Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 160 (Season 2)


__ADS_3

Rendi tengah menimang-nimang anaknya di pinggir kolam renang, dia sesekali melihat anaknya yang dia gendong saat ini. Relia seperti mengantuk di gendongan sang papa, sesekali bayi itu memejamkan matanya.


Mereka baru saja sampai dari Padang, Thalia langsung pergi mandi karena dia sedari tadi mengeluh begitu panas. Sehingga dia memutuskan untuk mandi saat sampai di rumah.


“Anak Papa yang cantik tidur ya nak” ucap Rendi pada anaknya itu.


“Kamu sama papa dulu, mama masih mandi tidur ya” lanjut Rendi sambil terus menimang anaknya agar tertidur lelap.


“Sini Relia sama aku, aku sudah selesai mandi” ucap Thalia yang berjalan menghampiri Rendi. Rendi langsung menoleh kebelakang melihat istirnya yang berjalan mendekati mereka.


“Kok udah,” heran Rendi karena biasanya Thalia lama kalau mandi.


“Udahlah, kenapa harus lama-lama” ucap Thalia yang mengambil alih gendongan anaknya saat dia sudah sampai di depan Rendi.


“Tumben,” ucap Rendi sambil menyerahkan anaknya dengan perlahan.


“Memang selama ini aku lama kalau mandi?” tanya Thalia menatap sang suami.


“Iya, bukan lama lagi tapi banget” pungkas Rendi jujur.


“Kamu ngeledek aku,” ucap Thalia sambil mencubit pinggang suami.


“Sakit sayang” keluh Rendi sambil tersenyum.


“Salah sendiri” kesal Thalia sambil menggendong anak mereka.


“Ya sudah sana mandi, katanya mau ada yang kamu bicarakan sama aku. buruan” perintah Thalia pada sang suami.


“Mandinya nanti ajalah, duduk aja yuk” ucap rendi dan menuntun istrinya untuk duduk di kursi yang berada di pinggir kolam renang.


“Ya udah kalau mandinya nanti, kamu cerita aja sekarang” ucap Thalia menatap Rendi penasaran.


“nanti aja, habis kita dinner” tolak Rendi yang belum mau bicara.


“Kamu nggak capek apa ngajak dinner, kita aja baru pulang dari Padang, nanti malem udah mau ngajak dinner” jawab Thalia menatap aneh sang suami.


“nggak, kalau sama kamu aku nggak pernah ngerasa capek” jawab Rendi.


Thalia menatap aneh suaminya, dia menyentuh wajah sang suami dan beralih menyentuh ke dahi Rendi.


“Kamu nggak demam, nggak sakit juga. kok manis banget ngomongnya, tumben. Kamu nggak pernah gombal sama aku” bingung Thalia menatap rendi.


“Siapa yang bilang aku sakit, aku baik-baik aja. Memang aku nggak pernah ngomong manis sama kamu, perasaan sering” tukas Rendi memegang tangan sang istri di atas meja.


“Ya kamu aneh, jangan-jangan..” ucap Thalia terhenti sambil melihat suaminya.


“Jangan-jangan apa?” tanya Rendi penasaran.


“Kamu ngode mau nambah anak ya, atau minta jatah dariku nanti malem” pungkas Thalia menatap tajam suaminya.


Rendi hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya tersebut

__ADS_1


“Kalau kamu mau ya ayok” tukas Rendi kemudian.


“Nggak lihat anakmu masih bayi begini” pungkas Thalia sambil mencebik menatap Rendi.


“Sudah ah, kalau gitu aku mau mandi dulu. Kalau Relia sudah tidur taruh aja di tempat tidurnya, kamu istirahat sana” pungkas Rendi berdiri dari duduknya dan dia sambil memegang kedua bahu istrinya memijatnya secara perlahan.


“Aku masuk dulu ya” pamit Rendi dan langsung berjala pergi meninggalkan Thalia dan anaknya.


“Aneh,” seru Thalia saat Rendi berjalan pergi, Rendi sendiri menoleh sekilas sambil melemparkan senyum pada istrinya itu.


....................................................


Thalia berjalan masuk sambil menggendong anaknya yang sudah lelap dalam tidurnya saat ini, dia juga memegangi ponsel miliknya di tangan kanannya. Ada getaran di ponsel itu membuat Thalia menghentikan langkahnya dan langsung melihat kearah layar ponselnya saat ini.


“Ya, Halo ma” ucap Thalia sambil mengangkat panggilan dari sang mama.


“Kamu dimana? Kalau mau pulang ke Jakarta jangan lupa oleh-oleh Mama sama Papa ya. Ini Papa kamu nanyain Rendang khas Padang terus” ucap Nafa di seberang sana.


“Aku di rumah sekarang, maaf nggak bisa beliin oleh-oleh buat kalian”


“Di rumah mana kamu?”


