati istrinya lah yang ia dorong tadi.


“Thalia..” ucapnya dan langsung berdiri dari tubuh Nicholas dan berlari menghampiri sang istri yang sudah di kerumuni orag-orang yang berusaha membantu Thalia yang tengah kesakitan.


“Sayang, sayang aku minta maaf sayang, aku minta maaf.” Ucapnya cemas dan khawatir melihat Thalia yang mengerang sakit.


“Mas, mas sudah mas. Lebih baik cepat dibawah ke rumah sakit mas, ada darah yang keluar mas nanti takutnya kandungannya kenapa-kenapa” ucap salah seorang pelanggan yang yang berada di situ.


Rendi langsung melihat kearah bawah istrinya dan benar saja ada darah yang mengalir deras disitu. dia benar terkejut melihatnya,


“Nggak jangan sampai” ucapnya dan langsung mengangkat thalia, dia tidak akan membaut istri dan anaknya kenapa-kenapa lagi. Ketakutan menyelubungi dirinya saat ini, dia bodoh kenapa dia tidak bisa menahan emosinya sendiri, sampai ia membuat istrinya begini. kalau ada apa-apa dnegan istri ataupun anaknya dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri akan hal ini.


Rendi membawa Thalia pergi begitu saja meninggalkan Nicholas yang berdiri di bantu orang-orang yang berada disitu.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2