
Naya menghampiri Rendi memegang bahu adik iparnya itu yang setia menunggu thalia.
“Nggak mbak, aku disini saja. Kalau Thalia belum sadar aku tidak akan pergi kemanapun” tolak Rendi semakin mengeratkan genggamannya pada tangan istrinya yang tak kunjung sadar juga padahal hari sudah mulai sore.
Naya langsung melihat David yang berada di sofa melihat mereka saat ini, Naya seakan meminta David untuk membujuk Rendi agar istirahat karena sedari Thalia di pindahkan dari ruang operasi tadi Rendi belum juga istirahat. Naya begitu mencemaskan kondisi Rendi yang terlihat pucat dan badan pria itu sedikit agak demam.
David yang tahu maksud dari langsung berdiri menghampiri dua orang itu, dia sebenarnya juga cemas dengan kondisi Thalia yang sekarang yang belum juga sadar padahal dokter tadi bilang kemungkinan tidak butuh waktu lama untuk Thalia sadar dari pengaruh obat bius.
Rendi yang tadi diam menunduk sambil memegangi tangan Thalia, langsung terlihat kesal karena dia merasa di beri harapan palsu oleh dokter.
“Aku tidak bisa begini, dimana dokter itu. kenapa Thalia belum juga sadar” tegasnya dan langsung berdiri dari duduknya saat ini. ia harus menemui sang dokter untuk menanyakan kondisi Thalia.
“kamu mau kemana?” tanya David saat rendi sudah berdiri dnegan kesal.
“Aku harus menemui dokternya, kenapa Thalia sampai sekarang belum sadar juga” jawab Rendi.
“Kau tenanglah, Thalia pasti sebentar lagi sadar. Sekarang pikirkan kondisimu, kau demam kan lihat wajahmu yang pucat melebihi Thalia. Istirahatlah di sofa, biar aku dan naya yang menjaganya” pungkas David berusaha mengendalikan dirinya untuk bersikap tenang.
“Bagaimana bisa aku tenang kak, istriku dalam kondisi begini. coba bagaimana aku bisa untuk tenang”
“Aku tahu, tapi kita tunggu saja sebentar. Aku yakin adikku tidak apa-apa dia wanita kuat bukan wanita lemah”
Rendi mengusap wajahnya kasar, dia begitu gelisah dan pusing saat ini dengan kondisi Thalia.
“Sedari tadi aku belum tanya soal penyebab Thalia begini, sebenarnya apa yang terjadi dengannya?” ucap rendi menatap David dan Naya bergantian.
“Kata BI Warsih ini semua karena ulah Mamamu yang datang ke rumah, dia dan Thalia bertengkar hebat sampai Thalia terdorong hingga jatuh”
Mendengar itu Rendi melebarkan matanya, matanya berubah menjadi merah karena marah serta tangannya terkepal mendengar hal itu.
“Ternyata perempuan murahan itu yang membuat istriku begini, Mama tidak tahu diri. Bisa-bisanya dia membuat anakku tiada dan istri seperti ini.” Rendi tampak marah menggertak kan giginya.
“Rendi..” suara lirih terdengar membuat ketiga orang yang tengah berbicara langsung membalikkan tubuhnya menatap kearah ranjang rumah sakit dimana Thalia berbaring.
__ADS_1
Rendi langsung menghampiri istrinya itu denan terburu-buru, rasanya lega melihat Thalia yang sudah sadar.
“Sayang, Sayang kamu tidak apa-apa?” ucapnya sambil memegang wajah sang istri.
“Thalia kau sudah sadar, untunglah mbak lega kamu sudah sadar” ucap Naya yang juga menghampiri Thalia.
“Akhirnya kamu sadar, kamu hampir bikin kakak frustasi ngerti nggak” tukas david menatap adiknya yang melihatnya lemah.
Thalia beralih menatap Rendi yang meneteskan air mata melihatnya, pria itu berkaca-kaca menatap dirinya.
“Kamu pulang..” lirih Thalia memegang wajah sang suami.
“Iya aku pulang, kamu hampir membuatku gila mengerti” pungkas Rendi.
“bentar kenapa perutku agak beda,” ucap Thalia tampak bingung, dia langsung memegang perutnya yang terlihat ringan dan kosong.