“Ya di rumahku di Jakarta, dimana lagi” jawab Thalia sambil berjalan ke sofa, karena dia takut anaknya terbangun kalau ia terus berdiri.


“Loh, di jakarta. Kamu sudah pulang? Kok nggak bilang-bilang sama Mama. Oleh-olehnya berarti nggak kamu belikan”


“Nggak, mau gimana lagi. Redi buru-buru pulang. Dia besok mau menemui atasannya,”


“iish, Papa kamu pasti rewel.”


“Ya sudahlah, nanti mama sama Papa ke rumah ya. Mau lihat Relia” ucap Nafa diseberang sana.


“Iya, sekalian titip relia nanti hehehe” pungkas Thalia.


“kamu mau kemana memang anak kamu titipin ke Mama”


“mau dinner lah sama suami”


“Dinner mulu, anak diurus Thalia,”


“Ya aku urus lah ma, masa anak nggak aku urus. Kalau nggak mau aku titipin cucu ya udah, aku ajak aja nggak masalah.”


“Ya udah nanti mama aja yang ngurus Relia, mama juga ajak Darren nanti, mereka pasti gemes kalau ketemu”


“Masih bayi ma, nggak ngerti lah”


“Mama yang gemes lihat mereka maksudnya.”


“Mama bukannya lagi ngurus Axel, malah kesini. Ngurus tiga cucu sekaligus memang bisa?” tukas Thalia yang heran dengan Mamanya.


“Axel lagi nggak di titipkan di rumah mama. Dia di rumah mamanya Fahri” jawab Nafa.

__ADS_1


“Oh, ya udah kalau gitu ma. Aku mau nidurin Relia dulu”


“hemm, ya udah” pungkas Nafa.


Thalia langsung mematikan sambungan telponnya saat ini, dia perlahan juga mulai berdiri untuk berjalan kembali menuju kamarnya. Dan kemungkinan juga Rendi sudah selesai mandi.


............................................


Rendi berjalan amsuk dari balkon kamar setelah menerima telpon di lua kamar, dia melihat istrinya yang fokus pada layar televisi.


“Sayang, aku mau bicara sebentar” ucap Rendi menatap sang istri yang langsung melihat kearahnya.


“Bicara apa?” tanya Thalia saat sudah melihat suaminya.


Rendi perlahan duduk di pinggir tempat tidur, didekat Thalia membaringkan dirinya sambil menonton televisi.


Rendi tampak bingung harus mulai darimana saat ini, dia sesekali menghela nafas membuat Thalia menatapnya semakin penasaran.


“Kamu mau bicara apa sih?” tanya Thalia yang tak sabaran.


“Aku mau bilang kalau beberapa hari lagi aku mau ke Amerika” ucap Rendi pada akhirnya.


“Ngapain ke Amerika?” taya Thalia


“A..aku aku ada tugas di sana” jawab Rendi jujur meskipun terbata.


“Nggak lucu, kamu bercanda kan?”


“Nggak sayang, aku serius.” Pungkas Rendi.


Thalia diam sejenak mengamati wajah suaminya, dia antara percaya dan tak percaya dengan apa yang dikatakan Rendi. Karena pria itu terlihat santai saat mengatakannya.


“Ihh serius nggak lucu tahu”


“Aku serius sayang, aku ditugaskan ke sana selama seminggu untuk membantu pihak interpol.”


“Kamu mau ke sana? Terus aku sama Relia gimana?”


“Aku bisa milih, kalau aku bisa milih aku nggak mau”


“Ya udah aku yang bilang sama atasan kamu, kalau nggak usah kamu yang ke sana”


“Ya jangan gitu juga, kalau kamu ngelakuin itu Papa kamu yang kena masalah dikira menyuap seorang polisi mau?”


“tapi aku nggak mau kamu tinggal ke Amerika seminggu” tolak Thalia yang tak rela berpisah seminggu dengan sang suami.


“Aku tahu ini berat bua kamu, apalagi kamu habis melahirkan. Tapi mau gimana lagi, cuman seminggu kok sayang. Nggak pa-pa ya aku tinggal sebentar” ucap Rendi mencoba membuat sang istri menerima.


“kamu sering bilang kan mau berubah menjadi istri yang baik, ibu yang baik dan lebih dewasa lagi dalam menyikapi sesuatu. Nggak pa-pa ya aku di Amerika seminggu” lanjut Rendi


“Terserahlah, tapi kamu jangan pernah nggak pernah ngabarin aku. pokoknya kamu harus nelpon aku terus” pungkas Thalia dengan berat hati, dia mau tak mau harus menerimanya dia sendiri yang bilang pada Rendi ingin lebih dewasa lagi dalam menyikapi sesuatu.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2