
Lita duduk di samping fahri sambil menikmati nasi uduk yang sudah tersaji didepan mereka. Mereka duduk disebuah warung yang tidak jauh dari taman itu.
“enakkan?” tanya Fahri pada Lita.
“iya,” jawab Lita sambil mengunyah makanan di mulutnya.
“ini tempat langganan diriku dan Rendy dulu saat mendaftar masuk polisi” ucap Fahri menceritakan kalau dulu ia sering makan ditempat ini bersama temannya.
“Daftar masuk polisi, kok bisa makannya disini?”
“Itukan ada polres, aku daftar di Polres itu dulu” Fahri menunjuk kearah Polres yang memang berada tidak terlalu jauh dari mereka duduk saat ini.
“Oh,” ucap Lita, dia kembali fokus menyantap makanannya saat ini.
“Kamu masih mikirin soal Thalia? Saran ku sih tidak usah memikirkan orang seperti dia. Malah membuatmu sakit hati sendiri” Fahri menghadap kearah Lita memperhatikan istrinya yang langsung melihat kearahnya saat ini.
“nggak, aku nggak mikirin soal dia.”
“Bagus kalau kamu tidak memikirkan soal dia lagi”
“Kalau begitu lanjutkan makan mu, nanti habis ini kita pulang” tukas Fahri.
“oke siap, terimakasih kamu selalu berusaha menghiburku” ucap Lita dengan wajah berserinya. Dia tahu kalau Fahri selalu mencoba membuat dirinya terhibur setia dia merasakan hal seperti ini.
Kehidupan terkadang ada yang menyakitkan tapi setiap kesakitan itu pasti ada hal terbaiknya dan pasti akan selalu ada orang baik yang ada disisi kita dan menghibur kita.
..........................
Selesai makan Fahri dan juga Lita saat ini langsung pulang ke rumah karena mereka belum mandi jadi mereka pulang untuk mandi sebentar baru setelah itu mereka pergi lagi untuk menjemput Axel di rumah orang tua Fahri.
Saat mereka berdua berjalan diruang tengah ponsel milik Lita berbunyi sehingga membuat Lita segera mengambilnya dari dalam saku celananya saat ini.
“Sebentar sayang,” ucapnya pada Fahri yang melingkarkan tangannya di pinggangnya saat ini.
“Siapa yang menelpon?” tanya Fahri penasaran.
__ADS_1
“Nggak tahu, sebentar” ucapnya mengambil ponsel itu dan melihatnya.
“kak David,” lirihnya saat melihat nama itu yang tertera di layar ponselnya saat ini.
“Ya udah angkat,” pinta Fahri untuk segera mengangkatnya.
“kamu saja, bilang aku kemana gitu” Lita malah menyerahkan ponsel miliknya pada fahri.
“Kok malah aku, kamu tahu kakakmu bagaimana kalau mendengar suaraku.” Heran Fahri tak mengerti kenapa Lita malah menyuruhnya untuk mengangkat panggilan tersebut.
“aku mohon, bukannya aku sudah bilang tidak ingin berhubungan dengan keluargaku” ucap Lita memelas, dia berharap Fahri mau melakukannya.
“sayang, bagaimanapun dia kakakmu. Dia yang selama ini selalu ada buat mu, dan dia tidak tahu apa-apa soal ini” ucap Fahri menasehati Lita.
“Iya aku tahu, kak David kakak yang baik padaku. Tapi saat ini, aku tidak ingin dulu berkomunikasi dengan keluarga Papa dulu. kalau begitu biarkan saja itu tidak usah diangkat” Lita mengambil ponsel miliknya dari tangan Fahri dan langsung pergi dari hadapan suaminya itu.
Fahri hanya bisa menghela nafas saja dengan hal ini, ini semua gara-gara Thalia coba kalau perempuan itu tidak menghina Lita. Tidak mungkin Lita merasa begini dengan keluarganya sendiri.
Fahri langsung berjalan menyusul Lita yang sudah menaiki tangga rumah mereka, ia langsung menggandeng tangan istrinya tersebut sambil tersenyum.
...........................