“anakku? Anakku dimana ren, anakku dimana?” ucap Thalia setengah histeris meminta penjelasan suaminya soal anak yang dikandung dirinya yang sudah tidak ada di dalam perut.
“Ma..maksudmu apa, diaman anakku Ren, di..dia belum saatnya lahir kemana dia...” Thalia mulai terasa emosional bibirnya bergetar menanyakan soal keberadaan anak yang dia andung.
“Anak kita satunya baik-baik saja sayang dia masih di inkubator karena belum saatnya lahir dia sudah dikeluarkan. Dan satunya sudah tiada dan tadi sudah dimakamkan oleh kak David”
“Maksud kamu anak kita kembar terus satunya nggak selamat gitu,” lirih Thalia menatap serius pada suaminya.
Rendi mengangguk lemah mengiyakan pertanyaan dari istri tercintanya.
“Nggak Ren, Nggak...anak kita selamat dua-duanya kan. iya kan, nggak mungkin salah satunya nggak ada. Nggak mungkin kan” Thalia mencengkram kerah baju suaminya berharap Rendi hanay berbohong.
Rendi diam sesekali memejamkan matanya, dia terasa berat untuk membuka mulutnya apalagi tidak tega melihat istrinya yang tampak syok saat ini.
“ren bilang ren bilang anakku yang lain nggak pa-pa kan” paksa Thalia agar rendi berbicara.
“Sayang sudah, kita ikhlaskan. Kamu jangan begini kasihan anak kita, dia butuh kamu.” Rendi langsung memeluk Thalia memberikan kekuatan pada istrinya.
__ADS_1
Thalia menangis pilu di pelukan Rendi, dia tidak bisa menerima hal ini bagaimana bisa anaknya tidak selamat satu.
Rendi memeluk Thalia sambil menahan sakit di lengan nya yang terkena tembakan, dia menutupi luka itu dengan baju panjang yang ia kenakan saat ini. tadi dia langsung berganti baju dengan baju panjang untuk jaga-jaga agar saat Thalia bangun tidka melihat lukanya.
Ia takut istrinya cemas dengan luka yang ada di lengannya
Naya dan juga David hanya bisa diam melihat itu, mereka berdua memilih diam saja karena membiarkan dua orang didepannya mengekspresikan kesedihan mereka berdua yang baru saja kehilangan salah satu anak mereka. Itu hal yang cukup berat untuk Thalia dan juga Rendi.
....................................................
Rendi duduk sendiri di luar ruangan Thalia, dia meninggalkan istrinya setelah Thalia di suntik obat penenang karena perempuan itu masih belum bisa menerima kenyataan saat ini dan ini membuat Rendi cukup terluka melihat istrinya begitu. Ini pertama kalinya ia melihat Thalia seperti itu. Thalia yang selama ini dia tahu selalu kuat dan berani kali ini sungguh berbeda.
Rendi menekan salah satu nomor yang ada di ponselnya, dia akan menghubungi seseorang meminta bantuan pada orang itu.
“Halo Vito, aku Rendi” ucap Rendi saat panggilannya sudah diangkat diseberang sana.
“Iya ren, ada apa?”
“Aku minta tolong padamu blacklist semua pasport penerbangan yang menuju Amerika atas nama Monariya Hoston” perintah Rendi pada salah satu tamannya yang bekerja di bea cukai.
“Monariya Hoston? Oke nanti aku minta tolong pada temanku yang ada di bandara untuk menghalau orang itu agar tidak melakukan penerbangan. Memangnya dia siapa? Salah satu pelaku yang kau kejar?”
“Bukan”
“Lalu?”
“Tidak usah banyak tanya kerjakan saja apa yang aku suruh, kalau begitu aku matikan” tukas Rendi mematikan panggilannya secara sepihak.
Dia harus menghubungi orang lain lagi saat ini, dia harus menghubungi kepolisian agar bisa menangkap Mamanya itu. dia tidak akan tinggal diam Mamanya harus di berikan pelajaran. Dia tidak perduli perempuan itu orang yang melahirkannya atau bukan, dia tidak akan membiarkan orang yang membuat anaknya tiada pergi begitu saja.
°°°
T.B.C
__ADS_1