Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
51


__ADS_3

Lita sedang ada di pantai yang jaraknya memang tidak jauh dari Villa yang ditempati dirinya dan kakaknya. dia tidak sendiri melainkan dia bersama dengan Rey mereka duduk di kursi pantai menatap desiran ombak sambil menikmati udara pantai yang begitu menyegarkan serta menyejukkan saat dihirup.


“Gimana enak nggak keluar begini?” ucap Rey bertanya pada Lita memperhatikan perempuan yang duduk disebelahnya.


Lita melihat kearah Rey,


“Enak kak, aku kayak bebas. Selama ini aku jarang keluar begini apalagi beberapa bulan ini kak David tidak mengizinkan aku keluar sama sekali. Jadinya kayak terkurung dipenjara” ucap Lita menceritakan semua pada Rey.


Rey hanya mengangguk saja mendengarnya, dia mengamati wajah Lita sekali lagi. Walaupun saat ini Lita terlihat bahagia tapi pasti masih ada luka dalam hatinya dan tentu saja kerinduan perempuan itu pada keluarganya. Tapi Lita sepertinya menyembunyikan semua itu agar tidak terlihat oleh siapapun.


“Lita,.” Rey memanggil nama itu dengan keraguan untuk mengutarakan sesuatu.


Lita langsung menoleh melihat Rey,


“Iya kak” ucapnya melihat pria didepannya yang terlihat sedang merangkai kata yang pas untuk diucapkan.


“Kamu, kamu rindu dengan Mama Nafa atau tidak?” ucap Rey pada Lita. Lita yang tadinya begitu menantikan ucapan Rey terdiam sesaat menatap teman kakaknya tersebut.


“Kenapa kak Rey bertanya begitu?” heran Lita menatap Rey.


“Tidak pa-pa, aku hanya ingin bertanya saja. Kalau kamu tidak mau menjawabnya juga tidak apa-apa. Kamu mau eskrim biar aku belikan?” ucap rey langsung mengalihkan pembicaraan saat Lita hanya diam saja setelah mendengar pertanyaannya tersebut.


“Iya aku rindu dengan Mama Nafa, aku ingin bertemu dengannya” ucap Lita setelah sempat terdiam.


“Maka temui lah, beritahu Mama dan Papamu kalau kau masih hidup”


“Nggak kak, Kak David tidak mengijinkannya. Dan.a..aku, aku takut kalau mereka tahu aku masih hidup pria brengsek itu pasti juga akan tahu aku masih hidup. Aku, aku tidak mau bertemu dengannya kak. Aku takut” ucap Lita bergetar mengatakan hal itu jujur dia memang ingin bertemu Mama Nafa mama tirinya yang menyayangi dirinya yang dulu sempat ia kira sebagai ibu kandungnya.


Rey terdiam dia melihat Lita yang wajahnya berubah menjadi tertekan sambil menunduk diam. Rey langsung memegang tangan Lita mencoba memberi ketenangan pada perempuan tersebut.


“kamu tidak usah takut, aku akan melindungi dirimu dan kakakmu juga akan melindungi mu. Kau tidak bisa menyembunyikan dirimu terus. Layaknya sebuah bangkai pasti akan tercium juga begitu dengan dirimu selama apapun kau bersembunyi pasti bakal bertemu juga dengan suamimu” ucap Rey.


“Dia bukan suamiku lagi kak, aku sudah menandatangani surat cerai sebelumnya dan aku,. aku membencinya” ucap Lita dengan bibir bergetar.

__ADS_1


Rey melihat rasa sakit yang Lita alami saat ini, perempuan itu seakan tidak ingin untuk mengingat masa lalunya yang menyakitkan itu.


“tapi kau mau memberitahu Mama dan Papamu, Mama Nafa sangat sedih kehilangan dirimu”pungkas Rey memberitahukan kepada Lita soal Nafa yang memang merasa terpukul dengan kepergian Lita.


“Ak, aku mau. Ta..tapi kak David”


“Soal David itu nanti biar aku saja yang mengurusnya. Kau tidak usah memikirkannya, cukup pikirkan soal ke hamilanmu saja”


“jaga anakku ya,.” Ucap Rey berdiri sambil tersenyum mentap Lita.


“huh, ini anakku. Bukan anak kak Rey,.” Ucap Lita mendengus cemberut.


“Kau kan sudah sepakat kalau anakmu lahir nanti dia memanggilku Daddy, berarti dia anakku dong” ucap Rey tersenyum penuh kemenangan karena bisa membuat Lita terdiam.


“ya,.”


“ya sudah jangan cemberut bersyukur dong, anak kamu punya Daddy yang tampan, pinter kayak aku” ucap rey membanggakan dirinya sendiri.


