
“kalau hamil harus makan sebanyak itu ya?” tanya Thalia menatap heran Lita yang sedang makan di depannya, mereka berdua saat ini berada di meja makan di rumah orang tua mereka. Lita baru saja datang hari ini karena dia sedang berada di rumah kakak iparnya beberapa hari.
Dan saat dia mendengar kalau Naya melahirkan, dia memaksa fahri untu segera datang ke rumah orang tuanya untuk melihat Naya. Naya sudah begitu baik dengannya jadi dia harus datang menjenguk kakak iparnya tersebut.
“Iyalah, kita makannya harus banyak kalau hamil agar anaknya bertumbuh dengan sehat” jawab Lita sambil mengunyah makanannya
“kamu nggak takut gendut atau apa gitu?” tanya Thalia menatap takjub Lita yang makan dnegan sangat lahap.
“Nggak, kalau demi anak kenapa harus takut. Yang penting anak yang aku kandung sehat” jawab Lita.
“Kamu sama Rendi datang dari kapan?” tanya Lita pada Thalia.
“dari tadi pagi” jawab Thalia
“Oh,.”
“Berhentilah makan, dari tadi kau makan terus. Meskipun demi anakmu memang kamu tidak ingin menjaga penampilanmu. Kamu tidak takut Fahri tergoda perempuan lain karena dirimu yang melebar nanti” pungkas Thalia yang memperhatikan Lita yang tak kunjung selesai makan.
“nggak, kenapa takut. Kalau dia mau berpaling ya silahkan. Aku dan dia juga pasti bersama, banyak cobaan yang sudah kita lewati jadi tidak mungkin dia mau berpaling. Dia tidka mungkin membuat Axel sakit hati saat dewasa karena dirinya” tukas Lita mencoba berpikir positif.
“sok bijak” sinis Thalia.
“Berapa bulan kehamilan mu sekarang?” tanya Thalia penasaran karena melihat perut Lita yang sedikit lebih besar.
“jalan tujuh bulan, kenapa?” tanya Lita.
“Oh,”
“kenapa kau sedari tadi tanya soal kehamilanku?” tanya Lita penasaran.
“tidak ada, hanya ta..”
“jangan-jangan kamu hamil. Benar kataku waktu itu kan kalau kamu hamil, kamu sudah periksa ke dokter?”
“Ya aku memang hamil”
“Serius, selamat” ucap Lita yang langsung berdiri menghampiri Thalia dan memeluk adiknya tersebut.
“Sudah berapa bulan?” ucap Lita tampak senang mendengar kabar tersebut.
“Empat minggu,”
“Ya ampun, aku nggak nyangka kamu bakal jadi ibu,. Jaga baik-baik kehamilan kamu. jangan mentingin diri sendiri, jangan minum-minuman lagi” ucap Lita menasehati Thalia, dia memegang perut adiknya.
“Aku sudah tidak minum lama ya, semenjak menikah dengan Rendi aku tidak minum lagi” jawab Thalia.
“baguslah, pokoknya jangan menyentuh hal seperti itu lagi. Ingat anak, misalnya kalau kamu marah sama Rendi atau benci sama Rendi, ingat anak saja. Jangan lampiaskan pada hal aneh lagi mengerti” ucap Lita pada Thalia.
“Iya-iya, aku tidak kau suruh juga bakal begitu. Tapi apa bisa hati nurani tergerak karena anak” ucap Thalia dan meminta jawaban soal itu.
“nanti kalau kamu sudah punya anak pasti hati nurani seorang ibu bakal tergerak, dan pasti rasa keibuan itu bakal muncul. Contohnya aku, aku dulu bertahan karena Axel. Aku selalu memikirkan Axel” tukas Lita.
Thalia hanya diam mendengar penjelasan Lita barusan, dia bisakah seperti itu nantinya menjadi seorang ibu yang baik untuk anaknya.
“Ayo pulang,” ucap Rendi yang datang ke dapur
Thalia yang setengah melamun langsung melihat kearah sang suami,
__ADS_1
“Ayo,” jawabnya kemudian.
“Aku pulang duluan” ucap Thalia pamit pada Lita sambil memeluk kakaknya itu dan dia melihat perut Lita yang besar beberapa bulan lagi perutnya mungkin akan sebesar kakaknya itu.
“Lita aku pulang duluan” ucap rendi pada Lita.
“Iya, hati-hati. Aku titip adikku dan calon ponakan ku” seru Lita dan di angguki oleh rendi yang langsung menggandeng tangan Thalia.
“Oh iya Ren, dimana fahri?” tanya Lita.
“Fahri di depan bersama Papa dan kak David.” Jawab Rendi.
“Oh,”
“Thalia ingat apa yang aku bicarakan tadi, pikirkan anakmu” ucap Lita sebelum Thalia dan rendi pergi menjauh.
“Iya, iya cerewet” jawab Thalia sambil berjalan mengikuti sang suami.
.........................
Thalia dan Rendi sudah berada di depan apartemen mereka, Rendi membukakan pintu untuk Thalia dan mempersilahkan sang istri untuk masuk lebih dulu.
“Kamu serius tidak mau apa-apa?” tanya rendi menatap Thalia yang berjala amsuk di depannya.
Rendi menutup pintu itu kemudian berjalan menyusul sang istri yang duduk di sofa ruang tengah.
“Tidak, aku sedang tidak ingin apa-apa”
“Biasanya orang hamil bakal ngidam makanan loh sayang, dan aku ingin kamu ngidam seperti yang lain agar aku bisa membelikan apa yang kamu mau” uap Rendi saat duduk di sebelah Thalia memperhatikan perempuan itu yang tampak lesu.