“Bagaimana Lita tidak mengangkatnya?” tanya Naya yang berbaring ditempat tidur. Dia baru saja diperiksa oleh dokter dan ia di nyatakan tengah mengandung saat ini. ia ingin sekali memberithu pada Lita, karena adik suaminya itu sudah ia anggap adiknya sendiri dan Lita juga yang selalu ingin sekali mendengar dia segera hamil. Adi kalau dia memberitahu Lita perempuan itu pasti senang mendengarnya.
“tidak, aku sudah menelponnya berkali-kali tapi tidak dia angkat” ucap David yang duduk disebelah Naya saat ini.
“ya sudah nanti saja kita memberitahunya mungkin dia sedang sibuk mengurus Axel saat ini” ucap Naya pada akhirnya.
“kamu sekarang sedang hamil anakku, jaga baik-baik kehamilan mu ini.” David berbicara sambil memegang perut Naya yang masih rata. Dia lalu menunduk dan mencium perut itu.
“kenapa mendengar kamu hamil saat ini membuat ku semakin bersemangat untuk melakukan apapun. Padahal dulu aku belum siap” ucap David lagi tak lepas dari perut Naya dan dia melihat istrinya yang mengusap lembut kepalanya saat ini.
“Karena darah daging mu sudah hidup jadinya rasa ke ayahanmu muncul saat ini.” tukas Naya tersenyum melihat David yang tersenyum tipis namun bahagia. Baru kali ini dia melihat David tersenyum bahagia seperti ini biasanya pria itu selalu menunjukkan wajah tanpa eskpresi nya dan wajah garangnya saja.
.....................
__ADS_1
Lita sudah siap dengan pakaian rapinya, ia mengenakan dress berwarna Navy dan juga tas Selempang miliknya yang bertengger di bahu kanannya saat ini. dia berjalan mendekati fahri yang terlihat begitu santai saja padahal mereka akan menjemput anak mereka di rumah orang tua Fahri.
Hari sudah sangat sore, jadi mereka harus segera ke sana keburu kemalaman, kalau kemalaman kasihan Axel nantinya kedinginan saat mereka pulang ke rumah.
“sayang ayo, katanya mau jemput Axel” ucap Lita mengajak fahri untuk segera berangkat.
“nggak jadi ya, besok aja gimana?” Fahri yang tadi melihat Hpnya langsung beralih melihat Lita.
“kok nggak jadi sih, aku udah rapi begini. kasihan Axel juga, dia selalu ke pisah sama kita.” Ucap Lita tak mengerti dengan jalan pikiran fahri sekarang. Bisa-bisanya suaminya itu bilang tidak jadi.
“Tidak apa sayang, itu juga untuk membiasakan Axel nantinya kalau dia punya adik.”
“kenapa jadi ngomongin adik buat Axel, aku belum kepikiran untuk memberinya adik. Ayo sayang kita susul Axel”
“nggak, besok aja. Kamu sekarang butuh seneng-seneng dan bukan sibuk ngurusin anak. Kamu butuh keceriaan sekarang, Sini kita nonton aja” ucap Fahri malah menarik tangan Lita sehingga membuat perempuan itu duduk di pangkuannya saat ini.
“Kamu kok gitu sih, kenapa nggak bilang dari tadi kalau nggak jadi jemput Axel. Kan aku nggak pakai dress begini di rumah” Lita menatap kesal fahri yang melihatnya malah tersenyum.
“Iya aku minta maaf kalau nggak bilang. Temani aku berenang yuk”
“Udah sore, ngapain berenang.” Ucap Lita.
“ya nggak pa-pa, aku belum mandi loh sayang. Kamu aku bohongin tadi”
“Kamu memang selalu bohong ya, jadi malas aku sama kamu” Lita terlihat kesal dengan hal itu dia langsung berdiri meninggalkan suaminya. Tapi belum melangkah jauh Fahri malah menariknya lagi dan membuat dia terjatuh tepat di atas tubuh pria itu yang berbaring di sofa.
“katanya kamu mau jadi Lita yang seperti dulu, seharusnya aku pancing begitu kamu lebih agresif lagi dong sayang” goda fahri sambil meniup leher Lita.
“kamu tahu sendiri kan, aku tidak mood sekarang. Jangan menggodaku Fahri” ucap Lita, seketika Fahri langsung mencium Lita saat ini.
Bukannya menolak Lita malah menerimanya, akhirnya hal itu membuat mereka berciuman dia atas sofa dengan saling tindih satu sama lain.
°°°
T.B.C
__ADS_1