
Thalia berjalan turun dari tangga saat ini sambil menggendong anaknya yang tampak diam saja tidak rewel sama sekali. Baru saja dia akan mencapai lantai bawah, ia berpapasan dengan Rendi yang akan naik keatas saat ini.
“Kok kamu malah mau turun, mau ngapain?” tanya Rendi melihat pada istrinya yang berada sedikit lebih tinggi darinya.
“Nggak pa-pa, mau ngobrol-ngobrol aja sama kamu. teman kamu udah pulang belum?” tanya Thalia pada suaminya.
“Belum, masih diruang tamu. Kenapa?” tanya Rendi balik.
“Nggak pa-pa,” jawab Thalia lirih.
“Mau ketemu sama temanku? kalau mau ya udah ayo kebawah” pungkas Rendi mengajak sang istri untuk menemui teman-temannya.
Rekan-rekan Rendi memang saat ini datang ke rumah untuk bertamu saja, yang datang ke rumah hanya Hardi Andre dan juga Jouvan tak lupa juga Juna junior mereka.
“kamu mau keatas mau ngapain?” bukan menjawab Thalia malah balik bertanya pada suaminya.
“Ya mau lihat kamu udah bangun atau belum, ternyata udah”
Thalia memang baru bangun sore hari, dia menemani sang anak tidur siang setelah Rendi datang bersama dengan teman-temannya.
“Ya udah ayo kebawah,” tukas Thalia mengiyakan ajakan sang suami untuk kebawah menemui dua rekan-rekan dari suaminya.
“Sini Relia ia aku yang gendong” Rendi langsung mengambil alih anaknya dari tangan sang istri.
“Kalau gitu aku ke kamar mandi dulu ya, tolong gendong Relia bentar” pungkas Thalia, dia teringat kalau ia belum cuci muka. Bisa mau dirinya kalau menemui rekan suaminya dengan wajah yang kusut seperti saat ini.
“Ngapain ke kamar mandi?” heran Rendi.
“Ya cuci muka, kamu aneh deh. Aku belum cuci muka tahu sayang, dan kamu diem aja nggak ngomong aku gimana. Sengaja ya?” kesal Thalia karena Rendi tampak biasa saja melihatnya.
“Kamu belum cuci muka? Tapi cantik tuh nggak ada yang beda”
“Bohong banget, udah ah. Aku mau cuci muka dulu” Thalia langsung kembali naik keatas sedangkan Rendi turun kebawah untuk menemui teman-temannya lagi yang mungkin sudah menunggunya.
Perlahan Rendi berjalan beberapa anak tangga, dia melihat anaknya yang menghisap ibu jarinya.
“Jangan dihisap nak jorok ah” lirih Rendi berbicara melihat anaknya yang hampir berumur satu bulan itu.
...................................................
“Wiih anak kamu ren?” tanya Jouvan yang langsung antusias saat melihat Rendi yang datang sambil menggendong bayi.
“Iya” jawab Rendi singkat berjalan mendekati keempat temannya itu.
“Makin gede ya anakmu, kemarin waktu kita kesini masih kecil banget” Hardi tamak spechles melihat anak dari rekannya itu.
“ya udah gede lah, kita loh kesini waktu bayi umur seminggu. Ini udah hampir sebulan kayaknya” sahut Andre yang sedikit merasa aneh dengan Hardi.
“ya cepet banget gedenya perasaan, makin gemes” pungkas Hardi.
Rendi langsung duduk di sofa sebelah Juna yang masih kosong,
“Namanya siapa Ndan” tanya Juna yang baru pertama kali bertemu dengan Relia.
“Namanya Relia”
“bagus anakmu namanya Ren, ada artinya atau hanya singkatan namamu sama istrimu” pungkas Jouvan yang penasaran.
“Ada artinya dan singkatan dari namu dan istri?” jawab Rendi
“Wiih, so sweet ya. Nanti kalau aku punya anak juga gitu ah singkatan namaku sama istri” sahut Juna yang merasa iri juga dengan itu. dia juga suka anak kecil.
“Masih muda mikirin nikah kamu Jun, kita aja yang dedengkot belum married” sahut Andre sambil tertawa.
__ADS_1
“Siapa yang dedengkot, gue nggak ya. Lo kali Ndre” sahut Jouvan sambil tersenyum meledek Andre.
“enak aja, kita bertiga lah”
“Sorry gue nggak hahaha” sahut Jouvan
“Gue juga nggak”
“Abang-abang ini kenapa sih ngeributin hal begitu. Kalau sama-sama jomblo bilang aja kali bang nggak usah saling lempar” tukas Juna menasehati ketiganya.
“Aduh-aduh, anak muda nggak usah ikut-ikut” ucap Jouvan.
“Anak muda tapi pikiran dewasa daripada abang-abang” ledek Juna pada ketiganya.
“Udahlah kita diem aja, nggak malu diledek Junior” ucap Rendi yang mencoba melerai pertikaian kecil mereka.
“Boleh gendong anakmu nggak ren?” tanya Jouvan yang ingin menggendong bocah menggemaskan itu.
“Boleh,” Rendi langsung berdiri dan akan memberikannya pada Jouvan yang sudah siap untuk menggendong Relia.
“Awas bang Jouvan nanti jatuh loh anak orang” pungkas Juna dan juga Hardi yang memperingatkan Jouvan.
“Nggak, aku udah biasa gendong anak kecil. Aku punya ponakan banyak” ucap Jouvan dan menggendong relia yang anteng tak menangis sama sekali.
“Ya udah tolong gendong bentar ya, aku keatas dulu” tukas Rendi, dia mau keatas untuk memanggil istrinya yang tak kunjung ke depan juga katanya hanay cuci muka tapi sudah beberapa menit belum turun juga.