“masalahnya aku lagi nggak pengen apa-apa,” lirih Thalia sambil menaruh kepalanya di pangkuan Rendi.
“tadi Lita bicara apa saja denganmu?” tanya Rendi penasaran soal pembicaraan istrinya dan juga Lita tadi.
“hanya bilang harus banyak makan kalau sedang hamil” jawab Thalia.
“ mmm,.”
“kapan kamu mengajakku menemui papamu yang ada di padang atau aceh itu?” tanya Thalia mendongakkan kepalanya menatap rendi, dia menagih hal tersebut karena Rendi pernah bilang kalau akan mengenalkan pada keluarganya termasuk papanya.
“Nanti saja ya, kalau kamu habis melahirkan, tidak baik melakukan perjalanan jauh saat hamil” jawab rendi.
“kemarin Mbak Naya sama Kak david pergi jauh, tidak apa-apa kan? Atau memang kamu tidak mau memperkenalkan aku dengan keluargamu yang lain” ucap Thalia curiga.
“Nggaklah, aku mau. Aku ingin keluargaku yang lain mengenalmu. Tapi waktunya tidak pas, kamu hamil sekarang. Aku takut kamu kenapa-kenapa”
“Bohong, bilang aja kamu nggak mau kenalin aku sama papamu. Biar mereka hanya tahu tunangnmu melody. Dan kalau Meldoy sadar kamu langsung balikan dengan dia” Thalia langsung bangun dari tidurnya.
“kamu ini mulai lagi deh, bahas soal meldoy. Omongan kamu itu ngaco,” ucap rendi menatap Thalia yang sudah berdiri.
“Udahlah nggak usah bahas masalah itu. aku janji sama kamu kalau kamu melahirkan nanti, kita langsung temuin papa ku” ucap rendi pada Thalia dia memeluk istrinya tersebut.
“terserah” ucap Thalia melepaskan pelukan Rendi dan dia langsung pergi ke kamarnya saat ini meninggalkan sang suami yang hanya melihatnya.
“Orang hamil apa memang begitu sensi terus” lirih rendi sambil melihat Thalia yang masuk kedalam kamar sambil membanting pintu.
.......................................
__ADS_1
“Arggh, sakit. Ini kenapa sakit “ ucap Thalia terbangun dari tidurnya karena merasakan sakit pada perutnya saat ini.
Rendi yang tidur disebelah Thalia terbangun karena melihat istrinya yang tampak kesakitan.
“kamu kenapa? Apa yang sakit” ucapnya cemas sambil melihat istrinya yang berbaring gelisah sambil memegangi perut.
“perutku sakit” jawab Thalia pada rendi.
Rendi langsung menyalakan lampu yang berada di nakas meja dan dia mendekati Thalia,
‘Mana yang sakit? Sebelah sini?” tanya Rendi pada Thalia, dia memegang perut sang istri yang mungkin itu yang sakit.
“Iya,”
“Rendi mengusap area itu, sambil melihat Thalia yang sudah tidka berkeringat menahan sakit.
“bagaimana enakan?” tanya Rendi pada Thalia.
“Sedikit enakan,”
“usap lagi,” ucap Thalia meminta Rendi untuk melakukannya lagi mengusap perutnya yang masih rata itu.
“Tadi sebelum tidur tidak mau aku pegang, sekarang suruh megang begini” tukas Rendi pada Thalia.
“kenapa? Kamu tidak mau? Keberatan? Ya udah nggak usah. Aku bisa sendiri” ucap thalia menepis tangan rendi”
“Nggak sayang, bercanda. Masih sakit nggak” tanya rendi.
Thalia menggeleng mendengar pertanyaan Rendi barusan,
“Sini kamu tidur,” ucap Thalia menepuk sebelahnya
“Tapi jangan geer, aku cuman ingin bisa tidur saja. Biar anak kamu nggak rese ganggu tidur aku, bukan berarti aku nggak bakal minta buat temuin papa kamu ya” ucap Thalia pada Rendi.
“gengsi bilang aja,” ucap rendi sambil tersenyum dan dia berbaring di sebelah Thalia di bantal yang di pakai Thalia saat ini dan satu lengannya dia gunakan sebagai bantal sang istri. Tangannya satu lagi untuk mengusap perut perempuan itu.
“Udah tidur, aku bakal usap sesuai keinginan kamu” perintah rendi pada Thalia yang berada tepat disebelahnya.
“Aku besok ingin jalan-jalan ke Mal” ucap Thalia tiba-tiba pada Rendi.
“ke Mall, mau beli apa?”
“Beli apa aja?”
“Ya sudah besok aku temani, kita juga beli sepatu serta baju yang pas buatmu saat hamil.”
“kenapa harus beli baju?”
“Bajumu tidak ada yang pantas untuk dipakai saat hamil, terlalu sempit. Sudah tidur, “ ucap rendi pada Thalia.
Thalia yang memang sudah mengantuk perlahan memejamkan matanya.
“Kamu aneh tapi menggemaskan, tadi marah tiba-tiba mau bicara dan bilang mau ke mal” gumam Rendi sambil tersenyum melihat Thalia yang sudah tidur. Lalu dia mengecup kening sang istri.
“Selamat tidur istriku,” ucapnya pada Thalia yang sudah terlelap. Sedangkan dirinya masih menjalankan tugas yaitu mengusap perut sang istri.
°°°
__ADS_1
T.B.C