“Iya, iya yang tampan”


...........................


Fahri sudah mulai bisa menerima dan bersabar untuk mencari keberadaan Lita, dia saat ini ingin menyibukkan dirinya saja pada pekerjaan agar pikirannya tidak berpikiran buruk terus untuk mengakhiri dirinya. Hari ini dia harus ke RV group untuk menemui Papa mertuanya.


Meskipun saat ini dia mulai berangkat bekerja, penampilannya begitu tidak rapi rambut yang tidak tertata serta kumis tipis di wajahnya.


Dia berjalan di lorong perusahan dengan tegap, tangan terselip disaku celana pandangan lurus ke depan. Orang-orang menyapanya dan memberi hormat padanya tapi Fahri tidak membalasnya sama sekali, wajahnya begitu dingin tak memiliki ekspresi sama sekali.


Dia membuka pintu ruangan papa mertuanya tersebut melangkah masuk kedalam. Melihat Papa mertuanya yang duduk di kursi kerjanya.


“kau sudah datang Fahri?” tanya Aryo pada Fahri yang langsung mengambil duduk didepannya.


“Iya Pa,”

__ADS_1


Ayo menatap fahri sedih melihat pria itu yang seakan tak memiliki semangat hidup sama sekali. Di bersyukur Lita memiliki orang yang mencintainya walaupun dulu Fahri menyakiti putrinya dan baru menyesal setelah Lita tiada. Tapi dia yakin Fahri memang orang yang baik dan dia hanya salah paham selama ini. Itu juga yang menjadi alasan dirinya masih menganggap Fahri sebagai menantunya meskipun Lita sudah tidak ada ditengah-tengah mereka lagi.


“Kamu jangan pernah mencelakai dirimu lagi Fahri, kita berdoa saja semoga dugaan mu kalau Lita masih hidup itu benar dan semoga kita bisa secepat mungkin menemukannya. Kau harus sabar Fahri” ucap Aryo menasehati menantunya itu.


“Iya Pa”


“Papa ada apa memanggilku kemari?”


“Papa ada pekerjaan di Amerika tapi papa tidak bisa ke sana karena harus ke Australia untuk menemani Mamamu mengambil barang-barang Lita yang masih ada di sana. Dan Papa mencoba menghubungi David yang sedang ada di Belanda tapi dia tidak pernah mengangkat panggilan Papa semenjak Lita tiada.” Ucap Aryo.


“Kak David sudah pernah pulang ke rumah belum Pa? Atau pulang hanya pemakaman Lita waktu itu?” tanya Fahri dia merasa penasaran saja tentang kakak iparnya itu. Dia menangkap sesuatu yang aneh pad David. Karena pria itu langsung pergi begitu saja sampai saat ini juga tidak ada kabarnya.


“Pernah sekitar tiga bulan lalu atau empat bulan lalu dia pulang” pungkas Aryo mengingat kapan terakhir kali putra sulungnya itu pulang ke rumah.


“Oh,.”


“Kapan aku bisa pergi ke Amerika Pa?”


“Dua minggu lagi kau pergilah ke sana Fahri, Oh iya Papa hampir lupa memberitahumu.”


“Memberitahuku soal apa Pa?”


“Papa dapat informasi dari orang suruhan Papa kalau dia melihat orang yang mirip dengan Lita di New York. Tapi mereka belum yakin kalau itu Lita karena penampilannya berbeda”


Fahri yang mendengar itu langsung menatap lekat sang Papa, benarkah itu.


“Papa serius, kalau orang suruhan Papa melihat seorang yang mirip Lita. Aku yakin itu bukan mirip saja tapi itu benar Lita Pa, aku yakin itu. Istriku pasti masih hidup dan dia Amerika, a..aku akan ke sana lebih dulu dari yang Papa suruh. A..aku akan berangkat sekarang Pa. Aku ingin menemui Lita, aku merindukannya Pa” sangking senangnya Fahri langsung berdiri bingung sendiri apa yang ahrus dia lakukan. Dia benar-benar senang mendengar kabar ini ia yakin itu memang Lita ia kan segera ke sana mencari sendiri keberadaan Lita.


“Fahri, Fahri tunggu dulu. Orang suruhan Papa masih ragu itu Lita atau bukan,”


“Aku yakin itu Lita Pa, aku tidak ragu Pa.”


“aku pergi dulu Pa, doakan aku semoga itu memang benar Lita Pa” Fahri langsung pergi begitu saja meninggalkan Aryo yang hanya berdiri menatap kepergian Fahri yang sudah tidak bisa ia cegah.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2