...................................................
Revan bertamu ke rumah dinas ayahnya yang ada di kodim saat ini dia duduk di sofa ruang tamu sang ayah sambil menunggu ayahnya yang sedang di ada tamu di kantor.
Saat dia sibuk melihat ponsel ada yang berjalan masuk kedalam rumah saat ini membuat dirinya mendongak melihat siapa orang itu.
“Eh ada bang Revan, siang bang” ucap Reza adik tiri dari Revan yang masih kelas tiga smp.
“Iya bang, abang udah lama di rumah”
“Nggak baru kok” jawab Revan.
“Lah bunda sama Papa dimana bang? Kok sendirian aja?”
“Bunda lagi di dapur sama Vira”
“Oh, kalau gitu aku ganti baju dulu ya bang” pamit Reza.
“Iya” jawab Revan singkat, perbincangannya dnegan adik tirinya memang hanya sebatas itu saja mereka tak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh juga. kalau bertemu ya bicara satu sama lain mengobrol dan lainnya tapi tak begitu intens mungkin karena mereka tak pernah bertemu selama ini.
“Loh tadi bunda kayaknya denger suara van, siapa yang dateng? Papa kamu ya?” baru juga Reza pergi Vina keluar dari dapur membawa teh dan juga cemilan.
“Bukan bun, Reza yang datang”
“Reza? Lalu Reza Nya dimana kok nggak nemenin kamu disini?”
“Dia lagi ganti baju bun” jawab revan.
“Oh, diminum van tehnya. Cemilannya juga dimakan” pinta sang bunda pada anak sambungnya tersebut.
“Iya bun” jawab Revan.
“Vira mana bun?” tanya Revan yang menanyakan soal adik sambungnya.
“Itu di belakang”
“Vir, Vira..” panggil Revan pada adiknya.
__ADS_1
“Iya bang” seru Vira yang langsung keluar dari dapur saat mendengar suara abangnya yang memanggilnya saat ini.
“Sana dek duduk dulu, bang revan mau ngomong sama kamu kayaknya” perintah sang bunda pada putri bungsunya tersebut
Vira langsung mematuhi apa yang dikatakan bundanya, dia duduk di sofa yang tidak terlalu jauh dari Revan.
“Ini dek, uang jajan buat kamu. jangan boros ya” ucap revan yang memberikan dua lembar uang seratus ribuan.
“Serius bang buat aku” Vira tampak terkejut melihat uang yang cukup banyak itu. maklum anak SD kelas lima dapat uang segitu jelas sangat banyak menurutnya.
“Iya buat kamu,” jawab Revan sambil tersenyum.
“Reza, Za” panggil revan pada adiknya lagi.
“Iya bang” sahut reza yang masih ada didalam kamarnya yang memang tidak jauh dari situ
Reza langsung keluar dari kamarnya mendekati sang kakak yang memanggilnya barusan,.
“Ini Za buat kamu” ucap Revan sambil menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan pada Reza.
“Apa ini bang? Nggak usah” ucap Reza menolak saat diberikan uang oleh Revan.
“Iya van nggak usah, kamu kenapa ngasih adik-adik kamu banyak begitu” pungkas Vina pada anaknya.
“Nggak pa-pa bun, aku ada rezeki bisnis aku hasilnya banyak. Lagi pula aku bentar lagi nikah nggak mungkin aku bisa ngasih sebebas ini sama adik sendiri” tukas Reva pada sang bunda.
“Za ayo diterima, tadi Vira juga udah abang kasih. Dan ini buat kamu” ucap Revan dan berusaha membujuk sang adik agar mau.
“Iya bang Reza, aku tadi dikasih bang revan. Nih kebanyak kan?” ucap Vira menunjukkan uang pemberian Revan.
“Ya udah dua ratus aja bang, itu kebanyakan buat aku” ucap Reza.
“Nggak, ini nggak banyak cuman lima ratus ribu. Kebutuhan kamu kan lebih banyak dari Vira. Udah terima” pungkas revan.
“kenapa bang Revan nggak beliin barang-barang aja kayak biasanya daripada uang bang” ucap reza.
“Abang nggak sempet keluar, jadi abang kasih duit aja buat kalian. Jangan boros ya duitnya ditabung. Jangan bikin pusing Papa sama bunda juga” ucap revan menasehati sang adik.
“Iya bang” jawab reza.
“Bilang apa kalian sama abangnya?” ucap Vina mengingatkan kedua anaknya itu.
“makasih abang..” jawab Vira yang langsung memeluk kakak tertuanya.
“Iya sama-sama” jawab Revan membalas pelukan adiknya.
“makasih ya bang” ucap reza pada revan.
“Iya sama-sama” sahut Revan.
“Tadi kamu bilang kalau kamu nikah, kamu udah ada rencana mau nikah van?” ucap Vina yang baru menyadari itu.
“Bukannya Papa udah ngatur pernikahan aku bun”
“Maksud kamu?”
“Aku setuju mau nikah sama Chaca bun” jawab Revan akhirnya.
“Serius kamu setuju bang, alhamdulilah kalau kamu setuju. Ayah kamu pasti seneng denger ini.” Vina tamak lega sekaligus senang mendengar ucapan Revan barusan.
“Revan hanya tersenyum tipis saja menanggapi sang bunda, dia tidak tahu keputusannya ini benar atau tidak. Tapi dia akan melakukannya entah pernikahannya dengan Chaca nanti akan seperti apa dia tak tahu yang penting dia menikah sesuai permintaan sang papa dan Chaca sendiri.
°°°
__ADS_1
T.B.C